Before Those 2 Stripes

“Di rahim kanan ada massa ukuran 3 senti,” ujar dokter sambil mengamati citra USG pada layar.

Hah? Massa? Massa apakah itu?

“Belum bisa dipastikan itu apa, perlu pemeriksaan lebih lanjut,” sambung dokter kandungan yang memeriksaku pada Maret 2010.

Agak merinding mendengar penjelasan bu dokter. Tapi aku terlalu takut untuk berpikiran buruk tentang kondisi rahimku. Dokter kemudian menyarankan agar aku kembali lagi pada saat haid untuk melakukan pemeriksaan USG transvaginal.

Dua pekan kemudian, sesuai dengan saran dokter, aku dan suamiku kembali ke dokter. Usai melakukan USG transvaginal, kemudian aku dites mantoux untuk memastikan apakah ‘tumor’ pada rahim kananku itu disebabkan oleh TBC.

Tiga hari kemudian, hasil tes mantoux dinyatakan negatif. “Diagnosanya mengarah pada kista endometriosis. Tapi saya belum bisa memastikan. Perlu pemeriksaan lebih lanjut,” ujar dokter. Pikiranku langsung tertuju pada hasil googling tentang kemungkinan penyakit ‘langganan’ perempuan usia subur, yaitu “myoma, kista, dan endometriosis”. Dan aku tahu, pada level tertentu, pengidap penyakit tersebut sulit hamil. Bahkan operasi pengangkatannya pun tidak menyelesaikan masalah selama hormon-hormon estrogen dan progesteron masih diproduksi pada perempuan usia subur.

Kemudian dokter merekomendasikan aku untuk HSG. Setelah menghitung-hitung jumlah tabungan, karena asuransi kesehatan kantor tidak meng-cover biaya pengobatan fertilitas, aku menuruti saran dokter. Bismillah aku diantar suamiku ke RS untuk melakukan prosedur HSG. Sengaja aku pilih yang tidak pakai anastesi agar biayanya lebih murah.

Setelah berganti pakaian khusus untuk ruang radiologi, aku berbaring di atas meja pemeriksaan dengan posisi kaki yang tidak bisa dibilang cantik. “Ibu, kami akan memasukkan alat ke rahim ibu,” ujar dokter dan perawat dengan ramah. Sambil tersenyum aku berusaha serileks mungkin agar tidak sakit. Karena aku menyadari bahwa aku sama sekali tidak dianastesi.

“Kok susah ya?” ujar sang perawat diikuti komentar serupa dari sang dokter. Tak berapa lama kemudian aku mendengar diskusi agak panjang antara perawat dan dokter mengenai kondisi rahimku yang sulit dimasukkan kateter. Dan hasil dari diskusi itu menyimpulkan bahwa HSG gagal dilakukan karena posisi rahimku yang melengkung. Aku gak terlalu mengerti seperti apa, secara aku gak bisa melongok ke bawah sana… Lalu, dokter operator HSG memberikan surat pengantar untuk dokter kandunganku mengenai kesulitan yang ia alami sehingga HSG gagal dilakukan.

Akhirnya aku kembali lagi ke dokter kandunganku. Saat itu bulan April 2010. “Bulan depan langsung terapi hormon aja ya,” ujar sang dokter. Aku hanya melongo. Pikiranku hanya melayang tentang pengalaman teman-teman yang tambah endut dan jerawatan saat menjalani terapi hormon.

“Kita tunggu bulan depan sampai dapat haid, nanti kita mulai terapi hormon,” bu dokter menegaskan. Tapi aku agak ragu-ragu.

“Kalau terapi hormon, biayanya berapa ya dok? Terus, efeknya apa aja?” tanyaku cemas.

“Tergantung. Kalau suntik sebulan sekali, sekali suntik sekitar 1 juta. Kalau minum pil, harus rutin gak boleh putus, biayanya sekitar 400 ribuan. Efeknya paling penambahan berat badan,” ujarnya tenang tanpa beban.

Tiba-tiba aku serasa melayang. Aku tidak tahu apakah ini lantaran stress akan penyakitku atau karena 2 malam begadang karena mengerjakan proyek buku. Entahlah….

Sepulang dari dokter aku hanya bisa mengirim sms ke ibuku yang sedang umroh, “Mohon doanya ya bu, saya didiagnosa kista endometriosis”.

Ibu hanya menjawab, “Iya insyaallah. Setiap penyakit hanya Allah yang menyembuhkan.”

Badanku lelah, tapi aku tidak bisa tidur karena masih harus menyelesaikan ilustrasi buku. Lalu aku minum secangkir kopi hitam agar aku betah melek. Saat itu aku tidak peduli dengan kafein lagi karena aku pikir aku tak mungkin hamil.

(bersambung…)

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. mbakje cepetan diterusin blognya…. aku mau tau lanjutannya…hehetapi Alhamdulillah ya… penantian itu akhirnya datang juga…seneng banget dengernya… šŸ™‚

    Reply
  2. Jati, aku mau ke rumah mu. Aku ada info penting terkait sakitmu. Kapan aku bisa mampir?

    Reply
  3. sebuah kisah yg berakhir happy ending, kan? Lainsyakartum laadzidanakum wa lainkafartum inna adzaba la syadiid

    Reply
  4. mawaddah1985 said: mbakje cepetan diterusin blognya….aku mau tau lanjutannya…hehe

    waduh jadi gak enak niy, belom2 udh dpt fan xixixixi ;p

    Reply
  5. widyalibre said: Jati, aku mau ke rumah mu. Aku ada info penting terkait sakitmu. Kapan aku bisa mampir?

    hari sabtu atau ahad aja wid… klo mau ke rumah sms dulu yak šŸ˜‰

    Reply
  6. drprita said: sebuah kisah yg berakhir happy ending, kan? Lainsyakartum laadzidanakum wa lainkafartum inna adzaba la syadiid

    kisahnya masih bersambung dok… baru mau dilanjutin šŸ˜€ btw, gak ikut ke Gaza dok?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: