Mimpi Masa Depan

Sebelumnya aku tak pernah berpikir untuk punya rumah sendiri. Toh aku anak tunggal yang tinggal bersama ibu yang sudah sepuh. Ayahku pun sudah 11 tahun dipanggil Allah. Karena itu, yang ada di pikiranku, ketika aku menikah nanti, suamiku harus tinggal di rumah ibu. Dan alhamdulillah suamiku pun tidak masalah.

Namun sesuatu mulai mengusik pikiranku ketika aku sudah menimang bayi. Tentu aku memikirkan masa depannya nanti. Selain berkewajiban memfasilitasi pendidikannya kelak, aku dan suami sebagai orang tua juga bertanggungjawab membesarkannya dalam lingkungan yang kondusif untuk pembentukan kepribadiannya.

Sebagai warga Cililitan, Jakarta Timur yang lahir dan dibesarkan di sana, aku sudah sangat merasa nyaman. Meskipun rumah kami kecil, tapi lokasinya sangat strategis. Ingar bingar jalan raya dan polusi kendaraan sedikit bisa diredam karena lokasi rumah yang masuk gang kecil. Kerindangan 3 pohon belimbing dan puluhan pot tanaman di sekeliling rumah amat menyejukkan area rumah kami. Ditambah lagi, kami sudah mengenal baik para tetangga yang memang asli Betawi. Pokoknya zona nyaman deh!

Tetapi zona nyamanku terusik ketika menyadari tidak adanya fasilitas bermain untuk anak-anak di RW kami. Jangankan lapangan, sepetak tanah kosong untuk sekedar main karet saja tidak ada. Waktu aku kecil masih sedikit beruntung, karena sebelah rumahku tanah kosong. Tapi sekarang sudah dibangun rumah tingkat. Alhasil anak-anak harus bermain di jalan, bahkan kadang di pinggir jalan raya!

Angka kepemilikan sepeda motor yang terus meningkat pun tak kalah memprihatinkanku yang tinggal di gang. Pasalnya, kini sepanjang jalan gang kami dipenuhi parkir sepeda motor. Belum lagi ketika jam macet ibukota mendera, tak sedikit para pengemudi sepeda motor yang memanfaatkan gang kecil kami sebagai jalan alternatif menghindari kemacetan di Jl Dewi Sartika. Otomatis gang kecil kami kerap ramai sepeda motor. Selain berisik dan membahayakan anak-anak, tentu juga polusi udara .

Kenyataan bahwa permukaan air tanah di DKI yang makin menyurut tak kalah menjadi kekhawatiranku. Karena ini artinya petanda krisis air bersih di masa mendatang. Meskipun sehari-hari aku mengonsumsi air PAM, aku ikut prihatin. Lha wong hampir setiap tahun PAM bermasalah dalam distribusi air. Makanya tiap tahun pasti aku mengalami ngantri air dan latihan beban karena menggotong-gotong ember .

Nah, kenyataan tersebutlah yang membawaku pada sebuah impian baru… MEMILIKI RUMAH di area yang kondusif.

Dimanakah itu? Well… menurut pemikiranku yang dhoif ini, area tersebut harus memiliki beberapa syarat, yaitu: alamnya masih asri, air tanahnya bagus, bebas banjir, akses ke ibukota mudah (e.g. dekat stasiun KA/jalan tol), tidak jauh dari masjid, sarana pendidikan yang memadai, rumah sakit, pasar, dan ada sanak saudara yang dekat dari situ. Dimana hayooo…?

*Ket foto: Kai di teras rumah kami yang rindang

Advertisements
Leave a comment

8 Comments

  1. bogor dong mak?*tebak2x buah manggis ;))

    Reply
  2. Depok masuk pilihan ngga teh? 🙂

    Reply
  3. Rumah mba jati emg udah nyaman ya,tp sayang ya motor2 itu. Di bekasi bnyk perumahan,mba,tp msknya jauh2

    Reply
  4. mbak, jadi tetanggaku yuk… masih 2 unit rumah lagi nih di Bekasi tapi… ^^

    Reply
  5. antara Bogor dan Jakarta lah 😉

    Reply
  6. masuk bgt mah, tapi kyknya gak di Kota Depok, soalnya harga rumahnya udah muahal :p

    Reply
  7. Bekasi? Bekasinya mana niy? Hmm… aksesnya cuma tol doang siy, rentan macet juga hehehe… banjir juga bukannya yah?

    Reply
  8. mang bekasinya mana tya? kriterianya masuk dg yg di atas gak? 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: