Drama Mandi Sore

Sore kemarin, selepas sholat ashar, saya tertidur pulas dengan mukena lengkap. Padahal niatnya meluruskan punggung sejenak di sela-sela pekerjaan rumah tangga sambil mengasuh anak. Maklum, 2 hari libur buat saya sama dengan menuntaskan pekerjaan rumah tangga sepekan yang ‘menumpuk’. Ditambah lagi dengan usia kehamilan 6 bulan yang kerap membuat punggung bawaannya sakit melulu šŸ˜¦

Sore itu memang Kai sedang asik main bareng sohibnya, anak tetangga yang usianya sepantaran, sambil diawasi eyangnya (ibu saya. Red). Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka saat bermain, karena saya tertidur pulas, sampai saya terbangun oleh teriakan-teriakan Kai dan eyangnya.

“Ayo mandi! Air panasnya udah siap,” teriak eyangnya.

“Gak mauuu..!!” sahut Kai dengan nada tinggi.

Sambil mengucek-ucek mata, saya melihat Kai masuk kamar dan mendekati saya. “Ayo Kai mandi dulu,” bujuk saya.

“Gak mauk!”

Sambil beranjak dari tempat tidur, saya memutar otak untuk membujuknya agar mau mandi.

“Kai, mobil-mobilannya udah kotor nih, dia mau mandi. Kai mau ikut gak?” ujar saya.

“Gak mauk!”

“Mobil-mobilannya mau nyebur ke bak loh. Bunyinya, byuurrr… Mau ikut gak?”

Kai tidak menyahut, tapi dia berjalan mengikuti saya.

Singkat cerita, Kai mau mandi. Saya bersyukur siasat saya berhasil. Tapi ternyata drama belum selesai. Kai emoh gosok gigi. Tiba-tiba ia marah sambil menyiprat-nyipratkan air dalam bak. Puncaknya, ia menarik selang mesin cuci hingga air dari kran air bocor kemana-mana. Ibu saya yang melihatnya hanya diam saja sambil berlalu. Mungkin ibu saya juga sudah lelah dengan tantrum cucunya ini.

Sambil menahan emosi saya berkata, “Kai kok begitu sih? Kan mesin cucinya jadi rusak tuh. Kalau rusak, bajunya Kai gak bisa dicuci. Ayo dong sayang, sikat gigi dulu. Nanti kita betulkan selang mesin cucinya.”

Namun Kai malah menutup rapat mulutnya.

“Ayo dong Kai… Kalo gak mau sikat gigi, nanti gigi Kai sakit.”

Kai bergeming.

“Kai maunya dipaksa sikat gigi ya?”

“Dipaksa ajah,” sahutnya singkat.

Mendengar itu, saya langsung memaksa membuka mulutnya sambil menggosok giginya. Saya tidak peduli dengan jerit kesakitannya. Yang penting beres sikat gigi, pikir saya. Usai acara gosok gigi paksa itu Kai menangis tersedu-sedu dan saya mendapati noda darah di sikat giginya. Ada penyesalan dalam hati saya. Buru-buru saya basuh mulut dan gusinya dengan air matang.

Acara mandi sudah selesai, namun Kai emoh keluar dari bak. Lama saya menatapnya dalam diam. Darah rasanya masih mendidih di ubun-ubun. Kai pun diam saja. Ia membalas tatapan saya sambil sesekali mengalihkan tatapannya pada air di bak yang mulai mendingin.

“Yuk, pakai baju yuk,” ujar saya mencoba merendahkan suara.

“Kai mau sendil(r)i ajah.”

Mendengar itu, perlahan hati saya mencair. Saya membayangkan jika saya ada pada posisinya. Seorang balita 3 tahun, dimana tak seorang pun yang mau memahaminya. Mungkin tantrumnya disebabkan oleh emosi jiwanya yang masih sangat labil, sementara semua orang terdekatnya malah menyudutkannya, bahkan menyakitinya. Sehingga anak sekecil itu lebih memilih untuk sendirian saja, daripada berada di dekat ibunya sendiri.

ImageTiba-tiba air mata saya meleleh. Lalu saya peluk erat badannya yang masih basah. “Maafin ibu ya Kai….”

Saya tak sanggup menyelesaikan kata-kata penyesalan saya. Namun sepertinya Kai memahami apa yang hendak saya katakan, karena ia balas memeluk saya dengan erat dan tanpa perlawanan ia menurut ketika saya bimbing keluar dari bak menuju kamar untuk pakai baju. Dan seketika itu, saya jadi memahami apa yang dimaksud dengan unconditional love… cinta tanpa syarat.

Maafkan ibu ya Kai… Selama ini yang kau butuhkan adalah cinta tanpa syarat. Cinta tanpa kata “tapi”. Cinta di saat kau bertingkah lucu maupun menyebalkan. Cinta di saat kau menurut ataupun rewel. Semoga Allah selalu membimbing kami agar mencintaimu tanpa syarat apapun…. Loving you unconditionally.

Image

Ā 

Advertisements
Leave a comment

9 Comments

  1. Sinta Nisfuanna

     /  February 25, 2014

    saya mau nangis bacanya, soalnya baru lusa kemarin ngerasain hal yang sama, walau kasusnya berbeda. Akhirnya, saya meminta maaf dan dibalas Miza dengan mengelus kepala saya dan memeluk. Hadeuh makin tambah ngalir aja air mata

    Reply
    • Huwaaa… saya juga sambil nangis nulisnya mbak…

      Memang gak mudah yah mencintai tanpa syarat ini. Mesti banyak-banyak sabar dan berlapang dada.
      *Peluk erat untuk semua ibu dan anak di seluruh dunia*

      Reply
    • Anyway, saya jadi belajar bagaimana menghadapi anak yg tantrum. Ternyata tidak perlu argumen, hukuman, dan segala teori untuk meredakannya. Hanya sebuah pelukan tulus penuh cinta T_T

      Reply
      • Sinta Nisfuanna

         /  February 25, 2014

        iya mbk, dan lbih banyak ngasih contoh sebenarnya, ntar lama2 ngikutin anaknya tanpa dipaksa

        jadi harus banyak belajar juga dari anak untuk kasih sayang dan tak kenal dendamnya

      • betuuuullll bangeeeet….

  2. menemani Kai tumbuh kembang adalah momen luar biasa tentunya, baik manis pahit bahkan sekedar paksaan mandi sekalipun. setiap menitnya berharga.
    šŸ˜€

    Reply
  3. Aaah terharu sekali membacanya… Memeluk dan membisikkan kata mama sayang adalah obat paling mujarab…

    Sehat-sehat ya mbakjeee..
    Kai sayang.. Sering peluk ibu ya nak…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: