Brownies Pandan Kukus

Gara-gara kemarin Mas Kai minta “roti ijo”, maka saya bikinlah resep ini. Mulai dari nyiapin bahan-bahan, doi terus bertanya, “Udah mateng belum?”
Maka tatkala “roti ijo” ini sudah matang, lahaplah ia menyantapnya.

image

Mas Kai makan "roti ijo"


Bahan:

1. Tepung Terigu protein sedang 60 gram.
2. Telur 3 butir. Ambil satu pcs
putih telur dan 3 bagian kuning
telur nya.
3. Emulsifer seperempat sendok teh.
4. Gula pasir 40 gram.
5. Susu bubuk putih 27 gram.
6. Vanili setengah sendok teh
7. Baking powder seperempat sendok teh.
8. Pasta Pandan seperempat sendok teh. Tapi saya menggunakan daun pandan dan daun suji asli. Caranya; 1 lembar daun pandan + 10 lembar daun suci + 20 ml diblender lalu disaring airnya.
9. Margarin 30 gram. Lelehkan.
10. Kertas roti untuk alas loyang.

Cara Membuat:
1. Masukkan 3
pcs kuning telur, 1 pcs putih telur, gula pasir dan seperempat cake
emulsifernya.
2. Kocok semua bahan diatas dengan mixer sampai semua bahan tercampur rata dan mengembang.
3. Ambil tempat lagi. Masukkan tepung terigu, susu bubuk, baking powder, dan vanili. Aduk semua bahan sampai rata dan
ayak sampai halus.
4. Campurkan hasil ayakan bahan tsb ke dalam adonan utama. Mixer semua bahan sampai tercampur
sempurna.
5. Tuang margarin cair sedikit demi sedikit sambil terus dimixer sampai rata.
6. Masukkan pasta pandan atau air saringan daun pandan asli
7. Tuang adonan ke dalam loyang yang sudah dialasi kertas roti.
8. Kukus selama 45 – 60 menit dengan api kecil.

Selamat mencoba!

Sepuluh Ayat Pertama QS Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal Akhir Zaman

Mengapa 10 ayat pertama Surah Al Kahfi dapat menyelamatkan Ummat Muslim dari fitnah Dajjal

Blog Jumaidil Awal

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم قَالَ : « مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُورَةِ الْكَهْفِ عُصِمَ مِنَ الدَّجَّالِ » وفي رواية ـ من آخر سورة الكهف ـ

Dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menghafal sepuluh ayat dari bagian awal surat Al-Kahfi, niscaya dia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.” Dan di dalam riwayat lain disebutkan, “(sepuluh ayat) dari bagian akhir surat Al-Kahfi.” 

(Diriwayatkan oleh Muslim I/555 no. 809, Ahmad V/196 no. 21760, Ibnu Hibban III/366 no. 786, Al-Hakim II/399 no. 3391, dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman V/453 no. 2344).

Salah satu senjata paling ampuh dalam menghadapi Dajjal adalah hafalan 10 ayat pertama QS Al-Kahfi. Bagaimana bisa? Wallahu a’lam. Namun, bila kita mencoba menghayati ayat-ayat ini, ada beberapa hikmah tentang pengetahuan apa yang harus kita kuasai untuk mengidentifikasi fitnah-fitnah Dajjal di akhir zaman ini.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ…

View original post 1,563 more words

Menikmati Transportasi Publik di Jakarta

Selasa (4/11) kemarin jadwal libur saya. Pingin banget ke Indonesia International Book Fair (IIBF) 2014 di Istora Senayan, apalagi tiap hari ada undian dengan hadiah haji gratis dari Kerajaan Arab Saudi. Berhubung di rumah gak ada orang yang bisa jagain bocah-bocah, maka saya bawa Kai dan Qudsi ikut serta.

Kai yang memang hobi naik KRL dan busway sangat antusias waktu saya bilang mau ke pameran buku naik busway. Cukup rempong memang bawa bayi dan balita plus stroller naik kendaraan umum. Karena itu niat saya, nanti pulangnya naik taksi saja.

Maka perjalanan dimulai jam 09:30 pagi dari halte busway PGC yang deket banget dari rumah. So far, perjalanan cukup nyaman, karena stroller bisa terus di dorong sampai naik ke dalam bus, bahkan sampai ke tempat tujuan. Karena memang halte busway yang kami lalui sangat compatible untuk stroller atau kursi roda alias tidak ada tangga. Selain itu, jalur pejalan kaki di area Jl Jendral Sudirman cukup nyaman dan lebar untuk dilalui stroller. Hanya saja, proyek pembangunan stasiun MRT tepat di depan Pintu II Senayan membuat jalur yang dulunya rindang, jadi panas dan berdebu.

Sampai di pintu utama Istora, kami ngaso dulu karena haus dan lumayan capek jalan kaki buat kaki kecil Kai. Lanjut lihat-lihat stan Kerajaan Saudi yang ramai dengan pengunjung. Mungkin karena di stan ini dibagikan air zamzam, Quran, dan kurma gratis. Namun sayang kami hanya kebagian kurma saja. Lanjut lagi ke tengah arena Istora yang AC-nya lebih dingin sekalian ngadem 🙂 Di sana saya membeli beberapa buku jenis ensiklopedi anak-anak dengan harga miring. Lanjut lagi makan siang di bangku penonton yang terletak di belakang stan-stan itu. Namun baru beberapa suap, Kai minta pulang naik KRL dari Stasiun Kota. Weleh-weleh… Padahal niatnya kan ikut undian haji gratis yang diundi jam 16:30 😦

Ya sudahlah, mungkin karena suasana pameran buku saat itu sangat menjemukan buat Kai. Jadi saya mengalah. “Tapi sebelum pulang, sholat dzuhur dulu ya,” ujar saya pada Kai.

“Iya!” sahut Kai mendadak jadi bersemangat.

Selepas sholat, tiba-tiba Kai bertanya, “Bu, di pameran buku ada keleta gak?”

“Nanti kita cari ya,” jawab saya.

Pucuk di cinta ulam tiba. Ternyata stan penerbit T**a S**a**k*i tepat dekat mushola perempuan menjajakan buku stiker kereta api dengan harga miring!! 😀

Lanjut… kami pulang naik busway ke Kota yang terkoneksi dengan stasiun Jakarta Kota. Ceritanya batal deh pulang naik taksi 😥 Gapapa deh, sayang anak sayang anak 😀 So far sampai jalur koneksi ke stasiun Jakarta Kota perjalanan sangat nayaman. Stroller juga masih bisa melaju. Tapi….. saat hendak memasuki pintu stasiun Kota, tanjakan berupa tangga. sementara lift tidak berfungsi 😦

Yak, stroller harus dilipat ya nak. Rempong memang…. tapi alhamdulillah ada ibu-ibu baik banget bantuin saya sampai masuk ke dalam stasiun padahal dia sendiri gak mau ke stasiun. Subhanallah…

Lanjut… mulai dari stasiun sampai ke tempat tujuan, stroller tetap dilipat. Karena sayang sungguh disayang, tingkat ketinggian peron dan pintu kereta tidak sama sehingga stroller susah naik. Di dalam gerbong kereta pun tidak semua gerbongnya menyediakan tempat khusus kursi roda.

Kami turun di stasiun Cawang yang terkoneksi dengan halte busway. Bahu saya sudah mulai pegal menggendong Qudsi. Saya rayu Kai untuk naik taksi saja sampai rumah, tapi Kai emoh. Padahal di pintu stasiun taksi Ex***** dan Bl** B*** berjejer rapi menunggu penumpang. Para supir taksi itu juga menawarkan taksi mereka, tapi Kai ngotot naik busway sampai PGC. Ya sutra lah… Stroller tetap dilipat karena saya males ribet membukanya lagi, sementara dari Cawang ke rumah sudah dekat.

Kami sampai rumah jam 15:00. Cukup cepat untuk ukuran Jakarta yang sering macet. Alhamdulillah perjalanan lancar, nyaman, dan cepat. Mungkin karena kami jalan di jam lengang. Emang gak rempong gitu? Pastinya! Tapi Alhamdulillah banget sepanjang perjalanan ada aja orang baik yang membantu kami, mulai dari memberi kursi prioritas, membawakan tas, mendorong stroller, menggandeng dan menggendong Kai. Masyaallah…

Kesimpulan saya, transportasi publik di Jakarta cukup bisa dinikmati di jam non sibuk dan hanya di jurusan-jurusan tertentu. Misalnya, untuk busway, baru koridor I yang nyaman, karena armadanya banyak sehingga tidak berdesakan dan tidak lama menunggu. Selain itu, armadanya juga baru, sehingga AC masih dingin dan tidak mogok. Untuk KRL Commuter Jabodetabek, baru Stasiun Sudirman yang dikasih bintang lima, karena menyediakan eskalator dan lift yang berfungsi baik untuk penumpang rempong seperti saya.

Jadi, yaaa…. bintang tiga dari lima bintang deh buat transportasi publik Jakarta. Semoga ke depannya bisa bintang lima di semua koridor, halte, stasiun, dan jurusan… amiiin 😉