Mendramatisir Keadaan

Pernah melihat anak kecil yang sedang belajar berjalan terjatuh? Apa yang terjadi jika orang-orang di sekitarnya pura-pura tidak tahu dan menyemangatinya untuk berdiri kembali? Jawabannya bisa dipastikan anak tersebut tidak menangis karena lupa pada ‘jatuhnya’.

Namun apa yang terjadi bila orang-orang di sekitarnya mendramatisir keadaan (baca: lebay) sampai-sampai mengkambinghitamkan lantai sebagai penyebab jatuhnya si anak? Bisa ditebak si anak menangis meraung-raung dan ikut mengutuki lantai.

Dalam kehidupan sosial sehari-hari, orang dewasa pun ternyata seringkali ‘terjatuh’ atau ‘tersakiti’. Namun karena keadaan yang disebabkan oleh sesuatu yang tidak disengaja ini sering ditanggapi secara lebay alias didramatisir, maka hasilnya pun jadi lebay. Sakit yang amat sangat tak pelak menimbulkan amarah. Bahkan tak jarang menimbulkan dendam kesumat (tuh kan lebay deh ah…).

Andai saja keadaan ter- (sesuatu yang tidak disengaja) tersebut tidak didramatisir, tentu hasilnya seperti anak yang sedang belajar jalan tadi. Ia menganggap angin lalu rasa sakit yang disebabkan oleh ‘terjatuhnya’. Lebih dari itu, ia berani bangkit dan tak gentar berjalan lagi. Wallahua’lam bishawab

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

14 Comments

  1. iya, setuju mbak Je, diajari tegar dari kecilbiasanya malah kalo kepentok meja, mejanya yang disalahin, akhirnya anak jadi sering nyalahin orang lain..eww

    Reply
  2. faziazen said: iya, setuju mbak Je, diajari tegar dari kecilbiasanya malah kalo kepentok meja, mejanya yang disalahin, akhirnya anak jadi sering nyalahin orang lain..eww

    yup sepakat.. mungkin kita sebagai orang tua bisa menerapkan hal itu. Repotnya kalau anak kita sedang bersama orang selain kita (nenek/kakek/tante/bude/dll) yang tidak sevisi dengan kita.. bisa-bisa batu abis disalahin n dipukulin :p

    Reply
  3. iya, jadi ketar ketir ntar kalo anakku sama neneknya diajari apa?padahal anaknya blom nongol hihihi, insyaAllah november

    Reply
  4. faziazen said: iya, jadi ketar ketir ntar kalo anakku sama neneknya diajari apa?padahal anaknya blom nongol hihihi, insyaAllah november

    ya bismillah aja. dari sekarang kompromi soal pendidikan dan pengasuhan anak sama neneknya supaya ntar gak ‘heboh’ hehehe

    Reply
  5. mbakje said: ya bismillah aja. dari sekarang kompromi soal pendidikan dan pengasuhan anak sama neneknya supaya ntar gak ‘heboh’ hehehe

    heheh aminkalo Mama si insyaAllah aman, karena beliau dosen Bimbingan Konselingtapi kalo Mama mertua, usianya di atas Mama, kira-kira satu generasi lah di atas ortu saya, saya ketar ketir kalau ninggal anak (nanti) di rumah mertua, pola pengasuhan nya beda banget ama di rumah..eww..generation gap

    Reply
  6. faziazen said: saya ketar ketir kalau ninggal anak (nanti) di rumah mertua, pola pengasuhan nya beda banget ama di rumah..eww..generation gap

    hehehe… welcome to the club 😉

    Reply
  7. mbakje said: hehehe… welcome to the club 😉

    ehehehe

    Reply
  8. anakku skrg klo abis ngelapor melakukan sesuatu yg tdk biasa misalkan jatoh or apa, kutanya, siapa yg salah?jawabnya dengan lantang : BEN!!*saya*. Jyahaaa bangga bgt kayanya mengakui kesalahan :panyway nice post mb j, simple but meaningful 😉

    Reply
  9. Kalau jatuh, ya bangun lagi. Anak kecil juga tau. 🙂

    Reply
  10. amaliacelebi said: jawabnya dengan lantang : BEN!!*saya*. Jyahaaa bangga bgt kayanya mengakui kesalahan :p

    Hebat, Yusuf jujur, tidak malu mengakui kesalahan sendiri…siapa dulu dong emaknya ;D

    Reply
  11. trully said: Kalau jatuh, ya bangun lagi. Anak kecil juga tau. 🙂

    He-eh bener… kalo orang gede sampai gk tahu kebangetan namanya ;))

    Reply
  12. amaliacelebi said: anakku skrg klo abis ngelapor melakukan sesuatu yg tdk biasa misalkan jatoh or apa, kutanya, siapa yg salah?jawabnya dengan lantang : BEN!!*saya*. Jyahaaa bangga bgt kayanya mengakui kesalahan :panyway nice post mb j, simple but meaningful 😉

    Yusuf gentleman bangetsalut

    Reply
  13. mbakje said: Hebat, Yusuf jujur, tidak malu mengakui kesalahan sendiri…siapa dulu dong emaknya ;D

    hehehe bs aja mbak je, emaknya jg msh belajar jd emak yg bs dijadikan contoh dan teladan, minimal kan di mata anak2xnya sendiri kudu bs dijadikan idola *my dream 😉 yuk kta berjuang bersama mbak je 🙂 cemungudhhhh 😀

    Reply
  14. faziazen said: Yusuf gentleman bangetsalut

    semoga Istoqomah ya zen, makasih complimentnya 😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: