Ironis: Gaji Pengemis Lebih Besar daripada Pekerja Keras

Air mata saya refleks menetes ketika membaca berita ini. Masyaallah…kasihan sekali nasib para transmigran itu. Janji-janji surga pemerintah tinggal pepesan kosong ketika lahan garapan yang dijanjikan tidak juga diberikan dan stok pangan serta tabungan mereka sudah menipis. Hidup di tanah perantauan menjadi terkatung-katung. Padahal aku yakin para transmigran tersebut adalah pekerja keras yang mau berusaha mengubah nasib.

Jujur saja, aku termasuk orang yang sangat mendukung program transmigrasi. Bahkan sempat terbesit dalam benak untuk ikut bertransmigrasi. Pemikiran ini berangkat dari keprihatinan dengan semakin padat dan kumuhnya Ibukota Jakarta. Betapa tidak, gelombang urbanisasi yang setiap tahun semakin meningkat, tetapi tidak dibarengi oleh jumlah lapangan pekerjaan dan perumahan. Akibatnya, hampir di setiap perempatan jalan di Jakarta ramai oleh pengemis, pengamen, asongan, dan orang-orang jalanan lainnya.

Selain menjadi kumuh dan tidak tertib, ‘pekerjaan jalanan’ tersebut jelas membahayakan diri mereka sendiri juga orang lain. Ironisnya, pekerjaan tersebut membuat mereka ketagihan lantaran ternyata penduduk ibukota begitu banyak yang dermawan. Bagaimana tidak ketagihan, lha wong dari mengemis atau mengamen saja mereka bisa mengantongi rata-rata Rp 300 ribu per hari! Jika dikali 30 hari, maka ‘gaji’ mereka sebulan mencapai Rp 9 juta! Bahkan menurut artikel ini, ada yang mencapai Rp 18 juta per bulan !!! OMG! Hayo… yang gajinya di bawah itu jangan ngiri yah hehehe…

Padahal kalau dilihat, para pengemis itu tidak sedikit juga yang bohong. Ada yang pura-pura buta, pincang, gagu, dll. Tidak sedikit juga yang sengaja menggendong bayi (yang entah anak siapa) supaya orang-orang menaruh iba dan memberikan uang. Karena itulah aku sangat mendukung perda DKI yang melarang memberikan uang untuk para gepeng (istilah untuk pengemis/pengamen jalanan). Tapi efektifkah larangan ini?

Menurutku, akar permasalahannya justru tidak tersentuh. Karena akar permasalahannya adalah tidak meratanya pembangunan di daerah-daerah, sehingga terjadilah urbanisasi gila-gilaan. Gimana tidak gila, wong gak punya kerjaan saja bisa hidup di Jakarta! Wong modal baju compang-camping saja gajinya mengalahkan orang-orang kantoran yang perlente! Sementara di desa, bertani saja sering gagal panen. Kalaupun tidak gagal, harga gabah sering melorot.

Akibatnya, Jakarta menjadi destinasi orang-orang desa yang enggan bekerja keras. Sementara orang desa yang bermental hard-worker seperti para transmigran, malah nasibnya terkatung-katung. Mereka yang enggan mengemis harus menelan pil pahit atas korupnya pemerintah. Sementara mereka yang ‘malas’ dan doyan mengemis bisa mengantongi uang banyak. Ironis…

Advertisements
Leave a comment

14 Comments

  1. masihkah kita mau “menggaji” para pengemis itu? *Lebih suka penjual asongan daripada pengemis*

    Reply
  2. betul dok, lebih baik uang utk pengemis diberikan/membeli barang asongan. setidaknya para pedagang asongan ini bermental tangan di atas

    Reply
  3. Saya sudah migrasi keluar Jawa nih 🙂

    Reply
  4. ajak2 donk mas.. Saya jg pengen migrasi keluar Jawa nih 🙂

    Reply
  5. kalo anak jalanan, pengamen gimana? gak termasuk pengemis kan ya?

    Reply
  6. ketika harga diri sdh tdk berbanding lurus lg, miris oh miris 😦
    *btw d Turki dgr2x 'profesi' pengemis jg kaya2x tnyata, tp untungnya ga semenjamur kaya d Indo, krn jd pembantu pun bayarannya perhari bs 400rb, dan msh byk yg punya hrg diri utk tdk jd pengemis ;D*

    Reply
  7. mereka termasuk tangan di bawah atau tangan di atas ya..?

    Reply
  8. yah baguslah klo begitu…

    Reply
  9. nah itu pertanyaanku… kan mereka menyanyi dulu,,,

    Reply
  10. nah, klo menurutku diliat jg kualitas nyanyinya. Kan ada jg yg ecrek2 gk jelas yg klo menurutku sm aja dg ngemis tp bkedok ngamen. Parahnya, gk sdikit jg pngamen yg mintanya maksa udh kyk preman nodong… Jd ya liat2 orgnya.
    Tp menurutku pribadi, klo smua org jkt patuh sama perda larangan mberi kpd gepeng,dijamin org bakal kapok ngamen dan ngemis. Kalo mau berderma,lebih baik ke masjid atau lembaga sosial.
    Dulu pernah wwcr pemilik rumah singgah yg mngasuh anak2 jalanan,dia pantang bgt ngasih duit di jalanan krn gk mdidik mereka. Dan kita sbg anggota masyarakat py tgg jwb kan utk mdidik mereka.. Bukannya pelit yaa

    Reply
  11. kadang gak tegaaa…. huhu
    kalo aku ada rejeki lebih suka aku kasih makanan ajah… hehe kan mereka bilang buat makan, yaudah aku kasih makanan 😀

    Reply
  12. betul itu! aku juga lebih suka ngasih makanan ketimbang duit, seperti yg selalu dilakukan mbak helvy tiana rosa. karena seperti kita tahu, para pengemis dan pengamen itu kan punya germo tempat mereka diharuskan bayar setoran. nah, klo kita kasih duit ntar duit itu bakal disetorin ke germonya, sementara klo makanan kan lgs masuk perut si pengamen

    Reply
  13. kalo nunggu org se-Jakarta sepakat menjalankan perda itu, sama aja kayak nunggu gajah bertelur, Mbakje. Bukannya pesimis akut, tapi negeri ini memang udah ndak jelas jluntrungane. Banyak hal2 yg ga bisa dijelasin dan kita cuma bisa mengelus dada. Trus suwe2 sesak napas deh..Waktu itu juga ada dialog di TVRI soal transmigrasi, kata narasumber itu memang transmigrasi baru sebatas gerakan awal, tapi di daerah yg dituju malah ga disiapkan oleh pemerintah, terutama kesiapan lahan kerja dan bagaimana menjembatani gap sosial yang kemungkinan besar akan muncul, Nah, kembali ke soal pengemis, aku juga suka miris, di Bogor jumlahnya makin bejibun dan emang mreka punya induk semang yg musti disetorin tiap hari. Memang cara terbaik dan instan ya dg ga kasih mereka. Paling tdk mengurangi “gaji” mereka. Pemerintah kita ini–mohon maaf–memang gemar bikin peraturan dan UU yg ga integrated dg kondisi riil di lapangan, ndak menyentuh problem esensialnya. Jadi seolah-olah kalo udah beres bikin perda atau perpu trus tanggung jawab mereka dah kelar gitu…alamakkk. Aku sendiri menyaksikan bagaimana kondisi petani di kampungku yg menderita karena cekikan harga pupuk (akhirnya mereka ngutang) dan harga jual padi yg lagi-lagi diserahkan pd mekanisme pasar! Can it be any worse? Akhirnya hasil panen mereka yg tak seberapa habis buat mbayar pupuk plus mencukupi kehidupan sehari2 scr pas2an. So mana mungkin bs sejahtera? Mendingan hijrah ke ibukota Jkt, bs meraup rupiah dg mudah, berlimpah, dan dijamin “kaya”!

    Reply
  14. Org2 kita ini paling susah diajak sepakat dalam kegiatan yg lebih baik..memang bukan semua sih…contohnya aja soal sampah; kalo ada anak yang buang sampah sembarangan trus kita ingetin baik2 agar dibuang ke tempat sampah yg tersedia, ibunya bukan malah berterimakasih sama kita dan merasa malu, melainkan malah memandang kita dg sinis dg tatapan mencap kita “sok peduli kebersihan”. Parahnya, org2 di sekitarnya ndak peduli dan menganggap remeh. Akhirnya sampah numpuk kayak yg di cililitan itu..Kan akibat ketidakpedulian org utk buang sampah dan ga ada yg negur pas buangnya sembarangan. Kita yg ngingetin jd kayak anomali dan aneh! Coba kalau ada yg buang sampah asal, trus org2 di sekitarnya negur rame2, pasti deh org itu malu dan yg lain pun jd ambil pelajaran…The fact is….ah u know lah…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: