Dekapan

Image

new born Kai 3 years ago

Pagi tadi

saat hendak berangkat

di hari terakhir masuk sebelum cuti persalinan

tiba-tiba kau peluk aku erat

“Ibu jangan ke kantol(r)”

 

Aku hanya balas memelukmu erat

kudekap tubuh mungilmu

kukecup dahi dan pipimu

 

Subhanallah…

Badanmu, kepalamu, tanganmu…

Dulu masih seukuran dekapanku

Cepat sekali kau tumbuh, Nak

 

Sebentar lagi, dalam hitungan hari,

akan ada manusia baru

yang mengisi dekapan hati kita, Nak

 

I love you my kids…

Kalianlah kado terindah Ibu dan Bapak

(more…)

Jongkok Itu Anugerah

Ternyata bisa jongkok itu anugerah tak terkira. Sebab orang-orang yang bisa jongkok sudah pasti bisa duduk, sementara orang-orang yang bisa duduk belum tentu bisa jongkok. Secara medis pun, dalam beberapa kasus, terbukti posisi jongkok itu menyehatkan (asal jangan terlalu lama. Red).

Untuk melahirkan, posisi jongkok (squat position) disarankan banyak bidan karena memudahkan bayi keluar. Untuk memperkuat otot kaki, ada latihan yang namanya squat jump. Bahkan untuk BAB (Buang Air Besar. Red), posisi yang paling baik adalah jongkok karena lebih lancar keluar. Orang-orang Barat pun kini mulai beralih dari kebiasaan BAB duduk menjadi jongkok. Kalo gak percaya, googling ajah 🙂

Saya pun baru ngerasa bahwa bisa jongkok itu anugerah sekitar seminggu ini ketika saya sulit sekali untuk jongkok. Apalagi di rumah toilet untuk jongkok 😦 Sumpah deh, sengsara banget gak bisa jongkok…. Mulai dari sholat harus terseok-seok, karena tidak bisa menekuk lutut secara ekstrim untuk gerakan duduk antara dua sujud, sampai urusan toilet!!!

Pernah suatu pagi sebelum berangkat ke RS untuk kontrol rutin dokter, saya harus melakukan ‘ritual’ ke toilet, tapi karena situasi tidak memungkinkan, maka saat itu juga saya diantar suami ngebut ke RS yang jaraknya 20 menit dari rumah dengan kendaraan bermotor dan lalu lintas tidak macet. Kebayang dong sepanjang jalan saya seperti orang mau melahirkan yang menahan mengejan. Maka selama menunggu dokter dan antre apotek, saya puas-puasin deh pake toilet duduk di RS. Sampai menjelang pulang pun, tidak lupa ‘meninggalkan jejak’ di toilet RS 😀

Maka kami terpikir untuk mengganti toilet di rumah menjadi toilet duduk. Masalahnya adalah, tidak ada tukang bangunan yang available membantu pemasangan toilet duduk di rumah kami. Kalo beli toiletnya doang mah gampang, tinggal telpon trus dianter. Ya sudah lah…. Atas ide beberapa teman, maka kami pun membuat kursi toilet sendiri. Saya yang menggambar polanya, lalu suami tercinta yang menggergajinya dengan penuh peluh… Love you hunny :*

Image

kursi toilet homemade

Foto di atas diambil oleh suami saya beberapa jam sebelum postingan ini saya tulis alias baru jadi. Yup, baru jadi. So, selama seminggu susah jongkok ini dimanakah saya BAK dan BAB… Apalagi bumil 8 bulan seperti saya yang sering banget beser? Yang pasti selama saya berada di tempat yang ada toilet duduknya, saya akan maksimalkan tuh penggunaan toilet 😀 Pernah beberapa kali ‘terpaksa’ di rumah dengan posisi berdiri. Hehehehe… gak usah dibayangin yah :p

Mungkin ada yang bertanya, mengapa saya susah jongkok? Sebelumnya saya sudah konsul ke orthopedi, dr paru, dr umum, dan besok mau ke internis. Belum diketahui pasti penyebabnya apa. Tapi dugaan dr paru adalah efek samping salah satu obat TB yang sedang saya konsumsi. Rabu (14/05) kemarin sudah diambil sampel darah dan hasilnya insyaallah Jumat (16/05) besok sekalian konsultasi ke internis. Yah…. semoga hasil tes darahnya baik-baik sajah dan semoga segera bisa kembali jongkok seperti semula…. Karena bisa jongkok itu anugerah tak terkira 🙂

(Update tulisan @24/08/2015)

Berhubung postingan ini saya tinggal begitu saja dan tidak saya lanjutkan kisahnya. Maka saya tambahkan endingnya demi kemaslahatan bersama (taelah..)

Setelah tes darah dan konsultasi ke internis, ternyata benar saya menderita “asam urat”. Penyebabnya memang karena saya mengonsumsi obat anti TB (OAT) yang mengandung purin tinggi. Nah, endapan purin dalam darah inilah yang menyebabkan sakit di persendian, seperti lutut, pergelangan tangan, dan tumit.

Dokter hanya menyarankan saya untuk minum banyak air putih untuk mengencerkan endapan purin tadi. Selain itu juga, banyak minum membantu meringankan kerja ginjal yang selama pengobatan TB ini diforsir karena OAT termasuk obat keras. Dokter juga menyarankan saya banyak mengonsumsi sayur dan buah.

Nasihat dokter pun saya jalankan. Namun saat itu kondisi sulit jongkok yang saya alami cukup meresahkan, sampai akhirnya saya mencoba bekam di sebuah klinik herbal di bilangan Condet, Jakarta Timur. Ini adalah pertama kalinya saya bekam. Itu pun niat awalnya hanya mengantar suami yang memang rutin bekam. Karena di ruang tunggu saya bercerita tentang keluhan saya pada terapis bekam, maka ia pun menyarankan saya untuk bekam.

bekam (ilustrasi)

bekam (ilustrasi)

Memang ada beberapa kondisi untuk ibu hamil yang tidak disarankan untuk bekam, antara lain usia kehamilan di bawah 3 bulan dan anemia. Namun karena kondisi kehamilan saya saat itu diluar pengecualian tersebut, maka saya boleh bekam.

FYI, bekam untuk wanita dilakukan oleh terapis wanita. Bekam untuk pria dilakukan oleh terapis pria. Jadi jangan khawatir, aurat Anda tidak akan dilihat oleh yang bukan muhrim 🙂

Pengalaman pertama saya bekam adalah; sakit dan mual!!! Saya bukan termasuk orang yang jijik melihat darah, namun entah mengapa usai bekam dan melihat tempat sampah penuh dengan tisu bekas melap darah kotor membuat saya mual dan mau muntah. Kalau kata terapis bekamnya sih, mungkin karena kondisi saya yang sedang hamil.

Selang satu jam setelah bekam alhamdulillah badan saya terasa jauh lebih nyaman. Dan yang membuat saya terharu, saya bisa duduk diantara dua sujud!!! Subhanallah. 🙂 Memang saya tidak langsung ekstrim bisa jongkok, namun berangsur-angsur saya bisa kembali jongkok. Alhamdulillahirabbil’alamiin.

Selain karena izin Allah SWT, bekam berfungsi mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh. Sehingga endapan purin dll di dalam tubuh pun berkurang. Maka nyeri di persendian jadi berkurang dan gerak tubuh bisa kembali normal.

Saat saya menulis update tulisan ini saya telah selesai menjalani pengobatan TB dan alhamdulillah telah kembali sehat. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kesehatan kita… amiin.