[Menyapih Kai] Sirih Merah

Setelah gagal menggunakan trik Yupi worm, kali ini saya mencoba sesuatu yang rasanya puahiiit, yaitu daun sirih merah. Rasa pahit tumbuhan herbal yang menjadi obat beberapa penyakit ini telah dibuktikan oleh ibu saya yang doyan berbagai jamu.

Ya, lidah ibu saya sangat toleran dengan berbagai rasa pahit karena seringnya mengonsumsi jamu tradisional. Namun rasa pahit daun sirih merah ini cukup membuat ibu saya melet-melet yang berarti cukup puahiiit sekali.

Setelah membulatkan tekad dan memanjatkan doa, usai mandi saya usapkan dauh sirih merah yang telah diremas-remas ke payudara. Bismillah…

Daun sirih merah tumbuh subur di pekarangan rumah kami

Daun sirih merah tumbuh subur di pekarangan rumah kami

Pagi Hari di Hari Pertama

“Ibu, Kai mau nekke…,” rengek Kai seperti biasa kalau saya sedang libur.

Segera ketika saya duduk, Kai langsung duduk di pangkuan dan meraih daster saya. Gelagatnya berubah setelah merasakan ‘rasa lain’ nekke-nya. Bibirnya mengecap-ngecap aneh. Kai mendesis seperti orang kepedasan.

“Kenapa? Nekke-nya udah gak enak kan?!” ujar saya.

Kai hanya mendesis. Lalu ia meraih nekke yang sebelah lagi dan siap mengisapnya. Gelagatnya tak berbeda dari yang sebelumnya. Ia kembali mendesis. Tak lama kemudian, Kai turun dari pangkuan dan kembali bermain. Ia tampak tidak tertarik lagi untuk nekke. Horee… berhasil…

Sore Hari di Hari Pertama

Sore hari menjelang magrib, ketika kantuknya mulai datang, seperti biasa Kai minta nekke. Dan seperti di pagi dan siang hari tadi, saya sudah siap dengan olesan daun sirih merah. Senyum keberhasilan mengembang di bibir saya. Kali ini Kai pasti emoh nekke lagi.

Kali ini Kai mengendus terlebih dahulu sebelum menghisap nekke. Setelah mengendus, Kai meluncurkan bibir mungilnya untuk nekke. Saya tunggu reaksinya… Kai menghisap dengan tenang. Tidak ada gelagat kepahitan seperti yang ditampakkannya tadi pagi. Saya tunggu lagi… nihil. Oh my God

Pagi Hari di Hari Kedua

Kejadian di pagi hari kedua persis seperti di pagi hari pertama. Kai mendesis dan mengecap-ngecap lidah. Sejurus kemudian Kai tidak meneruskan keinginannya untuk nekke.

Sore Hari di Hari Kedua

Karena pada hari kedua ini saya masuk kantor, maka sepanjang siang Kai tidak nekke. Dan ini tidak masalah buat Kai, karena ia bisa mengalihkan perhatiannya pada hal-hal lain.

Sore hari pun tiba. Sepulang kantor, saya langsung mandi dan kembali mengoleskan daun sirih merah yang telah diremas-remas. Karena ritual selanjutnya biasanya Kai langsung minta nekke begitu saya keluar kamar mandi. Dan benar saja, ketika pintu kamar mandi saya buka, dari kejauhan Kai berseru, “Tuuuh… ibu udah selesai!”

“Sebentar ya Kai, ibu ganti baju dulu,” ujar saya.

Seraya menuju kamar, saya melirik jam dinding. Jam 18:30. Saatnya Kai ngantuk nih. Apalagi sepanjang siang, menurut laporan eyangnya, Kai belum tidur. Memang, balita 2, 5 tahun ini betah melek sepanjang siang.

“Ibu, Kai mau nekke,” rengek Kai.

Baiklah. Saya pun duduk di tempat tidur. Lalu Kai memanjat ke pangkuan saya dan segera menggeledah daster saya. Ibu saya yang melihat dari kejauhan hanya geleng-geleng kepala.

“Emang nekke-nya masih enak, Kai? Kan udah gak enak nekke-nya,” ujar Ibu saya.

“Iya, orang nekke-nya udah gak enak, Kai,” saya menimpali.

Lalu tanpa kami duga, sambil memonyongkan bibir yang siap menghisap, Kai menjawab, “Enak kok nekke-nya. Daun silih Kai doyan.”.

Oh la la… *tepok jidat* 😦

Advertisements
Leave a comment

15 Comments

  1. Sinta Nisfuanna

     /  June 21, 2013

    Aku dulu pakai cara lebih ‘sadis’ Mbak, tapi dibantu suami, terutama saat malam. Setiap kali anak minta nenen, langsung ditawari susu sembari diajak/digendong suami keluar kamar, terkadang saya tidur terpisah dengan Miza setelah sebelum tidur dia sudah makan kenyang. Awal2 masih ditolerir kalau nangis2 tapi lama2 mulai ‘menolak’ dan Miza di-handle suami.

    Kalau siang pas gak ada suami, setiap kali makan selalu dilebihkan supaya anaknya kenyang, dikasih cemilan plus dibiasakan minum air putih, atau susu cair uht *kalau anaknya mau*

    Memang butuh ketegaan, kesabaran dan waktu lebih lama sih Mbak, tapi efektif *buatku :D* Gak lupa selama proses menyapih itu saya sering2 cium, peluk, sayang, supaya dianya gak merasa kalau sedang ‘dimusuhi’ selama menolak memberinya ASI

    *semoga sharing pengalamannya bermanfaat :D*

    Reply
    • subhanallah… makasih sharingnya mbak… Kami pun telah melakukan apa yang mbak lakukan 🙂

      Reply
      • Sinta Nisfuanna

         /  June 21, 2013

        alhamdulillah, semoga tetep telaten dan menikmati proses menyapih ya Mbak 🙂

      • amiiiin…. makasih mbak 🙂

  2. haha…ketahuan nih di kasi daun sirih. duuh…mesti cari cara lain lagi ya mbak.. semoga sukses

    Reply
    • xixixi… iya nih anak tahu aja emaknya pake sirih merah… nguping darimana yah dia?? hehehe… amin, makasih mbak 🙂

      Reply
  3. Teteh mah dulu, diseputar payudara dikasih Betadine..warnanya khan aneh banget tuh..atau pewarna makanan yg pekat..mau ijo, merah, ungu dll hehehe..jd setiap mau nenen, takut duluan lihat warna nenen emaknya..hehehe

    Reply
    • Gyaa.. betadine?! asa reuwas kalo ketelen teh hehehe… eniwei boleh juga tipsnya, patut dicoba… nuhun teh wie 🙂

      Reply
      • Cuma disekitarnya aja ko, hehe tp alhamdulillah pada “takut” lihat warna aneh itu. Mudah2an berhasil ya… Tp memang menyapih itu butuh kesabaran.

      • Xixixi… iya deh teh, insyaallah dicoba. nuhun teh

  4. anak laki rada ‘berani dan tangguh’ ya dlm mempertahankan BFnya, huehehe kejadian Kai sama persis kaya prosesnya Yusuf, cm bedanya di ‘senjata’nya aja….dulu jmn Yusuf mulai dr saos tomat, saos sambel sampe tensoplast ga mempan….akhirnya ‘nyerah’ ga pa. cara ‘kekerasan’ lg sampe akhirnya mudik ke Indo, dengan suasana ‘kamar’ baru dan teman tidur baru akhirnya dia rela melepaskan sang pujaan hati hahaha…..Kai padahal sehari2xnya ditinggal yah, klo aku kan 24jam bersama dia terus, paling pas mlm aja ktemu babanya…hiks selamat berjuang yah mak ^_^

    Reply
  5. mawaddah1985

     /  June 22, 2013

    Emang nekke nya masih melimpah ya mbak? Kalo dulu sayyid nyerah krn nekkenya juga udah sedikit bgt.. Jd dia stress tiap nekke. Jadi setiap mau nekke, aku blg “kan nennya udah dikitt.. Nanti aid nangiss” udah deh manggut diaaa

    Reply
  1. [Menyapih Kai] Happy Ending | Rumah Mbakje

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: