Haji Curang

Belakangan ini banyak berita seputar calon jamaah haji yang batal berangkat ke tanah suci, terasuk orang tua Ayu Ting Ting *kok jadi infotainment :-P*. Reaksi mereka kebanyakan kecewa dan sedih, tidak sedikit pula yang histeris. Bagaimana tidak? Mereka yang sudah membayar sejumlah uang untuk ONH Plus dan sudah dijanjikan berangkat tahun ini juga, ternyata batal berangkat.

Mereka yang kecewa ini rata-rata menyalahkan biro haji tempat mereka berafiliasi. Tidak sedikit pula yang menghujat pemerintah. Aku hanya beristighfar dengar berita ini.

Ka’bah

Aku jadi ingat saat-saat aku dan ibu hendak mendaftar haji tahun 2004. Waktu itu ibu yang mengurus perihal haji ini, karena saat itu aku masih berdomisili di Bandung meskipun de facto KTP Jakarta.

Aku percayakan semua pada ibu, apalagi salah satu teman ibu seorang pembimbing haji. Alhasil ibu mendaftarkan diri dan diriku ke sebuah biro haji untuk haji reguler. Ibu langsung kepincut dengan pelayanan sang kepala biro yang juga pembimbing haji ini. Gimana enggak? Wong ibu sampai diantar ke bank untuk buka tabungan haji, bahkan diantar pulang.

Saking kepincutnya, ibu selalu antusias pada setiap apa yang disarankan oleh sang kepala biro… Termasuk membayar sejumlah uang agar bisa berangkat haji tahun itu juga.

“Jat, tambahin 2 juta ya per orang. Jadi berdua 4 juta, supaya kita bisa haji tahun ini juga. Ini termasuk murah lho. Kalo sama orang lain bisa 6 jutaan,” ujar ibu saat itu via telepon.

What?? Bukankah itu sama dengan nyogok?? “Jangan bu. Kita pake cara yang normal aja. Kita kan mau haji, cara berangkatnya juga harus dengan cara yang diridhoi Allah,” jawabku via telepon.

“Tapi kita harus nunggu 2 tahun baru bisa berangkat. Ibu udah tua dan gak tahu sampai kapan umur ibu!”

Singkat kata, ibu tidak bisa diyakinkan via telepon. Akhirnya aku izin dari tempat kerjaku di Bandung dan meluncur ke Jakarta.

Sesampai di rumah, ibu masih keukeuh. Bahkan menurutnya cara tersebut bukan nyogok.

“Kamu ngomong langsung aja deh sama Pak **** (nama kepala biro),” keluh ibu.

Esoknya langsung kutemui sang kepala biro. Ternyata dia sudah dengar semua apa yang aku katakan ke ibu. Dengan tetap tenang dan ramah ia menjelaskan padaku bahwa apa yang ia lakukan masih dalam koridor yang ‘benar’ dan tidak menyalahi aturan (dalam versinya).

Selidik punya selidik, ternyata pak kepala biro yang sarjana agama ini punya banyak kenalan di kalangan anggota dewan dan Dept Agama. Tahulah aku bagaimana kecurangan itu bisa terjadi.

Membaca raut wajahku yang tetap pada pendirian, ia lantas berkisah tentang perjuangan Hajar mencari air antara bukit Shafa dan Marwa demi anaknya, Ismail. Ia pun menyinggung soal bakti anak kepada ibu, termasuk menghajikannya segera. Masyaallah…!!

“Jadi gimana?” tantangnya.

“Terima kasih atas tawarannya. Tapi kami mau pakai cara normal saja yang diridhoi Allah,” jawabku tegas.

Singkat cerita, atas izin Allah aku dan ibu menunaikan haji 2 tahun kemudian, yaitu pada 2006. Dan atas izin Allah pula aib-aib sang kepala biro terkuak di hadapan jamaah haji dan calon haji.

Aku & Ibu di Masjidil Haram Mekah

 

Saat ini sang kepala biro menjadi ‘buronan’ jamaah calon haji yang telah menyetor uang lebih namun batal berangkat.

Kami jadi paham bahwa apa yang dilakukan pak kepala biro itu tak lain adalah ‘calo haji’. Dengan iming-iming berangkat haji tanpa masuk waiting list Depag, banyak orang tergiur dan rela menyetor uang lebih untuknya. Namun sejak Depag dan Pemerintah Saudi memperketat keberangkatan haji, pak kepala biro tak lagi leluasa berbuat curang. Alhasil hingga hari ini ia raib tak berbekas bersama uang para jamaah calon haji.

Labaik Allahumalabaik…
Allah memang tidak pernah salah memanggil hamba-Nya….

Advertisements
Leave a comment

12 Comments

  1. walankergea

     /  October 23, 2012

    Subahanallah, memang harus begitu, Mbakje! Sesuai syariat–harus halal pula caranya. Mungkin yang belum berangkat ya belum sah panggilannya….hehe πŸ™‚

    Reply
  2. aahhh kapan ya saya bisa menjadi tamu di tanah Harom?

    Reply
  3. hebat nih bisa ngeyakinin ibu nya.. emang bener deh, masa mau beribadah pake cara curang!
    Alhamdulillah yah dah pergi haji..semoga saya bisa cepat nyusul, lagi nabung niih! πŸ™‚

    Reply
  4. Alhamdulillah… tetap istiqomah di jalur yg benar.

    Ngomong-ngomong soal infotainment, katanya uangnya bakal dikembaliin… itu janji dari penyelenggaranya (biro travel) hari senin lalu. Kenyataannya gimana, mbak? ada kabar terbaru?
    Mau kujadikan bahan tulisan: “Jangan terpesona dengan kemasan”

    Reply
    • Ya… alhamdulillah.

      Soal uang kembali memang beda ya tiap-tiap biro penyelenggara haji. Kayaknya kalo biro haji plus bakal bener uang kembali yah… secara mereka kan menjaga image.

      Kalo kasus saya dan ibu kan bukan haji plus tapi haji reguler yang berafiliasi pada sebuah yayasan/biro perjalanan haji. Meskipun sebenarnya–kami baru tahu sekarang–bahwa untuk haji reguler tidak harus bergabung dengan biro haji. Cukup mendaftar ke depag dan tetap akan mendapatkan pelayanan dari depag, seperti manasik haji, seragam, tas paspor, travel bag, dll.

      Karena ketidaktahuan kami waktu itu, maka kami mencari biro haji terlebih dulu baru buka tabungan haji dan mendaftar ke depag. Padahal terbalik! Mestinya buka tabungan dulu, terus daftar ke depag, tanpa harus berafiliasi dengan biro-biro yang gak jelas begitu *sigh*.

      Reply
  5. Kejadian juga nih sama temen kantor. Udah kadung senang bisa berangkat haji sekarang ternyata visanya belum jadi!! Teman ini akhirnnya mengurungkan cutinya lalu masuk kerja lagi, tapi wajahnya kuyu matanya sembab. Habis nangis berhari-hari rupanya. Kasihan..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: