Menulis Dengan Cinta

LoveSeorang teman pernah berpesan, “Jangan sekali-kali kamu menulis karena alasan perut, karena tulisanmu akan jadi (maaf) taik!”.

Sementara, tidak sedikit orang yang menulis–buku, artikel opini, blog–dengan alasan semata-mata untuk cari duit. Tidak sedikit juga pelatihan dan buku dengan tema “Bagaimana menulis buku best-seller”. Tentu saja semuanya bermuara pada satu niat, perut!

Padahal kalau kita cermati, hampir semua buku best-seller pada awal penulisannya sama sekali tidak diniatkan untuk mencari duit. Bahkan tidak terbersit sedikitpun bahwa buku yang ditulis itu kelak menjadi buku fenomenal.

Sebut saja buku Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Buku tersebut ditulis hanya dalam waktu dua minggu, karena sang penulis ingin mempersembahkan buku itu kepada guru tercintanya, Bu Muslimah, yang saat itu sedang sakit. Andrea menulis buku itu dengan sepenuh hati dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya agar cukup waktunya untuk mempersembahkan tulisan tentang gurunya dan masa kecil Andrea bersama teman-temannya di SD Muhammadiyah Gantong, Belitung Timur. Hasilnya? Tanpa pernah disangka buku itu menjadi buku best-seller!

Buku Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Sirazy pun demikian. Kang Abik, demikian sang penulis akrab disapa, menulis buku itu awalnya hanya ingin melepas rindu kepada kehidupannya di Kairo semasa kuliah dulu. Novel yang awalnya dipublikasikan menjadi cerbung di Harian Republika ini, ternyata di kemudian hari menjadi buku best-seller.

Bahkan baru-baru ini, Buku Habibie Ainun mencapai rekor best-seller. Hanya dalam 3 bulan terjual 50 ribu buku! Sebuah pencapaian yang luar biasa. Buku yang ditulis sendiri oleh mantan presiden ke-3 RI, BJ Habibie setelah istri terkasihnya wafat, hanya memakan waktu 2,5 bulan. Awalnya buku ini ditulis sebagai terapi atas diri beliau untuk mengatasi rasa sedihnya yang teramat dalam atas wafatnya istri terkasih. Namun siapa sangka, ternyata malah jadi sebuah novel dokumenter yang luar biasa hasilnya.

Hebatnya lagi, setelah buku Habibie Ainun diangkat ke layar lebar, filmnya pun menembus rekor film terlaris mengalahkan Ayat-ayat Cinta. Bayangkan, hanya dalam 2 pekan, Film Habibie & Ainun ditonton 2,1 juta orang!

Subhanallah… Kekuatan cinta memang dahsyat! So, moral of the story… Lakukan semua dengan cinta–termasuk menulis–tanpa pernah memikirkan apapun hasilnya. Karena memang hasil akhir setiap pekerjaan adalah hak prerogatif Allah SWT untuk menilai. Wallahua’lam bishawab.

Advertisements
Leave a comment

8 Comments

  1. wawawaaawww… keren neh… bener oi.. hehe.. Tfs..

    Reply
    • Sama-sama… terima kasih juga… kan saya juga belajar dari Kak Ogie Memang πŸ™‚

      ________________________________

      Reply
  2. thetrueideas

     /  January 9, 2013

    saya nulis karena apa ya? eh..pengen berbagi! πŸ™‚

    Reply
  3. Menulis sebagai ibadah. Dapat royalti belum tentu dapat pahala (insya Allah) sudah pasti. *heran juga ada buku gak tahu asal usulnya tiba2 sudah dilabeli best seller*

    Reply
  4. Betul sekali! Apa yang dilakukan dengan cinta, pasti dahsyat hasilnya. Insyaallah. πŸ˜€

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: