Ketika Kai Sakau Naik Kfw

Usai mandi Ahad pagi menjelang siang kemarin (24/11) Kai tiba-tiba minta jalan-jalan. “Kai mau jalan-jalan,” ujarnya.

“Jalan-jalan kemana?” tanya saya.

“Naik busway (bus Transjakarta. Red),” jawabnya.

“Naik busway kemana?”

“Naik busway ke kampus bapak, ke danau UI.”

“Emang bisa naik busway ke kampus bapak?”

“Iya, bisa.”

“Ya udah, bilang bapak sana.”

Lalu Kai berlari menuju kamar sambil berteriak, “Bapaaaak, Kai mau naik busway.”

“Naik busway kemana?” ujar bapak yang tengah rebahan di tempat tidur.

“Ke kampus bapak, ke Danau UI!” jawab Kai dengan lantang.

“Kalo ke kampus bapak mah naik kereta.”

“Iyah, kel(r)eta ajah gapapah.”

“Gimana tuh, anaknya mau jalan-jalan?” tanya saya ke suami.

“Ya udah, ayo,” jawab suami saya sambil menggeliat.

“Kalo mau jalan-jalan, pakai baju dulu yang bener,” ujar saya sambil mengejar Kai yang gak bisa diem kalo lagi dipakein baju. Tapi dasar anak-anak yah, begitu keinginannya untuk jalan-jalan dikabulkan, dia malah loncat-loncat kegirangan sambil berdendang sehingga tambah susah saya memakaikan bajunya. “Eh, diem dulu. Sini, pake baju dulu. Ntar kalo gak pake baju gak boleh naik kereta sama masinis,” bujuk saya.

Akhirnya Kai mau diam sebentar untuk pakai baju. Ketika ia sudah berpakaian rapih, kini giliran dia yang protes, “Bapak, ganti baju bapak!”

“Iya… iya,” suami saya bangkit perlahan dari tempat tidur.

“Aku gak ikut ya? Cucian numpuk nih,” ujar saya ke suami.

“Oke,” jawabnya.

“Kai jalan-jalan sama bapak aja ya?”

“Iyah.”

“Ibu gak ikut gapapa ya?”

“Iyah.”

Sementara bapaknya Kai berganti baju, saya menyiapkan tas dan perbekalan yang perlu dibawa untuk piknik ke Danau UI. Sebelumnya kami memang terbiasa piknik murmer ke tempat ini, sehingga Kai familiar dengan kampus dan Danau UI.

Sambil menunggu bapaknya bersiap-siap, tiba-tiba Kai berseru, “Kai mau naik Kfw!” Kfw adalah Kereta Rel Listrik (KRL) buatan PT INKA Madiun hasil kerjasama dengan Bank Kfw Jerman. Indonesia Railfans biasa menyebut kereta jenis ini dengan “Kfw”.

“Lho, katanya mau ke Danau UI? Kalau Kfw-nya gak ke UI gimana?”

“Gapapa,” Jawab Kai.

“Kalo Kfw-nya ke Kota gimana?”

“Gapapa.”

“Kalo Kfw-nya ke Tanah Abang gimana?”

“Gapapa.”

“Tuh, dengerin anaknya tuh,” ujar saya ke suami. Yang diajak ngomong cuma senyum-senyum melihat tingkah Kai.

Sambil kegirangan, Kai berceloteh, “Kai mau naik Kfw yang pintunya wal(r)na ol(r)en. AC-nya dingiiiiiin.”

Akhirnya mereka berdua berangkat ke Stasiun Duren Kalibata, sementara saya di rumah sambil mengikuti perjalanan Kai lewat whatsapp.

Berdasarkan laporan suami lewat whatsapp, rupanya setelah menunggu 30 menit di stasiun, tibalah kereta Kfw dari Depok menuju Kota. Naiklah mereka berdua ke dalam kereta yang diidam-idamkan itu. Sampai di Stasiun Kota, mereka berdua tetap di dalam kereta tersebut dan ikut kembali menuju ke arah Depok. Rencananya, mereka akan turun di Stasiun Pondok Cina, lalu berjalan kaki menuju Danau UI. Namun ternyata baru sampai di Stasiun Lentent Agung, Kai tertidur pulas. Maklum, karena kereta ini memang nyaman. Selain AC yang dingin, tempat duduknya juga empuk dan lega.

Image

Kai di dalam Kereta Kfw produksi PT INKA Madiun kerjasama dengan Bank Kfw Jerman

Maka, rencana piknik ke Danau UI dibatalkan karena Kai tidur. Akhirnya mereka berdua ikut kereta Kfw sampai pemberhentian terakhir di Stasiun Depok. Dan karena Kai masih juga tidur, maka mereka berdua ikut kereta tersebut kembali lagi ke arah Kota πŸ˜€ Rupanya ke-sakau-an Kai naik Kfw terbayar sudah. Puas dia muter satu setengah rit perjalanan, bahkan tidur siang di Kfw xixixixi…

Image

Kai dan Bapak menempuh rute Duren Kalibata-Jakarta Kota-Depok-Cawang (yang garis merah)… Kebayang kan gimana muter-muternya πŸ™‚

Akhirnya Kai terbangun saat kereta berhenti di Stasiun Pasar Minggu Baru. Lalu mereka berdua turun di Stasiun Cawang yang terhubung dengan shelter busway. Sambil menunggu bus Transjakarta ke arah PGC, Kai dan bapak ‘piknik’ di halte busway Stasiun Cawang sambil menikmati bekal makan siang. Alhamdulillah… kesampaian juga keinginan Kai naik Kfw dan busway πŸ˜€

Image

Paket kumplit jalan-jalan Kai: Kereta Kfw + busway πŸ™‚

Advertisements

Ketika Kai Curhat

Kai (2 tahun 10 bulan) adalah balita yang cukup bawel alias banyak omong. Pelafalan kata pun sudah sangat jelas untuk anak seusianya, kecuali untuk huruf “R”. Namun Kai tidak biasa curhat. Jika saya ingin tahu apa yang dilakukannya ketika saya di kantor, saya harus bertanya dan memancingnya untuk bercerita. Tentu saja dengan gaya bahasa ala Kai, misalnya:

+ Kai tadi bobok siang?

– Kai tadi main sama Mumu (artinya: tidak bobok siang)

+ Kai maemnya banyak gak?

– Banyak. Kai udah tinggi (artinya: maemnya banyak biar cepet tinggi)

Keabsahan ceritanya pun harus saya konfirmasi dengan Eyangnya yang seharian bersamanya di rumah. Selama ini sih keabsahan apa yang dijawabnya 99% benar.

Nah, terkait curhat. Suatu ketika, Kai menangis meraung-raung ketika saya di kamar mandi sedang wudhu. Begitu keluar kamar mandi, Kai langsung menghampiri saya, dan saya pun bertanya, “Ada apa?”

Image

Eyang dan Kai waktu masih satu tahun

Eyang menjawab, “Itu, mainin telur di kulkas. Aku kan takut pecah.”

“Ya udah, ayo temenin ibu sholat aja yuk. Eyang lagi masak. Lain kali kalau Eyang lagi masak, Kai jangan ganggu yah,” ujar saya sambil memeluknya.

Kemudian saya sholat Maghrib, sementara Kai tiduran di tempat tidur di samping saya sholat. Ketika saya sedang sholat, tiba-tiba sambil menangis Kai mengoceh seperti orang curhat. “Kai sedih, tapi eyang mal(r)ah….” ujarnya sambil mewek. Lalu dia mengulang-ulang kalimat itu dan beberapa kalimat lain. Sholat saya jadi gak khusyuk deh hehehe. Selesai sholat, saya lalu memandanginya.

“Kai sedih, tapi eyang mal(r)ah,” ulangnya lagi sambil mewek. Saya hanya menatapnya sambil mengelus-elus badannya.

“Tadi Kai main telol(r), gitu gitu gitu, tel(r)us eyang mal(r)ah… Kai sedih… huhuhuhu…,” ujarnya sambil memeragakan gerakan memain-mainkan telur di tempat telur di kulkas. Dalam hati saya menahan tawa, tapi saya hanya tersenyum sambil menatapnya.

“Ya udah gak papa. Eyang marah karena takut telornya pecah,” jawab saya.

“Pecahin aja! Gapapa, pecain aja!” tangisnya dengan nada marah.

Tak lama Eyang menghampiri kami lalu menggendong Kai. Kai tambah pecah tangisnya. Eyang lalu minta maaf sambil mengusap air mata Kai. Kemudian keduanya berdamai, lalu Kai minta susu moo (susu sapi cair. Red). Oalaaah Kai, Kai… aya aya wae πŸ˜€

Asinan Buah Homemade

Asinan Buah Homemade

Asinan Buah Homemade. Kuahnya memang gak terlalu merah karena tanpa pewarna dan zat aditif lainnya, tapi rasanya mak nyoss. Bumbu kuah: cabe merah, bawang putih, gula pasir, garam, perasan jeruk nipis/lemon. Hmmmmm… πŸ˜›

Unschooling My Son

ImageUdah lama gak ngeblog nih… Kali ini mau sedikit nulis tentang homeschooling for beginner. Kok beginner? Yup, karena saya sendiri merasa masih beginner dalam hal ini. Maklum saya adalah produk public school yang sempat ‘dicuci otak’ selama belasan tahun.

Anyway, saya bukan anti public school atau sekolah. Saya pun tidak dengan bangga menyatakan diri sebagai homeschooler. Tapi saya tengah belajar dan mempelajari, apalagi anak saya masih 2 tahun 10 bulan. Usia yang belum ‘wajib sekolah’. Saya masih belajar dan memilah tipe pendidikan yang terbaik untuk anak saya.

Awalnya ketika berniat homeschooling, yang pertama saya cari adalah KURIKULUM. Kurikulum seperti apa yang harus saya pakai yang cocok untuk anak saya dan keluarga kami. Ketika saya bertanya sana-sini, ternyata tidak satupun keluarga homeshooler yang memakai satu kurikulum yang sama. Dan ternyata kurikulum para homeschooler ini sangat cair dan berbeda-beda di tiap keluarga. Jadilah saya tambah bingung.

Sampai suatu ketika saya mendapati istilah “unschooling”. Apakah gerangan itu? Yang ada di benak saya saat itu adalah sebuah pola kehidupan yang ‘bebas’ dan jauh dari kata ‘belajar’. Namun saya kembali terbentur ketika bertemu dengan kata “belajar”. Makhluk apakah sebenarnya belajar itu? Apakah belajar itu harus duduk di kursi berhadapan dengan meja? Apakah belajar itu adalah membaca buku? Bagaimana dengan anak-anak yang belum bisa membaca? Apakah mereka tidak belajar? Apakah balita yang sedang berusaha menusukkan sedotan ke sebuah tetrapack susu UHT hingga berhasil menyeruput isinya tidak disebut dengan belajar?

Ternyata oh ternyata… Ketika kita tidak sedang “belajar” pun ternyata kita sedang belajar, belajar tentang kehidupan, belajar tentang keterampilan, belajar memahami, dll.

Maka, apakah fase belajar yang tengah dijalani anak saya merupakan bagian dari unschooling? Kegalauan saya akan pemakaian istilah yang tepat untuk proses belajar anak saya dipertegas oleh sebuah diskusi dengan seorang teman. Teman lama yang tinggal nun jauh di seberang laut ini memiliki anak yang usianya tak terpaut jauh dari anak saya. Dan ketika saya tanya bagaimana dia menjalani homeschooling, dia menjawab,

“Aku nerapin unschooling, gak pake kurikulum. Hanya mensupport apa yang tengah menjadi minat Hadid (nama anaknya. Red). Sambil checklist perkembangan dia sesuai usianya.”

Oalaaah… Ternyata selama ini saya pun melakukan hal serupa dengan teman saya yang sudah menyatakan diri sebagai homeschooler itu. Alhamdulillah terjawab sudah kegalauan saya.

Β 

PS. Checklist perkembangan anak sesuai usianya (khusus PAUD) bisa dilihat di Permendiknas RI No. 58 Tahun 2009. Semoga bermanfaat πŸ˜‰

Pidato Wisudawan Terbaik, Memukau tetapi Sekaligus “Menakutkan”

“Saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada.”

Catatanku

Setiap acara wisuda di kampus ITB selalu ada pidato sambutan dari salah seorang wisudawan. Biasanya yang terpilih memberikan pidato sambutan adalah pribadi yang unik, tetapi tidak selalu yang mempunyai IPK terbaik. Sepanjang yang saya pernah ikuti, isi pidatonya kebanyakan tidak terlalu istimewa, paling-paling isinya kenangan memorabilia selama menimba ilmu di kampus ITB, kehidupan mahasiswa selama kuliah, pesan-pesan, dan ucapan terima kasih kepada dosen dan teman-teman civitas academica.

Namun, yang saya tulis dalam posting-an ini bukan pidato wisudawan ITB, tetapi wisudawan SMA di Amerika. Beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman surel dari teman di milis dosen yang isinya cuplikan pidato Erica Goldson (siswi SMA) pada acara wisuda di Coxsackie-Athens High School, New York, tahun 2010. Erica Goldson adalah wisudawan yang lulus dengan nilai terbaik pada tahun itu. Isi pidatonya sangat menarik dan menurut saya sangat memukau. Namun, setelah saya membacanya, ada rasa keprihatinan yang muncul (nanti saya jelaskan).Cuplikan…

View original post 2,517 more words