No Vaccine For My Baby

Menjelang (insyaallah) menjadi ibu, saya menjadi sangat concern terhadap pengasuhan dan kesehatan bayi. Alhasil, saya menjadi rajin browsing informasi seputar dua hal tersebut.

Belakangan, saya fokus mencari informasi mengenai vaksinasi untuk bayi dan balita, karena hal satu ini membuat saya ragu. Pasalnya, vaksin mengandung zat-zat haram dan berbahaya (beracun), seperti virus, merkuri, alumunium, darah, enzim babi, pankeas kera, ginjal janin manusia yang diaborsi. Namun di sisi lain, saya ingin anak saya tetap terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, tentu saya harus menolak pemberian vaksin kepada anak saya kelak, karena dalam Al Qur’an tertera jelas, bahwa yang HARAM itu DILARANG. Karena itu saya sempat menulis status di facebook, bahwa ini benar-benar ujian keimanan. Kepada siapa kita beriman? Kepada dokter/ahli kesehatan atau kepada Allah SWT dan rasul-Nya?

Apalagi dewasa ini, orang-orang (Indonesia khususnya) yang emoh diberi vaksin kerap dianggap aneh. Berbagai alasan medis dan (seolah) ilmiah dilontarkan oleh mereka yang pro vaksinasi, alih-alih menakut-nakuti mereka yang kontra vaksinasi.

Well, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Semua berhak beropini dan berargumen. Toh, setiap detil perbuatan di dunia akan ada pertanggungjawabannya di akhirat nanti, ya kan?

Anyway, setelah tanya sana-sini, diskusi sana-sini, juga membaca referensi dari sana-sini… bismillah, saya memutuskan tidak akan memberi vaksin untuk anak-anak saya kelak. Kenapa?

Zat Haram dan Berbahaya Dalam Vaksin

Seperti yang sudah saya sebut di atas, bahwa vaksin mengandung zat-zat haram dan bersifat toxic atau racun. FYI, vaksin merupakan suatu produk biologik yang terbuat dari kuman/virus, komponen kuman/virus, atau racun kuman/virus yang telah dilemahkan atau dimatikan yang digunakan untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang.

Dalam proses pembuatannya pun, kuman/virus tersebut dibiakkan dalam organ tubuh hewan yang haram, seperti babi. Bahkan kompenen pembuat vaksin pun tidak kalah menjijikkan, najis, bahkan haram, seperti darah, enzim babi, dan embrio bayi yang digugurkan.

Selain haram, vaksin juga mengandung zat berbahaya. Misalnya vaksin DPT buatan Sanofi Pasteur dengan merk ‘Adacel’, mengandung Formaldehyde, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol, Pertussis toxin, Filamentous hemagglutinin (FHA), Aluminum phosphate, Diphtheria toxoid, Tetanus toxoid.

Ketidakefektifan Vaksin

Apakah bayi-bayi yang sudah divaksin dijamin aman dari penyakit tertentu? Jawabannya TIDAK! Hal ini karena vaksinasi sendiri menimbulkan sejumlah resiko. Bukan resiko demam setelah divaksin lho, tetapi resiko yang lebih serius.

Sebenarnya banyak sekali temuan yang tidak dipublikasi luas tentang bahaya vaksin. Mengapa? Karena jika terpublikasi luas, tentu saja pabrik pembuat vaksin bisa bangkrut!

Penyebaran penyakit pertusis misalnya, ternyata tidak dapat dicegah melalui vaksinasi. Berikut ini kutipan seorang ahli kesehatan. Dr. James Howenstine, MD., yang saya ambil dari sini :

“In 1986 there were 1300 cases of pertussis in Kansas and 90 % of these cases occurred in children who had been adequately vaccinated. Similar vaccine failures have been reported from Nova Scotia where pertussis continues to be occurring despite universal vaccination. Pertussis remains endemic[4] in the Netherlands where for more than 20 years 96 % of children have received 3 pertussis shots by age 12 months.”

Beberapa pendapat lain dari para pakar yang saya ambil dari sini tentang vaksin :

“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika

“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962

Konspirasi Di Balik Kewajiban Vaksinasi

Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tahu bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut. Pernahkah berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?

DNA berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya. Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tahu asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut. Intinya, propaganda kewajiban vaksinasi tujuannya tak lain adalah melemahkan generasi muda. Nauzubillahiminzaliik…

Jujur saja, sebelum berdiskusi dan membaca sejumlah referensi seperti yang saya tulis di akhir tulisan ini, saya sempat ragu jika harus menjauhkan anak saya kelak dari vaksin. Tetapi ternyata banyak saksi hidup yang tumbuh dewasa dengan sehat wal afiat tanpa vaksin. Suami saya salah satunya. Ia tidak pernah divaksin sejak lahir. Beberapa teman saya juga mengalami hal serupa. Dan alhamdulillah mereka tumbuh dengan sehat dan cerdas.

Well, kalau kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits, cukuplah kita ‘mengimunisasi’ anak-anak kita dengan cara-cara yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya, antara lain dengan ASI hingga dua tahun dan mentahniknya saat baru lahir. Hanya Allah sumber segala ilmu…

Jadi, masih mau memvaksin anak keturunan Anda?

Dari berbagai sumber:
http://books.google.co.id/books?id=lsiXhIC9sXkC&printsec=frontcover&dq=deadly+mist&hl=id&ei=d3rKTLfMB86HcaWZxcAO&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&q&f=false
http://en.wikipedia.org/wiki/Vaccine_controversy
http://books.google.co.id/books?id=ViexJgBVZksC&printsec=frontcover&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CDYQ6AEwAw#v=onepage&q&f=false
http://books.google.co.id/books?id=EahoRAAACAAJ&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CDIQ6AEwAg
http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/halal-haram-vaksinasi.htm
http://www.halalguide.info/2009/05/04/kehalalan-vaksin/
http://elfrieda.wordpress.com/2008/11/10/vaksinasi-perlukah-bahaya-imunisasi/#comment-26
http://www.halalguide.info/2008/09/22/pedoman-berproduksi-halal-di-rph-dan-restoran/
http://www.shirleys-wellness-cafe.com/vaccines.htm
http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/08/25/imunisasi-dan-strategi-yahudi/
http://www.mahdi-antichrist-freemasonry.com/
http://www.novaccine.com/
http://www.newswithviews.com/Howenstine/james.htm
http://dinkes.acehprov.go.id/dinkes/uploadfiles/data2006/kamus_dinkes/v.pdf

Advertisements

No Vaccine For My Baby

Menjelang (insyaallah) menjadi ibu, saya menjadi sangat concern terhadap pengasuhan dan kesehatan bayi. Alhasil, saya menjadi rajin browsing informasi seputar dua hal tersebut.

Belakangan, saya fokus mencari informasi mengenai vaksinasi untuk bayi dan balita, karena hal satu ini membuat saya ragu. Pasalnya, vaksin mengandung zat-zat haram dan berbahaya (beracun), seperti virus, merkuri, alumunium, darah, enzim babi, pankeas kera, ginjal janin manusia yang diaborsi. Namun di sisi lain, saya ingin anak saya tetap terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, tentu saya harus menolak pemberian vaksin kepada anak saya kelak, karena dalam Al Qur’an tertera jelas, bahwa yang HARAM itu DILARANG. Karena itu saya sempat menulis status di facebook, bahwa ini benar-benar ujian keimanan. Kepada siapa kita beriman? Kepada dokter/ahli kesehatan atau kepada Allah SWT dan rasul-Nya?

Apalagi dewasa ini, orang-orang (Indonesia khususnya) yang emoh diberi vaksin kerap dianggap aneh. Berbagai alasan medis dan (seolah) ilmiah dilontarkan oleh mereka yang pro vaksinasi, alih-alih menakut-nakuti mereka yang kontra vaksinasi.

Well, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Semua berhak beropini dan berargumen. Toh, setiap detil perbuatan di dunia akan ada pertanggungjawabannya di akhirat nanti, ya kan?

Anyway, setelah tanya sana-sini, diskusi sana-sini, juga membaca referensi dari sana-sini… bismillah, saya memutuskan tidak akan memberi vaksin untuk anak-anak saya kelak. Kenapa?

Zat Haram dan Berbahaya Dalam Vaksin

Seperti yang sudah saya sebut di atas, bahwa vaksin mengandung zat-zat haram dan bersifat toxic atau racun. FYI, vaksin merupakan suatu produk biologik yang terbuat dari kuman/virus, komponen kuman/virus, atau racun kuman/virus yang telah dilemahkan atau dimatikan yang digunakan untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang.

Dalam proses pembuatannya pun, kuman/virus tersebut dibiakkan dalam organ tubuh hewan yang haram, seperti babi. Bahkan kompenen pembuat vaksin pun tidak kalah menjijikkan, najis, bahkan haram, seperti darah, enzim babi, dan embrio bayi yang digugurkan.

Selain haram, vaksin juga mengandung zat berbahaya. Misalnya vaksin DPT buatan Sanofi Pasteur dengan merk ‘Adacel’, mengandung Formaldehyde, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol, Pertussis toxin, Filamentous hemagglutinin (FHA), Aluminum phosphate, Diphtheria toxoid, Tetanus toxoid.

Ketidakefektifan Vaksin

Apakah bayi-bayi yang sudah divaksin dijamin aman dari penyakit tertentu? Jawabannya TIDAK! Hal ini karena vaksinasi sendiri menimbulkan sejumlah resiko. Bukan resiko demam setelah divaksin lho, tetapi resiko yang lebih serius.

Sebenarnya banyak sekali temuan yang tidak dipublikasi luas tentang bahaya vaksin. Mengapa? Karena jika terpublikasi luas, tentu saja pabrik pembuat vaksin bisa bangkrut!

Penyebaran penyakit pertusis misalnya, ternyata tidak dapat dicegah melalui vaksinasi. Berikut ini kutipan seorang ahli kesehatan. Dr. James Howenstine, MD., yang saya ambil dari sini :

“In 1986 there were 1300 cases of pertussis in Kansas and 90 % of these cases occurred in children who had been adequately vaccinated. Similar vaccine failures have been reported from Nova Scotia where pertussis continues to be occurring despite universal vaccination. Pertussis remains endemic[4] in the Netherlands where for more than 20 years 96 % of children have received 3 pertussis shots by age 12 months.”

Beberapa pendapat lain dari para pakar yang saya ambil dari sini tentang vaksin :

“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika

“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962

Konspirasi Di Balik Kewajiban Vaksinasi

Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tahu bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut. Pernahkah berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?

DNA berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya. Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tahu asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut. Intinya, propaganda kewajiban vaksinasi tujuannya tak lain adalah melemahkan generasi muda. Nauzubillahiminzaliik…

Jujur saja, sebelum berdiskusi dan membaca sejumlah referensi seperti yang saya tulis di akhir tulisan ini, saya sempat ragu jika harus menjauhkan anak saya kelak dari vaksin. Tetapi ternyata banyak saksi hidup yang tumbuh dewasa dengan sehat wal afiat tanpa vaksin. Suami saya salah satunya. Ia tidak pernah divaksin sejak lahir. Beberapa teman saya juga mengalami hal serupa. Dan alhamdulillah mereka tumbuh dengan sehat dan cerdas.

Well, kalau kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits, cukuplah kita ‘mengimunisasi’ anak-anak kita dengan cara-cara yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya, antara lain dengan ASI hingga dua tahun dan mentahniknya saat baru lahir. Hanya Allah sumber segala ilmu…

Jadi, masih mau memvaksin anak keturunan Anda?

Dari berbagai sumber:
http://books.google.co.id/books?id=lsiXhIC9sXkC&printsec=frontcover&dq=deadly+mist&hl=id&ei=d3rKTLfMB86HcaWZxcAO&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&q&f=false
http://en.wikipedia.org/wiki/Vaccine_controversy
http://books.google.co.id/books?id=ViexJgBVZksC&printsec=frontcover&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CDYQ6AEwAw#v=onepage&q&f=false
http://books.google.co.id/books?id=EahoRAAACAAJ&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CDIQ6AEwAg
http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/halal-haram-vaksinasi.htm
http://www.halalguide.info/2
009/05/04/kehalalan-vaksin/
http://elfrieda.wordpress.com/2008/11/10/vaksinasi-perlukah-bahaya-imunisasi/#comment-26
http://www.halalguide.info/2008/09/22/pedoman-berproduksi-halal-di-rph-dan-restoran/
http://www.shirleys-wellness-cafe.com/vaccines.htm
http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/08/25/imunisasi-dan-strategi-yahudi/
http://www.mahdi-antichrist-freemasonry.com/
http://www.novaccine.com/
http://www.newswithviews.com/Howenstine/james.htm
http://dinkes.acehprov.go.id/dinkes/uploadfiles/data2006/kamus_dinkes/v.pdf

Selangkah Lebih Maju

“Mumpung belon merit, dari sekarang belajar tentang kehamilan. Mumpung belon punya anak, dari sekarang belajar tentang pengasuhan dan kesehatan bayi. Jangan kayak gue, ntar nyesel lho udahannya,” ujar seorang temanku yang aktif di milis sehat sejak anaknya sakit dan hampir mengalamai malpraktek.

Memang saat ini aku belum punya anak, tapi alhamdulillah setidaknya teori-teori tentang ASI, pengasuhan dan kesehatan bayi sudah aku pelajari–meski tidak menutup diri mesti harus belajar lagi, karena ilmu pengetahuan selalu berkembang.

Jadi ingat, dulu waktu masih kuliah dan belom merit, buku-buku tentang pernikahan dan rumah tangga sudah kulahap habis. Begitu juga buku-buku tentang perkembangan dan psikologi anak. Tidak hanya membaca, tapi juga menularkan kepada keluarga, terutama ibuku. Meskipun saat itu aku belum berencana menikah.

Delapan tahun lalu, ibuku mengernyitkan dahi saat aku cerita soal ta’aruf tanpa pacaran. Gak cuma mengernyit, beliau bahkan menolak mentah-mentah wacana itu. “Dimana-mana, kalo mau menikah itu ya harus pengenalan mendalam dulu. Harus pacaran!” ujarnya.

Tapi alhamdulillah melalui da’wah fardhiyah dan kuasa-Nya, akhirnya ibuku menerima konsep ta’aruf tanpa pacaran. Hingga saat Allah mempertemukan jodohku, alhamdulillah semuanya berjalan mulus. Bahkan jarak antara khitbah dan walimah tidaklah lama.

Setelah menikah–meskipun belum hamil–buku-buku dan pengetahuan seputar kehamilan kukunyah habis. Alhamdulillah juga aku mendapat kesempatan menggarap ilustrasi buku tentang ASI. Jadi, sambil belajar, sambil dapat ‘sambilan’ hehehe… Satu kali kayuh, 2 pulau terlampaui .

Pada tiap kesempatan, baik saat makan bersama atau sedang leyeh-leyeh, aku selalu mengajak diskusi anggota keluarga soal natural vaginal birth, IMD, ASI eksklusif, pengasuhan melekat, dll. Maklum, aku adalah produk sufor sejak lahir. Dan aku berusaha menyamakan visiku dengan anggota keluarga yang lain demi keberhasilan ASIX dan insyaallah ASI sampai 2 tahun, seperti yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Well, the more I learn, the less I know…. Semua teori yang ‘menurutku’ sudah aku kuasai tentu masih ada kurangnya. Aku rasa, semuanya mustahil berjalan lancar tanpa pertolongan-Nya, karena ilmu itu milik Allah. Bahkan Sabda Nabi, “Ilmu itu mendului iman”. Artinya, mustahil seseorang dikatakan beriman jika ia tidak berilmu.

Anyway, All I can do is learn learn and learn… Setidaknya menjadi ‘selangkah lebih maju’. Mohon ridho-Mu, Ya Rabb…

Selangkah Lebih Maju

“Mumpung belon merit, dari sekarang belajar tentang kehamilan. Mumpung belon punya anak, dari sekarang belajar tentang pengasuhan dan kesehatan bayi. Jangan kayak gue, ntar nyesel lho udahannya,” ujar seorang temanku yang aktif di milis sehat sejak anaknya sakit dan hampir mengalamai malpraktek.

Memang saat ini aku belum punya anak, tapi alhamdulillah setidaknya teori-teori tentang ASI, pengasuhan dan kesehatan bayi sudah aku pelajari–meski tidak menutup diri mesti harus belajar lagi, karena ilmu pengetahuan selalu berkembang.

Jadi ingat, dulu waktu masih kuliah dan belom merit, buku-buku tentang pernikahan dan rumah tangga sudah kulahap habis. Begitu juga buku-buku tentang perkembangan dan psikologi anak. Tidak hanya membaca, tapi juga menularkan kepada keluarga, terutama ibuku. Meskipun saat itu aku belum berencana menikah.

Delapan tahun lalu, ibuku mengernyitkan dahi saat aku cerita soal ta’aruf tanpa pacaran. Gak cuma mengernyit, beliau bahkan menolak mentah-mentah wacana itu. “Dimana-mana, kalo mau menikah itu ya harus pengenalan mendalam dulu. Harus pacaran!” ujarnya.

Tapi alhamdulillah melalui da’wah fardhiyah dan kuasa-Nya, akhirnya ibuku menerima konsep ta’aruf tanpa pacaran. Hingga saat Allah mempertemukan jodohku, alhamdulillah semuanya berjalan mulus. Bahkan jarak antara khitbah dan walimah tidaklah lama.

Setelah menikah–meskipun belum hamil–buku-buku dan pengetahuan seputar kehamilan kukunyah habis. Alhamdulillah juga aku mendapat kesempatan menggarap ilustrasi buku tentang ASI. Jadi, sambil belajar, sambil dapat ‘sambilan’ hehehe… Satu kali kayuh, 2 pulau terlampaui .

Pada tiap kesempatan, baik saat makan bersama atau sedang leyeh-leyeh, aku selalu mengajak diskusi anggota keluarga soal natural vaginal birth, IMD, ASI eksklusif, pengasuhan melekat, dll. Maklum, aku adalah produk sufor sejak lahir. Dan aku berusaha menyamakan visiku dengan anggota keluarga yang lain demi keberhasilan ASIX dan insyaallah ASI sampai 2 tahun, seperti yang diperintahkan dalam Al Qur’an.

Well, the more I learn, the less I know…. Semua teori yang ‘menurutku’ sudah aku kuasai tentu masih ada kurangnya. Aku rasa, semuanya mustahil berjalan lancar tanpa pertolongan-Nya, karena ilmu itu milik Allah. Bahkan Sabda Nabi, “Ilmu itu mendului iman”. Artinya, mustahil seseorang dikatakan beriman jika ia tidak berilmu.

Anyway, All I can do is learn learn and learn… Setidaknya menjadi ‘selangkah lebih maju’. Mohon ridho-Mu, Ya Rabb…

Free e-book of Health from Hesperian Foundation

http://www.hesperian.org/publications_download.php
Kumpulan e-book gratis ttg kesehatan.

Salah satu judul yang udah jadi ‘al kitab’ di rumah sejak aku kecil, yaitu “Where There Is No Doctor” yang sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Yayasan Essensia Medica menjadi “Apa Yang Anda Lakukan Bila Tidak Ada Dokter”. Ternyata saat sudah besar, buku ini tersedia dalam format PDF gratis 🙂

Semoga bermanfaat!

jam segini my baby kurang aktif bergerak, jangan2 lagi tidur? So, siap2 ntar klo udah lahir, jam segini jamnya dia bobok :p

Bumil Berenang

Sebelum hamil, aku udah tahu kalo olah raga paling aman untuk bumil tuh berenang. Yoga juga termasuk siy…. tapi tentu saja hanya gerakan-gerakan tertentu. Tapi 2 minggu lalu waktu periksa ke dokter, dokter menyarankan untuk berenang.

“Berenang bagus, terutama untuk back pain (sakit punggung bawah),” ujar Bu dokter.

Berhubung sejak hamil ini aku gak PD berenang sendirian, maka aku selalu minta ditemenin. Kalo gak sama teman perempuan, ya sama suami. Pasalnya pernah saat hamil muda aku berenang sendirian. Abis berenang kok rasanya lemes banget, terus pandangan sempat gelap. Duh, bahaya niy… Jangan sampai pingsan di kolam renang. Tapi alhamdulillah siy gpp waktu itu.

Tapi masalahnya, kalo berenang sama suami, tentu kudu di kolam renang umum lah yaw! Secara selama ini aku kalo berenang selalu di kolam renang khusus muslimah. Jadi gak pernah-pernahnya punya baju renang muslimah alias ‘burqini’. Toh yang berenang semuanya muhrim. Jadi gak khawatir soal hijab.

Nah, sejak dokter menyarankan olah raga renang selama hamil, baru deh kepikiran baju renang muslimah, supaya bisa berenang bareng suami. Agak ribet juga siy nyarinya, secara banyak yg ngaku baju renang muslimah, tapi modelnya rada ngetat di badan gitu… Tapi alhamdulillah akhirnya dapet juga baju renang muslimah yg syar’i. Jadi, bisa berenang bareng suami deh di kolam renang umum…

Bumil Berenang

Sebelum hamil, aku udah tahu kalo olah raga paling aman untuk bumil tuh berenang. Yoga juga termasuk siy…. tapi tentu saja hanya gerakan-gerakan tertentu. Tapi 2 minggu lalu waktu periksa ke dokter, dokter menyarankan untuk berenang.

“Berenang bagus, terutama untuk back pain (sakit punggung bawah),” ujar Bu dokter.

Berhubung sejak hamil ini aku gak PD berenang sendirian, maka aku selalu minta ditemenin. Kalo gak sama teman perempuan, ya sama suami. Pasalnya pernah saat hamil muda aku berenang sendirian. Abis berenang kok rasanya lemes banget, terus pandangan sempat gelap. Duh, bahaya niy… Jangan sampai pingsan di kolam renang. Tapi alhamdulillah siy gpp waktu itu.

Tapi masalahnya, kalo berenang sama suami, tentu kudu di kolam renang umum lah yaw! Secara selama ini aku kalo berenang selalu di kolam renang khusus muslimah. Jadi gak pernah-pernahnya punya baju renang muslimah alias ‘burqini’. Toh yang berenang semuanya muhrim. Jadi gak khawatir soal hijab.

Nah, sejak dokter menyarankan olah raga renang selama hamil, baru deh kepikiran baju renang muslimah, supaya bisa berenang bareng suami. Agak ribet juga siy nyarinya, secara banyak yg ngaku baju renang muslimah, tapi modelnya rada ngetat di badan gitu… Tapi alhamdulillah akhirnya dapet juga baju renang muslimah yg syar’i. Jadi, bisa berenang bareng suami deh di kolam renang umum…

Kalo gw berjilbab, ntar gak bisa berenang donk…?

10 tahun lalu, saat hendak berhijab, hanya satu hal yang mengganjal hati, yaitu BERENANG!

“Ci, ntar kalo gw berjilbab, gw gak bisa lagi berenang dong?” curhatku pada seorang akhwat yang lebih dulu berhijab rapi.

“Ya udah, ntar cari suami yang punya kolam renang,” selorohnya.

10 tahun lalu belum ada yang namanya kolam renang khusus muslimah, apalagi baju renang muslimah alias burqini (burqo + bikini). Boro-boro ada, kepikiran aja belum. Apalagi hobiku berenang. Saat SMA, setiap Ahad aku rutin berenang. Namun saat kuliah rutinitas ini sempat terhambat lantaran sulitnya mencari kolam renang dekat kampus.

Anyway…. Niat berhijab saat itu cuma satu, yaitu: Karena diperintahkan dalam Al Qur’an titik. Menurut pengetahuanku yang terbatas, perintah Allah jika tidak dijalankan hukumnya dosa. Karena itulah aku niat berhijab. Tapi yah… namanya setan, pasti ada aja cari celah dalam hati. Herannya, si setan ini kok tahu aja ya aku hobi berenang hehehe . Makanya setelah semua aspek udah oke, kok ndilalah yang membuatku ragu adalah ketakutan tidak bisa berenang lagi.

Namun alhamdulillah dengan keyakinan, “Jika aku niat karena Allah, Dia pasti Memudahkan segalanya untukku”, maka dengan bismillah aku mulai berhijab tepat 1 Syawal 1421 H.

Sejak saat itu, praktis aku off berenang. Sempat tergoda juga siy waktu saudaraku mengajakku berenang, aku hampir menanggalkan hijabku di kolam renang. Tapi alhamdulillah Allah menjagaku.

Lalu 2 tahun kemudian, aku mendengar keberadaan kolam renang khusus muslimah. Subhanallah… Lalu tanpa ragu aku langsung mendatangi kolam tersebut.

Kolam renang itu dibangun di sebuah lahan kosong di wilayah pinggiran Bandung. Kolam itu didisain sedemikian rupa bertembok tinggi agar terhijab (tertutup) dari pandangan mata yang bukan muhrim. Memang ukuran kolamnya tidak seluas kolam renang umum. Selidik punya selidik, kolam tersebut dibangun oleh seorang ustadz. Subhanallah… Kreatif sekali ustadz itu. Aku jadi ingat hadits Nabi yang menganjurkan 3 jenis olah raga, yaitu MEMANAH, BERKUDA, dan BERENANG.

Kalo gw berjilbab, ntar gak bisa berenang donk…?

10 tahun lalu, saat hendak berhijab, hanya satu hal yang mengganjal hati, yaitu BERENANG!

“Ci, ntar kalo gw berjilbab, gw gak bisa lagi berenang dong?” curhatku pada seorang akhwat yang lebih dulu berhijab rapi.

“Ya udah, ntar cari suami yang punya kolam renang,” selorohnya.

10 tahun lalu belum ada yang namanya kolam renang khusus muslimah, apalagi baju renang muslimah alias burqini (burqo + bikini). Boro-boro ada, kepikiran aja belum. Apalagi hobiku berenang. Saat SMA, setiap Ahad aku rutin berenang. Namun saat kuliah rutinitas ini sempat terhambat lantaran sulitnya mencari kolam renang dekat kampus.

Anyway…. Niat berhijab saat itu cuma satu, yaitu: Karena diperintahkan dalam Al Qur’an titik. Menurut pengetahuanku yang terbatas, perintah Allah jika tidak dijalankan hukumnya dosa. Karena itulah aku niat berhijab. Tapi yah… namanya setan, pasti ada aja cari celah dalam hati. Herannya, si setan ini kok tahu aja ya aku hobi berenang hehehe . Makanya setelah semua aspek udah oke, kok ndilalah yang membuatku ragu adalah ketakutan tidak bisa berenang lagi.

Namun alhamdulillah dengan keyakinan, “Jika aku niat karena Allah, Dia pasti Memudahkan segalanya untukku”, maka dengan bismillah aku mulai berhijab tepat 1 Syawal 1421 H.

Sejak saat itu, praktis aku off berenang. Sempat tergoda juga siy waktu saudaraku mengajakku berenang, aku hampir menanggalkan hijabku di kolam renang. Tapi alhamdulillah Allah menjagaku.

Lalu 2 tahun kemudian, aku mendengar keberadaan kolam renang khusus muslimah. Subhanallah… Lalu tanpa ragu aku langsung mendatangi kolam tersebut.

Kolam renang itu dibangun di sebuah lahan kosong di wilayah pinggiran Bandung. Kolam itu didisain sedemikian rupa bertembok tinggi agar terhijab (tertutup) dari pandangan mata yang bukan muhrim. Memang ukuran kolamnya tidak seluas kolam renang umum. Selidik punya selidik, kolam tersebut dibangun oleh seorang ustadz. Subhanallah… Kreatif sekali ustadz itu. Aku jadi ingat hadits Nabi yang menganjurkan 3 jenis olah raga, yaitu MEMANAH, BERKUDA, dan BERENANG.