‘Belum’ Pengalaman

Pernah dipandang sebelah mata karena ‘belum’ atau ‘kurang’ pengalaman? Saya sering, dan itu cukup menyakitkan hati…hix (lebay ah)… cukup mem-bete-kan lah.

Pernah dulu lantaran jadi editor sebuah majalah parenting muslim, saya hampir diminta menjadi pembicara sebuah seminar. Tapi setelah tahu saya belum menikah dan belum punya anak, maka saya batal jadi pembicara.

Dulu waktu magang dan menjadi reporter baru (secara profesional), sering banget dianakbawangkan… padahal secara teori bisa dibilang udah ngeletek lah secara kuliah jurnalistik 5 tahun gitu loh .

Waktu teman yang sudah merit curhat ke saya yang waktu itu masih single, dan saya menasehati dia…. eeeh dia malah jawab, “Iya, enak ngomong. Elu sih, belum ngalamin punya suami”.

Pernah juga teman yang sedang hamil muda mengeluh, dan saya hanya menyabarkannya. Eeeh, dia juga jawab hal serupa, “Elu sih gak tahu rasanya hamil”.

Sebelum punya anak, beberapa kali menjenguk saudara dan teman yang baru melahirkan dan saya sedikit sharing apa yang saya tahu tentang perawatan bayi dan menyusui… ternyata emang gak didengar. Sehingga ketika sang ibu tidak menjalankan saran saya, baru nyaho deh .

Pun setelah pengalaman kerja, menikah, hamil, dan punya anak, pengalaman saya masih dianggap ‘kurang’, makanya masih sering gak diwaro… karena yang diajak ngomong lebih ‘senior’ dalam hal pengalaman… meskipun gak tahu deh bagaimana kognitif atau pengetahuan teorinya.

Terus, siapa yang salah dong? Ya gak ada yang salah sih… Komunikasi emang gak akan efektif kalo ada gap alias jurang pemisah antara komunikator dan komunikan. Dan gap itu bisa berwujud dalam hal senoritas dan junioritas dalam hal ‘pengalaman’. Kalau sudah begini, saya lebih memilih diam daripada udah ngotot, terus gak didengar. Lagipula komunikasi gak akan nyambung. Meskipun di kemudian hari ketika sudah kejadian, kadang menyesal juga kenapa dulu saya gak kasih tahu dia.

Jadi kesimpulannya? Kasiaaan deh loe…

Advertisements
Leave a comment

11 Comments

  1. hehehe… memang begitu kalo ngomong ke orang yang lebih tua… atau orang2 yang selalu merasa paling bener atau paling pinter… Manusia lebih percaya melihat bukti daripada omongan…Biasa ajaa, jangan pedulikan pandangan manusia… yang penting pandangan Allah…

    Reply
  2. ogieurvil said: jangan pedulikan pandangan manusia… yang penting pandangan Allah…

    Betuulll Kak Ogie ‘Memang’ ^_^

    Reply
  3. Iya bener teh, aku jg kadang ngalaminnya. Kecewa jg sih dianggap masih kecil atau ga pengalaman, tapi ya udahlah, kita ga bisa maksa org lain berespon seperti harapan kita.Tetep positif thinking :)salam buat kai yg cakep teh 🙂

    Reply
  4. kakrahmah said: kita ga bisa maksa org lain berespon seperti harapan kita

    yup bener… keep positive thinking 😉

    Reply
  5. @mbakje, ditua2in aja, gampang kan?. Sy pernah meminta guru SMA sy agr mmelihara kumis aw jenggot. Agar tdk diremehkan hanya krn tampang/badannya imut shg skiranya dia mmakai putih abu2 org akan menyangka beliau murid, bukan guru SMA

    Reply
  6. begitulah bu jati adanya

    Reply
  7. dikotomi senior-junior ini memang masih lazim di semua lini kehidupan kita, apalagi kalau sudah masuk ke ranah profesi…dan aku setuju, selama gap itu belum terkikis, komunikasi ga akan jalan sebagaimana diharapkan. Tapi mendengarkan keluhan dan sekadar membiarkannya sebagai angin lalu pun rasanya tak bijak. Nah, apa yang mesti dilakukan agar gap itu runtuh? Saya kira dalam hal ini kita mesti berguru pada pakar-pakar komunikasi …Ayo mbok di-share toh mbak je..hehe

    Reply
  8. ayahara1 said: mmelihara kumis aw jenggot

    kalo saya pelihara apa yach? hehehe :p

    Reply
  9. walank said: berguru pada pakar-pakar komunikasi …Ayo mbok di-share toh mbak je..hehe

    aku bukan pakar rud…

    Reply
  10. yo maksude bisa di-share apa kata para pakar komunikasi sesuai yang pernah Jati pelajari di bangku kuliah….

    Reply
  11. walank said: di-share apa kata para pakar komunikasi sesuai yang pernah Jati pelajari di bangku kuliah….

    wehehehe…. ngko dadi koyok bu dosen :p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: