Menikmati Transportasi Publik di Jakarta

Selasa (4/11) kemarin jadwal libur saya. Pingin banget ke Indonesia International Book Fair (IIBF) 2014 di Istora Senayan, apalagi tiap hari ada undian dengan hadiah haji gratis dari Kerajaan Arab Saudi. Berhubung di rumah gak ada orang yang bisa jagain bocah-bocah, maka saya bawa Kai dan Qudsi ikut serta.

Kai yang memang hobi naik KRL dan busway sangat antusias waktu saya bilang mau ke pameran buku naik busway. Cukup rempong memang bawa bayi dan balita plus stroller naik kendaraan umum. Karena itu niat saya, nanti pulangnya naik taksi saja.

Maka perjalanan dimulai jam 09:30 pagi dari halte busway PGC yang deket banget dari rumah. So far, perjalanan cukup nyaman, karena stroller bisa terus di dorong sampai naik ke dalam bus, bahkan sampai ke tempat tujuan. Karena memang halte busway yang kami lalui sangat compatible untuk stroller atau kursi roda alias tidak ada tangga. Selain itu, jalur pejalan kaki di area Jl Jendral Sudirman cukup nyaman dan lebar untuk dilalui stroller. Hanya saja, proyek pembangunan stasiun MRT tepat di depan Pintu II Senayan membuat jalur yang dulunya rindang, jadi panas dan berdebu.

Sampai di pintu utama Istora, kami ngaso dulu karena haus dan lumayan capek jalan kaki buat kaki kecil Kai. Lanjut lihat-lihat stan Kerajaan Saudi yang ramai dengan pengunjung. Mungkin karena di stan ini dibagikan air zamzam, Quran, dan kurma gratis. Namun sayang kami hanya kebagian kurma saja. Lanjut lagi ke tengah arena Istora yang AC-nya lebih dingin sekalian ngadem 🙂 Di sana saya membeli beberapa buku jenis ensiklopedi anak-anak dengan harga miring. Lanjut lagi makan siang di bangku penonton yang terletak di belakang stan-stan itu. Namun baru beberapa suap, Kai minta pulang naik KRL dari Stasiun Kota. Weleh-weleh… Padahal niatnya kan ikut undian haji gratis yang diundi jam 16:30 😦

Ya sudahlah, mungkin karena suasana pameran buku saat itu sangat menjemukan buat Kai. Jadi saya mengalah. “Tapi sebelum pulang, sholat dzuhur dulu ya,” ujar saya pada Kai.

“Iya!” sahut Kai mendadak jadi bersemangat.

Selepas sholat, tiba-tiba Kai bertanya, “Bu, di pameran buku ada keleta gak?”

“Nanti kita cari ya,” jawab saya.

Pucuk di cinta ulam tiba. Ternyata stan penerbit T**a S**a**k*i tepat dekat mushola perempuan menjajakan buku stiker kereta api dengan harga miring!! 😀

Lanjut… kami pulang naik busway ke Kota yang terkoneksi dengan stasiun Jakarta Kota. Ceritanya batal deh pulang naik taksi 😥 Gapapa deh, sayang anak sayang anak 😀 So far sampai jalur koneksi ke stasiun Jakarta Kota perjalanan sangat nayaman. Stroller juga masih bisa melaju. Tapi….. saat hendak memasuki pintu stasiun Kota, tanjakan berupa tangga. sementara lift tidak berfungsi 😦

Yak, stroller harus dilipat ya nak. Rempong memang…. tapi alhamdulillah ada ibu-ibu baik banget bantuin saya sampai masuk ke dalam stasiun padahal dia sendiri gak mau ke stasiun. Subhanallah…

Lanjut… mulai dari stasiun sampai ke tempat tujuan, stroller tetap dilipat. Karena sayang sungguh disayang, tingkat ketinggian peron dan pintu kereta tidak sama sehingga stroller susah naik. Di dalam gerbong kereta pun tidak semua gerbongnya menyediakan tempat khusus kursi roda.

Kami turun di stasiun Cawang yang terkoneksi dengan halte busway. Bahu saya sudah mulai pegal menggendong Qudsi. Saya rayu Kai untuk naik taksi saja sampai rumah, tapi Kai emoh. Padahal di pintu stasiun taksi Ex***** dan Bl** B*** berjejer rapi menunggu penumpang. Para supir taksi itu juga menawarkan taksi mereka, tapi Kai ngotot naik busway sampai PGC. Ya sutra lah… Stroller tetap dilipat karena saya males ribet membukanya lagi, sementara dari Cawang ke rumah sudah dekat.

Kami sampai rumah jam 15:00. Cukup cepat untuk ukuran Jakarta yang sering macet. Alhamdulillah perjalanan lancar, nyaman, dan cepat. Mungkin karena kami jalan di jam lengang. Emang gak rempong gitu? Pastinya! Tapi Alhamdulillah banget sepanjang perjalanan ada aja orang baik yang membantu kami, mulai dari memberi kursi prioritas, membawakan tas, mendorong stroller, menggandeng dan menggendong Kai. Masyaallah…

Kesimpulan saya, transportasi publik di Jakarta cukup bisa dinikmati di jam non sibuk dan hanya di jurusan-jurusan tertentu. Misalnya, untuk busway, baru koridor I yang nyaman, karena armadanya banyak sehingga tidak berdesakan dan tidak lama menunggu. Selain itu, armadanya juga baru, sehingga AC masih dingin dan tidak mogok. Untuk KRL Commuter Jabodetabek, baru Stasiun Sudirman yang dikasih bintang lima, karena menyediakan eskalator dan lift yang berfungsi baik untuk penumpang rempong seperti saya.

Jadi, yaaa…. bintang tiga dari lima bintang deh buat transportasi publik Jakarta. Semoga ke depannya bisa bintang lima di semua koridor, halte, stasiun, dan jurusan… amiiin 😉

Advertisements
Leave a comment

2 Comments

  1. wah pengen ke pameran buku nih.
    busway emang bagus, keren lah.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: