Kronologi Kelahiran Putra Pertama Kami (Part 2)

04.15: ketika mules mereda, segera meluncur ke JIH
04.20: terjebak macetan Pasar tumpah Kramat Jati dan angkot ngetem Suamiku turun ke jalan dan menegur para supir angkot yg ngetem, “Bang, maju dong. Istri saya mau ngelahirin!”
04.30: setelah terbebas sedikit dari kemacetan, kami putar balik, mengambil jalan alternatif lewat Condet
04.50: sampai di JIH. Bidan jaga menyatakan aku sudah bukaan 9
05.35: dr Prita tiba di ruang bersalin
06.10: dengan dibantu dr Prita, didampingi bidan Dian di sebelah kanan dan suamiku di sebelah kiri, alhamdulillah lahir dg selamat putra pertama kami, Kairo Mujahid Tangguh.
06.11: prosesi IMD. Kai diazani bapaknya saat IMD berlangsung selama 1 jam.

Jakarta, 18 Januari 2011
Mbakje & Masyekh

Advertisements

Kronologi Kelahiran Putra Pertama Kami

03.00: terbangun krn ngompol. Belakangan baru tahu klo itu pecah ketuban
03.15: kembali tidur
03.31: mules ringan
03.37: mules lagi
03.41: mules lagi, kali ini mulai sakit
03.52: mules tak tertahankan
04.00: suamiku menelpon Jakarta Islamic Hospital (JIH) memastikan apakah ini tanda2 melahirkan
04.05: suamiku menelpon tetangga yg punya mobil
04.10: mobil siap, tapi aku payah untuk berjalan krn gelombang mules yg menghebat

Kronologi Kelahiran Putra Pertama Kami (Part 2)

04.15: ketika mules mereda, segera meluncur ke JIH
04.20: terjebak macetan Pasar tumpah Kramat Jati dan angkot ngetem Suamiku turun ke jalan dan menegur para supir angkot yg ngetem, “Bang, maju dong. Istri saya mau ngelahirin!”
04.30: setelah terbebas sedikit dari kemacetan, kami putar balik, mengambil jalan alternatif lewat Condet
04.50: sampai di JIH. Bidan jaga menyatakan aku sudah bukaan 9
05.35: dr Prita tiba di ruang bersalin
06.10: dengan dibantu dr Prita, didampingi bidan Dian di sebelah kanan dan suamiku di sebelah kiri, alhamdulillah lahir dg selamat putra pertama kami, Kairo Mujahid Tangguh.
06.11: prosesi IMD. Kai diazani bapaknya saat IMD berlangsung selama 1 jam.

Jakarta, 18 Januari 2011
Mbakje & Masyekh

Kronologi Kelahiran Putra Pertama Kami

03.00: terbangun krn ngompol. Belakangan baru tahu klo itu pecah ketuban
03.15: kembali tidur
03.31: mules ringan
03.37: mules lagi
03.41: mules lagi, kali ini mulai sakit
03.52: mules tak tertahankan
04.00: suamiku menelpon Jakarta Islamic Hospital (JIH) memastikan apakah ini tanda2 melahirkan
04.05: suamiku menelpon tetangga yg punya mobil
04.10: mobil siap, tapi aku payah untuk berjalan krn gelombang mules yg menghebat

Braxton Hicks contractions…

Diantar Jemput Suami, Emang Harus Ya?

“Dijemput ya?”, “Dijemput suami?”, “Diantar suami?”, atau “Kok gak dijemput suami?”

Demikian pertanyaan yang dilontarkan hampir beribu kali kepadaku setiap mau pulang kantor atau baru tiba dari kantor. “Emang harus ya?” pikirku.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin sering dilontarkan ketika aku hamil. Yah, aku mengerti, ‘lazimnya’ di negeri ini memang para suami mengantar dan jemput istrinya, termasuk ke kantor.

Jujur saja, suamiku mengantar atau menjemputku ke dan dari kantor bisa dihitung dengan jari. Kecewa? Tidak juga. Malah seringkali kupikir sangat tidak praktis dan tidak hemat jika suamiku harus mengantar dan menjemputku ke kantor. Pasalnya, kantor suamiku dekat sekali dari rumah. Sementara kantorku kurang lebih 1 jam perjalanan kalo kena macet.

Apakah kondisi ini mengharuskan suamiku mengantar-jemput aku? Padahal kami tidak punya kendaraan, sehingga kalaupun mengantarjemput, pasti kami naik kendaraan umum. Malah berat di ongkos toh? Selain itu, rute perjalanannnya pun ‘ngepot’. Kalau aku menunggu dijemput, bisa-bisa aku pulang lebih malam. Atau jika aku harus diantar, suamiku jadi terlambat ke kantor.

Yah… mungkin jalan pikiran orang emang beda-beda. Yang jelas, diantar/dijemput atau tidak oleh suami, bukan berarti dia gak sayang kan… apalagi kalau ternyata ‘cintaku habis di ongkos’. Lebih baik ongkos bensin atau kendaraan umumnya dialihkan ke pos pengeluaran yang lebih bermanfaat… Jadi makin sayaaaang dech!

Membuat Tepung Roti Sendiri


Description:
Berawal dari melihat tumis ayam suwir yang tidak habis untuk makan malam, saya berpikir untuk mendaur ulang menu ini. Maka terpikirlah untuk memanfaatkan ayam suwir sebagai isi roti goreng untuk sarapan besok. Masalahnya, saya tidak punya tepung roti, sementara di minimarket terdekat tidak menjual tepung roti. Setelah melihat setumpuk biskuit yang sejak Lebaran belum habis juga, timbulah ide!

Ingredients:
– 1 mangkuk biskuit (baik biskuit asin ataupun manis)
– garam secukupnya
– lada secukupnya

Directions:
Masukkan semua bahan ke dalam food processor. Hancurkan semua bahan hingga halus menjadi tepung. Dan… voila! tepung roti siap dimanfaatkan 😉
Untuk resep roti goreng, bisa dilihat di sini http://mbakje.multiply.com/recipes/item/9/Roti_Goreng_Ayam_Wortel_Ala_Mbakje

Diantar Jemput Suami, Emang Harus Ya?

“Dijemput ya?”, “Dijemput suami?”, “Diantar suami?”, atau “Kok gak dijemput suami?”

Demikian pertanyaan yang dilontarkan hampir beribu kali kepadaku setiap mau pulang kantor atau baru tiba dari kantor. “Emang harus ya?” pikirku.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin sering dilontarkan ketika aku hamil. Yah, aku mengerti, ‘lazimnya’ di negeri ini memang para suami mengantar dan jemput istrinya, termasuk ke kantor.

Jujur saja, suamiku mengantar atau menjemputku ke dan dari kantor bisa dihitung dengan jari. Kecewa? Tidak juga. Malah seringkali kupikir sangat tidak praktis dan tidak hemat jika suamiku harus mengantar dan menjemputku ke kantor. Pasalnya, kantor suamiku dekat sekali dari rumah. Sementara kantorku kurang lebih 1 jam perjalanan kalo kena macet.

Apakah kondisi ini mengharuskan suamiku mengantar-jemput aku? Padahal kami tidak punya kendaraan, sehingga kalaupun mengantarjemput, pasti kami naik kendaraan umum. Malah berat di ongkos toh? Selain itu, rute perjalanannnya pun ‘ngepot’. Kalau aku menunggu dijemput, bisa-bisa aku pulang lebih malam. Atau jika aku harus diantar, suamiku jadi terlambat ke kantor.

Yah… mungkin jalan pikiran orang emang beda-beda. Yang jelas, diantar/dijemput atau tidak oleh suami, bukan berarti dia gak sayang kan… apalagi kalau ternyata ‘cintaku habis di ongkos’. Lebih baik ongkos bensin atau kendaraan umumnya dialihkan ke pos pengeluaran yang lebih bermanfaat… Jadi makin sayaaaang dech!

Puding Beras Ala Spanyol


Description:
Judulnya emang ‘Puding Beras’, tapi kalo menurut saya panganan ini namanya ‘bubur beras’. Di negara asalnya, menu ini merupakan hidangan penutup atau camilan, tapi buat saya yang biasa makan beras (nasi), menu ini merupakan hidangan utama yang cocok untuk sarapan.

Ingredients:
125 gram beras (bisa juga memanfaatkan nasi ‘sisa’ semalam… kan sayang klo dibuang :p)
3 gelas susu cair tawar
2 cm kayu manis
1 buah jeruk lemon/nipis, potong2
gula/madu sesuai selera

Directions:
– Rendam beras selama 30 menit dengan sedikit air (Kalau pakai nasi, gak perlu direndam)
– Masak beras/nasi dengan air selama 5 menit
– Hangatkan susu di atas api sedang
– Masukkan kayu manis, jeruk lemon/nipis yang sudah dipotong2, serta gula/madu, aduk-aduk
– Masukkan beras/nasi, aduk terus sampai adonan agak mengental
– Jika adonan terlalu kental, tambahkan susu. Idealnya puding beras ini tidak terlalu kental dan tidak terlalu encer.
– Sajikan dingin tanpa batang kayu manis dan potongan jeruk nipis/lemon

Jadi Guru di Papua, Mau?

“Di Jawa sarjana terbuang. Di Papua sarjana kurang,” ungkap seorang guru asal Merauke, Papua, yang tidak sempat kutanya namanya.

Obrolan bermula dari membunuh kejenuhan macet di sore hari menjelang pergantian tahun. Meskipun awalnya basa-basi, namun obrolan dengan pak guru di angkot 06 cukup mengetuk hatiku.

Pak guru matematika yang ternyata juga kepala sebuah SD swasta di Merauke ini harus merangkap satpam di tempat ia bekerja. Pasalnya, hanya 4 guru yang bertugas di SDnya. Sehingga 1 guru harus mengajar lebih dari 1 kelas.

Kondisi serupa dialami sekolah-sekolah lain di Papua. Bahkan menurutnya, rata2 kualifikasi guru di sana tamatan SMA dan D2. Jarang sekali yang S1.

“Ada juga guru sukwan (sukarelawan. Red) dari Jawa,” ujarnya. Tapi tetap saja jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan tenaga pengajar di sana.

Aku jadi bepikir, kenapa tidak pemerintah membuat program yang intinya mengatasi pengangguran sekaligus pemerataan pembangunan & pendidikan. Kalau ada, aku mau daftar! Jadi guru di Papua, siapa takut?