UN & Kurikulum untuk Siapa?

UN

UN

Mungkin kalau diranking, beberapa pekan ini Kemendiknas menduduki ranking pertama penerima ‘hujatan’ dari berbagai pihak. Mulai dari karut marut Ujian Nasional (UN) sampai pro kontra kurikulum baru. Siapakah yang menghujat? Saya yakin mulai dari praktisi pendidikan, orang tua murid, sampai murid-murid sendiri pasti menjerit. Dan yang menjadi korban siapa lagi selain para murid yang nota bene adalah anak-anak kita, generasi penerus bangsa.

Maka tak berlebihan kiranya jika marak bermunculan gerakan-gerakan sekolah alternatif, seperti unschooling atau home schooling (HS). Meskipun sejatinya HS adalah pola pendidikan paling tua yang ada di muka bumi, namun menjamurnya HS saat ini bisa jadi cermin atas kekecewaan banyak pihak atas pola pendidikan lembaga sekolah yang merupakan kepanjangan tangan dari Kemendiknas.

Saya sendiri sebagai orang tua dari seorang batita tengah bimbang menentukan sekolah untuk anak saya kelak. Bukannya saya tidak percaya dengan lembaga sekolah, saya hanya khawatir apakah pengajaran di sekolah-sekolah itu betul-betul berpihak pada anak saya? Apakah pola pendidikan yang diterapkan memang ditujukan dan dibutuhkan anak saya?

Apakah tingkat kesulitan soal-soal UN yang tinggi tujuannya untuk meningkatkan kualitas intelektual generasi muda kita? Apakah standar kelulusan yang tinggi itu bertujuan agar lebih banyak yang tidak lulus? Sehingga lebih sedikit yang mengenyam pendidikan tinggi yang murah (baca: PTN)?

Apakah dengan diberlakukan kurikulum baru, maka generasi muda kita menjadi lebih cerdas secara intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ)? Atau justru dengan kurikulum baru, mereka menjadi lebih stres karena guru-guru mereka kebingungan beradaptasi dengan perubahan?

Jadi, untuk siapa sebenarnya UN dan Kurikulum baru ini? Untuk para siswa, guru, orang tua, atau penguasa?

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

10 Comments

  1. semoga dengan kacaunya UN tahun ini, pemerintah mau melakukan kaji ulang atas sistem pendidikan yang ada sekarang.

    Reply
    • Oh ya, kaji ulang itu harus, mbak. Masalahnya adalah generasi muda kita ‘terlanjur’ menjadi korban. Masa muda mereka tak akan terulang kembali. Adakah ganti rugi ‘keterlanjuran’ ini dari pihak yang menyebabkan karut marut ini? 😦

      Reply
  2. walankergea

     /  April 17, 2013

    jawabannya: proyek! kalau kita melihat kurikulum 2013 yang konon berbasis pendidikan karakter itu jauh lebih kacau, semrawut, dan membingungkan dibandingkan KTSP 2006. Jadi?

    Reply
    • *sedih* 😦 lagi-lagi siswa jadi korban.
      Uwis rud, yuk kita home schooling ae

      Reply
      • walankergea

         /  April 17, 2013

        hidup HS! kasihan anak2 lagi yang dikorbankan.

      • lho, knp HS mengorbankan anak2? Justru dg HS kan orang tua bertanggung jawab langsung utk pendidikan anak-anaknya

      • walankergea

         /  April 17, 2013

        UN dan perubahan kurikulum yang mengorbankan anak2, Mbakje. Sanes HS 🙂

      • Oalaaah… kirain 😀

  3. thetrueideas

     /  April 19, 2013

    ganti UN dengan EBTA/EBTANAS, hehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: