Mendadak Sekolah

Jadi ceritanya kami sama sekali tidak berniat menyekolahkan Kai di sekolah formal tahun ini. Kami hanya berniat mencari kegiatan terarah yang positif untuk Kai agar ia gak melulu isengin adeknya yang baru lahir 🙂

Gara-gara melihat anak tetangga (5th) yang mulai bersekolah TK B, Kai (3,5 th) menyatakan diri ingin bersekolah seperti temannya itu.

Singkat cerita, di hari ketiga di tahun ajaran 2014/2015, Kai bersama saya meninjau TK dekat rumah tempat anak tetangga sekolah. Di hari ketiga anak-anak masuk sekolah, kami sama sekali tidak berniat mendaftar. Tapi Kai terlihat sangat terpesona dengan sekolah ini, terutama dengan perosotan dan ayunannya 🙂

Sesaat sebelum jam masuk kelas, saya ngobrol dengan kepala sekolah. Ternyata TK tersebut menerima murid usia 3,5 th untuk kelas A. Kebetulan juga jumlah murid di kelas A belum mencapai kuota, sehingga pendaftaran masih terbuka. Sang kepala sekolah juga mempersilahkan Kai mengikuti pelajaran di kelas A sesuka hatinya (semacam trial gitu).

Saya pikir Kai akan bosan dan segera minta pulang. Di luar dugaan, ia senang sekali dan tidak mau pulang. Bahkan ketika jam pelajaran usai, ia masih menunggu anak tetangga di kelas B yang pulangnya setengah jam lebih lama dari kelas A. Subhanallah…

image

Berbaris sebelum pulang

Akhirnya di rumah, setelah diskusi dengan suami dan eyangnya Kai, kami memutuskan untuk menyekolahkan Kai di TK tersebut. Maka, jadi deh Kai anak sekolahan dadakan. Ketika teman-teman sekelasnya pakai tas dan sepatu baru, Kai pakai tas dan sepatu seadanya. Tapi itu bukan masalah buat Kai 😀

image

Makan bersama di kelas

Katanya Mau Homeschooling?

Sebelumnya saya pernah posting tentang homeschooling (HS). Jauh hari sebelum menikah, saya sudah tertarik dengan HS. Kini setelah berkeluarga, kami berniat (bahkan sudah?) menjalankan HS.

Emang sih, HS ini sifatnya sangat cair, sehingga sangat fleksibel dalam menjalankannya. Bahkan sebenarnya bayi baru lahir pun menjalani HS. Coba pikir, apakah bayi2 itu ‘sekolah’ untuk bisa jalan, bicara, berbahasa, makan, dll? Itu sebabnya saya tidak pernah memaksa anak untuk sekolah–dalam artian sekolah formal–, apalagi di usia pra sekolah.

Meski begitu, HS bukan berarti anti sekolah loh. Banyak para pelaku HS yang menyekolahkan anak mereka di lembaga pendidikan. Bedanya, para HSers tidak pasrah bongkoan pada kurikulum dan pengajaran yang ada di lembaga pendidikan tersebut. Mereka pro aktif, sehingga anak mereka mendapatkan pengajaran dan pelajaran sesuai kebutuhan masing-masing.

So, bagi kami, bersekolahnya Kai di TK adalah bagian dari HS. Semoga Kai mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan fitrahnya, minatnya, dan bakatnya… Amiiin.

Advertisements
Leave a comment

13 Comments

  1. selamat sekolah, kai 🙂

    Reply
  2. Sekolah ini dulu punya firasat kayaknya anak bakal dimasukin kesini.

    Reply
  3. Hehe, memang kalo full HS mah rada sulit ya Mbakje. Yang penting mah anak mendapat pendidikan yang memadai sesuai kebutuhan dan potensi dia ya, entah itu di sekolah atau di rumah atau kombinasi keduanya.

    Si Rumi beda lagi. Kita yang tawarin dia sekolah TK, dia tetap ga mau. Menjelang Ramadhan lalu kami ikutkan dia lomba mewarnai di sebuah TK baru yang bagus kayaknya. TK Quran di kompleks. Harapannya biar dapat feel kayak gimana sekolah itu. Ternyata dia masih ogah. Ya sudah, ga jadi sekolah deh sekarang.

    Selamat ya Kai, semoga betah dan berkembang jadi anak yang kreatif, pintar dan saleh, 😀

    Reply
  4. Sinta Nisfuanna

     /  July 20, 2014

    Saat orangtua melihat sekolah sebagai proses bukan hasil, bisa jadi membuat aktivitas belajar anak di sekolah menyenangkan, gak stres kayak kebanyakan sekarang

    Reply
    • “proses”… itu yg selama ini terlupakan kebanyakan orang tua ya mbak sinta.

      Ketika saya ngobrol dg kepala sekolah TK ini, ia cerita banyak orang tua murid yg menuntut anak2 mereka sudah bisa calistung begitu lulus TK, padahal TK ini tdk mengutamakan calistung.

      Bisa jadi tuntutan ini hasil dari sistem pendidikan kita yg orientasinya hasil dan bukan proses. Tuntutan utk bisa calistung ini juga kan karena hampir semua SD melakukan tes calistung bagi calon murid 😦

      Reply
  5. wah enak tuh umur 3,5 bisa TK. Di TK deket rumah gw gak boleh, walhasil playgroup dulu deh.. Gpp yg penting metode belajarnya cocok, gak ada tuh calistang calistung buat anak TK apalagi PG. Karena di SD deket rumah pun gak pake test masuk, hanya kuota saja

    Reply
    • iya fan… soalnya PAUD deket rumah malah belajar serius dan udah belajar calistung ditambah ada PR pula *tepok jidat*. Justru TK-nya Kai bener2 main sambil belajar. Alhamdulillah deh pokoknya. Semoga kita bisa memberikan yang terbaik buat anak kita masing2 ya fan 😉

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: