Rel di Bandara

Kai @airport

Kai @airport

Kai (2 th) sangat terpukau dg segala hal yang berbau kereta api. Sampai-sampai ketika saya ajak ke lantai paling atas Bandara Soekarno Hatta untuk lihat pesawat lepas landas, dengan semangat dia teriak, “Tuh, rel tuh!” 😦
via PicsArt Photo Studio

Advertisements

Low Back Pain & Shalat

Apa hubungannya low back pain dengan sholat? Ada banget!

low back pain

sakit punggung bawah (low back pain)

Dua hari lalu saya mengalami sakit tulang punggung belakang bagian bawah (low back pain) yang luar biasa. Sampai-sampai saya harus sholat sambil duduk. Duduk pun harus diatur sedemikian rupa posisinya, karena sakitnya menjalar sampai ke bokong.

Padahal suami mau berangkat ke Mesir dan Gaza. Mau tidak mau, dia harus packing sendiri perlengkapannya. Pada saat mengantar ke bandara Soekarno-Hatta pun akhirnya saya ditemani ibu, karena saya tidak bisa menggendong Kai yang baru 2 tahun. Gerakan saya pun jadi serba slow motion 😦

Ini pasti gara-gara saya duduk terlalu lama dalam posisi yang tidak benar. Yeah… beberapa hari yang lalu saya bisa duduk 10 jam non stop sehari karena mengerjakan transkrip verbatim FGD (focus group discussion) berdurasi 2,5 jam yang harus selesai dalam dua hari. Sementara, sebagai 8 to 4 worker, sehari-harinya saya kerja di belakang meja mantengin monitor PC. Kebayang kan bagaimana tidak sehatnya aktivitas saya yang lebih banyak duduk diam ketimbang bergerak! Ditambah lagi ngerjain side job mengetik transkrip yang juga mengharuskan saya duduk diam 😦

Tapi dibalik ini semua ini, saya menjadi sangat bersyukur. Lho kok bisa? Yup, karena

ruku

ruku dengan punggung lurus menjadi salah satu terapi low back pain

dengan ‘memaksakan’ diri melakukan gerakan sholat secara normal–tidak sambil duduk–low back pain saya makin lama makin mereda. Memang awalnya sakit banget, terutama ketika ruku dan sujud. Namun dengan memperpanjang waktu ruku dan sujud secara perlahan, low back pain pun perlahan mereda. Alhamdulillah..

Semakin sering saya sholat, semakin mendingan deh ini keluhan. Jadinya, tidak hanya sholat fardhu, berbagai sholat sunnah saya kerjakan. Subhanallah… jadi makin cinta deh sama Allah SWT. Sholat rasanya jadi semakin nikmat. Sambil berdoa pada Allah, sambil terapi gerakan sholat secara perlahan (tuma’ninah), beban/sakit ini rasanya menjadi begitu ringan. Alhamdulillah… Gak percaya? Buktiin sendiri deh 😉

Where There’s No Doctor

Image

Buku sakti “Apa yang anda kerjakan bila tidak ada dokter”

Foto di atas adalah sebuah buku sakti yang sudah menghuni rak buku rumah kami sejak saya lahir. Bisa dilihat sendiri bagaimana tampilannya yang sangat jadul dan kertasnya sudah menguning.Meskipun buku ini sudah berumur 32 tahun, namun buku ini sangat berguna, terutama jika ada anggota rumah yang sakit.

Seperti judulnya, buku ini merupakan panduan apa yang harus dilakukan jika tidak ada dokter. Namun bukan berarti mengobati semua penyakit sendiri loh! Buku ini hanya memandu langkah-langkah darurat yang bisa dilakukan sendiri di rumah jika tidak ada dokter. Karena sebagian besar penyakit ‘langganan’ memang bisa ditangani sendiri tanpa obat.

Buku ini sendiri sejatinya adalah buku terjemahan dari Bahasa Inggris “Where There Is No Doctor” yang diterbitkan oleh yayasan non profit, Hesperian. Rupa-rupanya buku ini awalnya ditulis sebagai buku panduan untuk para relawan medis di pedalaman Afrika.

Buat yang ingin mengunduh versi e-book dalam Bahasa Inggris yang sudah direvisi tahun 2010, bisa mengunjungi situs resmi Hesperian di sini. Semoga bermanfaat 😉

M lagi

Kai umur 1 hari

ngejemur Kai yg baru lahir di Jakarta Islamic Hospital (JIH)

Setelah 2 tahun, akhirnya hari ini kedatangan tamu bulanan lagi.

“Dua tahun? KB ya?” demikian sebagian besar orang berkomentar.

Nope! Saya tidak menggunakan KB apapun. Just ASI.Yup! Alhamdulillah saya telah memenuhi hak anak pertama saya untuk menyusui selama dua tahun penuh, sesuai perintah Allah SWT dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 233.

Ketika masuk 7 bulan menyusui saya masih belum dapat haid juga, sempat saya konsultasikan ke dr Prita yang membantu persalinan saya. Menurutnya hal tersebut wajar, karena setiap perempuan karakteristik haidnya berbeda-beda. Bahkan Fatimah ra tidak mendapatkan haid sama sekali selepas melahirkan.

Menyusi bayi sejatinya merupakan KB alami, namun lazimnya hanya efektif sampai bayi berusia 6 bulan dan selama 6 bulan itu si bayi ASI eksklusif. Namun dalam kasus saya sampai 2 tahun hehehe… 😀

Mungkin juga ini efek penyapihan yang perlahan saya lakukan. Apalagi pada hari pertama lalu selama 24 jam ASI saya tidak dikeluarkan. Huff…. pantesan beberapa hari belakangan rasanya moody banget. Bawaannya pengen makan orang! Gak tahunya PMS 😦

Menyapih Kai (Day 2)

ImageSetelah berusaha sekuat tenaga dan sekuat hati mengalihkan keinginan Kai untuk nekke, malam hari pertama penyapihan berlalu, meski dengan tangis pilu Kai 😦

Jujur, cukup sulit buat saya. Apalagi jari tangan kanan lagi absces karena tertusuk duri dan kaki kiri lagi gatal-gatal karena disengat semut rang rang. Kebayang kan bagaimana hari pertama kemarin sangat menguras tenaga dan emosi saya… Huff.

Pada dasarnya, naluri Kai untuk nekke di siang hari mulai jauh berkurang seiring dengan pertumbuhan usianya. Itu sebabnya prinsip “no offer, no refuse” sudah saya terapkan sejak Kai usia sekitar 1,5 tahun. Keinginan Kai untuk nekke di siang hari bisa dengan mudah dialihkan ke hal lain, seperti bermain, membaca buku, atau minum. Meskipun pada dasarnya Kai sangat agresif kalau kepingin nekke. Apalagi kalau ibunya lagi di rumah, maunya nekke melulu hehehe.

Nah, yang jadi problem besar adalah penyapihan di malam hari. Ketika Kai terjaga, mulutnya terbiasa mencari nekke dan menghisap untuk membuatnya kembali tidur pulas. Makanya pada malam hari pertama kemarin sangat melelahkan. Kami berdua tak hentinya terjaga. Kai pun menangis pilu.

Tibalah hari kedua… eeeng ing eeeeng….

Karena hari kedua penyapihan ini saya masuk kerja, maka siang hari tak menjadi masalah buat Kai. Hanya saja, menurut eyangnya, Kai makannya buanyak bangeeet. Plus boboknya juga lama. Ya iya laah 😀

Okay, back to Day 2! Pulang kantor saya disambut Kai yang sedang bermain di teras rumah. Mumpung perhatiannya lagi gak tertuju ke ibunya, buru-buru saya mandi. Nah, pas mandi ini saya merasakan kok PD saya keras banget. No wonder sih, secara ASI saya selama 24 jam tidak dikeluarkan. Waduh gawat juga nih. Kalau dibiarkan terus bisa mastitis. Dan saya pernah mengalami mastitis saat awal-awal menyusui, dan itu sakit banget!

“Ibuuuu…!!!” jerit Kai dari luar kamar mandi sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi. “Nekke aja, Ibuu!!!”.

Gawat! Gimana nih? Haruskah saya keukeuh pada pendirian untuk menyapih Kai dengan resiko mastitis?? I need help!!!

Singkat cerita, setelah baca Baby Book dan konsultasi lewat SMS dengan teman yang juga konselor lakatasi, maka dengan ini saya memutuskan………………………………….. memenuhi keinginan Kai untuk nekke…. srooot…sroot..srooot…

Menyapih Kai (Day 1)

Image

Kai bobo’an

18 Januari kemarin Kai tepat 2 tahun. 2 tahun sudah saya memberikan ASI. Kini saatnya menyapih, sesuai perintah Allah dalam Al Quran surah Al Baqarah 233. Meskipun ada sedikit keengganan dalam hati ini, namun ‘perpisahan’ ini harus terjadi (taelah) demi kemaslahatan bersama (halagh).

Awalnya saya memilih metode ‘membiarkan’ Kai sampai ia berhenti dengan sendirinya. Meskipun metode ini agaknya susah diterapkan ke Kai yang galak banget kalau minta “nekke” (istilah Kai untuk menyusu. Red). Ditambah lagi, Kai tidak kenal dot dan botol susu. Sehingga tidak akan ada kompensasi dari kebiasaan menghisap alias ‘mentil’-nya.

Yang pasti, menjelang Kai 2 tahun, saya mengumpulkan berbagai referensi metode dan testimoni penyapihan. Mulai dari ‘membiarkan’, dikasih pengertian, diolesi jamu, sampai dijampi-jampi.

Nah, Hari Senin kemarin officially saya terpaksa memulai penyapihan, gara-gara puting yang sakit, mungkin karena tergigit oleh Kai. Untuk keputusan dadakan ini mustahil menggunakan metode ‘membiarkan’. Maka saya memilih memberi pengertian dan diolesi jamu.

“Kai sudah besar sekarang, sudah dua tahun, jadi gak nekke lagi yah,” ujar saya. Entah Kai paham atau tidak karena tidak menunjukkan reaksi apapun. “Nekke Ibu nanti habis lho, gak keluar susu lagi.,” lanjut saya.

Nekke aja, Ibu,” rengek Kai minta menyusu.

Nekke nya udah gak enak,” ujar saya lagi.

“Udah gak enak…” tiru Kai. “Nekke aja, Ibu,” rengek Kai lagi sambil menggeledah daster saya mencari nekke.

Saya hanya membiarkan Kai mencari nekke yang diam-diam sudah saya olesi rendaman bawang putih dan minyak zaitun. Begitu mulut mungilnya hendak menyusu, tiba-tiba terhenti karena mencium aroma bawang putih dan minyak zaitun.

“Nasi goreng…,” ujar Kai.

(BERSAMBUNG…)