Pekerjaan Bergengsi

Setelah membuat iklan lowongan ini, saya jadi tergelitik menulis…

Beberapa menit setelah saya klik tombol publish, beberapa e-mail, komentar, dan sms masuk menanyakan perihal lowongan tersebut. Ketika saya beri tahu besaran honor yang akan diterima, para pengontak tersebut masih berminat. Saat saya beri tahu jam kerja yang fleksibel, para pengontak tersebut juga tak bergeming. Namun ketika masuk pada pembahasan au pair, saya pun menjelaskan deskripsi pekerjaannya. Maka spontan mereka mundur perlahan.

Memang au pair itu apa sih?

Menurut wikipedia, ‘au pair’ adalah sebuah profesi yang fungsinya sebagai asisten rumah tangga, dimana pekerjaannya seputar pekarjaan rumah tangga dan merawat anak. Istilah “au pair” sendiri berasal dari Bahasa Perancis yang artinya “sama”. Ini mengindikasikan bahwa, au pair mendapat perlakuan “sama” seperti anggota keluarga lainnya. Inilah yang membedakan antara ‘au pair’ dan ‘servant’ (pembantu).

Di Eropa dan Amerika, au pair biasanya adalah pelajar atau mahasiswa dari negara lain yang bekerja pada sebuah keluarga di suatu negara. Au pair tersebut tinggal bersama keluarga tempat ia bekarja. Layaknya anggota keluarga, au pair diperlakukan seperti anak sendiri. Ia mendapat uang saku, kursus bahasa, dan tentu saja makan bersama di satu meja yang sama di keluarga tersebut.

Di negara-negara maju, au pair adalah hal lumrah. Bekerja pada sebuah keluarga untuk melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak tidak pernah dipandang sebelah mata. Bahkan tidak jarang para pelajar atau mahasiswa di sana memanfaatkan kesempatan ini untuk mengisi liburan mereka. Sambil berlibur, tambah pengalaman, tentu saja mereka juga mendapatkan tambahan uang jajan.

Namun sayangnya di Indonesia, pekerjaan domestik masih dipandang sebelah mata. Tidak peduli besaran honor yang diberikan, jika pekerjaan tersebut tidak prestis, lebih baik tidak. Gaji kecil tapi berdasi dianggap lebih layak, daripada gaji lebih besar tapi ‘tak berdasi’.

Saya tidak menyalahkan para calon pelamar yang mundur teratur. Mungkin saja pekerjaan ini tidak bisa membuat bangga calon mertua mereka

Saya juga tidak menyalahkan budaya kita yang memandang sebelah mata pekerjaan domestik. Saya hanya ingin zaman berubah. Mungkin pengalaman ini mengajarkan saya dan anak saya kelak untuk menghargai semua profesi yang menghasilkan uang secara halal. Insyaallah saya juga akan mendorong anak saya untuk bekerja sebagai ‘au pair’ saat musim libur sekolahnya nanti.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

3 Comments

  1. coba pasang iklannya di sekolah2 🙂

    Reply
  2. karena sekolahnya lagi libur, kemarin sempat beriklan lewat pengumuman lisan di sebuah pelatihan untuk para mahasiswa. sempat ada yang berminat, tapi ketika tahu job desc-nya…. yah, begitulah 🙂

    mungkin lain kali diumuminnya sebelum libur sekolah yah :))

    Reply
  3. iya.. siapa tau.. :))

    padahal di LN itu hal biasa ya.. disini masih malu kayaknya.. 🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: