Smile Kai


Senyum (lebih tepatnya KETAWA) Kai 7 bln 😀

Kai ternyata murah senyum. Sejak masih usia 1 bulan Kai suka tersenyum. Ternyata sampai sekarang Kai masih suka melempar senyum, sehingga membuat orang yang melihatnya pun turut tersenyum. Bahkan terkadang Kai tertawa terbahak-bahak sampai terbatuk-batuk atau cegukan kalau melihat hal lucu, sehingga yang memandangnya pun ikut tertawa 😀

Teruslah tersenyum Kai, agar dunia tersenyum padamu!
Smile and the world will smile at you 🙂

Naik KRL Ke Rumah Eyang Mimi

Kemarin (22/08) Kai naik Kereta Rel Listrik (KRL) ke Depok bersama ibu dan Eyang. Tujuannya menjenguk Eyang Mimi yang baru saja dioperasi usus buntu tiga hari lalu.

Untuk menghindari kepadatan lalu lintas, jam 8 pagi kami sudah berangkat. Ketika berangkat dari rumah menuju Stasiun Duren-Kalibata, Kai tertidur. Tapi ketika sudah di dalam KRL Commuter Line Depok yang lengang, Kai terbangun. Kai terpana merasakan suasana KRL yang nyaman ber-AC. Kedua mata Kai terpaku pada jendela kereta yang meneruskan sinar matahari pagi yang cerah. “Kok gambarnya bergerak-gerak ya?” Begitu mungkin pikir Kai melihat jendela KRL. Sambil dipangku eyang, tubuh Kai bergoyang-goyang mengikuti irama KRL yang tengah melaju.

Jam 8.45 Kai, ibu, dan eyang sudah sampai di Stasiun Depok Baru. Karena perjalanan lancar, jam 9.00 sudah sampai di rumah Eyang Mimi. Eyang Mimi senang sekali Kai berkunjung.

“Eh lucu!” ujar Eyang Mimi ketika melihat Kai. “Kene, dikek kene (sini, ditaruh sini. Red),” ujar Eyang Mimi menunjuk ruang kososng di tempat tidurnya.

Jadilah Kai tiduran di sebelah Eyang Mimi. Kai memegang tangan Eyang Mimi sambil berguling-guling dan mengoceh-ngoceh sendiri.

“Cerita apa kamu?” tanya Eyang Mimi

“Ta..ta..ta..ta.,.” jawab Kai.

“Ya… Cepet gede ya, biar bisa cerita,” kata Eyang Mimi lagi. Wah, Eyang Mimi rupanya tidak sabar melihat Kai besar hehehe…

Kai pintar, anteng di rumah Eyang Mimi, bahkan bisa menghibur Eyang Mimi. Alhamdulillah

Pelanggan terhormat, mohon maaf selama musim Lebaran ini (22Agt-4Sept) Warung Mbakje tidak melayani pengiriman order dikarenakan padatnya aktivitas jasa ekspedisi (Tiki, JNE, Pos). Terima kasih :)

benarkah semalam laillatul qadr?

Naik KRL Ke Rumah Eyang Mimi

Kemarin (22/08) Kai naik Kereta Rel Listrik (KRL) ke Depok bersama ibu dan Eyang. Tujuannya menjenguk Eyang Mimi yang baru saja dioperasi usus buntu tiga hari lalu.

Untuk menghindari kepadatan lalu lintas, jam 8 pagi kami sudah berangkat. Ketika berangkat dari rumah menuju Stasiun Duren-Kalibata, Kai tertidur. Tapi ketika sudah di dalam KRL Commuter Line Depok yang lengang, Kai terbangun. Kai terpana merasakan suasana KRL yang nyaman ber-AC. Kedua mata Kai terpaku pada jendela kereta yang meneruskan sinar matahari pagi yang cerah. “Kok gambarnya bergerak-gerak ya?” Begitu mungkin pikir Kai melihat jendela KRL. Sambil dipangku eyang, tubuh Kai bergoyang-goyang mengikuti irama KRL yang tengah melaju.

Jam 8.45 Kai, ibu, dan eyang sudah sampai di Stasiun Depok Baru. Karena perjalanan lancar, jam 9.00 sudah sampai di rumah Eyang Mimi. Eyang Mimi senang sekali Kai berkunjung.

“Eh lucu!” ujar Eyang Mimi ketika melihat Kai. “Kene, dikek kene (sini, ditaruh sini. Red),” ujar Eyang Mimi menunjuk ruang kososng di tempat tidurnya.

Jadilah Kai tiduran di sebelah Eyang Mimi. Kai memegang tangan Eyang Mimi sambil berguling-guling dan mengoceh-ngoceh sendiri.

“Cerita apa kamu?” tanya Eyang Mimi

“Ta..ta..ta..ta.,.” jawab Kai.

“Ya… Cepet gede ya, biar bisa cerita,” kata Eyang Mimi lagi. Wah, Eyang Mimi rupanya tidak sabar melihat Kai besar hehehe…

Kai pintar, anteng di rumah Eyang Mimi, bahkan bisa menghibur Eyang Mimi. Alhamdulillah

Men Are From Mars Women Are From Venus

Sejak sebelum menikah, buku-buku bergenre Mars-Venus sudah kulahap habis. Gak cuma buku karya John Gray, tapi juga dari penulis lain yang sejenis, such as Don’t Sweat Small Stuff-nya Richard Carlson, atau buku-bukunya Allan & Barbara Pease yang judulnya Why Men Can Only Do One Thing at One Time And Women Can’t Stop Talking, dan Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Map. Alhasil, ketika berinteraksi dengan lawan jenis, sedikit banyak jadi paham perbedaan sifat/karakter mereka, sehingga membantu dalam komunikasi interpersonal.

Namun kini setelah menikah, buku-buku tersebut ternyata perlu kubaca lagi. Selain sebagai pengingat dan lebih memahami ‘Bahasa Mars’, tapi juga sebagai ajang menertawakan diri sendiri . Emang beda rasanya membaca buku ketika belum ‘pengalaman’ dan ketika sudah ‘pengalaman’.

Ketika sudah menikah dan berinteraksi 24 jam dengan ‘makhluk Mars’, semakin terasa perbedaan antara ‘makhluk Mars’ dan ‘makhluk Venus’. Malah kadangkala, semakin sering berinteraksi, rasanya kok semakin banyak perbedaan ya? Tidak jarang perbedaan ini memicu pertengkaran . Kalau lagi sama-sama egois, bisa main merengut-merengutan deh… hehehe… kayak anak keciiiil deh .

Nah, di saat seperti inilah aku buka kembali buku-buku tersebut. Dan ketika membaca kata-kata yang nampol, muka yang tadinya manyun bisa tertawa terbahak-bahak. Duuuh… betapa bodohnya kami. Pria dan wanita kan emang dari sononya udah beda. Ditambah lagi, kami dibesarkan oleh keluarga dengan kultur berbeda. Sementara masing-masing bersikeras agar pasangannya berperilaku seperti dia. Ya gak mungkin lah yaw!

Itu sebabnya pria heran mengapa wanita tidak melihat tanda bahwa bensin di mobil sudah habis. Padahal kaus kaki kotor berjarak 50 meter, di pojok yang gelap pula, terlihat olehnya. Wanita pun heran mengapa pria tidak bisa mencari pasangan kaus kaki, tapi koleksi DVD mereka berjejer rapi.

Well, emang bener kata Allah di QS Hujurat: 13:
“…Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”

Meskipun pria dan wanita berperangai berbeda, namun perbedaan itu bukan untuk dikritisi, apalagi menimbulkan kontroversi, tetapi untuk dipahami, yang akhirnya muncul saling menghargai.

Teruntuk suamiku tersayang, you are the best and the most handsome creature on Mars …. I love you!

Men Are From Mars Women Are From Venus

Sejak sebelum menikah, buku-buku bergenre Mars-Venus sudah kulahap habis. Gak cuma buku karya John Gray, tapi juga dari penulis lain yang sejenis, such as Don’t Sweat Small Stuff-nya Richard Carlson, atau buku-bukunya Allan & Barbara Pease yang judulnya Why Men Can Only Do One Thing at One Time And Women Can’t Stop Talking, dan Why Men Don’t Listen And Women Can’t Read Map. Alhasil, ketika berinteraksi dengan lawan jenis, sedikit banyak jadi paham perbedaan sifat/karakter mereka, sehingga membantu dalam komunikasi interpersonal.

Namun kini setelah menikah, buku-buku tersebut ternyata perlu kubaca lagi. Selain sebagai pengingat dan lebih memahami ‘Bahasa Mars’, tapi juga sebagai ajang menertawakan diri sendiri . Emang beda rasanya membaca buku ketika belum ‘pengalaman’ dan ketika sudah ‘pengalaman’.

Ketika sudah menikah dan berinteraksi 24 jam dengan ‘makhluk Mars’, semakin terasa perbedaan antara ‘makhluk Mars’ dan ‘makhluk Venus’. Malah kadangkala, semakin sering berinteraksi, rasanya kok semakin banyak perbedaan ya? Tidak jarang perbedaan ini memicu pertengkaran . Kalau lagi sama-sama egois, bisa main merengut-merengutan deh… hehehe… kayak anak keciiiil deh .

Nah, di saat seperti inilah aku buka kembali buku-buku tersebut. Dan ketika membaca kata-kata yang nampol, muka yang tadinya manyun bisa tertawa terbahak-bahak. Duuuh… betapa bodohnya kami. Pria dan wanita kan emang dari sononya udah beda. Ditambah lagi, kami dibesarkan oleh keluarga dengan kultur berbeda. Sementara masing-masing bersikeras agar pasangannya berperilaku seperti dia. Ya gak mungkin lah yaw!

Itu sebabnya pria heran mengapa wanita tidak melihat tanda bahwa bensin di mobil sudah habis. Padahal kaus kaki kotor berjarak 50 meter, di pojok yang gelap pula, terlihat olehnya. Wanita pun heran mengapa pria tidak bisa mencari pasangan kaus kaki, tapi koleksi DVD mereka berjejer rapi.

Well, emang bener kata Allah di QS Hujurat: 13:
“…Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”

Meskipun pria dan wanita berperangai berbeda, namun perbedaan itu bukan untuk dikritisi, apalagi menimbulkan kontroversi, tetapi untuk dipahami, yang akhirnya muncul saling menghargai.

Teruntuk suamiku tersayang, you are the best and the most handsome creature on Mars …. I love you!

Yang mau ikutan sayembara penulisan 4 Palestine… http://www.eramuslim.com/berita/info-umat/lomba-penulisan-esai-cerpen-dan-puisi-palestina-tingkat-nasional.htm

Rich Dad & Rahasia Kekayaan Para Sahabat

Baru saja membaca ulang buku Rich Dad Poor Dad for teens karya Robert T. Kiyosaki yang aku beli tahun 2007. Niat membaca kembali buku ini supaya bisa mengajarkan anak-anakku nanti ‘melek finansial’. Tapi rupanya buku ini cukup ‘menampar’ pipiku karena telah menyadarkanku yang secara tak sadar suka menghamburkan uang.

Seperti yang pernah kubahas dalam review buku ini, bahwa uang yang kita dapatkan dari bekerja sebagai karyawan idealnya dibagi dalam 3 pos, yaitu
1. amal
2. tabungan
3. investasi
Nah, pos investasi-lah yang akan memberikan passive income buat kita, yang membuat uang bekerja untuk kita.

Masalahnya, seringkali uang gaji yang kita dapatkan sebagai karyawan tidak bersisa sepeserpun untuk tabungan, amal, apalagi investasi, tul? Nah, yang cukup ‘menampar’ dari buku karya Robert T. Kiyosaki ini adalah: apakah uang gaji kita tersebut lari kepada benda-benda konsumtif (liabilitas) atau lari ke aset?

Beberapa jenis benda yang sering disebut orang sebagai aset ternyata liabilitas lho! Rumah atau kendaraan yang kita gunakan biasanya kita sebut sebagai aset atau harta kita kan? Salah! SETIAP BENDA YANG MEMBUAT UANG KITA KELUAR ADALAH LIABILITAS.

Rumah tempat kita tinggal adalah benda konsumtif karena setiap tahun harus bayar pajak atau kontrakan dan bayar tagihan air/listrik tiap bulan. Kendaraan yang membawa kita kemana-mana pun adalah benda konsumtif, karena harus beli bensin, bayar pajak, bengkel, tilang, dll. Nah, kalo rumah dan kendaraannya aja liabilitas, gimana dengan laptop, hape, TV, baju, dll… Semuanya barang konsumtif dong. Ya iya laaah… Terus, gak punya apa-apa aja biar gak bayar tagihan! Ya gak gitu juga laaah…. Intinya sih bijak mengelola uang dan miliki sebanyak mungkin aset.

Dalam bukunya, Kiyosaki menyontohkan Ayah Kaya yang bekerja sebagai karyawan dengan gaji lebih kecil daripada Ayah Miskin, tetapi memiliki banyak perusahaan. Kok bisa? Karena Ayah Kaya tidak memperturutkan hawa nafsunya dengan membeli banyak benda-benda konsumtif. Ia lebih banyak membelanjakan pendapatannya untuk aset, yaitu dengan membangun beberapa bisnis. Dengan demikian, Ayah Kaya mendapatkan passive income (baca: uang bekerja untuknya bahkan ketika ia sedang tidur).

Well, rasanya aku jadi lebih memahami mengapa Rasulullah dan para Sahabat menjadi orang kaya raya di zamannya. Bahkan Abdurrahman bin Auf yang ketika hijrah ke Madinah tidak memiliki uang sepeserpun bisa menjadi kembali kaya raya setelah beberapa saat menetap di Madinah. Intinya adalah, mereka memiliki banyak aset dan sangat sedikit liabilitas, karena mereka tidak memperturutkan hawa nafsu mereka. Wallahua’lam…

duh, pingin banget nulis… tapi kudu memerah ASI >.<