Sekolah Impian

“Hari ini kita belajar apa, Bu?”

“Hari ini kita belajar matematika. Nah, ayo kita ke pasar!”

Dengan berbekal keranjang belanja dan dompet berisi sejumlah uang, sang ibu dan anaknya belajar matematika dengan praktek langsung.

Selama perjalanan ke pasar dan ketika berada di pasar, ternyata sang anak tidak hanya belajar matematika, tetapi juga pelajaran budi pekerti, karena ketika naik bis, ada nenek tua yang harus diberikan tempat duduk.

Selain budi pekerti, sang anak juga belajar agama, betapa Allah SWT Maha Adil dan Pemurah, karena meskipun penjual tempe di pasar ada puluhan kios, tetapi masing-masing mereka tetap meraup untung. Bahkan para buruh pekerja kasar yang hanya bermodal tenaga pun ternyata bisa mendapatkan uang dengan memanggul berkarung-karung beras. Maka firman Allah yang berbunyi, “Allah tidak akan merubah nasib seseorang, jika orang itu tidak berusaha mengubah nasibnya,” menjadi terasa nyata di mata sang anak.

Tidak berhenti di situ. Sang anak juga belajar mata pelajaran ekonomi (IPS) dengan melihat pedagang sayur-mayur yang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah pedagang buah. Hal itu merupakan wujud dari teori ‘supply on demand‘, dimana pembeli (demand) sayur-mayur lebih banyak daripada buah-buahan.

Pelajaran matematika sederhana pun tentu saja telah didapatkan sang anak. Dengan berbekal selembar uang Rp 10 ribu yang telah dibelanjakannya, sang anak jadi memahami penambahan dan pengurangan. Ia pun sekaligus belajar manajemen keuangan sederhana. Bagaimana dengan uang Rp 10 ribu ia bisa sampai ke pasar dan pulang lagi ke rumah (kebutuhan ongkos), serta membeli barang-barang yang ingin (atau dibutuhkan) dibelinya.

Sesampainya di rumah, kegiatan seru di pasar tadi harus diceritakannya dalam bentuk tulisan. Maka sang anak belajar pelajaran Bahasa Indonesia.

***

Demikianlah secuil imajinasi saya tentang konsep sekolah impian saya…

Meskipun saya menyadari, sekolah yang melakukan kegiatan praktek yang banyak biasanya biayanya pun mahal. Tidak heran sih, karena butuh banyak prasarana dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan. Sementara kegiatan seperti pergi ke pasar sebenarnya bukanlah kegiatan ‘wah’, karena hampir setiap pekan para ibu mendatangi tempat ini.

Rekreasi ke kebun binatang pun bisa dibilang kegiatan akhir pekan yang kerap dilakukan para orang tua bersama buah hati mereka. Kegiatan ini sebenarnya merupakan praktek pelajaran Biologi, dimana sang anak melihat–bahkan mendengarkan dan merasakan–langsung wujud hewan-hewan yang disebutkan oleh buku teks. Tiket masuk Kebun Binatang Ragunan (KBR) Rp 5000 per orang. Jika pergi bertiga (Ayah, Ibu, anak) maka butuh biaya Rp 15 ribu. Sementara biaya perjalanan menuju KBR naik busway Rp 3500 per orang. Maka ongkos bertiga pulang pergi Rp 21 ribu. Untuk makan siang dan snack bisa bawa bekal sendiri. Maka dibutuhkan biaya Rp 36 ribu untuk belajar Biologi di ‘laboratorium’ KBR. Namun bayangkan jika kegiatan berkunjung ke kebun binatang ini diselenggarakan oleh sekolah, bisa dipastikan biayanya lebih dari Rp 36 ribu per anak.

Itu sebabnya saya terpikir untuk menyekolahkan anak saya di ‘Sekolah Rumah’ alias home schooling. Meskipun banyak yang memaparkan kelemahan home schooling terutama dari segi sosialisasi. Karena anak hanya terbiasa bersosialisasi dengan ibunya sendiri, atau guru yang dipanggil ke rumah, maka anak produk home schooling dikhawatirkan kelak akan susah bersosialisasi.

Saya tidak menampik kekhawatiran itu. Namun saya yakin kendala itu bisa diatasi antara lain dengan sering mengikutkan sang anak dengan komunitas-komunitas lain selain keluarganya. Misalnya dengan mengikutkannya les musik, menari, kumon, pencak silat, dan lain-lain.

Well, yang pasti apa yang saya tulis ini adalah sekolah impian yang insyaallah paling mungkin saya wujudkan untuk anak saya, yaitu home schooling. Wallahua’lam bishawab…

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

7 Comments

  1. Temanku ada yang kedua anaknya homeschooling.Kalau untuk sosialisasi mereka ikut kegiatan pelatihan penulis cilik, komunitas dongeng, dsb..Jadi ortunya kudu aktif & update nyari kegiatan buat mereka. Sebenernya lebih efisien dari sisi waktu ya..Cuma aku juga masih mikir2, kalau someday punya anak mau homeschooling.. 🙂

    Reply
  2. seru kayaknya homescooling yah

    Reply
  3. trully said: Jadi ortunya kudu aktif & update nyari kegiatan buat mereka.Sebenernya lebih efisien dari sisi waktu ya..

    yup. ortunya jadi ikut belajar lebih giat juga 🙂 emang siy, dari segi waktu emang lebih efisien, apalagi gak pake transport yang kalo di jakarta bisa abis waktu di jalan hehehe 😀

    Reply
  4. trully said: Cuma aku juga masih mikir2, kalau someday punya anak mau homeschooling.. 🙂

    kalo mau home schooling, idealnya ibunya di rumah dan gak kerja kantoran. Kalo pun kerja ya kerja di rumah.Aku juga masih menimbang-nimbang kok, mbak Ully… secara sekolah dengan metode fun learning kayak home schooling gitu biayanya selangit 😥

    Reply
  5. sukmakutersenyum said: seru kayaknya homescooling yah

    he-eh… seru 🙂

    Reply
  6. mbakje said: kalo mau home schooling, idealnya ibunya di rumah dan gak kerja kantoran. Kalo pun kerja ya kerja di rumah.Aku juga masih menimbang-nimbang kok, mbak Ully… secara sekolah dengan metode fun learning kayak home schooling gitu biayanya selangit 😥

    Sekolah dengan metode fun learning kayak home schooling itu contohnya di sekolah mana ya?

    Reply
  7. trully said: Sekolah dengan metode fun learning kayak home schooling itu contohnya di sekolah mana ya?

    salah satunya Sekolah Alam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: