Guru Rangkap Jabatan

Perawakannya biasa, tidak kurus dan tidak gemuk. Kulitnya gelap. Rambutnya hitam kribo. Wajahnya persegi khas suku Papua. Gayanya santai dengan kaos polo dan celana jins serta sepatu kets. Ia ikut berdendang sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya mendengar musik dangdut yang berasal dari tape mobil angkot jurusan Kp. Melayu – Gandaria yang kami naiki. Gayanya yang asyik membuatku penasaran.

“Turun dimana, Pak?” ujarku membuka obrolan.

“Di Gandaria,” jawabnya. “Saya mau ke Wisma Hijau di Mekarsari,” sambungnya ramah.

Aku tahu tempat itu. Wisma Hijau adalah penginapan yang biasa dipakai untuk pelatihan dan rekreasi. Setelah mengobrol ngalor ngidul, ternyata lelaki yang duduk di sebelahku ini berprofesi sebagai guru di sebuah SD swasta di Merauke, Papua. Ia berada di Jakarta karena tengah mengikuti pelatihan bagi para guru matematika se-Indonesia yang diadakan Surya Institute, sebuah insitut yang didirikan oleh Prof. Yohanes Surya.

Para peserta pelatihan ini tidak dipungut biaya. Memang jumlah pesertanya tidak terlalu banyak, hanya seratusan orang. Pelatihan ini sendiri bertujuan untuk mengajarkan metode baru dalam pengajaran matematika di sekolah. Diharapkan para guru alumni pelatihan ini melakukan ketok tular ke guru-guru lain di daerahnya tentang metode baru ini.

Kemacetan lalu lintas sore itu membuat obrolan kami jadi semakin panjang. Pak guru matematika asal Papua yang tak sempat kutanya namanya ini sempat berkomentar, “Di Jawa sarjana terbuang. Di Papua sarjana kurang”.

murid Papua

murid-murid SD di Papua (foto diambil dari http://www.papua.go.id)

Ia mengeluhkan betapa kurangnya tenaga guru di daerah terpencil, seperti di Merauke. Pak guru matematika ini pun ternyata menjabat sebagai kepala sekolah di SD tempatnya mengajar. Ia juga menjabat sebagai satpam dan tukang kebun di sekolahnya. Pasalnya, hanya ada empat guru yang bertugas di SD-nya. Sehingga satu guru harus mengajar lebih dari satu kelas. Dan hal ini menjadi hal lumrah di sana.

Kondisi serupa dialami sekolah-sekolah lain di Papua. Bahkan menurutnya, rata-rata kualifikasi guru di sana tamatan SMA dan D2. Jarang sekali yang D3, apalagi S1.

“Ada juga guru sukwan (sukarelawan. Red) dari Jawa,” ujarnya. Tapi tetap saja jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan tenaga pengajar di sana.

Ironis sekali dengan kondisi di Pulau Jawa. Di sini lulusan S1 melimpah ruah, namun tidak sedikit yang menganggur. Kalaupun sudah bekerja, tidak sedikit yang bekerja kurang optimal dan sering mengeluh 😦 Sementara di daerah terpencil seperti di Merauke, Papua, sangat membutuhkan tenaga-tenaga dengan kualifikasi S1.

Miris sekali mendengarnya. Karena itu, gerakan seperti “Indonesia Mengajar” yang digagas oleh Anies Baswedan, menurutku, menjadi solusi konkret atas masalah ini. Namun ternyata gerakan ini masih belum mencukupi kebutuhan tenaga guru di pelosok-pelosok negeri. Maka, alangkah baiknya jika pemerintah melalui Kemendikbud melakukan gerakan serupa untuk para S1 fresh graduate di Pulau Jawa dan Sumatera. Kalau perlu, gerakan ini menjadi persyaratan mengantongi ijazah S1 di semua perguruan tinggi di negeri ini.

Kondisi ini semestinya menjadi perhatian pemerintah, karena pendidikan merupakan tiang pancang pembangunan negeri. Pemerataan pembangunan berawal dari pemerataan pendidikan. Bagaimana pembangunan akan dirasakan oleh seluruh anak negeri, jika kualitas pendidikannya pun tidak dirasakan oleh seluruh anak negeri?

Selamat berjuang, Pak guru. Meskipun harus bekerja rangkap jabatan, kuyakin jerih payahmu tidak akan sia-sia. Jasa-jasamu amat berperan untuk kemajuan negeri ini. Semoga tunas-tunas bangsa yang kau didik kelak akan mekar indah.

Advertisements
Previous Post
Next Post
Leave a comment

9 Comments

  1. rata2 sarjana emang lebih seneng klo kerjanya di jawa, faktor pemerataan infrastruktur lebih banyak jadi alasannya

    Reply
    • ditambah lagi tidak ada upaya dari pemerintah untuk menyelesaikan masalah kekurangan tenaga pendidik…

      Reply
      • walankergea

         /  October 19, 2012

        Tenaga pendidik barangkali belom dianggap sebagai investasi penting bagi kemajuan negeri kita, Mbakje 😦

      • sepertinya begitu… sedih yah 😦

    • walankergea

       /  October 19, 2012

      Ada kok Mas yang sudah merata di seluruh wilayah–dari pusat sampe daerah..hehehe..tau sendiri lah… πŸ™‚

      Reply
  2. semangat buat semua guru MTK .. semangat juga buat diri sendiri

    Reply
  3. Di Indonesia, semakin ke timur semakin terasa terlempar dari Indonesia. Kalau saya masih muda, pingin daftar jadi peserta Indonesia Mengajar juga lho.
    Alhamdulillah, hutang saya kepada rakyat Indonesia sudah lunas terbayar dengan pengabdian ke daerah terpencil 1x dan daerah konflik 1X

    Reply
    • Ya,saya jg kepingin dok.. Sayangnya faktor U πŸ™‚
      Saya juga berharap pemerintah menggiatkan ‘Indonesia Mengajar’ menjadi program wajib sejenis PTT utk para lulusan S1. Sayangnya PTT utk para dokter sendiri sekarang ini hukumnya gak wajib 😦

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: