Ketika Kai Curhat

Kai (2 tahun 10 bulan) adalah balita yang cukup bawel alias banyak omong. Pelafalan kata pun sudah sangat jelas untuk anak seusianya, kecuali untuk huruf “R”. Namun Kai tidak biasa curhat. Jika saya ingin tahu apa yang dilakukannya ketika saya di kantor, saya harus bertanya dan memancingnya untuk bercerita. Tentu saja dengan gaya bahasa ala Kai, misalnya:

+ Kai tadi bobok siang?

– Kai tadi main sama Mumu (artinya: tidak bobok siang)

+ Kai maemnya banyak gak?

– Banyak. Kai udah tinggi (artinya: maemnya banyak biar cepet tinggi)

Keabsahan ceritanya pun harus saya konfirmasi dengan Eyangnya yang seharian bersamanya di rumah. Selama ini sih keabsahan apa yang dijawabnya 99% benar.

Nah, terkait curhat. Suatu ketika, Kai menangis meraung-raung ketika saya di kamar mandi sedang wudhu. Begitu keluar kamar mandi, Kai langsung menghampiri saya, dan saya pun bertanya, “Ada apa?”

Image

Eyang dan Kai waktu masih satu tahun

Eyang menjawab, “Itu, mainin telur di kulkas. Aku kan takut pecah.”

“Ya udah, ayo temenin ibu sholat aja yuk. Eyang lagi masak. Lain kali kalau Eyang lagi masak, Kai jangan ganggu yah,” ujar saya sambil memeluknya.

Kemudian saya sholat Maghrib, sementara Kai tiduran di tempat tidur di samping saya sholat. Ketika saya sedang sholat, tiba-tiba sambil menangis Kai mengoceh seperti orang curhat. “Kai sedih, tapi eyang mal(r)ah….” ujarnya sambil mewek. Lalu dia mengulang-ulang kalimat itu dan beberapa kalimat lain. Sholat saya jadi gak khusyuk deh hehehe. Selesai sholat, saya lalu memandanginya.

“Kai sedih, tapi eyang mal(r)ah,” ulangnya lagi sambil mewek. Saya hanya menatapnya sambil mengelus-elus badannya.

“Tadi Kai main telol(r), gitu gitu gitu, tel(r)us eyang mal(r)ah… Kai sedih… huhuhuhu…,” ujarnya sambil memeragakan gerakan memain-mainkan telur di tempat telur di kulkas. Dalam hati saya menahan tawa, tapi saya hanya tersenyum sambil menatapnya.

“Ya udah gak papa. Eyang marah karena takut telornya pecah,” jawab saya.

“Pecahin aja! Gapapa, pecain aja!” tangisnya dengan nada marah.

Tak lama Eyang menghampiri kami lalu menggendong Kai. Kai tambah pecah tangisnya. Eyang lalu minta maaf sambil mengusap air mata Kai. Kemudian keduanya berdamai, lalu Kai minta susu moo (susu sapi cair. Red). Oalaaah Kai, Kai… aya aya wae 😀

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: