Tantrum Si Calon Kakak

Image

Kai

Kata orang, balita yang menyadari dirinya akan segera menjadi kakak menjadi lebih ‘rewel dan manja’. Saya tidak tahu benar atau tidak, tapi yang pasti saya merasakan itu.

Di usia Kai yang menginjak tiga tahun, saya tengah mengandung empat bulan. Saya sadar, sebagai anak kecil, pasti ada rasa ‘cemburu’ akan kehadiran manusia baru dalam keluarganya. Karena itu saya berusaha sekuat hati untuk tidak menunjukkan rasa sayang yang berkurang pada Kai. Namun entah kenapa belakangan ini ia lebih sering temper tantrum. Meskipun saya sadar, tantrum adalah hal wajar untuk anak seusianya. Tapi saya merasa sejak perut saya membesar, tantrumnya seringkali menguras kesabaran.

Terkadang ketika saya super letih, kesabaran ini terkikis juga hingga lepaslah bentakan saya. Namun ternyata bentakan dan kata-kata bernada tinggi tidak pernah mempan meredakan tantrumnya–bahkan sebaliknya, tantrumnya semakin menjadi. Bahkan pernah ia sampai tertidur karena lelah menangis dan menjerit. Dan ketika saya tatap wajah polosnya yang terlelap…. saya menjadi amat menyesal telah membentaknya. Astaghfirullahalaziim…

Karena itu di kesempatan lain (dan insyaallah seterusnya) saya selalu berusaha menahan diri untuk tidak membentak. Setiap kali Kai menunjukkan sikap tidak korporatif atau tanda-tanda tantrum, saya hanya berusaha istighfar sambil merendahkan ego serendah-rendahnya agar bisa bersikap sabar dan penuh cinta. So far, alhamdulillah cara seperti ini selalu berhasil meredakan dan mencegah tantrum. Ya Allah, semoga saya selalu bisa sabar dan penuh cinta…

Di lain kesempatan, setiap saya hendak bersiap-siap berangkat kerja, Kai selalu bertanya, “Ibu ke kantol gak?”

“Iya, ibu ke kantor,” jawab saya.

“Ibu jangan ke kantol,” ujar Kai spontan sambil memeluk saya, “Kai mau sama ibu…”.

Siapa coba yang gak mbrebes mili coba mendengar ini. Terkadang ritual saya berangkat ke kantor berjalan damai setelah Kai saya sayang-sayang atau saya alihkan perhatiannya. Tapi terkadang juga ritual berangkat kantor harus diiringi dengan tantrum, sampai adegan Kai nekat lari ke jalanan 😦 Hati siapa sih yang gak ngenes menyaksikan pemandangan ini *melow*

Jujur saja, sejak hamil anak kedua ini, saya sering sekali datang terlambat ke kantor. Alhamdulillah teman seruangan saya pada baik-baik–meskipun sebenarnya saya gak enaaak banget sama mereka. Tapi itulah…. setiap hari Kai selalu ‘berulah’ ketika saya mau ke kantor. Dilematis memang, di satu sisi gak enak sama teman kantor, tapi di sisi lain juga iba sama anak sendiri… Dan saya lebih memilih iba padamu, nak….

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

3 Comments

  1. Sabar, mbak, ada masa-masanya sikap kita diuji oleh ulah anak.

    Reply
  1. Kai Sayang Dek Qudsi | Rumah Mbakje

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: