Unschooling My Son

ImageUdah lama gak ngeblog nih… Kali ini mau sedikit nulis tentang homeschooling for beginner. Kok beginner? Yup, karena saya sendiri merasa masih beginner dalam hal ini. Maklum saya adalah produk public school yang sempat ‘dicuci otak’ selama belasan tahun.

Anyway, saya bukan anti public school atau sekolah. Saya pun tidak dengan bangga menyatakan diri sebagai homeschooler. Tapi saya tengah belajar dan mempelajari, apalagi anak saya masih 2 tahun 10 bulan. Usia yang belum ‘wajib sekolah’. Saya masih belajar dan memilah tipe pendidikan yang terbaik untuk anak saya.

Awalnya ketika berniat homeschooling, yang pertama saya cari adalah KURIKULUM. Kurikulum seperti apa yang harus saya pakai yang cocok untuk anak saya dan keluarga kami. Ketika saya bertanya sana-sini, ternyata tidak satupun keluarga homeshooler yang memakai satu kurikulum yang sama. Dan ternyata kurikulum para homeschooler ini sangat cair dan berbeda-beda di tiap keluarga. Jadilah saya tambah bingung.

Sampai suatu ketika saya mendapati istilah “unschooling”. Apakah gerangan itu? Yang ada di benak saya saat itu adalah sebuah pola kehidupan yang ‘bebas’ dan jauh dari kata ‘belajar’. Namun saya kembali terbentur ketika bertemu dengan kata “belajar”. Makhluk apakah sebenarnya belajar itu? Apakah belajar itu harus duduk di kursi berhadapan dengan meja? Apakah belajar itu adalah membaca buku? Bagaimana dengan anak-anak yang belum bisa membaca? Apakah mereka tidak belajar? Apakah balita yang sedang berusaha menusukkan sedotan ke sebuah tetrapack susu UHT hingga berhasil menyeruput isinya tidak disebut dengan belajar?

Ternyata oh ternyata… Ketika kita tidak sedang “belajar” pun ternyata kita sedang belajar, belajar tentang kehidupan, belajar tentang keterampilan, belajar memahami, dll.

Maka, apakah fase belajar yang tengah dijalani anak saya merupakan bagian dari unschooling? Kegalauan saya akan pemakaian istilah yang tepat untuk proses belajar anak saya dipertegas oleh sebuah diskusi dengan seorang teman. Teman lama yang tinggal nun jauh di seberang laut ini memiliki anak yang usianya tak terpaut jauh dari anak saya. Dan ketika saya tanya bagaimana dia menjalani homeschooling, dia menjawab,

“Aku nerapin unschooling, gak pake kurikulum. Hanya mensupport apa yang tengah menjadi minat Hadid (nama anaknya. Red). Sambil checklist perkembangan dia sesuai usianya.”

Oalaaah… Ternyata selama ini saya pun melakukan hal serupa dengan teman saya yang sudah menyatakan diri sebagai homeschooler itu. Alhamdulillah terjawab sudah kegalauan saya.

Β 

PS. Checklist perkembangan anak sesuai usianya (khusus PAUD) bisa dilihat di Permendiknas RI No. 58 Tahun 2009. Semoga bermanfaat πŸ˜‰

Advertisements
Leave a comment

6 Comments

  1. nunggu cerita kai berikutnya πŸ™‚

    Reply
  2. makasih linknya πŸ™‚

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: