KidsHealth – the Web’s site about children’s health

http://kidshealth.org/
Satu lagi, referensi seputar kesehatan dan P3K anak buat para orang tua dan calon orang tua 😉

Saran Dokter Yang Menyesatkan

Peristiwa ini terjadi beberapa bulan lalu, saat usia kandunganku masuk 13 minggu. Saat di kantor aku merasakan otot-otot perut, panggul, dan (maaf) wilayah sekitar dubur kok senut-senut. Buat duduk gak nyaman, buat jalan juga sakit, apalagi kalo dari duduk ke berdiri, aduh rek! Aku pikir ini ada hubungannya dengan hemorrhoids. Karena rasanya mirip ketika hemorrhoids-ku kambuh saat SMA dulu. Berhubung sampai menjelang pulang kantor, rasa sakitnya gak ilang-ilang, akhirnya aku memutuskan pulang naik taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan tidur dengan harapan besok segera pulih. Namun esoknya, ketika hendak bangkit dari tempat tidur untuk wudhu sholat subuh, sakitnya gak ketulungan. Perut rasanya seperti diiris-iris. Bergerak sedikit saja sakitnya bukan main. Sehingga aku membutuhkan waktu setidaknya 15 menit plus meringis-ringis hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Lalu dengan sangat perlahan dan posisi tubuh sedikit membungkuk, terhuyung-huyung aku menuju kamar mandi.

Usai sholat shubuh aku memutuskan untuk periksa ke RS terdekat. Usai mandi dan sarapan kaya akan serat–karena saat itu aku yakin sakit ini karena hemorrhoids–aku langsung ke RS sendirian. Ibuku tidak bisa mengantar karena ada perlu. Suamiku pun sedang tugas ke Kairo.

“Mbak, ke poli umum,” ujarku pada petugas kasir pendaftaran pasien.
“Poli umum gak ada, mbak. Memang keluhannya apa?”
“Saya sedang hamil 3 bulan, dan hemorrhoids saya kambuh,” ujarku.
“Kalo gitu ke poli kebidanan saja ya mbak. Letak poli-nya di lantai 4 ya,” ujarnya ramah.

Setelah membayar uang pendaftaran dan menerima nomor antrian pertama di poli kebidanan, langsung aku menuju lantai 4. Masih jam 7.00 pagi saat itu dan lantai 4 masih sepi. Kubunuh waktu dengan membaca “The Baby Book” sambil selonjoran di kursi tunggu pasien yang masih melompong.

Jam 9.00 dokter belum datang, namun para perawat yang bertugas mengukur tensi, menimbang badan, dan mencatat keluhan pasien di medical record sudah siap di ruang periksa. Ketika namaku dipanggil aku masuk. Setelah ditensi dan ditimbang, sang perawat menanyakan keluhanku.

“Saya hamil 3 bulan, hemorrhoids saya kambuh,” ujarku.
“Lho, bu. Kalo hemorrhoids ke poli bedah,” ujar sang perawat.
“Lho, tadi pas di pendaftaran saya disuruh ke kebidanan?!”
“Sekarang ibu ingin diobati kehamilannya apa hemorrhoids-nya?”
“Ya hemorrhoids-nya,” ujarku mulai sewot.
“Kalo gitu ibu mesti ke tempat pendaftaran lagi di lantai 2.”
“Jadi, saya harus turun lagi??!!!”
“Ya harus begitu, bu.”
Dengan menahan emosi, aku bangkit sambil menahan nyeri dan berkata sinis, “Terima kasih suster atas pelayanannya yang sangat ‘memuaskan'”.

Sambil menahan nyeri, aku kembali antri ke tempat pendaftaran pasien untuk tukar poli. Walhasil aku mendapat nomor antrian ke-48 di pol bedah.

Dengan basmallah aku menuju ruang tunggu poli bedah yang ramai. Tak kutemui satu pun kursi kosong di situ, sehingga aku tak bisa mengistirahatkan diriku. Tak dapat kubayangkan kalau aku harus menunggu sampai nomor antrian ke-48, padahal saat itu baru pasien nomor 9 yang diperiksa.

Sekali lagi dengan basmallah, aku mencoba masuk ke ruang poli bedah dan menjelaskan kesalahan prosedur yang aku alami. Untungnya perawat yang sedang bertugas sudah kukenal. Ia biasa dipanggil “Teh Entin”. Orangnya baik dan sabar. Dengan gaya SKSD (Sok Kenal Sok Deket. Red), aku dekati dia. Dengan Bahasa Sunda, kujelaskan duduk perkara masalahku. Alhamdulillah dia paham dan mau membantuku.

“Udah, Jatining duduk aja di sini. Abis ini langsung diperiksa,” ujar Teh Entin mantap. Terima kasih, ya Allah.

“Hemorrhoidsnya gak apa-apa kok. Cuma ada bekas luka aja, tapi kayaknya udah lama sekali,” ujar dokter usai memeriksaku. Bekas luka itu pasti waktu hemorrhoids-ku kambuh saat SMA dulu, pikirku.

“Ini gak apa-apa kok. Banyak jalan aja, banyak olah raga, dan makan makanan berserat,” ujar dokter.
“Tapi kok sekeliling perut saya sakit banget ya dok?”
“Gak apa-apa kok. Banyak jalan aja,” ulangnya. Kemudian sang dokter meresepkan obat.
“Lho dok, pake obat segala? Katanya saya gak apa-apa.”
“Lha itu ada bekas luka.”
“Kan bekas lukanya udah lama. Dokter sendiri yang bilang.” Kulihat sang dokter menatapku setengah kesal.

“Maaf, bisa tolong dijelaskan ini obatnya apa aja?” Ini adalah pertanyaan wajibku setiap kali berobat.
Dengan nada setengah kesal, ia menjelaskan, “Ini antibiotik…”
“Antibiotik? Kan saya nggak infeksi dok. Kok dikasih antibiotik?”
“Lha itu ada lukanya!”
“Kan dokter bilang tadi itu bekas luka? Lagipula saya kan nggak demam, dok.”
“Lha siapa suruh?” jawab dokter itu kehabisan kata-kata. Aku hanya diam menatapnya.
“Terus, apa lagi obatnya, dok?” lanjutku.
“Udah, tanya aja nanti di apotek,” sahutnya kesal. Masyaallah… baru kali ini kutemui dokter yang sangat tidak kooperatif. Bukankah hakku sebagai pasien untuk mengetahui apa yang diresepkan dokter? Aku tidak mau kasus macam Prita Mulyasari terjadi padaku.

Sambil terus memegangi perut karena menahan sakit, aku meninggalkan RS. Tak satu pun resep dokter kutebus. Satu-satunya saran dokter spesialis bedah yang kuturuti adalah BANYAK JALAN. Maka kuputuskan untuk menuju pasar swalayan untuk sekedar berjalan dan membeli buah dan sayur.

Tapi oh la la… Saat harus mengantri menimbang buah, aku sungguh tak sanggup untuk berdiri. Maka aku mengantri sambil berjongkok. Sumpah, aku sudah tak tahan lagi. Usai menimbang, aku langsung menuju kasir untuk membayar semua belanjaan, kemudian pulang.

Di rumah aku sendirian, karena ibu masih sibuk dengan urusannya. Aku hanya bisa rebah di tempat tidur. Kumandang azan zuhur mengudara. Aku tak sanggup bangkit untuk sekedar berwudhu. Maka aku tayamum dan sholat sambil duduk. Aku lapar, tapi tak sanggup untuk memasak makanan. Ya Allah… apa yang terjadi padaku? Padahal aku sudah mencoba banyak jalan seperti saran dokter, tapi kenapa malah tambah sakit?

Lalu kutelepon kenalan seorang bidan dan kujelaskan kondisiku. “Oh, itu namanya kontraksi mbak. Justru jangan banyak jalan, harus berbaring saja,” ujarnya. Masyaallah… sungguh menyesatkan saran dokter bedah tersebut. Alhamdulillah setelah diperiksa ke dokter kandungan keesokan harinya, bayiku baik-baik saja dan aku disuruh bedrest 5 hari. []

Saran Dokter Yang Menyesatkan

Peristiwa ini terjadi beberapa bulan lalu, saat usia kandunganku masuk 13 minggu. Saat di kantor aku merasakan otot-otot perut, panggul, dan (maaf) wilayah sekitar dubur kok senut-senut. Buat duduk gak nyaman, buat jalan juga sakit, apalagi kalo dari duduk ke berdiri, aduh rek! Aku pikir ini ada hubungannya dengan hemorrhoids. Karena rasanya mirip ketika hemorrhoids-ku kambuh saat SMA dulu. Berhubung sampai menjelang pulang kantor, rasa sakitnya gak ilang-ilang, akhirnya aku memutuskan pulang naik taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan tidur dengan harapan besok segera pulih. Namun esoknya, ketika hendak bangkit dari tempat tidur untuk wudhu sholat subuh, sakitnya gak ketulungan. Perut rasanya seperti diiris-iris. Bergerak sedikit saja sakitnya bukan main. Sehingga aku membutuhkan waktu setidaknya 15 menit plus meringis-ringis hanya untuk bangkit dari tempat tidur. Lalu dengan sangat perlahan dan posisi tubuh sedikit membungkuk, terhuyung-huyung aku menuju kamar mandi.

Usai sholat shubuh aku memutuskan untuk periksa ke RS terdekat. Usai mandi dan sarapan kaya akan serat–karena saat itu aku yakin sakit ini karena hemorrhoids–aku langsung ke RS sendirian. Ibuku tidak bisa mengantar karena ada perlu. Suamiku pun sedang tugas ke Kairo.

“Mbak, ke poli umum,” ujarku pada petugas kasir pendaftaran pasien.
“Poli umum gak ada, mbak. Memang keluhannya apa?”
“Saya sedang hamil 3 bulan, dan hemorrhoids saya kambuh,” ujarku.
“Kalo gitu ke poli kebidanan saja ya mbak. Letak poli-nya di lantai 4 ya,” ujarnya ramah.

Setelah membayar uang pendaftaran dan menerima nomor antrian pertama di poli kebidanan, langsung aku menuju lantai 4. Masih jam 7.00 pagi saat itu dan lantai 4 masih sepi. Kubunuh waktu dengan membaca “The Baby Book” sambil selonjoran di kursi tunggu pasien yang masih melompong.

Jam 9.00 dokter belum datang, namun para perawat yang bertugas mengukur tensi, menimbang badan, dan mencatat keluhan pasien di medical record sudah siap di ruang periksa. Ketika namaku dipanggil aku masuk. Setelah ditensi dan ditimbang, sang perawat menanyakan keluhanku.

“Saya hamil 3 bulan, hemorrhoids saya kambuh,” ujarku.
“Lho, bu. Kalo hemorrhoids ke poli bedah,” ujar sang perawat.
“Lho, tadi pas di pendaftaran saya disuruh ke kebidanan?!”
“Sekarang ibu ingin diobati kehamilannya apa hemorrhoids-nya?”
“Ya hemorrhoids-nya,” ujarku mulai sewot.
“Kalo gitu ibu mesti ke tempat pendaftaran lagi di lantai 2.”
“Jadi, saya harus turun lagi??!!!”
“Ya harus begitu, bu.”
Dengan menahan emosi, aku bangkit sambil menahan nyeri dan berkata sinis, “Terima kasih suster atas pelayanannya yang sangat ‘memuaskan'”.

Sambil menahan nyeri, aku kembali antri ke tempat pendaftaran pasien untuk tukar poli. Walhasil aku mendapat nomor antrian ke-48 di pol bedah.

Dengan basmallah aku menuju ruang tunggu poli bedah yang ramai. Tak kutemui satu pun kursi kosong di situ, sehingga aku tak bisa mengistirahatkan diriku. Tak dapat kubayangkan kalau aku harus menunggu sampai nomor antrian ke-48, padahal saat itu baru pasien nomor 9 yang diperiksa.

Sekali lagi dengan basmallah, aku mencoba masuk ke ruang poli bedah dan menjelaskan kesalahan prosedur yang aku alami. Untungnya perawat yang sedang bertugas sudah kukenal. Ia biasa dipanggil “Teh Entin”. Orangnya baik dan sabar. Dengan gaya SKSD (Sok Kenal Sok Deket. Red), aku dekati dia. Dengan Bahasa Sunda, kujelaskan duduk perkara masalahku. Alhamdulillah dia paham dan mau membantuku.

“Udah, Jatining duduk aja di sini. Abis ini langsung diperiksa,” ujar Teh Entin mantap. Terima kasih, ya Allah.

“Hemorrhoidsnya gak apa-apa kok. Cuma ada bekas luka aja, tapi kayaknya udah lama sekali,” ujar dokter usai memeriksaku. Bekas luka itu pasti waktu hemorrhoids-ku kambuh saat SMA dulu, pikirku.

“Ini gak apa-apa kok. Banyak jalan aja, banyak olah raga, dan makan makanan berserat,” ujar dokter.
“Tapi kok sekeliling perut saya sakit banget ya dok?”
“Gak apa-apa kok. Banyak jalan aja,” ulangnya. Kemudian sang dokter meresepkan obat.
“Lho dok, pake obat segala? Katanya saya gak apa-apa.”
“Lha itu ada bekas luka.”
“Kan bekas lukanya udah lama. Dokter sendiri yang bilang.” Kulihat sang dokter menatapku setengah kesal.

“Maaf, bisa tolong dijelaskan ini obatnya apa aja?” Ini adalah pertanyaan wajibku setiap kali berobat.
Dengan nada setengah kesal, ia menjelaskan, “Ini antibiotik…”
“Antibiotik? Kan saya nggak infeksi dok. Kok dikasih antibiotik?”
“Lha itu ada lukanya!”
“Kan dokter bilang tadi itu bekas luka? Lagipula saya kan nggak demam, dok.”
“Lha siapa suruh?” jawab dokter itu kehabisan kata-kata. Aku hanya diam menatapnya.
“Terus, apa lagi obatnya, dok?” lanjutku.
“Udah, tanya aja nanti di apotek,” sahutnya kesal. Masyaallah… baru kali ini kutemui dokter yang sangat tidak kooperatif. Bukankah hakku sebagai pasien untuk mengetahui apa yang diresepkan dokter? Aku tidak mau kasus macam Prita Mulyasari terjadi padaku.

Sambil terus memegangi perut karena menahan sakit, aku meninggalkan RS. Tak satu pun resep dokter kutebus. Satu-satunya saran dokter spesialis bedah yang kuturuti adalah BANYAK JALAN. Maka kuputuskan untuk menuju pasar swalayan untuk sekedar berjalan dan membeli buah dan sayur.

Tapi oh la la… Saat harus mengantri menimbang buah, aku sungguh tak sanggup untuk berdiri. Maka aku mengantri sambil berjongkok. Sumpah, aku sudah tak tahan lagi. Usai menimbang, aku langsung menuju kasir untuk membayar semua belanjaan, kemudian pulang.

Di rumah aku sendirian, karena ibu masih sibuk dengan urusannya. Aku hanya bisa rebah di tempat tidur. Kumandang azan zuhur mengudara. Aku tak sanggup bangkit untuk sekedar berwudhu. Maka aku tayamum dan sholat sambil duduk. Aku lapar, tapi tak sanggup untuk memasak makanan. Ya Allah… apa yang terjadi padaku? Padahal aku sudah mencoba banyak jalan seperti saran dokter, tapi kenapa malah tambah sakit?

Lalu kutelepon kenalan seorang bidan dan kujelaskan kondisiku. “Oh, itu namanya kontraksi mbak. Justru jangan banyak jalan, harus berbaring saja,” ujarnya. Masyaallah… sungguh menyesatkan saran dokter bedah tersebut. Alhamdulillah setelah diperiksa ke dokter kandungan keesokan harinya, bayiku baik-baik saja dan aku disuruh bedrest 5 hari. []

astaghfirullah… Aku yakin Allah Maha Adil… Barangsiapa berbuat curang, tentu ia akan menuai hasil perbuatan curangnya. Beri aku kesabaran, Ya Rabb…

manusia berencana, Allah menakdirkan…