[Belajar Jadi Ortu] Menggendong Bayi Part 3

Fakta menarik lainnya, karena bayi yang sering digendong jarang menangis, ia akan lebih optimal tumbuh, sebab energinya untuk menangis difokuskan untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan menggendong bayi menjadi solusi untuk ibu yang aktif, sebab bayi bukanlah penghalang bagi ibu untuk beraktivitas. “Tidak ada satu pun dalam kontrak ibu-anak yang mengatakan bahwa Anda harus tinggal di rumah dan menjadi pertapa setelah memiliki bayi,” kata Dr. Sears (hlm. 401).

Saya jadi teringat Fatimah RA yang tetap menggiling gandum sambil menggendong anak-anaknya yang masih kecil, Hasan dan Husein. Diriwayatkan pula, Rasulullah SAW senantiasa menggendong cucunya, bahkan ketika beliau mengimami shalat.

[Tamat]

Advertisements

[Belajar Jadi Ortu] Menggendong Bayi Part 3

Fakta menarik lainnya, karena bayi yang sering digendong jarang menangis, ia akan lebih optimal tumbuh, sebab energinya untuk menangis difokuskan untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan menggendong bayi menjadi solusi untuk ibu yang aktif, sebab bayi bukanlah penghalang bagi ibu untuk beraktivitas. “Tidak ada satu pun dalam kontrak ibu-anak yang mengatakan bahwa Anda harus tinggal di rumah dan menjadi pertapa setelah memiliki bayi,” kata Dr. Sears (hlm. 401).

Saya jadi teringat Fatimah RA yang tetap menggiling gandum sambil menggendong anak-anaknya yang masih kecil, Hasan dan Husein. Diriwayatkan pula, Rasulullah SAW senantiasa menggendong cucunya, bahkan ketika beliau mengimami shalat.

[Tamat]

[Belajar Jadi Ortu] Menggendong Bayi Part 2

Saya jadi teringat film Oshin yang selalu menggendong bayi sepanjang hari sambil bekerja. Yup! Dan itulah pula solusi dari Dr. Sears untuk ibu-ibu yang sibuk bekerja.

Mungkin konsep ini tampak asing bagi warga metropolitan. Padahal konsep ini sudah menjadi budaya bagi masyarakat tradisional Indonesia, contohnya di Bali. Bayi-bayi yang baru lahir hingga usia 6 bulan tidak menapak ‘tanah’ alias tidak pernah turun dari gendongan orang tua dan kerabatnya. Sang bayi ikut beraktivitas dengan ibunya dalam gendongan. Baru pada usia 6 bulan, diadakan upacara ‘turun tanah’.

Well, mungkin sebagian orang berpendapat bahwa bayi ‘bau tangan’ akan tumbuh menjadi manja. Saya kurang tahu persis, tapi yang pasti selama 30 tahun menjadi dokter anak, Dr. Sears mendapati bahwa bayi yang digendong sepanjang hari justru lebih cepat ‘dewasa’, karena ia ikut terlibat dalam aktivitas orang tuanya.
(bersambung..)

[Belajar Jadi Ortu] Menggendong Bayi

Apa visualisasi Anda jika Anda punya bayi? Bayi yang tidur tenang dalam boksnya yang beralaskan kasur dan selimut lembut. Kemudian Anda baru menggendongnya ketika ia menangis dan terjaga, begitu? Saya pun bervisualisasi seperti itu. Intinya, orang tua baru menggendong bayinya agar tidak rewel.

Tetapi setelah rampung membaca bab 14 The Baby Book, visualisasi itu langsung hancur berkeping-keping. “Bayi yang jarang digendong belajar untuk menangis agar segera diangkat atau digendong; bayi yang sering digendong belajar untuk memberikan bahasa tubuh-tidak dengan menangis-yang menandai kebutuhan mereka untuk dibaringkan (Sears, 2007: 380)”.

Intinya, dari hasil survei dan pengalaman Dr. Sears dan isterinya dalam buku setebal 1044 halaman, menyarankan agar di tahun pertama kehidupannya, bayi senantiasa digendong sepanjang hari, sejak ia bangun hingga terlelap.

Abis baca Bab 14 The Baby Book jadi pingin menggendong bayi sambil ngantor..

[Belajar Jadi Ortu] Menggendong Bayi Part 2

Saya jadi teringat film Oshin yang selalu menggendong bayi sepanjang hari sambil bekerja. Yup! Dan itulah pula solusi dari Dr. Sears untuk ibu-ibu yang sibuk bekerja.

Mungkin konsep ini tampak asing bagi warga metropolitan. Padahal konsep ini sudah menjadi budaya bagi masyarakat tradisional Indonesia, contohnya di Bali. Bayi-bayi yang baru lahir hingga usia 6 bulan tidak menapak ‘tanah’ alias tidak pernah turun dari gendongan orang tua dan kerabatnya. Sang bayi ikut beraktivitas dengan ibunya dalam gendongan. Baru pada usia 6 bulan, diadakan upacara ‘turun tanah’.

Well, mungkin sebagian orang berpendapat bahwa bayi ‘bau tangan’ akan tumbuh menjadi manja. Saya kurang tahu persis, tapi yang pasti selama 30 tahun menjadi dokter anak, Dr. Sears mendapati bahwa bayi yang digendong sepanjang hari justru lebih cepat ‘dewasa’, karena ia ikut terlibat dalam aktivitas orang tuanya.
(bersambung..)

[Belajar Jadi Ortu] Menggendong Bayi

Apa visualisasi Anda jika Anda punya bayi? Bayi yang tidur tenang dalam boksnya yang beralaskan kasur dan selimut lembut. Kemudian Anda baru menggendongnya ketika ia menangis dan terjaga, begitu? Saya pun bervisualisasi seperti itu. Intinya, orang tua baru menggendong bayinya agar tidak rewel.

Tetapi setelah rampung membaca bab 14 The Baby Book, visualisasi itu langsung hancur berkeping-keping. “Bayi yang jarang digendong belajar untuk menangis agar segera diangkat atau digendong; bayi yang sering digendong belajar untuk memberikan bahasa tubuh-tidak dengan menangis-yang menandai kebutuhan mereka untuk dibaringkan (Sears, 2007: 380)”.

Intinya, dari hasil survei dan pengalaman Dr. Sears dan isterinya dalam buku setebal 1044 halaman, menyarankan agar di tahun pertama kehidupannya, bayi senantiasa digendong sepanjang hari, sejak ia bangun hingga terlelap.

Abis baca Bab 17 The Baby Book, jadi pengen resign…

Betina Hamil = Galak?

Sebagai penyayang kucing, saya paham betul karakter hewan satu ini. Hewan lucu dan manis ini seringkali jadi menakutkan kalau sedang hamil. Yup, jangan macam2 sama kucing bunting! Saya sudah beberapa kali dicakar dan hampir dicakar saat tak sengaja membuatnya merasa tak nyaman. Bahkan saat kita memegang buntutnya saja, si kucing hamil sudah menggeram dan siap mencakar. Mungkin inilah cara komunikasi sang kucing terhadap lingkungannya. Ia menjadi lebih asertif lantaran insting keibuannya tumbuh.

Entah kebetulan atau alamiah, saya merasakan hal serupa. Saat perut kian membuncit, saya menjadi lebih asertif terhadap orang-orang yang membuat saya tidak nyaman (bisa membahayakan saya & janin saya). Misalnya, beberapa kali saya memarahi pengendara motor yang lewat trotoar sehingga jalan saya terhalang. Padahal saat sedang tidak hamil, saya hanya menggerutu dalam hati pada situasi serupa. Saat menaiki dan menuruni tangga masjid pun berkali-kali saya menegur orang yang seenaknya pakai sepatu di tangga sehingga menghalangi jalan, “Permisi mas, jangan ngalingin jalan!”

Lalu bagaimana dengan para perokok yang ngerokok seenak udelnya? Wah, kalau itu siy dari sebelum hamil pun saya sudah bersikap asertif. Gak pake basa-basi, kalau ada yang merokok dekat saya, pasti saya tegur. Dan pengalaman saya, mereka umumnya mau mematikan rokoknya. Hanya saja, selama hamil ini, saya tidak tahu apakah menurut mereka saya jadi lebih ‘galak’? 🙂

Apa kbr MPku syg? Aku cuma bisa membukamu di HP, krn di kompi kantor ‘access denied’ :'(