Tips Sukses Mendidik Anak Bagi Ibu Bekerja

WorkingMomDi zaman modern ini, tidak sedikit para ibu yang menjalani peran ganda, sebagai ibu sekaligus pekerja. Beragam alasan melatarbelakangi para ibu harus bekerja, salah satunya alasan ekonomi. Kondisi ini membuat para ibu bekerja mau tak mau harus mempercayakan urusan rumah tangga dan mendidik anak kepada orang lain.

Lalu, bagaimana agar Anda sebagai ibu bekerja juga sukses mendidik anak?

1. Jangan Merasa Bersalah

Mungkin banyak kasus kenakalan anak dan remaja yang disebabkan oleh sedikitnya perhatian dari ayah ibu mereka yang sibuk bekerja. Namun tidak sedikit juga anak dan remaja bermasalah ternyata tumbuh dalam keluarga yang ibunya di rumah saja alias tidak bekerja. Karena itu, kesuksesan mendidik anak tidak diukur dari jumlah waktu bersama anak di rumah. Sebagai contoh, kita bisa melihat Barack Obama yang sukses terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat kulit hitam pertama. Ternyata seorang Barack Obama dibesarkan oleh Ann Dunham, seorang ibu bekerja yang memiliki kesibukan sebagai antropolog.Karena itu, para ibu bekerja jangan pernah merasa bersalah karena meninggalkan sang anak demi pekerjaan. Apalagi jika alasan Anda bekerja adalah untuk membantu perekonomian keluarga. Itu adalah alasan yang mulia. Toh Anda bekerja demi anak Anda juga kan?

2. Sisi Positif Ibu Bekerja

Selain memiliki kemandirian finansial, ada sisi positif lain dari ibu bekerja, antara lain pengetahuan lebih luas. Karena biasanya ibu bekerja bergaul dengan lebih banyak orang, daripada ibu yang di rumah saja, maka pengetahuan ibu bekerja lebih luas. Pengetahuan ini tentu penting dalam mendidik anak. Sisi positif lainnya adalah belajar kerja keras. Dengan menyaksikan sang ibu bekerja, maka anak belajar tentang kerja keras. Ia belajar memahami bahwa tidak ada yang gratis di dunia ini, butuh kerja keras dan perjuangan untuk memperoleh sesuatu. Karena itu, ia pun juga belajar untuk bertanggung jawab dan tidak menyia-nyiakan uang.

3. Pengasuh dan Guru Sebagai Partner

Karena ibu bekerja harus menitipkan anaknya pada orang lain, tentu orang yang dititipkan tersebut juga harus menjadi partner dalam mendidik. Jika sang anak dalam kesehariannya berada di rumah bersama pengasuh, maka jadikan sang pengasuh sebagai partner. Sering-seringlah berdiskusi dan transfer ilmu dengan sang pengasuh agar memiliki kesamaan visi dan misi dalam mendidik anak. Jika sehari-hari ketika ibu bekerja sang anak berada di day care atau Tempat Penitipan Anak (TPA), maka komunikasi yang intens dengan para guru dan asisten di TPA adalah keharusan. Sempatkan untuk berkomunikasi dengan mereka di sela-sela waktu kerja Anda.

4. Jangan Memanjakan Anak

Ketika hampir seharian Anda meninggalkan anak, tentu ada keinginan untuk memanjakannya sebagai kompensasi waktu yang hilang bersamanya. Hal ini berbahaya untuk tumbuh kembang karakter anak. Ia akan tumbuh menjadi anak yang manja dan tidak mandiri. Lain halnya jika Anda pulang dengan membawa oleh-oleh untuk sang buah hati, karena ia telah menjadi anak yang manis selama Anda tidak di rumah. Ini lebih bernilai edukasi untuk anak, karena ini adalah hadiah atas perilakunya yang baik.

5. Tetaplah Berkomunikasi

Meskipun terpisah jarak antara ibu dan anak, bukan berarti kedekatan ibu bekerja dengan sang buah hati pun terentang jarak. Apalagi saat ini banyak teknologi canggih yang bisa mendekatkan Anda dan si buah hati. Sempatkanlah untuk berkomunikasi dengan anak di sela jam kerja, baik melalui telepon, sms, chatting, atau webcam. Hal ini juga bermanfaat untuk memastikan keadaan anak Anda baik-baik saja dengan pengasuhnya. Selain berkomunikasi menggunakan teknologi, bisa juga menggunakan media sederhana seperti papan tulis, secarik kertas yang ditempel di muka kulkas, atau pun buku komunikasi. Ide ini untuk mengakomodir keinginan anak untuk curhat panjang lebar dengan sang ibu di kala ibunya sedang bekerja. Kebiasaan ini pun lama kelamaan akan melatihnya untuk lancar menulis.

6. Lakukan dengan Cinta

Ketika ibu bekerja sedang bersama sang buah hati, nikmati kebersamaan tersebut dengan cinta. Karena itu, meskipun jumlah waktu dengan anak lebih sedikit, namun jauh lebih bermakna. Bahkan ketika ibu bekerja menyiapkan bekal makanan untuk anak-anaknya, lakukan pula dengan sepenuh hati. Anda bisa menata dan membentuk makanan bekalnya dengan bentuk-bentuk lucu ala bento atau nasi bekal khas Jepang. Tak lupa beri label tulisan pada kotak makanannya, seperti “Ibu sayang kamu” atau “habiskan bekalnya ya, sayang”. Tentu sang anak akan lebih bersemangat memakan masakah buah cinta ibunya daripada jajan sembarangan.

Selamat bekerja, Ibu!

Tulisan pernah dimuat di situs ini

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

6 Comments

  1. Makanya teteh mah salut banget sama ibu yang punya peran ganda, kerjanya lebih dari 24 jam kalau kata teteh mah, betul-betul salut.

    Reply
    • Yah… itulah perempuan teh. Meskipun gak ikut cari duit, ibu rumah tangga pun sejatinya berperan ganda, mulai dari jadi guru, CEO, juru masak, OB, plus sopir. Makanya Islam sangat menghormati perempuan. Salut sama semua perempuan di seluruh penjuru dunia yang bekerja dengan ‘cinta’ 🙂

      Reply
  2. ibu sekaligus manager keluarga, pembantu, sekretaris, event organizer, pelayan, tukang ojek…dan masih banyak lagi jabatan yang disandang seorang perempuan yang menikah dan memiliki anak………………..sebuah jabatan multi fungsi yang belum tentu mampu dilakukan oleh lawan jenisnya…………………
    namun begitupun masih sering di komplain :(..
    ach…..mbok los, yang penting lakukan tangung jawab dengan ikhlas, semoga mendapat ridho dariNya..
    dan selamat hari ibu buat semua ibu didunia, gak hanya hari ini tapi setiap hari 😀

    Reply
    • Betulll sekali kata si mbok!!! Makanya Nabi kita Muhammad SAW, ibu harus dihormati lebih ketimbang bapak…. meskipun rasanya saya masih jauuuh dari peringkat ibu seperti yang disebut Nabi. Well…. iya, yang penting ikhlas… lakukan dengan cinta… semoga Allah meridhoi.. amin
      Selamat hari ibu juga 😀

      Reply
  3. Saya mau komplain tentang cara mengasuh bayi yang dilakukan ibu-ibu masa kini. dimulai dari cara melahirkan yang lebih memilih cesar daripada normal, alasannya sakit & tidak mau repot mengatur berat badan dan ikut senam hamil. takdir perempuan itu merasakan sakitnya persalinan, kenapa lebih memilih perutnya dibelah pakai obat bius. setelah lahir, bayi tersebut duluan meminum susu formula, tidak ada usaha sedikitpun untuk mengeluarkan ASI yang jelas-jelas sangat dibutuhkan bayi tersebut, sebentar lagi botol bayi akan jadi ibu bagi bayi-bayi yang dilahirkan jaman sekarang. berikutnya tentang pengasuhan bayi yang ditelantarkan oleh ibu pekerja, itulah kenapa saya menolak pendapat tentang menikah muda, pikirkan sebelum menikah apakah keuangan sudah cukup untuk berkeluarga dan punya anak, jangan nafsu saja didahulukan dengan alasan tidak mau berbuat dosa. Sebenarnya pihak laki-laki saja yang harusnya bekerja, sedangkan ibu tinggal di rumah mengasuh bayi/anak. Saya tidak habis pikir ada ibu yang merelakan anaknya bersama pengasuh yang mungkin berpendapat bukan anak saya. Peran ibu sebagai orangtua yang harusnya berada di samping bayinya tidak saya temukan dalam masa sekarang ini, semuanya memakai pengasuh yang kalau bayi jatuh ataupun menelan benda logam pengasuh itu mungkin hanya akan menonton sinetron pavoritnya daripada memperhatikan asuhannya/bayi. atau pengasuh itu mungkin akan memaksa bayi itu untuk tidur di ayunan sekeras-kerasnya agar pengasuh ini bisa menikmati sinetron atau tidur mungkin karena begadang semalam. Saya sampai sekarang tidak masuk akal memberikan bayi/anak kepada pengasuh. apapun alasannya, kecuali ibu bayi itu sudah meninggal itupun harusnya bapak bayi itu menggantikan tugasnya atau memberikannya kepada keluarga dekat. Saya juga heran dengan ibu-ibu sekarang yang lebih memikirkan cara instan dengan memakai pampers kepada bayinya, sungguh hancurkan orangtua jaman sekarang yang tidak mengajari anak-anak gadisnya sebelum menikah bagaimana nanti jika punya bayi. Saya perhatikan iritasi karena urin & kotoran menempel di tubuh bayi karena pampers bukan hal luar biasa, semua biasa karena ada salep kulit kata ibunya. Coba bayangkan dari jam 7 pagi sampai jam 9 malam bayi ditangan pengasuh, mau dibawa kemana peran ibu jaman sekarang ini. Banyak hal yang ingin saya protes kepada ibu-ibu muda jaman sekarang ini, apalagi ini jaman BBM, Facebook, mungkin ibu-ibu muda jaman sekarang ini lebih baik membalas BBM ataupun menjawab comment facebook, daripada menganti celana bayinya yang baru saja terkena urin. atau pampers adalah jawabannya. celakanya waktu bersama bayi/anaknya hilang hanya untuk mengejar beberapa lembar uang, harusnya sebelum menikah semua harus dipersiapkan jangan mengorbankan bayi/anak. syukurnya calon istri saya orangnya mandiri, saya kasihan lihat orangtua yang mengorbankan anak/bayinya ditangan pengasuh, sedangkan ibunya sibuk mencari uang sampai manakah kekayaan itu dicari tidak cukupkah suami bekerja, kuncinya sebelum menikah persiapkanlah semuanya. terima kasih.

    Reply
    • Waahh… saya juga tidak setuju dengan sikap ibu-ibu jaman sekarang seperti yang Mas sebut di atas. Alhamdulillah saya melahirkan anak saya secara normal, alami dan mudah tanpa intervensi medis yang tak perlu (bisa baca di postingan saya tahun 2011). Alhamdulillah juga Allah karuniakan kepada saya keluarga batih yang peduli dan ikut bersama mengasuh anak kami, sehingga pengasuhan anak tidak pernah ditangani pembantu/pengasuh dan alhamdulillah anak saya mendapatkan ASI hingga usia 2 tahun 5 bulan dan tidak pernah mengenal botol dot.

      Alhamdulillah suami saya juga membebaskan saya untuk beraktivitas di rumah/luar rumah. Dan alhamdulillah–meskipun belum bisa seperti Rasulullah SAW–suami ikut membantu melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh bayi, sehingga kedekatan, perhatian dan kasih sayang untuk anak kami dari ayah ibunya insyaallah terpenuhi.

      Saya doakan semoga nanti Mas dan calon istri menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, dikaruniai buah hati yang sehat, cerdas, dan sholih/sholihah, serta menjadi orang tua yang sukses… amiiiin.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: