KRL NAIK = KECELAKAAN PENUMPANG

Seperti judul di atas, kenaikan tarif KRL = kecelakaan penumpang. Ini bukan wacana atau rekayasa. Saya melihat dengan mata kepala sendiri, 3 penumpang terseret KRL (Kereta Rel Listrik) ekonomi pagi ini di Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan.

Kejadian bermula saat turun masuk penumpang KRL ekonomi jurusan Bogor-Jakarta di Stasiun Duren Kalibata. Karena membludaknya penumpang KRL tersebut, maka sejumlah orang sulit untuk keluar. Saya sebagai calon penumpang pun kesulitan untuk menyelinap masuk. Jadilah saya ikut bergelantungan di pintu kereta yang terbuka.

Namun sesaat sebelum kereta berjalan kembali, tiba-tiba seorang bocah berteriak sambil menangis, “Ayah… Ayah!” Para penumpang lain yang bergelantungan di pintu kereta pun menarik bocah tersebut keluar kereta, karena ternyata ia terpisah dari ayahnya yang sudah lebih dulu keluar dari kereta.

Melihat kejadian ini, saya pun ikut keluar dari kereta untuk memberi jalan keluar untuk sang bocah. Padahal saat kaki saya menyentuh peron, kereta sudah bergerak jalan. Untung saya bisa menjaga keseimbangan sehingga tak terjatuh. Sang bocah pun nyaris terseret kereta yang berjalan perlahan, karena salah satu kakinya berada di peron, sementara kaki satunya lagi masih menapak di pintu kereta yang tingginya lebih rendah daripada ketinggian peron.

Ternyata bukan hanya sang bocah yang masih tertinggal di dalam kereta, ibu sang bocah yang berperawakan gemuk pun kesulitan keluar dari kereta yang penuh sesak. Padahal kereta sudah bergerak jalan meninggalkan stasiun. Alhasil sang ibu pun terguling keluar dan sempat terseret kereta beberapa meter.

Tidak hanya sang ibu, di pintu lain pada kereta yang sama, dua laki-laki terseret kereta karena memaksa keluar dari kereta yang sudah bergerak berjalan tersebut. Otomatis seluruh saksi mata yang ada di stasiun tersebut menjerit histeris. Masinis pun segera menghentikan kereta agar tidak terjadi korban jiwa. Beruntung tiga orang yang terseret itu hanya menderita luka lecet.

Insiden yang terjadi beberapa menit tersebut cukup membuat para penumpang dan calon penumpang syok, termasuk saya. Saya dan beberapa calon penumpang lain pun urung menaiki KRL ekonomi.

Seperti diketahui, per 1 Oktober 2012, tarif KRL commuter line resmi naik Rp 2,000 dari harga semula. Untuk kalangan menengah ke bawah, kenaikan ini cukup signifikan. Apalagi bagi mereka yang mengandalkan moda transportasi ini untuk menuju tempat kerja. Kenaikan Rp 2,000 sekali perjalanan = Rp 120,000 per bulan per orang!!! Sementara gaji tidak naik 😦

Itulah sebabnya banyak pengguna KRL commuter line yang beralih ke KRL ekonomi yang tarifnya murah banget, hanya Rp 2,000 dari Bogor ke Jakarta maupun sebaliknya. Alhasil, penumpang KRL ekonomi membludak. Efeknya, rawan kecelakaan penumpang!KRL ekonomi

Apalagi KRL ekonomi yang saat ini beroperasi adalah kereta tua yang sudah tidak layak beroperasi. Ketidaklayakan tersebut antara lain:

  1. Model keretanya jadul, dimana ketinggian pintu lebih rendah daripada peron-peron stasiun. Ini tentu saja membahayakan para penumpang, karena mereka bisa kejeblos dan terseret.
  2. Sejumlah gerbong dengan model jadul ini hanya memiliki dua pintu keluar di tiap sisinya. Bayangkan, hanya dua! Akibatnya para penumpang yang ada di tengah gerbong akan kesulitan untuk keluar.
  3. Kipas angin dan lampu di dalam kereta banyak yang tidak berfungsi sehingga para penumpang yang penuh sesak harus ‘sauna’ dalam kereta. Dan kalau malam hari harus bergelap-gelap ria
  4. Pintu otomatis sudah tidak berfungsi, sehingga membahayakan penumpang yang berdiri dekat pintu.
  5. Mesin keretanya sendiri pun sudah uzur, sehingga sering mogok dan menghambat perjalanan sejumlah kereta di belakangnya.

Karena itu, menaikkan tarif KRL commuter line bukan solusi. Justru menambah permasalahan baru! Apalagi keberadaan KRL kini sudah menjadi tulang punggung bagi para komuter, tidak pandang bulu, mulai dari kelas bawah hingga menengah.

Menurut saya, solusi yang harus diambil oleh PT KAI adalah:

  1. Menghapus keberadaan KRL ekonomi
  2. Menurunkan tarif tiket commuter line agar terjangkau untuk semua golongan
  3. Menambah gerbong untuk tiap rangkaian kereta, agar lebih banyak massa yang terangkut dalam sekali perjalanan
  4. Mempersering jam kedatangan agar tidak terjadi penumpukan penumpang.

Demikian curhat hari ini…. Semoga celotehan saya didengar dan diaplikasi oleh PT KAI 🙂

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

10 Comments

  1. jadi inget jamannya kuliah …hadeuh …kalau udah jam rush hour mendingan pulang malem sekalian …

    Reply
    • betul… lebih bagus lagi nginep sekalian di kampus, karena sekarang semakin malam KRL malah makin penuh 😦

      Reply
  2. Jadi ingat masa lalu,,,hehehe
    Beberapa waktu lalu, KRL Bogor-Kalibata pp merupakan bagian dari keseharian saya juga….

    Reply
    • Nostalgia ya? hehehe… Saya pun mulai pagi ini beralih ke moda angkutan roda 4. Meskipun waktu tempuh lebih lama, tapi insyaallah lebih aman dan yang pasti lebih murah 🙂

      Sebenarnya miris yah, karena justru tidak menyelesaikan masalah kemacetan ibu kota dan menambah polusi udara 😦

      Reply
  3. nampaknya penambahan gerbong adalah solusi yang cukup efektif dan efisien. Ngeri bayangkan si anak yang terpisah itu.

    Reply
    • Iya dok. Penambahan gerbong memang akan dilakukan PT KAI. Yang awalnya 1 rangkaian hanya 8 gerbong, nantinya akan menjadi 10 gerbong. Karena itu perpanjangan peron di tiap stasiun akan dilakukan… tapi entah kapan. Dan menurut saya tidak adil jika dengan dalih penambahan gerbong ini, PT KAI membebani penumpang dengan kenaikan harga tiket 😦

      Reply
  4. walankergea

     /  October 12, 2012

    Walau bukan pemakai rutin KRL, tapi kenaikan tarif bagiku sangat memberatkan konsumen tetap–menyusul layanan PT KAI yang memprihatinkan. Kejadin kecelakaan yang Mbakje ceritakan sungguh miris. Masih untung tidak ada korban nyawa; tapi tentu saja ini harus jadi catatan pemegang otoritas untuk memperbaiki dan merapikan layanan mereka. Jangan sekadar janji dan mengobral perbaikan tanpa realisasi.

    Malah di Bogor mereka sepertinya sengaja memperlambat KA Ekonomi sehingga jam 6.10 kereta commuter selalu membludak dengan penumpang ke arah Jakarta… Harusnya sekali2 pemimpin KAI naik dong dan merasakan langsung pengap dan hiruk-pikuknya KA yang mereka sediakan….

    semoga tak ada kejadian buruk lagi ya Mbakje…

    Reply
    • iya rud… aku juga prihatin banget.

      Pemerintah kita itu suka gak konsekuen dengan kebijakannya sendiri… Katanya penghematan bahan bakar, katanya kurangi kemacetan, tapi transportasi massal kayak KRL malah gak dibenahi.

      Gimana orang mau beralih dari roda 2 dan 4 ke KRL. Aku aja sekarang beralih ke Kopaja dan mikrolet, karena lebih murah dan lebih aman, meskipun lebih lambat, dan menyumbang polusi udara dan pemborosan BBM 😦

      Reply
      • walankergea

         /  October 13, 2012

        kok bs lebih murah mbakje? bukannya ngumbal2? iya ya, jadinya malah nambah polusi dan pemborosan bbm…inilah bukti kebijakan yg ga sinergis 😦

      • mbakje

         /  October 13, 2012

        lha iya lebih murah rud, wong naik Kopaja + angkot = Rp 4000. Bandingin sama KRL yang Rp 8000 sekali naik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: