Pendidikan Berparadigma Al-Qur’an

Berbicara tentang pendidikan, fokusnya selalu berkenaan dengan persoalan anak, sosok manusia yang dicintai, disayangi, dan generasi yang masa depannya harus dipersiapkan. Tugas mendidik anak ini ternyata tidak mudah dilakukan, lebih-lebih pada zaman sekarang ini. Kesulitan-kesulitan menjalankan tugas mendidik itu amat terasa, terutama ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa pengaruh lingkungan sudah sedemikian kuat, bahkan melampaui kekuatan pengaruh factor-faktor pendidikan lainnya. Kenakalan remaja sudah menjadi modus berita dan topic wacana di masyarakat, termasuk di media baik elektronika maupun cetak. Wacana yang disuguhkan oleh berbagai pemberitaan yang terutama adalah kenakalan remaja, perkelahian, hubungan bebas antar-jenis, mabuk, penggunaan obat terlarang, dan bahkan tindak kekerasan yang tidak selayaknya dilakukan.

Al-Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad. Di samping Al-Qur’an sebagai mukjizat kenabian Muhammad, Al-Qur’an sebagai petunjuk (hudan), pembeda (furqan), penjelas (bayan), dan obat dari penyakit yang ada dalam dada (syifaa’ fis shuduur). Terkait dengan pendidikan, banyak ayat Al-Qur’an memberikan petunjuk jelas tentang bagaimana mendidik anak, salah satunya tertuang dalam Q.S. al-Jumu’ah: 2, yang artinya:

Dia (Allah) yang telah membangkitkan seorang rasul yang ummiy di antara kamu semua, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, dan mensucikan mereka, dan yang mengajarkan kitab dan hikmah; padahal sebelumnya ia berada dalam kesesatan yang nyata.

Jika tugas rasul sesungguhnya juga menjadi tugas ulama dan demikian pula menjadi tugas seorang guru. Tugas ulama dan guru intinya sama dengan tugas rasul. Berdasarkan ayat Al-Qur’an di atas, ada empat macam tugas bagi siapa saja yang berperan menjadi guru.

1. Membacakan ayat-ayat Allah (يتلوا عليهم ءايته)
Proses pendidikan yang pertama dilakukan oleh guru adalah membacakan (tilawah) ayat-ayat Allah. Ayat Allah dibagi menjadi 2, yaitu: Ayat qauliyah dan kauniyah. Ayat qauliyah adalah hukum-hukum Allah yang tertulis dan dapat dibaca dan dipahami melalui AL-Qur’an dan Hadis. Ayat Kauniyah adalah hokum-hukum Allah yang terhampar atau tidak tertulis. Ayat kauniyah dapat dipahami dengan cara observasi, eksperimen, dan kegiatan menggunakan indera lainnya. Hasil observasi disebut ilmu atau ilmu pengetahuan.

2. Tazkiyah
Tazkiyah terkait erat dengan penyucian jiwa. Mendidik anak tidak cukup sekedar mengisi otak dengan sejumlah informasi tapi seorang guru juga harus melakukan kegiatan tazkiyah, seperti sholat jamaah, berzikir, puasa sunnah, sedekah, hafalan Qur’an.

3. Mengajarkan kitab Allah
Ta’lim dilangsungkan setelah proses tilawah dan tazkiyah.

4. Mengajarkan hikmah
Setelah ta’lim maka dilanjutkan dengan tahap yang lebih tinggi, ialah menunjukkan atau mencapai hikmah, yaitu berbagai makna mendalam dari kitab suci.

Diambil dari sini

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: