No Vaccine For My Baby

Menjelang (insyaallah) menjadi ibu, saya menjadi sangat concern terhadap pengasuhan dan kesehatan bayi. Alhasil, saya menjadi rajin browsing informasi seputar dua hal tersebut.

Belakangan, saya fokus mencari informasi mengenai vaksinasi untuk bayi dan balita, karena hal satu ini membuat saya ragu. Pasalnya, vaksin mengandung zat-zat haram dan berbahaya (beracun), seperti virus, merkuri, alumunium, darah, enzim babi, pankeas kera, ginjal janin manusia yang diaborsi. Namun di sisi lain, saya ingin anak saya tetap terlindungi dari berbagai penyakit berbahaya.

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, tentu saya harus menolak pemberian vaksin kepada anak saya kelak, karena dalam Al Qur’an tertera jelas, bahwa yang HARAM itu DILARANG. Karena itu saya sempat menulis status di facebook, bahwa ini benar-benar ujian keimanan. Kepada siapa kita beriman? Kepada dokter/ahli kesehatan atau kepada Allah SWT dan rasul-Nya?

Apalagi dewasa ini, orang-orang (Indonesia khususnya) yang emoh diberi vaksin kerap dianggap aneh. Berbagai alasan medis dan (seolah) ilmiah dilontarkan oleh mereka yang pro vaksinasi, alih-alih menakut-nakuti mereka yang kontra vaksinasi.

Well, saya tidak ingin menyalahkan siapa pun. Semua berhak beropini dan berargumen. Toh, setiap detil perbuatan di dunia akan ada pertanggungjawabannya di akhirat nanti, ya kan?

Anyway, setelah tanya sana-sini, diskusi sana-sini, juga membaca referensi dari sana-sini… bismillah, saya memutuskan tidak akan memberi vaksin untuk anak-anak saya kelak. Kenapa?

Zat Haram dan Berbahaya Dalam Vaksin

Seperti yang sudah saya sebut di atas, bahwa vaksin mengandung zat-zat haram dan bersifat toxic atau racun. FYI, vaksin merupakan suatu produk biologik yang terbuat dari kuman/virus, komponen kuman/virus, atau racun kuman/virus yang telah dilemahkan atau dimatikan yang digunakan untuk merangsang kekebalan tubuh seseorang.

Dalam proses pembuatannya pun, kuman/virus tersebut dibiakkan dalam organ tubuh hewan yang haram, seperti babi. Bahkan kompenen pembuat vaksin pun tidak kalah menjijikkan, najis, bahkan haram, seperti darah, enzim babi, dan embrio bayi yang digugurkan.

Selain haram, vaksin juga mengandung zat berbahaya. Misalnya vaksin DPT buatan Sanofi Pasteur dengan merk ‘Adacel’, mengandung Formaldehyde, Glutaraldehyde, 2-Phenoxyethanol, Pertussis toxin, Filamentous hemagglutinin (FHA), Aluminum phosphate, Diphtheria toxoid, Tetanus toxoid.

Ketidakefektifan Vaksin

Apakah bayi-bayi yang sudah divaksin dijamin aman dari penyakit tertentu? Jawabannya TIDAK! Hal ini karena vaksinasi sendiri menimbulkan sejumlah resiko. Bukan resiko demam setelah divaksin lho, tetapi resiko yang lebih serius.

Sebenarnya banyak sekali temuan yang tidak dipublikasi luas tentang bahaya vaksin. Mengapa? Karena jika terpublikasi luas, tentu saja pabrik pembuat vaksin bisa bangkrut!

Penyebaran penyakit pertusis misalnya, ternyata tidak dapat dicegah melalui vaksinasi. Berikut ini kutipan seorang ahli kesehatan. Dr. James Howenstine, MD., yang saya ambil dari sini :

“In 1986 there were 1300 cases of pertussis in Kansas and 90 % of these cases occurred in children who had been adequately vaccinated. Similar vaccine failures have been reported from Nova Scotia where pertussis continues to be occurring despite universal vaccination. Pertussis remains endemic[4] in the Netherlands where for more than 20 years 96 % of children have received 3 pertussis shots by age 12 months.”

Beberapa pendapat lain dari para pakar yang saya ambil dari sini tentang vaksin :

“Satu-satunya vaksin yang aman adalah vaksin yang tidak pernah digunakan.”
~ Dr. James R. Shannon, mantan direktur Institusi Kesehatan Nasional Amerika

“Vaksin menipu tubuh supaya tidak lagi menimbulkan reaksi radang. Sehingga vaksin mengubah fungsi pencegahan sistem imun.”
~ Dr. Richard Moskowitz, Harvard University

“Kanker pada dasarnya tidak dikenal sebelum kewajiban vaksinasi cacar mulai diperkenalkan. Saya telah menghadapi 200 kasus kanker, dan tak seorang pun dari mereka yang terkena kanker tidak mendapatkan vaksinasi sebelumnya.”
~ Dr. W.B. Clarke, peneliti kanker Inggris

“Kasus polio meningkat secara cepat sejak vaksin dijalankan. Pada tahun 1957-1958 peningkatan sebesar 50%, dan tahun 1958-1959 peningkatan menjadi 80%.”
~ Dr. Bernard Greenberg, dalam sidang kongres AS tahun 1962

Konspirasi Di Balik Kewajiban Vaksinasi

Vaksin yang telah diproduksi dan dikirim ke berbagai tempat di belahan bumi ini (terutama negara muslim, negara dunia ketiga, dan negara berkembang), adalah sebuah proyek untuk mengacaukan sifat dan watak generasi penerus di negara-negara tersebut.

Vaksin tersebut dibiakkan di dalam tubuh manusia yang bahkan kita tidak ketahui sifat dan asal muasalnya. Kita tahu bahwa vaksin didapat dari darah sang penderita penyakit yang telah berhasil melawan penyakit tersebut. Itu artinya dalam vaksin tersebut terdapat DNA sang inang dari tempat virus dibiakkan tersebut. Pernahkah berpikir apabila DNA orang asing ini tercampur dengan bayi yang masih dalam keadaan suci?

DNA berisi cetak biru atau rangkuman genetik leluhur-leluhur kita yang akan kita warisi. Termasuk sifat, watak, dan sejarah penyakitnya. Lalu apa jadinya apabila DNA orang yang tidak kita tahu asal usul dan wataknya bila tercampur dengan bayi yang masih suci? Tentunya bayi tersebut akan mewarisi genetik DNA sang inang vaksin tersebut. Intinya, propaganda kewajiban vaksinasi tujuannya tak lain adalah melemahkan generasi muda. Nauzubillahiminzaliik…

Jujur saja, sebelum berdiskusi dan membaca sejumlah referensi seperti yang saya tulis di akhir tulisan ini, saya sempat ragu jika harus menjauhkan anak saya kelak dari vaksin. Tetapi ternyata banyak saksi hidup yang tumbuh dewasa dengan sehat wal afiat tanpa vaksin. Suami saya salah satunya. Ia tidak pernah divaksin sejak lahir. Beberapa teman saya juga mengalami hal serupa. Dan alhamdulillah mereka tumbuh dengan sehat dan cerdas.

Well, kalau kita kembali kepada Al Qur’an dan Hadits, cukuplah kita ‘mengimunisasi’ anak-anak kita dengan cara-cara yang dianjurkan Allah dan rasul-Nya, antara lain dengan ASI hingga dua tahun dan mentahniknya saat baru lahir. Hanya Allah sumber segala ilmu…

Jadi, masih mau memvaksin anak keturunan Anda?

Dari berbagai sumber:
http://books.google.co.id/books?id=lsiXhIC9sXkC&printsec=frontcover&dq=deadly+mist&hl=id&ei=d3rKTLfMB86HcaWZxcAO&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCgQ6AEwAA#v=onepage&q&f=false
http://en.wikipedia.org/wiki/Vaccine_controversy
http://books.google.co.id/books?id=ViexJgBVZksC&printsec=frontcover&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=4&ved=0CDYQ6AEwAw#v=onepage&q&f=false
http://books.google.co.id/books?id=EahoRAAACAAJ&dq=vaccine&hl=id&ei=MTC9TIUEh6Zwkq_g_w0&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=3&ved=0CDIQ6AEwAg
http://www.eramuslim.com/konsultasi/sehat/halal-haram-vaksinasi.htm
http://www.halalguide.info/2009/05/04/kehalalan-vaksin/
http://elfrieda.wordpress.com/2008/11/10/vaksinasi-perlukah-bahaya-imunisasi/#comment-26
http://www.halalguide.info/2008/09/22/pedoman-berproduksi-halal-di-rph-dan-restoran/
http://www.shirleys-wellness-cafe.com/vaccines.htm
http://ustadzrofii.wordpress.com/2010/08/25/imunisasi-dan-strategi-yahudi/
http://www.mahdi-antichrist-freemasonry.com/
http://www.novaccine.com/
http://www.newswithviews.com/Howenstine/james.htm
http://dinkes.acehprov.go.id/dinkes/uploadfiles/data2006/kamus_dinkes/v.pdf

Advertisements
Leave a comment

14 Comments

  1. iya, semuanya berpulang ke org tua masing2 anak2 itu pilihan sih ya..

    Reply
  2. iya, semuanya berpulang ke org tua masing2 anak2 itu pilihan sih ya..

    Reply
  3. anak itu amanah untuk orang tuanya mbak… dan setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya

    Reply
  4. iya mba,aku masih vaksin anakku lengkap ditambah hib, niatku utk melindungi anak, ikhtiar..hasilnya Allah yang menentukan 🙂 smga saja kt semua sehat ya..aamiin..

    Reply
  5. Tulisan seperti ini harus gencar dikampanyekan..spt halnya kampanye ASI

    Reply
  6. like this like this XD

    Reply
  7. Gimana kalo kita bikin komunitas/grup 'No Vaccine'? 🙂

    Reply
  8. Thank you… thank you :”)

    Reply
  9. Ilmuku si masih cetek… tapi ini salah satu referensi yang membuatku tetap memberikan imunisasi… CMIIW

    Reply
  10. lakum dienukum waliaddien

    Reply
  11. s7!alhamdulillah d JIH kmrn Izza lolos vaksinasi.wkt auf msh sempet smp 4bln,krn abi uminy blm paham n yakin bener.Alhamdulillah punya murabbi orang A(sosiasi)B(ekam)I(ndonesia&dgn pengalaman imunisasi yg berbeda2pada 3 anak2ny.yg pertama full,yg k2 g lengkap vaksinasiny,yg bungsu bebas sama sekali.dan trnyt daya tahan tubuh si bungsu lbh kuat dibanding kk2ny.dprotes nini nya anak2teh,secara mamah dulu juru imunisasi d kantorny belasan tahun. oya,Dr.Tauhid Nur Azhar jg menulis buku ttg ini,lupa apa judulny,yg nerbitin MQS.

    Reply
  12. yup! temenku jg punya pengalaman serupa, anak keduanya yg gk divaksin malah daya tahan tubuhnya lebih kuat daripada kakaknya yang divaksin. Temenku ini bukan jilbaber dan dia gk peduli soal halal-haram, tapi dia memutuskan gk memvaksin anak-anaknya karena pengalaman pribadinya itu dan pengalaman mengenaskan adiknya yang dokter. Anak adiknya itu terkena autis setelah vaksinasi lengkap sampai 3th, akhirnya si dokter gk mau memvaksin anak keduanya.

    Paham wajib vaksinasi emang udah jadi ghowzul fikr jeng, jadi emang gk mudah menyadarkan orang2… Kudu sabar.

    Yup, Dr Tauhid nulis buku… dan menurut Riska (announcer MQ), setiap selasa pagi jam 10 di MQ FM Bdg selalu dibahas pengobatan ala Rasulullah. Btw, Ajeng punya info klo mau ikutan pelatihan Thibbun Nabawi?

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: