Ketika Bumil Kena TBC

Dua bulan gak ngeblog euy! Alasannya seperti judul di atas. Yup, saya didiagnosa TBC pleura (dinding paru) oleh dokter dan sempat menjalani rawat inap 7 hari di RS dan masa recovery 2 pekan di rumah.

Awalnya, di usia kehamilan 5 bulan lebih saya mengalami batuk kering. Saya pikir itu batuk alergi, karena saya memang alergi debu dan polusi udara. Dan batuk itu memang dipicu oleh aktivitas menunggu taksi terlalu lama di pinggir jalan raya yang berpolusi. Ditambah kondisi tubuh saya yang kecapean dan daya tahan tubuh menurun, maka batuk tak kunjung mereda.

Seminggu kemudian saya berobat ke dokter umum dan diresepkan obat batuk herbal. Setelah seminggu hingga obat batuk habis, batuk tak kunjung reda dan ketambahan tertular flu hingga pendengaran agak terganggu. Maka berobatlah saya ke dokter THT. Dan ternyata setelah seminggu pun batuk pilek tak juga reda, malah rongga dada terasa sakit dan mulai sesak nafas plus demam hingga menggigil di malam hari.

Di usia kehamilan masuk bulan ke-7, saya sulit bernafas terlebih ketika rebahan, sampai-sampai saya harus tidur duduk. Sempat suatu malam saya tergelincir sedikit dari posisi duduk saya saat tidur, saat itu pula nafas saya tercekat. Demi Allah saya tidak bisa menghirup udara. Untung suami tercinta yang selalu siaga segera menarik tubuh saya ke posisi duduk sehingga ada cukup ruang di saluran nafas untuk masuknya udara.

Saat itu saya mengira kondisi tersebut wajar adanya untuk wanita hamil usia 7 bulan. Apalagi beberapa teman yang pernah hamil, termasuk atasan saya, mengatakan bahwa sesak nafas di usia kehamilan trisemester ketiga adalah hal biasa. “Dulu gue waktu hamil 7 bulan, kalo tidur bantal harus tumpuk empat,” ujar seorang teman yang berbadan gemuk.

Saya hanya mengiyakan komentar mereka, meskipun hati kecil saya masih mempertanyakan “what’s wrong with me?” Karena saya tidak punya riwayat asma. Selain itu, waktu hamil anak pertama tidak pernah mengalami sesak nafas, apalagi tubuh saya tergolong kurus. Wong hamil 8 bulan saja berat badan cuma 50 kg. Dan yang membuat saya bertanya-tanya adalah batuk yang kian ‘menyiksa’, karena setiap batuk saya kesulitan bernafas. Belum lagi tekanan rongga-rongga tubuh akibat batuk ini membuat rahim saya sakit karena kontraksi.

Sampai suatu hari teman kantor menyarankan saya untuk konsultasi ke dokter spesialis paru. Teman saya itu menduga saya terkena pneunomia (infeksi paru), karena ia melihat batuk saya disertai sesak nafas dan nyeri di rongga dada. Berhubung selama hamil ini saya sering banget cuti dan izin sakit, saya sebenarnya agak gak enak izin atasan untuk datang terlambat karena mau konsul ke dokter paru. Well… meski sempat dikomentari macam-macam, alhamdulillah beliau mengizinkan saya.

Eng ing eeeeng…. Maka saya pun diantar suami dan anak saya ke dokter paru. Di luar dugaan, saya malah disuruh rawat inap. Menurut dokter, sesak nafas saya bisa membahayakan ibu dan janinnya jika dirawat di rumah, karena di rumah tidak ada tabung oksigen dan tenaga medis yang siap sedia jikalau terjadi kegawatdaruratan. Apalagi dengan kondisi saya yang tengah hamil, dokter khawatir supply oksigen ke otak bayi menjadi terganggu.

Setelah bolak-balik mengurus sendiri (karena suami menjaga anak saya yang gak bisa diem. Red) administrasi rawat inap menggunakan asuransi, akhirnya saya pun terkapar dengan jarum infus dan selang oksigen.

Image

keep smile yah 🙂

Saat itu, diagnosa dokter adalah pleural efussion (cairan dalam rongga dada). Itu sebabnya saya tidak bisa bernafas saat rebahan. Nah, penyebab pleural efussion ini sendiri terus diobservasi selama saya dirawat inap antara lain lewat USG thorax dan kandungan serta tes darah. Selama rawat inap, dokter paru saya juga berkoordinasi dengan dokter kandungan untuk memastikan obat-obatan yang digunakan aman untuk janin. Dan pas USG kandungan ini pula saya dan suami baru tahu bahwa bayi kami insyaallah laki-laki (lagi) :p But it’s never mind, yang penting ia sehat, BB cukup, air ketuban cukup, gerakan aktif, denyut jantung juga normal… Alhamdulillah.

Sementara hasil USG thorax dan tes darah menunjukkan pleura saya terkena TBC. Tes mantoux berikutnya pun menyatakan saya positif terkena TBC. Jujur saya sempat down banget, apalagi beberapa kerabat sempat urung menjenguk saya ketika tahu saya terkena TBC 😦 Sampai-sampai ibu saya berpesan agar tidak terlalu mengumbar tentang TBC yang saya idap, karena banyak orang yang belum paham tentang TBC. Beberapa teman lewat whatsapp malah menyuruh anak saya, Kai, untuk ikut berobat TBC seperti saya. Saya menjadi makin merasa bersalah karena sudah menjadi biang kerok penyebar penyakit, bahkan ke orang-orang terdekat dan saya sayangi. Pikiran ini membuat saya beberapa malam tidak bisa tidur, bahkan kerap membuat sesak nafas saya kambuh 😥

Thanks to teman-teman yang telah memberikan aura positif untuk saya, termasuk mereka yang pernah bertahun-tahun satu rumah kos dengan penderita TBC namun tidak satupun teman kos lain yang tertular. Terima kasih juga untuk teman saya yang mantan penderita TBC yang kini sudah sembuh yang terbukti tak satupun orang-orang terdekatnya tertular. Terima kasih juga buat Mbah Google tempat saya menimba ilmu 🙂

Ah… ternyata semua rasa down itu lantaran minimnya pengetahuan saya tentang TBC. Mungkin juga ini teguran Allah buat saya untuk lebih mendekat pada-Nya, sekaligus teguran buat saya untuk lebih berhati-hati dalam bersikap, bicara, sms/whatsapp, pasang status. Karena bisa jadi mereka yang mengirim pesan buat saya sebenarnya bermaksud baik, hanya saja saya yang lagi down ini jadi salah terima 😦

Alhamdulillah doa saya dikabulkan Allah. Hasil tes dahak menyatakan BTA (Bassil Tahan Asam. Red) dahak saya negatif, yang artinya TBC saya tidak menular sehingga saya tidak harus selalu mengenakan masker yang bikin eungap. Menurut dokter, kondisi ini karena bakteri TBC tidak mengenai paru melainkan pleura saya. Karena TBC hanya menular jika mengenai paru-paru. Meski demikian, saya tetap harus menjalani pengobatan TBC selama sembilan bulan. Dan dua pekan pasca melahirkan, thorax saya harus di-rontgen.

Sekarang kehamilan saya masuk 8 bulan. Menurut dokter paru dan kebidanan, insyaallah saya bisa melahirkan normal dengan catatan tidak terjadi serangan asma (sesak nafas) saat proses persalinan. Karena itu, selain sedang menjalani pengobatan TBC, saya juga tengah berobat asma dan berlatih senam pernafasan (senam hamil). Mohon doanya ya, semoga proses kelahiran anak kedua kami kelak berjalan normal, lancar, selamat, mudah, dan damai…. amiiiiin.

Advertisements