apa aja ya buku wajib punya untuk calon ibu dan ibu baru?? any suggestion…?

Singapore for Beginners

Setelah sempat sakau travelling, alhamdulillah kesampaian juga travelling sekaligus merayakan 1st anniversary bersama my beloved husband … karena kebetulan bulan Mei lalu bertaburan banyak sekali long weekend yang bisa dimanfaatkan hehehe.

Awalnya siy aku kepingin ke Lombok, karena penasaran sama Danau Segaranakan dan Gili Trawangan. Tetapi setelah ‘bertanya’ sama Mbah Google, ternyata tiket pesawat menuju ke Denpasar/Lombok itu lumayan mahal. Belum lagi waktu transitnya plus akomodasi di sana nanti. Pilihan tujuan wisata akhirnya jatuh ke Singapura setelah ngiler lihat harga economy promo tiket dari Air Asia. Alhasil, 29 Mei – 1 Juni lalu kami jalan-jalan ala backpacker (baca: turis kere. Red) di negeri merlion ini .

Maka, setelah memesan tiket online 3 bulan sebelum hari keberangkatan, mulailah aku surfing all about singapore. Mulai dari booking online hostel dengan fasilitas private room untuk 3 malam sampai merencanakan tujuan wisata di www.yoursingapore.com.

Tapi ternyata eh ternyata, apa yang sudah dirancang dalam organizer di singapore.com tidak bisa sepenuhnya terlaksana lantaran aku sadar diri akan kondisi fisikku yang tengah ‘mabok’ hamil muda . Tempat-tempat yang batal kami kunjungi antara lain Singapore Botanical Garden yang didirikan oleh pendiri Kebun Raya Bogor–Sir Stamford Raffles, Little India dan China Town–padahal udah dekat dari hostel tempat kami menginap, East Coast Beach, dan Bukit Timah National Park.

Hostel

Untuk penginapan, kami memang memilih hostel agar lebih irit. Edannya, meskipun masih 3 bulan lagi kami akan ke Singapur, tapi hostel-hostel yang direkomendasikan oleh Claudia Kaunang semuanya sudah fully-booked untuk tanggal yang diinginkan. Ada juga siy yang masih kosong, tapi harus bayar DP pakai kartu kredit. Akhirnya pilihan jatuh ke Cozy Corner Backpacker yang fasilitasnya ‘lumayan lah’ untuk harga 43 dolar singapur per malam.

Kalau dianalogikan, Cozy Corner ini mirip sama “Mess” lah kalau di Indonesia, dengan kamar mandi di luar kamar tidur (common shower). Dengan harga SGD 43 per malam kita dapat fasilitas internet gratis (meskipun harus antri), shower air hangat, sarapan gratis dengan menu roti tawar plus selai stroberi dan teh/kopi panas…. Lumayan laah. Yang salutnya, meskipun hostel yang berada di lantai 2 ini sederhana banget bangunannya, tapi bersih bo’! Dan yang buat aku terharu, TIDAK ADA YANG MEROKOK!! Padahal di lantai 1 terdapat rumah makan Melayu yang menjual rokok.

Omong-omong soal rokok niy, penjualan rokok di Singapur itu ketat banget. Aku sempat mendapati sang penjual rokok meminta kartu identitas sang pembeli rokok untuk memastikan bahwa ia sudah di atas 18 tahun. Kemasan rokok di negeri Merlion ini pun menampilkan foto-foto mengerikan penyakit yang diakibatkan oleh rokok… Subhanallah.

Transportasi

Untuk urusan fasilitas ini, gak usah ditanya deh. Sistem transportasi yang sudah terintegrasi antara bus dan kereta bawah tanah (MRT) sungguh memudahkan orang-orang Singapur, bahkan pendatang baru. Selama di sana, kami tidak pernah menggunakan taksi. MRT dan bus adalah moda transportasi utama di sana, dan itulah yang selalu kami gunakan.

Sistem pembayaran ongkos untuk kedua moda transportasi ini pun sangat praktis dan mudah. Bagi mereka yang tidak punya uang receh, bisa menggunakan EZ-link card. Tinggal ‘tap in’ ketika naik bus/MRT dan ‘tap out’ saat turun bus/MRT, maka kita sudah membayar ongkos sesuai dengan tarif yang berlaku. EZ-link card ini juga berlaku untuk skytain menuju Pulau Sentosa (Sentosa Island) yang merupakan pulau wisata di Singapur. Ongkos bus/MRT yang dikeluarkan dengan menggunakan EZ-link card ini jatuhnya lebih murah dibandingkan membayar tiket cash. EZ-link card ini dapat dibeli di setiap stasiun MRT. Jika saldonya berkurang atau habis, dapat diisi ulang pada setiap mesin penjual EZ-link card di setiap stasiun MRT.

Pejalan Kaki Nomor Satu

Karena kebiasaan di Jakarta, setiap mau menyebrang jalan raya kita harus mengalah sama kendaraan bermotor. Dan kebiasaan ini terbawa-bawa sampai Singapur. Ternyata, di negara maju di Asia Tenggara ini, semua kendaraan bermotor mengalah sama pejalan kaki. Betapa terharunya aku yang berkali-kali hampir ditabrak motor di Jakarta

Salutnya lagi, 90% para pejalan kaki di Singapur patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Mereka menyeberang pada tempat yang telah disediakan, dan mulai menyeberang ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Batinku, “Inilah bedanya developed country dan developing country“.

Toilet Kering VS Toilet Basah

Nah, ini dia yang jadi kendala utamaku selama di Singapur! Budaya mereka yang (maaf) cebok pake tissue, jujur membuatku gak nyaman. Secara, di Indonesia kan kebiasaan pake gayung sama air . Bahkan toilet di hostel pun menerapkan hal ini. Alhasil selama 3 malam aku gak bisa pub, karena gak nyaman . Jadinya, kalau mau pub aku tahan sampai menemukan masjid terdekat. Karena toilet di masjid bersihnya jempol dan fasilitasnya sangat syar’i–salah satunya menyediakan selang air untuk membasuh kemaluan setelah buang air besar/kecil.

Tapi kalau suamiku siy punya trik. Setiap mau ke toilet hostel, ia pasti bawa gelas plastik (hasil ngembat dari McD) untuk difungsikan sebagai gayung. Lalu sumber airnya dari mana? Kan toilet kering? Nah, itu dia ide brilian suamiku… Doi mengambil air bersih yang ada dalam tangki penyiram pada jamban duduk… Jadilah byur byur hehehe…. .

Bertanyalah Pada Petugas

Tips penting jika tersesat atau sekedar memastikan bahwa Anda tidak tersesat, yaitu: Bertanyalah pada petugas. Sebabnya, tidak semua orang Singapur itu bisa Bahasa Inggris. Sempat aku bertanya pada seorang ibu di terminal bus, dan dengan antusiasnya dia menjawab dalam Bahasa Mandarin .

So, lebih aman bertanya pada officer atau petugas berseragam. Gak cuma tanya soal jalan lho, mereka juga bisa menunjukkan dimana letak rumah makan halal. So, janganlah malu bertanya agar tidak sesat di jalan !

Singapore for Beginners

Setelah sempat sakau travelling, alhamdulillah kesampaian juga travelling sekaligus merayakan 1st anniversary bersama my beloved husband … karena kebetulan bulan Mei lalu bertaburan banyak sekali long weekend yang bisa dimanfaatkan hehehe.

Awalnya siy aku kepingin ke Lombok, karena penasaran sama Danau Segaranakan dan Gili Trawangan. Tetapi setelah ‘bertanya’ sama Mbah Google, ternyata tiket pesawat menuju ke Denpasar/Lombok itu lumayan mahal. Belum lagi waktu transitnya plus akomodasi di sana nanti. Pilihan tujuan wisata akhirnya jatuh ke Singapura setelah ngiler lihat harga economy promo tiket dari Air Asia. Alhasil, 29 Mei – 1 Juni lalu kami jalan-jalan ala backpacker (baca: turis kere. Red) di negeri merlion ini .

Maka, setelah memesan tiket online 3 bulan sebelum hari keberangkatan, mulailah aku surfing all about singapore. Mulai dari booking online hostel dengan fasilitas private room untuk 3 malam sampai merencanakan tujuan wisata di www.yoursingapore.com.

Tapi ternyata eh ternyata, apa yang sudah dirancang dalam organizer di singapore.com tidak bisa sepenuhnya terlaksana lantaran aku sadar diri akan kondisi fisikku yang tengah ‘mabok’ hamil muda . Tempat-tempat yang batal kami kunjungi antara lain Singapore Botanical Garden yang didirikan oleh pendiri Kebun Raya Bogor–Sir Stamford Raffles, Little India dan China Town–padahal udah dekat dari hostel tempat kami menginap, East Coast Beach, dan Bukit Timah National Park.

Hostel

Untuk penginapan, kami memang memilih hostel agar lebih irit. Edannya, meskipun masih 3 bulan lagi kami akan ke Singapur, tapi hostel-hostel yang direkomendasikan oleh Claudia Kaunang semuanya sudah fully-booked untuk tanggal yang diinginkan. Ada juga siy yang masih kosong, tapi harus bayar DP pakai kartu kredit. Akhirnya pilihan jatuh ke Cozy Corner Backpacker yang fasilitasnya ‘lumayan lah’ untuk harga 43 dolar singapur per malam.

Kalau dianalogikan, Cozy Corner ini mirip sama “Mess” lah kalau di Indonesia, dengan kamar mandi di luar kamar tidur (common shower). Dengan harga SGD 43 per malam kita dapat fasilitas internet gratis (meskipun harus antri), shower air hangat, sarapan gratis dengan menu roti tawar plus selai stroberi dan teh/kopi panas…. Lumayan laah. Yang salutnya, meskipun hostel yang berada di lantai 2 ini sederhana banget bangunannya, tapi bersih bo’! Dan yang buat aku terharu, TIDAK ADA YANG MEROKOK!! Padahal di lantai 1 terdapat rumah makan Melayu yang menjual rokok.

Omong-omong soal rokok niy, penjualan rokok di Singapur itu ketat banget. Aku sempat mendapati sang penjual rokok meminta kartu identitas sang pembeli rokok untuk memastikan bahwa ia sudah di atas 18 tahun. Kemasan rokok di negeri Merlion ini pun menampilkan foto-foto mengerikan penyakit yang diakibatkan oleh rokok… Subhanallah.

Transportasi

Untuk urusan fasilitas ini, gak usah ditanya deh. Sistem transportasi yang sudah terintegrasi antara bus dan kereta bawah tanah (MRT) sungguh memudahkan orang-orang Singapur, bahkan pendatang baru. Selama di sana, kami tidak pernah menggunakan taksi. MRT dan bus adalah moda transportasi utama di sana, dan itulah yang selalu kami gunakan.

Sistem pembayaran ongkos untuk kedua moda transportasi ini pun sangat praktis dan mudah. Bagi mereka yang tidak punya uang receh, bisa menggunakan EZ-link card. Tinggal ‘tap in’ ketika naik bus/MRT dan ‘tap out’ saat turun bus/MRT, maka kita sudah membayar ongkos sesuai dengan tarif yang berlaku. EZ-link card ini juga berlaku untuk skytain menuju Pulau Sentosa (Sentosa Island) yang merupakan pulau wisata di Singapur. Ongkos bus/MRT yang dikeluarkan dengan menggunakan EZ-link card ini jatuhnya lebih murah dibandingkan membayar tiket cash. EZ-link card ini dapat dibeli di setiap stasiun MRT. Jika saldonya berkurang atau habis, dapat diisi ulang pada setiap mesin penjual EZ-link card di setiap stasiun MRT.

Pejalan Kaki Nomor Satu

Karena kebiasaan di Jakarta, setiap mau menyebrang jalan raya kita harus mengalah sama kendaraan bermotor. Dan kebiasaan ini terbawa-bawa sampai Singapur. Ternyata, di negara maju di Asia Tenggara ini, semua kendaraan bermotor mengalah sama pejalan kaki. Betapa terharunya aku yang berkali-kali hampir ditabrak motor di Jakarta

Salutnya lagi, 90% para pejalan kaki di Singapur patuh pada rambu-rambu lalu lintas. Mereka menyeberang pada tempat yang telah disediakan, dan mulai menyeberang ketika lampu hijau untuk pejalan kaki menyala. Batinku, “Inilah bedanya developed country dan developing country“.

Toilet Kering VS Toilet Basah

Nah, ini dia yang jadi kendala utamaku selama di Singapur! Budaya mereka yang (maaf) cebok pake tissue, jujur membuatku gak nyaman. Secara, di Indonesia kan kebiasaan pake gayung sama air . Bahkan toilet di hostel pun menerapkan hal ini. Alhasil selama 3 malam aku gak bisa pub, karena gak nyaman . Jadinya, kalau mau pub aku tahan sampai menemukan masjid terdekat. Karena toilet di masjid bersihnya jempol dan fasilitasnya sangat syar’i–salah satunya menyediakan selang air untuk membasuh kemaluan setelah buang air besar/kecil.

Tapi kalau suamiku siy punya trik. Setiap mau ke toilet hostel, ia pasti bawa gelas plastik (hasil ngembat dari McD) untuk difungsikan sebagai gayung. Lalu sumber airnya dari mana? Kan toilet kering? Nah, itu dia ide brilian suamiku… Doi mengambil air bersih yang ada dalam tangki penyiram pada jamban duduk… Jadilah byur byur hehehe…. .

Bertanyalah Pada Petugas

Tips penting jika tersesat atau sekedar memastikan bahwa Anda tidak tersesat, yaitu: Bertanyalah pada petugas. Sebabnya, tidak semua orang Singapur itu bisa Bahasa Inggris. Sempat aku bertanya pada seorang ibu di terminal bus, dan dengan antusiasnya dia menjawab dalam Bahasa Mandarin
.

So, lebih aman bertanya pada officer atau petugas berseragam. Gak cuma tanya soal jalan lho, mereka juga bisa menunjukkan dimana letak rumah makan halal. So, janganlah malu bertanya agar tidak sesat di jalan !

Singapore Trip

Setelah ‘nekat’ membeli tiket promo Air Asia, alhamdulillah kami dapat jalan-jalan ala backpacker (baca: turis kere ^^) ke Singapur yang bertepatan dengan ulang tahun pertama pernikahan kami. Insyaallah banyak hikmah yang dapat dipetik dari perjalanan ini 🙂
Here come the photos!

Rachel Corrie- 5th Grade Speech- "I’m here because I care"

http://www.youtube.com/watch?v=dMO-FQwIRiM
Fifth Grade Press Conference on World Hunger

By Rachel Corrie, aged 10 — 1990

I’m here for other children.
I’m here because I care.
I’m here because children everywhere are suffering and because forty thousand people die each day from hunger.
I’m here because those people are mostly children.
We have got to understand that the poor are all around us and we are ignoring them.
We have got to understand that these deaths are preventable.
We have got to understand that people in third world countries think and care and smile and cry just like us.
We have got to understand that they dream our dreams and we dream theirs.
We have got to understand that they are us. We are them.
My dream is to stop hunger by the year 2000.
My dream is to give the poor a chance.
My dream is to save the 40,000 people who die each day.
My dream can and will come true if we all look into the future and see the light that shines there.
If we ignore hunger, that light will go out.
If we all help and work together, it will grow and burn free with the potential of tomorrow.