Washable Breastpads

Breast pad ini berfungsi untuk menahan asi agar tidak bocor sehingga ibu bebas beraktifitas tanpa khawatir ASI rembes ke baju dan meninggalkan noda, juga bau tak sedap. Bisa tahan sampai 10 jam lho!

Produk keluaran anandapers ini bisa dicuci ulang, jadi hemat dan ramah lingkungan. 1 pak isi 3 pasang breast pads yang dilengkapi laundry bag sehingga memudahkan jika ingin mencuci dengan mesin cuci.

Bahan-bahan washable breast pads ini terdiri dari:
*(innner cloth) : flannel khusus, jenis tetra yang diisi dengan kain microfiber khusus yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar

*(outer cloth) : kain bahan parachute balloon yang sangat kuat, breathable dan tahan bocor serta penggunaan bahan cotton flannel non polyester yang sangat menyerap dan keriing di permukaan. Bahan ini sangat tipis, warna-warnanya cantik dan menarik serta mampu menahan air secara sempurna.

*desain : inovatif,melengkung sesuai bentuk PD ibuyg dibuat khusus tangan-tangan terampil

harga 1 pak* Rp 40000
beli 2 pak* @Rp 35000

*1 pak isi 3 pasang

minat? hubungi mbakje yaa…^__^
0818-0659-5659
jatiajah@yahoo.com

Product Options

Washable Breastpads Rp. 40.000

from an online shopper becomes an online seller… why not? :)

‘Ngapain ASI Diperes?’

“Saya dimarahi bidan Posyandu karena meres ASI (untuk stok ASI perah. Red),” kata ibu muda itu. “Kata Bu Bidan, ‘Ngapain ASI-nya diperes, mendingan dikasih langsung ke bayinya. Kalo diperes kan bayi kamu jadi minum ASI sisa’,” lanjut ibu muda itu.

OMG!!! Ternganga aku mendengar pernyataan ibu muda itu. Kalo di pilem kartun nih mulut udah jatoh ke lantai kali…

“Nggak bener itu mbak! Bayi gak akan minum ASI sisa, karena setiap kali bayi menyusu langsung ke ibunya, tubuh akan memproduksi ASI baru,” ujarku.

“Oh… gitu ya? Wah, berarti saya harus meres lagi nih, karena sebulan lagi masuk kerja. Udah lama nih saya gak meres, karena dibilang begitu sama Bu Bidan,” ujar ibu muda yang ternyata berprofesi sebagai perawat.

Yup, saudara-saudara… ibu muda tersebut seorang perawat. Sebuah profesi yang menurut kita paham betul tentang kesehatan, termasuk laktasi. Tapi ternyata… OMG…!!! Bahkan bidan Posyandu yang notabene seorang ‘opinion leader’ bagi masyarakat kelas bawah pun mengutarakan hal yang keliru… OMG!! Ini yang salah sekolah keperawatan atau kebidanannya yak?

Well, kalo main salah-salahan gak akan beres persoalan. Mungkin karena ilmu kesehatan adalah ilmu yang terus berkembang, sehingga meskipun sudah lulus sekolah keperawatan/kebidanan/kedokteran/kesehatan, para lulusan tsb harus terus meng-up date ilmunya supaya tidak ketinggalan jaman.

“Ayo mbak, mulai sekarang menabung ASI perah lagi, supaya stoknya cukup kalau nanti udah masuk kerja lagi,” sahutku menyemangati ibu muda yang perawat tersebut.

Gak masalah deh, mbak perawat ini gak up date. Yang penting ia semangat ‘belajar’ dan ingin tahu.

‘Ngapain ASI Diperes?’

“Saya dimarahi bidan Posyandu karena meres ASI (untuk stok ASI perah. Red),” kata ibu muda itu. “Kata Bu Bidan, ‘Ngapain ASI-nya diperes, mendingan dikasih langsung ke bayinya. Kalo diperes kan bayi kamu jadi minum ASI sisa’,” lanjut ibu muda itu.

OMG!!! Ternganga aku mendengar pernyataan ibu muda itu. Kalo di pilem kartun nih mulut udah jatoh ke lantai kali…

“Nggak bener itu mbak! Bayi gak akan minum ASI sisa, karena setiap kali bayi menyusu langsung ke ibunya, tubuh akan memproduksi ASI baru,” ujarku.

“Oh… gitu ya? Wah, berarti saya harus meres lagi nih, karena sebulan lagi masuk kerja. Udah lama nih saya gak meres, karena dibilang begitu sama Bu Bidan,” ujar ibu muda yang ternyata berprofesi sebagai perawat.

Yup, saudara-saudara… ibu muda tersebut seorang perawat. Sebuah profesi yang menurut kita paham betul tentang kesehatan, termasuk laktasi. Tapi ternyata… OMG…!!! Bahkan bidan Posyandu yang notabene seorang ‘opinion leader’ bagi masyarakat kelas bawah pun mengutarakan hal yang keliru… OMG!! Ini yang salah sekolah keperawatan atau kebidanannya yak?

Well, kalo main salah-salahan gak akan beres persoalan. Mungkin karena ilmu kesehatan adalah ilmu yang terus berkembang, sehingga meskipun sudah lulus sekolah keperawatan/kebidanan/kedokteran/kesehatan, para lulusan tsb harus terus meng-up date ilmunya supaya tidak ketinggalan jaman.

“Ayo mbak, mulai sekarang menabung ASI perah lagi, supaya stoknya cukup kalau nanti udah masuk kerja lagi,” sahutku menyemangati ibu muda yang perawat tersebut.

Gak masalah deh, mbak perawat ini gak up date. Yang penting ia semangat ‘belajar’ dan ingin tahu.

Clodi Story (Part 2)

Selain lebih praktis dan ekonomis, clodi juga lebih sehat untuk kulit bayi, karena clodi terbuat dari kain. Sementara pospak terbuat dari plastik dan kertas daur ulang yang dapat membahayakan kulit bayi. Apalagi efek jangka panjangnya, bisa mempengaruhi kesehatan alat reproduksi bayi.

Selain lebih sehat, clodi juga membuat bayi lebih nyaman, karena terbuat dari kain pilihan. Istilahnya.. Kita orang dewasa aja gak nyaman kalo pake pembalut skali pakai, apalagi bayi. Nah, jika bayi merasa nyaman, maka ia jarang rewel. Jika jarang rewel, maka energinya dipakai untuk tumbuh kembangnya, sehingga tumbuh kembangnya lebih optimal. Asik kaan.. 😉

bersambung…

Clodi Story (Part 2)

Selain lebih praktis dan ekonomis, clodi juga lebih sehat untuk kulit bayi, karena clodi terbuat dari kain. Sementara pospak terbuat dari plastik dan kertas daur ulang yang dapat membahayakan kulit bayi. Apalagi efek jangka panjangnya, bisa mempengaruhi kesehatan alat reproduksi bayi.

Selain lebih sehat, clodi juga membuat bayi lebih nyaman, karena terbuat dari kain pilihan. Istilahnya.. Kita orang dewasa aja gak nyaman kalo pake pembalut skali pakai, apalagi bayi. Nah, jika bayi merasa nyaman, maka ia jarang rewel. Jika jarang rewel, maka energinya dipakai untuk tumbuh kembangnya, sehingga tumbuh kembangnya lebih optimal. Asik kaan.. 😉

bersambung…

Ternyata ibu-ibu di bantaran kali ciliwung pada antusias pakein clodi buat bayi mereka… subhanallah

Full-Timed Mom VS Working Mom, Mana Lebih Baik?

Working mom (WM) iri sama full-timed mom (FTM) karena FTM bisa mendampingi penuh masa golden age anaknya. Sementara FTM iri sama WM karena WM punya pnghasilan sendiri tanpa tergantung suami. Di sisi lain ada FTM yg merasa bersalah krn hrs jd WM krn pnghasilan suami tdk cukup utk kbutuhan shari-hari.

So, mana yg lebih baik, FTM atau WM? Apakah Islam mengajarkan WM lebih baik dari FTM atau sebaliknya?

Mari kita tengok rumah tangga Rasulullah & Khadijah. Adalah rahasia umum bahwa Khadijah seorang WM. Ia juga mpekerjakan asisten/khadimat di rumahnya. Lantas, apakah anak2nya menjadi anak durhaka? Tidak tuh. Fatimah binti Muhammad justru menjadi orang yg djamin Allah masuk surga.

Fatimah sendiri setelah menikah mjd FTM tanpa asisten. Bahkan ia sempat menangis krn kelelahan menggiling gandum sendirian utk makan keluarga sambil mengasuh Hasan & Husein. Melihat ini, Rasulullah mnghiburnya, “Sabar ya Fatimah, Allah akan membalas jerih payahmu sebanyak bulir gandum yang kau giling”.

Itulah luar biasanya Islam. Islam membebaskan para ibu untuk memilih jalan mereka masing-masing–mau bekerja atau di rumah saja–sejauh bertanggung jawab pada amanah utamanya, yaitu mendidik anak dengan baik dan menjadi istri yang berbakti.

Memang tanggung jawab menafkahi keluarga ada pada suami. Namun jika istri membantu suami mencari nafkah, maka pahala sedekah baginya bila dilakukan dengan ikhlas. Tentunya suami yang bertanggung jawab tidak lantas leyeh-leyeh pas pulang kerja laah… Suami juga kudu tahu diri dengan membantu pekerjaan rumah tangga. Rasulullah sendiri dengan ringan hati menjahit sendiri terompahnya tanpa minta bantuan istrinya.

Jadi, buat para WM, FTM, dan juga para ayah/suami, berhentilah merasa bersalah dan melihat rumput tetangga lebih hijau. Kita semua dibebaskan Allah untuk memilih kok, tanpa paksaan. Tentu saja setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Daripada ngiri-ngirian, lebih baik kita simak yuk 6 nasihat Luqman Al Hakim pada anaknya

1. Jangan mempersekutukan Allah (31:13),
2. Berbuat baik kepada ibu dan bapak (31:14),
3. Sadar akan pengawasan Allah (31:16),
4. Dirikanlah sholat, amar ma’ruf nahi munkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan (31:17),
5. Jangan sombong dan membanggakan diri (31:18),
6. Bersikaplah sederhana dan bersuara rendah (31:19)

Full-Timed Mom VS Working Mom, Mana Lebih Baik?

WorkingMomWorking mom (WM) iri sama full-timed mom (FTM) karena FTM bisa mendampingi penuh masa golden age anaknya. Sementara FTM iri sama WM karena WM punya pnghasilan sendiri tanpa tergantung suami. Di sisi lain ada FTM yg merasa bersalah krn hrs jd WM krn pnghasilan suami tdk cukup utk kbutuhan shari-hari.

So, mana yg lebih baik, FTM atau WM? Apakah Islam mengajarkan WM lebih baik dari FTM atau sebaliknya?

Mari kita tengok rumah tangga Rasulullah & Khadijah. Adalah rahasia umum bahwa Khadijah seorang WM. Ia juga mpekerjakan asisten/khadimat di rumahnya. Lantas, apakah anak2nya menjadi anak durhaka? Tidak tuh. Fatimah binti Muhammad justru menjadi orang yg djamin Allah masuk surga.

Fatimah sendiri setelah menikah mjd FTM tanpa asisten. Bahkan ia sempat menangis krn kelelahan menggiling gandum sendirian utk makan keluarga sambil mengasuh Hasan & Husein. Melihat ini, Rasulullah mnghiburnya, “Sabar ya Fatimah, Allah akan membalas jerih payahmu sebanyak bulir gandum yang kau giling”.

Itulah luar biasanya Islam. Islam membebaskan para ibu untuk memilih jalan mereka masing-masing–mau bekerja atau di rumah saja–sejauh bertanggung jawab pada amanah utamanya, yaitu mendidik anak dengan baik dan menjadi istri yang berbakti.

Memang tanggung jawab menafkahi keluarga ada pada suami. Namun jika istri membantu suami mencari nafkah, maka pahala sedekah baginya bila dilakukan dengan ikhlas. Tentunya suami yang bertanggung jawab tidak lantas leyeh-leyeh pas pulang kerja laah… Suami juga kudu tahu diri dengan membantu pekerjaan rumah tangga. Rasulullah sendiri dengan ringan hati menjahit sendiri terompahnya tanpa minta bantuan istrinya.

Jadi, buat para WM, FTM, dan juga para ayah/suami, berhentilah merasa bersalah dan melihat rumput tetangga lebih hijau. Kita semua dibebaskan Allah untuk memilih kok, tanpa paksaan. Tentu saja setiap pilihan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Daripada ngiri-ngirian, lebih baik kita simak yuk 6 nasihat Luqman Al Hakim pada anaknya

1. Jangan mempersekutukan Allah (31:13),
2. Berbuat baik kepada ibu dan bapak (31:14),
3. Sadar akan pengawasan Allah (31:16),
4. Dirikanlah sholat, amar ma’ruf nahi munkar, dan sabar dalam menghadapi persoalan (31:17),
5. Jangan sombong dan membanggakan diri (31:18),
6. Bersikaplah sederhana dan bersuara rendah (31:19)

Clodi Story (Part 1)

Berawal dari pengguna clodi–sebenarnya anakku siy yang pake hehehe–akhirnya aku jadi penjual clodi lantaran banyak yang butuh tapi gak tahu beli di mana hehehe… Dan karena ternyata buanyakk banget yang gak tahu ttg clodi dan buanyakkk bgt pertanyaan ttg clodi ini, maka aku menulis postingan ini 

Clodi Alias Pampers Cuci Ulang

Clodi (cloth diapers) sering juga disebut popok kain modern atau pampers cuci ulang. Kenapa begitu? Karena clodi memang popok kain, tetapi bukan popok kain biasa yang kalo diompoli bayi, celana, baju, sampai sprei juga harus dicuci karena kena ompol.

Fungsi clodi mirip dengan pempers atau popok sekali pakai (pospak), yaitu menahan pipis bayi agar tidak tembus/bocor kemana-mana, namun kulit bayi tetap kering. Bedanya dengan pospak, clodi bisa dicuci ulang, sehingga lebih ekonomis ketimbang pospak. Selain itu, clodi tidak mengandung bahan kimia layaknya gel dalam pospak, sehingga lebih aman dan sehat untuk bayi.

Clodi Mahal?

Taruhlah harga sebuah clodi + insert rata-rata Rp 70ribu. Sekilas mahal ya? Apalagi seorang bayi membutuhkan 1 lusin clodi untuk berganti-ganti. Jadi butuh dana Rp 840 ribu untuk kebutuhan clodi seorang bayi. Mahal ya? TIDAK! Karena Rp 840 ribu itu untuk pemakaian dari bayi baru lahir sampai umur 2 tahun lho.

Bandingkan dengan biaya pospak selama 2 th (asumsi harga PosPak @2000, sehari butuh 4 PosPak), maka; 4 x 365 hari x 2 x Rp 2000 = 5.840.000. Jadi, Rp 5,8 juta dari bayi baru lahir sampai 2 tahun. Jauh banget kan bedanya!!

Lebih Praktis

Selain aspek ekonomis, clodi juga ternyata lebih praktis. Alasan utama saya dulu kenapa membelikan clodi untuk anak saya adalah karena kasihan sama suami yang bertugas mencuci popok (waktu itu masih pake popok kain biasa. Red) plus aneka bahan yang ikutan kena ompol, e.g. celana, baju, sprei, dan baju ibunya.

Nah, sejak pake clodi, cucian jadi lebih sedikit, karena clodi tahan bocor dari pipis dan pup bayi, jadi hemat tenaga, hemat air, dan juga hemat sabun cuci.

bersambung…