Meja Makan

Tradisi makan bersama di meja makan sudah tertanam sejak kecil di keluargaku. Tradisi ini tidak saja berjalan keluarga inti, tapi juga keluarga besar, terutama keluarga besar bapak.

Aku masih ingat, saat balita, saat kursi meja makan masih terlalu tinggi buatku, aku selalu melihat bapak ibuku makan malam bersama di keluarga. Sementara aku duduk di pangkuan ibu tanpa ikut makan. Maklum, saat balita jadwal makan malamku adalah jam 5 sore, karena jam 8 malam aku harus sudah tidur.

Tradisi makan bersama di meja makan ini terus berlangsung hingga sekarang. Lewat makan bersama di meja makan ini aku mendapatkan banyak sekali pelajaran berharga, mulai dari kebersamaan, ajang bertukar pikiran, sampai etika dan tata krama dalam menyantap makanan.

Kebersamaan
Dengan makan bersama, otomatis akan memupuk rasa kebersamaan. Karena dalam tradisi kami, acara makan bersama belum dimulai jika masih ada satu anggota keluarga yang belum duduk di kursinya. Jadi, kami dilatih untuk bersabar dan toleran kepada saudara yang lain meskipun perut sudah keroncongan. Bahkan di keluarga Pak De-ku, kami belum boleh duduk di meja makan kalau belum mandi!

Etika dan Tata Krama
Lewat makan bersama di meja makan ini pun aku menjadi terbiasa dengan table manner atau etika di meja makan. Emang sih, table manner ala keluargaku tidak seperti aturan internasional yang kumplit mulai dari makanan pembuka sampai penutup, atau berbagai jenis sendok, garpu, pisau, mangkuk, hingga piring yang fungsinya berbeda-beda untuk setiap jenis santapan. Tapi setidaknya, tata krama dasar dalam makan sudah menjadi aktivitas sehari-hari, seperti mendahulukan orang yang dituakan untuk mengambil makanan, makan tidak klontengan (sendok garpu dan piring mengeluarkan bunyi nyaring. Reda), makan gak boleh kecap (saat mengunyah mulut terbuka sehingga mengeluarkan bunyi. Red), makanan harus habis tak bersisa agar tidak mubazir, dan menangkupkan sendok dan garpu di piring saat selesai makan.

Ajang Tukar Pikiran
Inilah manfaat terbesar yang aku rasakan dari tradisi makan bersama di meja makan. Aku sering mendengar petuah, kisah-kisah berhikmah, bahkan banyolan dari bapak saat makan bersama di meja makan, terutama saat makan malam.

Kesempatan ini juga menjadi ajang bapak ibuku menanyakan kondisi sekolah anak-anaknya, baik soal pelajaran, guru, teman-teman, atau persoalan lain. Apalagi bapak ibuku keduanya bekerja, sehingga kesempatan ini menjadi ajang mereka untuk memberi perhatian lebih untuk anak-anaknya. Alhasil makan bersama di meja makan ini seringkali menjadi ajang diskusi, curhat, bahkan debat. Seringkali, pembicaraan masih terus berlangsung meskipun makanan sudah habis hehehe…

Alhamdulillah tradisi ini masih berlangsung di keluargaku, meskipun akhir-akhir ini aku jarang menerapkannya saat makan malam, karena jam kerjaku yang mengharuskan aku pulang di atas jam makan malam. Tapi jika hari libur dan kami tidak keluar rumah, maka makan bersama di meja makan menjadi menu rutin. Semoga tradisi ini dapat aku terapkan kepada anak-anakku kelak… amin

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: