Rich Dad & Rahasia Kekayaan Para Sahabat

Baru saja membaca ulang buku Rich Dad Poor Dad for teens karya Robert T. Kiyosaki yang aku beli tahun 2007. Niat membaca kembali buku ini supaya bisa mengajarkan anak-anakku nanti ‘melek finansial’. Tapi rupanya buku ini cukup ‘menampar’ pipiku karena telah menyadarkanku yang secara tak sadar suka menghamburkan uang.

Seperti yang pernah kubahas dalam review buku ini, bahwa uang yang kita dapatkan dari bekerja sebagai karyawan idealnya dibagi dalam 3 pos, yaitu
1. amal
2. tabungan
3. investasi
Nah, pos investasi-lah yang akan memberikan passive income buat kita, yang membuat uang bekerja untuk kita.

Masalahnya, seringkali uang gaji yang kita dapatkan sebagai karyawan tidak bersisa sepeserpun untuk tabungan, amal, apalagi investasi, tul? Nah, yang cukup ‘menampar’ dari buku karya Robert T. Kiyosaki ini adalah: apakah uang gaji kita tersebut lari kepada benda-benda konsumtif (liabilitas) atau lari ke aset?

Beberapa jenis benda yang sering disebut orang sebagai aset ternyata liabilitas lho! Rumah atau kendaraan yang kita gunakan biasanya kita sebut sebagai aset atau harta kita kan? Salah! SETIAP BENDA YANG MEMBUAT UANG KITA KELUAR ADALAH LIABILITAS.

Rumah tempat kita tinggal adalah benda konsumtif karena setiap tahun harus bayar pajak atau kontrakan dan bayar tagihan air/listrik tiap bulan. Kendaraan yang membawa kita kemana-mana pun adalah benda konsumtif, karena harus beli bensin, bayar pajak, bengkel, tilang, dll. Nah, kalo rumah dan kendaraannya aja liabilitas, gimana dengan laptop, hape, TV, baju, dll… Semuanya barang konsumtif dong. Ya iya laaah… Terus, gak punya apa-apa aja biar gak bayar tagihan! Ya gak gitu juga laaah…. Intinya sih bijak mengelola uang dan miliki sebanyak mungkin aset.

Dalam bukunya, Kiyosaki menyontohkan Ayah Kaya yang bekerja sebagai karyawan dengan gaji lebih kecil daripada Ayah Miskin, tetapi memiliki banyak perusahaan. Kok bisa? Karena Ayah Kaya tidak memperturutkan hawa nafsunya dengan membeli banyak benda-benda konsumtif. Ia lebih banyak membelanjakan pendapatannya untuk aset, yaitu dengan membangun beberapa bisnis. Dengan demikian, Ayah Kaya mendapatkan passive income (baca: uang bekerja untuknya bahkan ketika ia sedang tidur).

Well, rasanya aku jadi lebih memahami mengapa Rasulullah dan para Sahabat menjadi orang kaya raya di zamannya. Bahkan Abdurrahman bin Auf yang ketika hijrah ke Madinah tidak memiliki uang sepeserpun bisa menjadi kembali kaya raya setelah beberapa saat menetap di Madinah. Intinya adalah, mereka memiliki banyak aset dan sangat sedikit liabilitas, karena mereka tidak memperturutkan hawa nafsu mereka. Wallahua’lam…

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. setuju….rumah=liabilities, tanah=aset…tabungan d bank kta ganti emas aja kali ya bun :Danyway salam kenal dr Istanbul, maaf ijin ngintip blognya ya bun πŸ™‚

    Reply
  2. amaliacelebi said: setuju….rumah=liabilities, tanah=aset…tabungan d bank kta ganti emas aja kali ya bun :Danyway salam kenal dr Istanbul, maaf ijin ngintip blognya ya bun πŸ™‚

    hahaha… iya, kita ganti emas aja apalagi skrg emas lg jadi primadona karena pasar saham lagi pada anjlok :pSalam kenal juga bunda yusuf… terima kasih sudah mampir πŸ™‚

    Reply
  3. yup yup πŸ˜€

    Reply
  4. sukmakutersenyum said: yup yup πŸ˜€

    yup yup juga πŸ™‚

    Reply
  5. benda liabilitas bisa aja diubah produktif misalnya rumah dikontrakin atau mobil disewain

    Reply
  6. yup, betul sekali! Asalkan tdk besar pasak daripada tiang

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: