Rizki itu kepastian yg dibalut ketidakpastian.. Karenanya harus ikhtiar. Yuk,kita jemput rizki kita :)

Bakso Homemade


Description:
Resep ini dapet dari Jeng Amel (http://amaliacelebi.multiply.com/) di Turki… tapi setelah diujicoba di dapur mbakje, maka resep ini mengalami modifikasi yang sudah teruji di dapur mbakje. Dijamin berhasil deh insyaallah…. selamat mencoba 😉

Ingredients:
-1 kg daging (sapi/ayam/ikan) cincang
-1 kg tepung tapioka/sagu
-5 butir putih telur
-4 siung bawang putih yang sudah diulek halus
-merica dan garam secukupnya

Directions:
-Campur semua bahan
-Uleni sampai bisa dibentuk
-Bentuk adonan bulat-bulat atau sesuai selera (bisa bentuk hati, panjang, dll :))
-Rebus adonan yg sdh dibentuk ke dalam air mendidih sampai mengapung
-Bakso siap digunakan untuk berbagai hidangan 😉

Ironis: Gaji Pengemis Lebih Besar daripada Pekerja Keras

Air mata saya refleks menetes ketika membaca berita ini. Masyaallah…kasihan sekali nasib para transmigran itu. Janji-janji surga pemerintah tinggal pepesan kosong ketika lahan garapan yang dijanjikan tidak juga diberikan dan stok pangan serta tabungan mereka sudah menipis. Hidup di tanah perantauan menjadi terkatung-katung. Padahal aku yakin para transmigran tersebut adalah pekerja keras yang mau berusaha mengubah nasib.

Jujur saja, aku termasuk orang yang sangat mendukung program transmigrasi. Bahkan sempat terbesit dalam benak untuk ikut bertransmigrasi. Pemikiran ini berangkat dari keprihatinan dengan semakin padat dan kumuhnya Ibukota Jakarta. Betapa tidak, gelombang urbanisasi yang setiap tahun semakin meningkat, tetapi tidak dibarengi oleh jumlah lapangan pekerjaan dan perumahan. Akibatnya, hampir di setiap perempatan jalan di Jakarta ramai oleh pengemis, pengamen, asongan, dan orang-orang jalanan lainnya.

Selain menjadi kumuh dan tidak tertib, ‘pekerjaan jalanan’ tersebut jelas membahayakan diri mereka sendiri juga orang lain. Ironisnya, pekerjaan tersebut membuat mereka ketagihan lantaran ternyata penduduk ibukota begitu banyak yang dermawan. Bagaimana tidak ketagihan, lha wong dari mengemis atau mengamen saja mereka bisa mengantongi rata-rata Rp 300 ribu per hari! Jika dikali 30 hari, maka ‘gaji’ mereka sebulan mencapai Rp 9 juta! Bahkan menurut artikel ini, ada yang mencapai Rp 18 juta per bulan !!! OMG! Hayo… yang gajinya di bawah itu jangan ngiri yah hehehe…

Padahal kalau dilihat, para pengemis itu tidak sedikit juga yang bohong. Ada yang pura-pura buta, pincang, gagu, dll. Tidak sedikit juga yang sengaja menggendong bayi (yang entah anak siapa) supaya orang-orang menaruh iba dan memberikan uang. Karena itulah aku sangat mendukung perda DKI yang melarang memberikan uang untuk para gepeng (istilah untuk pengemis/pengamen jalanan). Tapi efektifkah larangan ini?

Menurutku, akar permasalahannya justru tidak tersentuh. Karena akar permasalahannya adalah tidak meratanya pembangunan di daerah-daerah, sehingga terjadilah urbanisasi gila-gilaan. Gimana tidak gila, wong gak punya kerjaan saja bisa hidup di Jakarta! Wong modal baju compang-camping saja gajinya mengalahkan orang-orang kantoran yang perlente! Sementara di desa, bertani saja sering gagal panen. Kalaupun tidak gagal, harga gabah sering melorot.

Akibatnya, Jakarta menjadi destinasi orang-orang desa yang enggan bekerja keras. Sementara orang desa yang bermental hard-worker seperti para transmigran, malah nasibnya terkatung-katung. Mereka yang enggan mengemis harus menelan pil pahit atas korupnya pemerintah. Sementara mereka yang ‘malas’ dan doyan mengemis bisa mengantongi uang banyak. Ironis…

Ironis: Gaji Pengemis Lebih Besar daripada Pekerja Keras

Air mata saya refleks menetes ketika membaca berita ini. Masyaallah…kasihan sekali nasib para transmigran itu. Janji-janji surga pemerintah tinggal pepesan kosong ketika lahan garapan yang dijanjikan tidak juga diberikan dan stok pangan serta tabungan mereka sudah menipis. Hidup di tanah perantauan menjadi terkatung-katung. Padahal aku yakin para transmigran tersebut adalah pekerja keras yang mau berusaha mengubah nasib.

Jujur saja, aku termasuk orang yang sangat mendukung program transmigrasi. Bahkan sempat terbesit dalam benak untuk ikut bertransmigrasi. Pemikiran ini berangkat dari keprihatinan dengan semakin padat dan kumuhnya Ibukota Jakarta. Betapa tidak, gelombang urbanisasi yang setiap tahun semakin meningkat, tetapi tidak dibarengi oleh jumlah lapangan pekerjaan dan perumahan. Akibatnya, hampir di setiap perempatan jalan di Jakarta ramai oleh pengemis, pengamen, asongan, dan orang-orang jalanan lainnya.

Selain menjadi kumuh dan tidak tertib, ‘pekerjaan jalanan’ tersebut jelas membahayakan diri mereka sendiri juga orang lain. Ironisnya, pekerjaan tersebut membuat mereka ketagihan lantaran ternyata penduduk ibukota begitu banyak yang dermawan. Bagaimana tidak ketagihan, lha wong dari mengemis atau mengamen saja mereka bisa mengantongi rata-rata Rp 300 ribu per hari! Jika dikali 30 hari, maka ‘gaji’ mereka sebulan mencapai Rp 9 juta! Bahkan menurut artikel ini, ada yang mencapai Rp 18 juta per bulan !!! OMG! Hayo… yang gajinya di bawah itu jangan ngiri yah hehehe…

Padahal kalau dilihat, para pengemis itu tidak sedikit juga yang bohong. Ada yang pura-pura buta, pincang, gagu, dll. Tidak sedikit juga yang sengaja menggendong bayi (yang entah anak siapa) supaya orang-orang menaruh iba dan memberikan uang. Karena itulah aku sangat mendukung perda DKI yang melarang memberikan uang untuk para gepeng (istilah untuk pengemis/pengamen jalanan). Tapi efektifkah larangan ini?

Menurutku, akar permasalahannya justru tidak tersentuh. Karena akar permasalahannya adalah tidak meratanya pembangunan di daerah-daerah, sehingga terjadilah urbanisasi gila-gilaan. Gimana tidak gila, wong gak punya kerjaan saja bisa hidup di Jakarta! Wong modal baju compang-camping saja gajinya mengalahkan orang-orang kantoran yang perlente! Sementara di desa, bertani saja sering gagal panen. Kalaupun tidak gagal, harga gabah sering melorot.

Akibatnya, Jakarta menjadi destinasi orang-orang desa yang enggan bekerja keras. Sementara orang desa yang bermental hard-worker seperti para transmigran, malah nasibnya terkatung-katung. Mereka yang enggan mengemis harus menelan pil pahit atas korupnya pemerintah. Sementara mereka yang ‘malas’ dan doyan mengemis bisa mengantongi uang banyak. Ironis…

Berat Meninggalkan Anak, Malah Anak yang Meninggalkan

“Bu, ayo kita pergi haji. Pake yang plus saja, jadi tidak perlu waiting list,” ujar seorang perempuan pembimbing haji kepada temannya.

“Iya yah. Saya ada sih uang untuk berangkat haji plus. Tapi saya berat meninggalkan keempat anak saya…,” sahut sang teman.

Karena rasa beratnya meninggalkan anak-anaknya untuk memenuhi panggilan Allah, akhirnya uang tersebut digunakan sang ibu untuk merenovasi kamar keempat anaknya. Namun siapa nyana, ternyata pada bulan yang sama (Desember 2004) keempat anaknya pergi meninggalkan sang ibu karena disapu tsunami.

Demikian sepenggal kisah nyata yang diceritakan Bu Ustadzah Sitaresmi Soekanto pada Pengajian Putri Bimantara kemarin.

Merinding aku mendengarnya. Sedemikian dahsyat rupanya rasa cemburu Allah pada makhluk-Nya sehingga menegur telak sang ibu. Mukaku rasanya seperti ditampar mendengar kisah itu. Betapa sering aku melalaikan perintah-Nya, hanya karena anakku rewel… hix.. hix.. Maafkan aku, Duhai Allah…

Berat Meninggalkan Anak, Malah Anak yang Meninggalkan

“Bu, ayo kita pergi haji. Pake yang plus saja, jadi tidak perlu waiting list,” ujar seorang perempuan pembimbing haji kepada temannya.

“Iya yah. Saya ada sih uang untuk berangkat haji plus. Tapi saya berat meninggalkan keempat anak saya…,” sahut sang teman.

Karena rasa beratnya meninggalkan anak-anaknya untuk memenuhi panggilan Allah, akhirnya uang tersebut digunakan sang ibu untuk merenovasi kamar keempat anaknya. Namun siapa nyana, ternyata pada bulan yang sama (Desember 2004) keempat anaknya pergi meninggalkan sang ibu karena disapu tsunami.

Demikian sepenggal kisah nyata yang diceritakan Bu Ustadzah Sitaresmi Soekanto pada Pengajian Putri Bimantara kemarin.

Merinding aku mendengarnya. Sedemikian dahsyat rupanya rasa cemburu Allah pada makhluk-Nya sehingga menegur telak sang ibu. Mukaku rasanya seperti ditampar mendengar kisah itu. Betapa sering aku melalaikan perintah-Nya, hanya karena anakku rewel… hix.. hix.. Maafkan aku, Duhai Allah…

Biskuit Bayi Rumahan


Description:
Biskuit bayi rumahan ini lebih sehat karena tanpa pengawet, penambah rasa, dan tanpa gula garam. 100% bahan alami deh pokoknya, sehingga sangat cocok untuk bayi, terutama yang mudah alergi. Bikinnya juga gampang banget lagi 😉

Ingredients:
25 gram oatmeal yang sudah dihaluskan* (oatmeal halus bisa diganti tepung gasol apa saja)
1 sdm tepung maizena
2 sdm unsalted butter yang sudah dicairkan
air es secukupnya
1 butir kuning telur untuk pengoles

Directions:
– Campur tepung oatmeal dan tepung maizena sampai rata
– Tambahkan unsalted butter, lalu uleni
– Sambil terus diuleni, tambahkan air es sedikit demi sedikit sampai adonan menjadi kalis
– Pipihkan adonan di atas talenan menggunakan botol
– Cetak bundar-bundar atau bentuk apapun yang mudah digenggam oleh bayi
– Tata di loyang yang sudah diolesi margarin
– Olesi bagian atas adonan biskuit dengan kuning telur
– Panggang sampai adonan matang dan garing
– Setelah dingin, simpan biskuit ke dalam toples kedap udara

*Tepung oatmeal/beras hitam dapat diganti dengan tepung lain, e.g. gasol beras merah, gasol kacang hijau, gasol pisang, dll
Buat yang gak punya gasol, bisa kok bikin tepung sendiri menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah. Caranya dg menghaluskannya dalam food processor yang kemudian diayak sampai halus 😉

Mimpi Masa Depan

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk punya rumah sendiri. Toh aku anak tunggal yang tinggal bersama ibu yang sudah sepuh. Ayahku pun sudah 11 tahun dipanggil Allah. Karena itu, yang ada di pikiranku, ketika aku menikah nanti, suamiku harus tinggal di rumah ibu. Dan alhamdulillah suamiku pun tidak masalah.

Namun sesuatu mulai mengusik pikiranku ketika aku sudah menimang bayi. Tentu aku memikirkan masa depannya nanti. Selain berkewajiban memfasilitasi pendidikannya kelak, aku dan suami sebagai orang tua juga bertanggungjawab membesarkannya dalam lingkungan yang kondusif untuk pembentukan kepribadiannya.

Sebagai warga Cililitan, Jakarta Timur yang lahir dan dibesarkan di sana, aku sudah sangat merasa nyaman. Meskipun rumah kami kecil, tapi lokasinya sangat strategis. Ingar bingar jalan raya dan polusi kendaraan sedikit bisa diredam karena lokasi rumah yang masuk gang kecil. Kerindangan 3 pohon belimbing dan puluhan pot tanaman di sekeliling rumah amat menyejukkan area rumah kami. Ditambah lagi, kami sudah mengenal baik para tetangga yang memang asli Betawi. Pokoknya zona nyaman deh!

Tetapi zona nyamanku terusik ketika menyadari tidak adanya fasilitas bermain untuk anak-anak di RW kami. Jangankan lapangan, sepetak tanah kosong untuk sekedar main karet saja tidak ada. Waktu aku kecil masih sedikit beruntung, karena sebelah rumahku tanah kosong. Tapi sekarang sudah dibangun rumah tingkat. Alhasil anak-anak harus bermain di jalan, bahkan kadang di pinggir jalan raya!

Angka kepemilikan sepeda motor yang terus meningkat pun tak kalah memprihatinkanku yang tinggal di gang. Pasalnya, kini sepanjang jalan gang kami dipenuhi parkir sepeda motor. Belum lagi ketika jam macet ibukota mendera, tak sedikit para pengemudi sepeda motor yang memanfaatkan gang kecil kami sebagai jalan alternatif menghindari kemacetan di Jl Dewi Sartika. Otomatis gang kecil kami kerap ramai sepeda motor. Selain berisik dan membahayakan anak-anak, tentu juga polusi udara .

Kenyataan bahwa permukaan air tanah di DKI yang makin menyurut tak kalah menjadi kekhawatiranku. Karena ini artinya petanda krisis air bersih di masa mendatang. Meskipun sehari-hari aku mengonsumsi air PAM, aku ikut prihatin. Lha wong hampir setiap tahun PAM bermasalah dalam distribusi air. Makanya tiap tahun pasti aku mengalami ngantri air dan latihan beban karena menggotong-gotong ember .

Nah, kenyataan tersebutlah yang membawaku pada sebuah impian baru… MEMILIKI RUMAH di area yang kondusif.

Dimanakah itu? Well… menurut pemikiranku yang dhoif ini, area tersebut harus memiliki beberapa syarat, yaitu: alamnya masih asri, air tanahnya bagus, bebas banjir, akses ke ibukota mudah (e.g. dekat stasiun KA/jalan tol), tidak jauh dari masjid, sarana pendidikan yang memadai, rumah sakit, pasar, dan ada sanak saudara yang dekat dari situ. Dimana hayooo…?

*Ket foto: Kai di teras rumah kami yang rindang

Banyak yg ‘amazed’ lantaran pas hamil kemarin aku cuma naik 5kg dan berat bayinya 3,5kg… "Pantesan lo cepet kurus lagi," kata mereka…. Alhamdulillah ya, sesuatu banget :D

Kai Berenang

Libur Lebaran kemarin Kai (7m) berenang sama Bapak & Ibu di Kolam Renang Persada, Halim, Jakarta Timur. Byur… byur…. segerrrr 😀

*Baju renang bapak ibu: Iqna’ fashion
**Celana renang Kai: Zigie Zag Cloth Diaper (aslo suitable for swimming)