Anakmu Bukan Anakmu

Puisi karya Kahlil Gibran ini adalah favorit saya, karena selalu menyadarkan diri yang ‘serakah’ ini akan hakikat kehidupan dan menjalankan amanah Tuhan sebagai orang tua

Anakmu Bukan Anakmu
Anak adalah kehidupan,
mereka sekedar lahir melaluimu
tetapi bukan berasal darimu

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayangmu tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu,
tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan,
dan tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Anakmu Bukan Anakmu

Puisi karya Kahlil Gibran ini adalah favorit saya, karena selalu menyadarkan diri yang ‘serakah’ ini akan hakikat kehidupan dan menjalankan amanah Tuhan sebagai orang tua

Anakmu Bukan Anakmu
Anak adalah kehidupan,
mereka sekedar lahir melaluimu
tetapi bukan berasal darimu

Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayangmu tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya,
karena jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun

Bisa saja mereka mirip dirimu,
tetapi jangan pernah menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan,
dan tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang melucur
Sang Pemanah Mahatahu sasaran bidikan keabadian
Dia menentangmu dengan kekuasaanNya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap

Anak Hebat

Kadang aku bertanya…

Apakah harus menjadi ibu rumah tangga untuk menghasilkan anak hebat?
Apakah orang-orang hebat dibesarkan oleh ibu yang hanya di rumah?

Soekarno, Hatta, Andreas Harefa, Merry Riana, Sony Sugema,
hanya segelintir nama yang dibesarkan oleh ibu rumah tangga

Adakah orang-orang hebat yang dibesarkan oleh ibu bekerja?

Barrack Obama, Steve Jobs, Sandiaga Uno,
adalah segelintir nama yang tumbuh dari keluarga dengan ibu yang bekerja

Namun ternyata…
Manusia hebat akhir zaman,
Muhammad SAW,
besar dalam keadaan yatim piatu
Ia diasuh paman yang miskin

Jadi,
apa yang membuat anak manusia tumbuh menjadi orang hebat?

Anak Hebat

Kadang aku bertanya…

Apakah harus menjadi ibu rumah tangga untuk menghasilkan anak hebat?
Apakah orang-orang hebat dibesarkan oleh ibu yang hanya di rumah?

Soekarno, Hatta, Andreas Harefa, Merry Riana, Sony Sugema,
hanya segelintir nama yang dibesarkan oleh ibu rumah tangga

Adakah orang-orang hebat yang dibesarkan oleh ibu bekerja?

Barrack Obama, Steve Jobs, Sandiaga Uno,
adalah segelintir nama yang tumbuh dari keluarga dengan ibu yang bekerja

Namun ternyata…
Manusia hebat akhir zaman,
Muhammad SAW,
besar dalam keadaan yatim piatu
Ia diasuh paman yang miskin

Jadi,
apa yang membuat anak manusia tumbuh menjadi orang hebat?

Mendramatisir Keadaan

Pernah melihat anak kecil yang sedang belajar berjalan terjatuh? Apa yang terjadi jika orang-orang di sekitarnya pura-pura tidak tahu dan menyemangatinya untuk berdiri kembali? Jawabannya bisa dipastikan anak tersebut tidak menangis karena lupa pada ‘jatuhnya’.

Namun apa yang terjadi bila orang-orang di sekitarnya mendramatisir keadaan (baca: lebay) sampai-sampai mengkambinghitamkan lantai sebagai penyebab jatuhnya si anak? Bisa ditebak si anak menangis meraung-raung dan ikut mengutuki lantai.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, orang dewasa pun ternyata seringkali ‘terjatuh’ atau ‘tersakiti’. Namun karena keadaan yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak disengaja ini sering ditanggapi secara lebay alias didramatisir, maka hasilnya pun jadi lebay. Sakit yang amat sangat tak pelak menimbulkan amarah. Bahkan tak jarang menimbulkan dendam kesumat (tuh kan lebay deh ah…).

Andai saja keadaan ter- (sesuatu yang tidak disengaja) tersebut tidak didramatisir, tentu hasilnya seperti anak yang sedang belajar jalan tadi. Ia menganggap angin lalu rasa sakit yang disebabkan oleh ‘terjatuhnya’. Lebih dari itu, ia berani bangkit dan tak gentar berjalan lagi. Wallahua’lam bishawab

Mendramatisir Keadaan

Pernah melihat anak kecil yang sedang belajar berjalan terjatuh? Apa yang terjadi jika orang-orang di sekitarnya pura-pura tidak tahu dan menyemangatinya untuk berdiri kembali? Jawabannya bisa dipastikan anak tersebut tidak menangis karena lupa pada ‘jatuhnya’.

Namun apa yang terjadi bila orang-orang di sekitarnya mendramatisir keadaan (baca: lebay) sampai-sampai mengkambinghitamkan lantai sebagai penyebab jatuhnya si anak? Bisa ditebak si anak menangis meraung-raung dan ikut mengutuki lantai.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, orang dewasa pun ternyata seringkali ‘terjatuh’ atau ‘tersakiti’. Namun karena keadaan yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak disengaja ini sering ditanggapi secara lebay alias didramatisir, maka hasilnya pun jadi lebay. Sakit yang amat sangat tak pelak menimbulkan amarah. Bahkan tak jarang menimbulkan dendam kesumat (tuh kan lebay deh ah…).

Andai saja keadaan ter- (sesuatu yang tidak disengaja) tersebut tidak didramatisir, tentu hasilnya seperti anak yang sedang belajar jalan tadi. Ia menganggap angin lalu rasa sakit yang disebabkan oleh ‘terjatuhnya’. Lebih dari itu, ia berani bangkit dan tak gentar berjalan lagi. Wallahua’lam bishawab

Pekerjaan Bergengsi

Setelah membuat iklan lowongan ini, saya jadi tergelitik menulis…

Beberapa menit setelah saya klik tombol publish, beberapa e-mail, komentar, dan sms masuk menanyakan perihal lowongan tersebut. Ketika saya beri tahu besaran honor yang akan diterima, para pengontak tersebut masih berminat. Saat saya beri tahu jam kerja yang fleksibel, para pengontak tersebut juga tak bergeming. Namun ketika masuk pada pembahasan au pair, saya pun menjelaskan deskripsi pekerjaannya. Maka spontan mereka mundur perlahan.

Memang au pair itu apa sih?

Menurut wikipedia, ‘au pair’ adalah sebuah profesi yang fungsinya sebagai asisten rumah tangga, dimana pekerjaannya seputar pekarjaan rumah tangga dan merawat anak. Istilah “au pair” sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang artinya “sama”. Ini mengindikasikan bahwa, au pair mendapat perlakuan “sama” seperti anggota keluarga lainnya. Inilah yang membedakan antara ‘au pair’ dan ‘servant’ (pembantu).

Di Eropa dan Amerika, au pair biasanya adalah pelajar atau mahasiswa dari negara lain yang bekerja pada sebuah keluarga di suatu negara. Au pair tersebut tinggal bersama keluarga tempat ia bekarja. Layaknya anggota keluarga, au pair diperlakukan seperti anak sendiri. Ia mendapat uang saku, kursus bahasa, dan tentu saja makan bersama di satu meja yang sama di keluarga tersebut.

Di negara-negara maju, au pair adalah hal lumrah. Bekerja pada sebuah keluarga untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak tidak pernah dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang para pelajar atau mahasiswa di sana memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi liburan mereka. Sambil berlibur, tambah pengalaman, tentu saja mereka juga mendapatkan tambahan uang jajan.

Namun sayangnya di Indonesia, pekerjaan domestik masih dipandang sebelah mata. Tidak peduli besaran honor yang diberikan, jika pekerjaan tersebut tidak prestis, lebih baik tidak. Gaji kecil tapi berdasi dianggap lebih layak, daripada gaji lebih besar tapi ‘tak berdasi’.

Saya tidak menyalahkan para calon pelamar yang mundur teratur. Mungkin saja pekerjaan ini tidak bisa membuat bangga calon mertua mereka

Saya juga tidak menyalahkan budaya kita yang memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Saya hanya ingin zaman berubah. Mungkin pengalaman ini mengajarkan saya dan anak saya kelak untuk menghargai semua profesi yang menghasilkan uang secara halal. Insyaallah saya juga akan mendorong anak saya untuk bekerja sebagai ‘au pair’ saat musim libur sekolahnya nanti.

Pekerjaan Bergengsi

Setelah membuat iklan lowongan ini, saya jadi tergelitik menulis…

Beberapa menit setelah saya klik tombol publish, beberapa e-mail, komentar, dan sms masuk menanyakan perihal lowongan tersebut. Ketika saya beri tahu besaran honor yang akan diterima, para pengontak tersebut masih berminat. Saat saya beri tahu jam kerja yang fleksibel, para pengontak tersebut juga tak bergeming. Namun ketika masuk pada pembahasan au pair, saya pun menjelaskan deskripsi pekerjaannya. Maka spontan mereka mundur perlahan.

Memang au pair itu apa sih?

Menurut wikipedia, ‘au pair’ adalah sebuah profesi yang fungsinya sebagai asisten rumah tangga, dimana pekerjaannya seputar pekarjaan rumah tangga dan merawat anak. Istilah “au pair” sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang artinya “sama”. Ini mengindikasikan bahwa, au pair mendapat perlakuan “sama” seperti anggota keluarga lainnya. Inilah yang membedakan antara ‘au pair’ dan ‘servant’ (pembantu).

Di Eropa dan Amerika, au pair biasanya adalah pelajar atau mahasiswa dari negara lain yang bekerja pada sebuah keluarga di suatu negara. Au pair tersebut tinggal bersama keluarga tempat ia bekarja. Layaknya anggota keluarga, au pair diperlakukan seperti anak sendiri. Ia mendapat uang saku, kursus bahasa, dan tentu saja makan bersama di satu meja yang sama di keluarga tersebut.

Di negara-negara maju, au pair adalah hal lumrah. Bekerja pada sebuah keluarga untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak tidak pernah dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang para pelajar atau mahasiswa di sana memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi liburan mereka. Sambil berlibur, tambah pengalaman, tentu saja mereka juga mendapatkan tambahan uang jajan.

Namun sayangnya di Indonesia, pekerjaan domestik masih dipandang sebelah mata. Tidak peduli besaran honor yang diberikan, jika pekerjaan tersebut tidak prestis, lebih baik tidak. Gaji kecil tapi berdasi dianggap lebih layak, daripada gaji lebih besar tapi ‘tak berdasi’.

Saya tidak menyalahkan para calon pelamar yang mundur teratur. Mungkin saja pekerjaan ini tidak bisa membuat bangga calon mertua mereka

Saya juga tidak menyalahkan budaya kita yang memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Saya hanya ingin zaman berubah. Mungkin pengalaman ini mengajarkan saya dan anak saya kelak untuk menghargai semua profesi yang menghasilkan uang secara halal. Insyaallah saya juga akan mendorong anak saya untuk bekerja sebagai ‘au pair’ saat musim libur sekolahnya nanti.