Stroller Naik KRL

Berhubung anakku, Kai (2,5 tahun) maniak banget sama kereta, maka Hari Minggu kemarin kami memutuskan ke Pasar Baru naik Kereta Rel Listrik (KRL). Sebenarnya tujuannya gak jadi masalah, karena yang menjadi keasyikan utamanya adalah perjalanan menggunakan kereta 🙂

Kebetulan sepatu Kai sudah mulai kekecilan dan sepatu bapaknya baru saja hilang dicuri di Masjid, dan kebetulan juga baru dapet THR, maka kami pun menuju Pasar Baru yang terkenal dengan aneka koleksi sepatu dengan harga bersaing.

Mengingat medan Pasar Baru yang cukup bikin capek kalau harus jalan kaki, apalagi menggendong bayi, maka kami pun membawa stroller. Kami pun sudah siap jika harus membeli satu tiket kereta untuk Kai yang belum genap 3 tahun, karena ia naik stroller.

Image

Kai jalan-jalan cari sepatu di Pasar Baru

“Tidak usah beli tiket bu,” ujar petugas di Stasiun Duren Kalibata, “Paling nanti kalau naik kereta stroller-nya dilipat saja bu.”

Okelah kalau begituh. Kami pun berjalan menyusuri peron stasiun sambil mendorong Kai yang duduk di stroller. Namun berhubung kereta yang kami naiki lumayan lengang, maka ketika di dalam kereta, stroller tidak kami lipat.

Stroller baru kami lipat ketika sampai di Stasiun Juanda dan hendak menaiki bajaj menuju Pasar Baru. FYI, ini kali pertama Kai menaiki bajaj 😀

Turun dari bajaj, stroller kembali dibuka dan kami pun berjalan santai menjelajahi toko-toko sepatu di Pasar Baru yang ramai banget dikunjungi orang menjelang Lebaran ini 🙂

Berikut ongkos jalan-jalan Kalibata – Pasar Baru:

  • taksi dari rumah ke St Duren Kalibata   Rp 10,000
  • tiket KRL St Duren Kalibata – St Juanda  Rp 2,500
  • bajaj dari St Juanda ke Ps Baru                Rp 10,000

TOTAL                                                                     Rp 22,500 sekali jalan… PP jadi Rp 45,000

murah kan?! 😉

Mesin Eror, Sudah Tap Out Dibilang Belum :(

Kejadian ini saya alami Sabtu (20/7) lalu saat menuju kantor dan akan pulang ke rumah. Seperti biasa, saya berangkat menuju kantor dari Stasiun Duren Kalibata dan turun di Stasiun Gondangdia. Sebagai pengguna kartu multi trip, saya pun seperti biasa melakukan prosedur tap in di stasiun asal dan tap out di stasiun tujuan.

Antrian tap out Stasiun Gondangdia

Gerbang tap out di Stasiun Gondangdia memang dibagi menjadi beberapa jalur, dimana jalur 1 dan 2 adalah gerbang khusus pengguna kartu multi trip. Seperti di hari-hari Sabtu sebelumnya, antrian keluar di selain jalur 1 dan 2 cukup mengular. Tak heran, karena di hari libur lebih banyak pengguna kereta musiman alias tidak rutin menggunakan moda transportasi ini. Itu sebabnya kebanyakan mereka menggunakan kartu single trip.

So, otomatis gerbang jalur 1 dan 2 kosong melompong, karena hanya sedikit sekali pengguna kartu multi trip. Maka, melengganglah saya menuju gerbang khusus kartu multi trip. Lalu saya melakukan prosedur tap out yang hanya memakan waktu kurang lebih 3 detik, yaitu tempellampu hijau menyala – dan tripod terbuka. Beres.

Image

Kartu Multi Trip Elektronik Pengguna KRL Jabodetabek

Namun ternyata prosedur tersebut belum beres. Hal ini baru saya ketahui saat sore hari akan pulang ke rumah. Ketika tap in di Stasiun Gondangdia, mesin tidak bisa membaca status kartu saya. Berkali-kali saya tempel kartu multi trip saya ke mesin, namun mesin tak juga merespon.

“Coba kartunya saya cek, Mbak,” ujar seorang petugas yang berjaga di sisi gerbang.

Kartu saya pun dicek menggunakan mesin pengecek kartu yang dibawa-bawa sang petugas. “Oh, Mbak belum tap out nih,” ujar sang petugas.

“Hah??? Lha, tadi pagi saya sudah tap out kok, Mas,” ujar saya terperanjat.

“Kalo begitu saya tap out dulu kartunya ya,” ujar petugas tersebut sembari membawa kartu saya ke gerbang keluar. Setelah kartu saya di-tap out, petugas itu lalu mengecek kembali status kartu saya menggunakan mesih yang dibawanya. “Karena masih di hari yang sama, jadinya Mbak gak kepotong tarif terjauh meskipun lupa tap out,” lanjutnya.

“Lho, tapi kan saya sudah tap out?!” protes saya, namun tak dihiraukan petugas, karena semakin banyaknya calon penumpang yang mengantri, sehingga ia kembali berjaga di sisi gerbang.

Karena protes saya tidak digubris, maka saya langsung nge-tweet di @KRLmania dan langsung di Cc-kan ke humas PT KCJ @evachairunisa.

Saya tidak tahu apakah masukan saya digubris atau tidak. Tapi yang pasti, lewat blog ini saya tidak ingin pengguna KRL yang lain mengalami kejadian serupa.

Untuk kasus saya, saya beruntung tidak terpotong tarif terjauh karena masih di hari yang sama saya kembali menggunakan KRL lewat stasiun yang sama, sehingga status kartu saya bisa segera terdeteksi dan di-tap out-kan pada hari yang sama.

Moral or the story:

Agar pihak PT KCJ:

  1. Rutin mencek kondisi mesin di semua gate (gerbang), agar jika terjadi eror segera terdeteksi
  2. Segera memperbaiki gate yang eror agar tidak merugikan penumpang KRL
  3. Memberikan keuntungan lebih untuk pengguna kartu multi trip dan bukannya membebani tambahan biaya Rp 20 ribu. Karena hal ini, apalagi dengan kasus saya, akan membuat pengguna KRL tetap setia dengan kartu single trip.

Agar Pengguna KRL

  1. Selain melakukan prosedur tetap (protap) setiap kali tap in/out di gerbang, pastikan layar digital pada gerbang menunjukkan potongan tarif dan saldo akhir dengan tepat. Jika tidak, segera hubungi petugas.

Semoga tulisan ini bermanfaat…

[Menyapih Kai] Happy Ending

Setelah berjuang dengan berbagai cara seperti yang sudah saya ceritakan di sini, sini, sini, dan sini, alhamdulillah akhirnya Kai resmi disapih di bulan Ramadan 1434 H ini di usia 2 tahun 6 bulan. Mudah-mudahan ini berkah Ramadan… amiin.

Meskipun molor 6 bulan dari waktu yang ditetapkan Quran, tapi saya bersyukur akhirnya dapat menyapih Kai dengan cara damai. Karena memang saya akui, sebelumnya saya menggunakan cara-cara ‘kekerasan’ dalam menyapih Kai. Meskipun selama proses menyapih saya juga selalu mencoba memberinya pengertian, tetapi Kai selalu ngeyel.

“Kai kan sudah gede, jadi gak neke lagi ya,” ujar saya.

Enggak kok. Kai masih kecil. Kai belum sampe,” ujarnya sambil mencoba meraih lampu meja di atas sebuah rak yang tinggi, “Tuh kan, Kai belum sampe!”

Saya hanya bisa geleng-geleng kepada mendengar komentarnya. Lantas saya mencoba berbagai cara-cara yang dilakukan teman-teman saya yang berhasil menyapih anak-anak mereka. Namun ternyata semua cara tersebut gatot alias gagal total!

Sampai akhirnya di hari ke-3 Ramadan saya kejewer sama sebuah artikel di internet tentang resiko telat menyapih, yaitu anak menjadi tidak mandiri. Serasa disambar geledek, saya pun tiba-tiba menyingsingkan lengan baju dan mengenakan ikat kepala (loh?!)… Maksudnya kembali bertekad kuat menyapih Kai dengan berkali-kali mohon kemudahan kepada Allah SWT.

Metode Gamis Ritsleting Belakang

Image

Gamis ritsleting belakang

Apa hubungannya gamis dengan menyapih? Ada banget! Selama proses menyapih kali ini saya selalu memakai gamis ritsleting belakang agar Kai sulit mendapatkan neke-nya. Soalnya kalau hanya memakai T-shirt atau atasan biasa, Kai bisa dengan mudah menggeledah baju ibunya dan mendapatkan neke-nya. Mengerti maksud saya kan?

Memang di hari pertama Kai menangis pilu sampai matanya sembab, apalagi di malam hari. Saya hanya bisa berusaha menenangkannya dengan mengelus-elus punggungnya sambil terus membaca al ma’tsurat. Kalaupun dia haus, saya menawarkannya air putih di gelas (Kai tidak pernah mengenal dot. Red).

Metode Pengalihan

Selain memakai gamis ritsleting belakang, saya selalu berusaha mengalihkan perhatian Kai setiap kali dia mau neke, mulai dari mengajaknya bercanda, main, makan, atau jalan-jalan. Selain teralihkan, Kai pun menjadi enjoy sekaligus kecapean.Otomatis di malam hari ia akan tertidur pulas tanpa ngelilir minta neke.

Kai bobok di kantor ibu

Kai bobok di kantor ibu

Selama proses menyapin ini pun saya berusaha selalu dekat dengan Kai, agar ia tidak merasakan ada ‘jarak’ selama proses ‘perpisahan’ (baca: penyapihan) ini. Karena itu selama 5 hari berturut-turut proses menyapih, saya yang selalu menemaninya bermain, memandikannya, menyuapinya, ngelonin, sampai mengajaknya ke kantor.

Metode Poin Hadiah

Nah, selama proses ini pun saya mengajak Kai mengumpulkan bintang. Caranya dengan membuat tabel kemajuannya dalam hal berhenti neke. Setiap satu hari Kai berhasil tidak neke, maka ia mendapat satu bintang. Jika ia berhasil mengumpulkan lima bintang, maka hadiahnya adalah mainan kereta api 🙂

Image

Tabel Poin Hadiah Kai

Alhamdulillah kemarin Kai berhasil mengumpulkan lima bintang. Jadi, kemarin Kai mendapatkan mainan kereta api baru… yeeey!! 😀

Image

mainan kereta api hadiah dari ibu ^^

Pasca Penyapihan

Alhamdulillah saya sangat bersyukur Allah mudahkan proses penyapihan ini di bulan Ramadan. Meski saya sempat sedih juga ‘berpisah’ dengan my little baby sampai-sampai sempat bercucuran air mata tiba-tiba saat Kai tidur pulas tanpa neke T_T

Nah, kompensasi dari berhenti neke ini adalah Kai makan jauh lebih banyak, sodara-sodara. Sampai-sampai hampir tiap bangun tidur Kai langsung minta makan nasi. Mau tidur pun ia minta susu UHT dan biskuit cokelat.

Untuk itu, saya sarankan bagi para ibu yang berniat menyapih anaknya, alangkah lebih baik menyiapkan juga bujet lebih untuk membeli lebih banyak makanan dan camilan yang disukai anaknya.

Semoga tulisan ini bermanfaat 😉

Dekat, Naik KRL Ajah

Senin kemarin (1/7) saya dan Kai silaturahim ke rumah teman di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Hanya 20 menit perjalanan menggunakan angkot dg ongkos Rp 3000.

Karena Kai suka banget naik kereta api, maka pulangnya kami memutuskan naik KRL dari stasiun Pasar Minggu. Deket sih memang, cuma dua stasiun. Tapi gak ada salahnya. Toh murah, cuma Rp 2000 gitu loh. Lagipula, kami naik di jam lengang (jam 12 siang). Terima kasih PT Commuter Jabodetabek yg sudah menerapkan tarif progresif 😉

image