Kai Mau ke Ka’bah Naik Pesawat

Jadi ceritanya yah… pasca disunat tempo hari, alhamdulillah Kai dapat banyak amplop–beserta isinya tentu saja–dari para tetangga, saudara, dan handai taulan. Panen nih Kai hihihi… Terima kasih yah buat om, tante, bude, pakde, dan eyang-eyang yang sudah berbaik hati 🙂 Dan tahukah saudara-saudara, apa celetukannya saat ‘panen’ ini?

“Kai mau ke Ka’bah ya naik pesawat, kan duitnya udah banyak,” ujar Kai ringan.

“Tapi duitnya belum cukup buat ke Ka’bah, Kai,” ujar saya.

“Kan duit Kai udah banyak,” sergahnya ngotot.

Baiklah Nak, semoga sisa duitnya Allah cukupkan yah untukmu mengunjungi Ka’bah… amiiin.

Entah dapat inspirasi dari mana, bahwa Ka’bah menjadi top of mind Kai saat duitnya banyak. Mungkin juga karena Kai sering saya pertontonkan film animasi “Muhammad The Last Prophet” dan “The Story of Prophet Ibrahim and Ismail“. Atau bisa jadi karena buku cerita “365 Hari Bersama Nabi Muhammad Saw“. Wallahua’lam. Alhamdulillah…

Foto kenangan saat haji tahun 2006. Semoga Allah izinkan kembali mengunjungi Baitullah sekeluarga, amiin.

Foto kenangan saat haji tahun 2006. Semoga Allah izinkan kembali mengunjungi Baitullah sekeluarga, amiin.

Anyway, selepas celetukannya itu, saya jadi terinspirasi untuk berumroh sekeluarga. Mimpi yang agak nekat yah hehehe… Ya iyalah nekat, wong buat umroh satu orang aja duitnya belum ada… Lha ini mau sekeluarga lagi?! Mimpi boleh kaan? Mumpung gratis 🙂

Melihat kondisi keuangan saat ini yang rasanya mustahil berumroh sekeluarga membuat hasrat lama saya kembali bergelora, yaitu umroh backpacker 😀 Semoga bapaknya bocah-bocah juga ikut tertantang yaahh 🙂 Dan saya merasa makin yakin setelah beberapa hari kemarin membaca sejumlah blog orang-orang yang telah menjalani umroh backpacker ini.

Ya Allah, ridhoilah keinginan hamba-Mu ini. Izinkanlah keinginan hamba-Mu ini terwujud… amiiin Ya Robbal’alamin. Labaiikallahumma labaik… Labaiikallasyarika labaiik…

QURAN and SCIENCE

Setelah kuciwa sama Harun Yahya dan karya-karyanya, alhamdulillah nemu website keren tentang fakta ilmiah2 dan korelasinya dengan kebenaran Quran dan Hadith. Here it is!

http://www.quranandscience.com/

Beware of Harun Yahya!

Salah satu buku karya Harun Yahya

Salah satu buku karya Harun Yahya

Sekitar 10 tahun lalu saya takjub pada sebuah buku berpenampilan eksklusif hard cover dan halaman isi art paper full color disertai foto-foto berwarna resolusi tinggi. Buku yang diterjemahkan dari judul asli “Evolution Deceit” ini ditulis oleh Harun Yahya. Buku ini memaparkan fakta-fakta kepalsuan teori evolusi Darwin dan menyajikan fakta-fakta ilmiah penciptaan makhluk hidup oleh Tuhan.

Mata saya berbinar saat itu. Ini buku yang bagus untuk berdakwah. Buku ini mampu menyajikan fakta ilmiah tentang kebenaran Allah SWT dan Al Quran. Penerbit buku ini yang juga menerbitkan buku-buku Islam, menjadikan buku ini sebagai produk andalan mereka. Sejak saat itulah saya nge-fan sama penulisnya, yaitu Harun Yahya.

Sejak saat itu pula saya haus akan karya-karya penulis berkebangsaan Turki yang bernama asli Adnan Octar ini. Oleh penerbit yang sama, buku maupun video karya Harun Yahya dipasarkan. Saya pun tak ragu untuk membaca dan menontonnya, karena Harun Yahya memadukan fakta ilmiah dan dalil Al Quran yang tak terbantahkan.

Kala itu akses internet belum seperti sekarang. Rasa penasaran saya hanya bisa dijawab lewat buku dan video. Maka tak sedikit koleksi karya Harun Yahya menghiasi kamar kos saya, dan tak ada sedikitpun keraguan dan kecurigaan saya terhadap Harun Yahya dan karya-karyanya.

Saat itu saya masih kuliah. Kini, selepas lulus pun saya masih setia berlangganan saluran Harun Yahya di youtube. Di sinilah awal mula kecurigaan saya. Mengapa A9 TV, saluran (channel) yang menayangkan video dan ceramah Harun Yahya, selalu menggunakan presenter wanita berpenampilan seksi dan berdandan menor? Mengapa pula para presenter menor tersebut selalu menggunakan celak mata bak Firaun dan wanita Mesir kuno? Saya tersadar, ternyata celak mata dan logo A9 TV tersebut tak lain adalah simbol All Seeing Eye yang sering dinisbatkan pada Dajjal!!!

A9 TV channel Harun Yahya

Logo A9 TV channel Harun Yahya. Nampak seperti mata satu bukan?

Lebih ternganga lagi saya ketika menonton di youtube pengakuan Harun Yahya sendiri bahwa dirinya adalah seorang anggota derajat 33 Grandmaster Freemason. Tahukah Anda bahwa anggota 33 derajat alias Grandmaster adalah pangkat tertinggi organisasi Freemason. Dan untuk meraih pangkat tersebut tidaklah mudah, nyawa taruhannya.

Dalam video tersebut, Harun Yahya dengan tenangnya berucap, bahwa keanggotaan Freemasonnya adalah sebuah peluang dakwah Islam. Menurutnya, ia bisa memperkenalkan Islam di kalangan anggota Freemason… How come!!

Video editan ini setidaknya bisa membuka mata kita siapa sebenarnya Harun Yahya.

Sejujurnya, kesadaran saya ini sudah muncul sejak tahun lalu. Namun saya ragu menulisnya di blog, karena data yang saya dapat belum mencukupi. Saya khawatir jika yang saya tulis ini malah menjadi fitnah. Karena memang tahun lalu sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada hasil pencarian di Google yang mendiskreditkan Harun Yahya. Hanya satu ulama dari tarekat Naqsabandiyah yang berkomentar tentangnya. Selain itu tidak saya temukan. Lagipula, menurut saya saat itu, tidak ada yang salah dengan isi karya-karyanya. Ia justru mengingatkan pembaca/pemirsanya untuk kembali pada Allah.

Inilah yang membuat saya gusar. Mengapa seorang grandmaster Freemason justru mengajak orang-orang untuk kembali pada Allah? Mengapa ia menyampaikan kebenaran Al Quran lewat fakta-fakta ilmiah yang memang tak terbantahkan? Bukankah Freemason adalah salah satu organisasi anti Tuhan? Apa sebenarnya misi orang ini?

Ternyata oh ternyata…. Saya baru menyadarinya sekarang setelah menonton ceramah Ustadz Bilal Philips. Misi Harun Yahya lewat buku-buku dan video-videonya tak lain adalah brainwash alias cuci otak. Secara haluuus sekali, ia hendak menanamkan ke dalam pikiran orang-orang beriman tentang konsep manunggaling kawula Gusti (penyatuan diri manusia dengan Tuhan).

Saya jadi teringat pada salah satu buku Harun Yahya yang pernah saya review di sini. Buku yang saya baca 10 tahun lalu ini memang sempat mengganggu pikiran saya. Saya sempat merasa menjadi tak berarti sebagai makhluk ciptaan-Nya. Salah satu ayat Quran yang digunakannya adalah Ali Imran: 14

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

Dalam buku tersebut, kata “pada pandangan manusia” merupakan sebuah bukti bahwa pandangan manusia sangat subyektif. Bahwa dunia yang kita indrai tak lain adalah impuls-impuls listrik di otak kita. Persis seperti film The Matrix, bahwa dunia ini sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah ‘pandangan’ fana, dimana dalam buku tersebut dijelaskan sebagai impuls-impuls listrik di otak kita yang berasal dari sistem saraf alat indra kita.

Jadi, menurut Harun Yahya, apa yang kita indrai adalah hasil ciptaan pikiran/otak kita. Dengan kata lain, kitalah yang ‘menciptakan’ dunia ini. Inilah konsep manunggaling kawula Gusti. Kita adalah Tuhan. Tuhan adalah kita. Nauzubillahiminzalik! Apa bedanya dengan Firaun dan Namrud yang mengaku sebagai Tuhan?!

Bahaya sekali pemikiran ini. Saya baru menyadari misi Si Adnan Octar ini. Semoga Allah selalu membimbing kita di jalan yang lurus. amiin.

Beware of Harun Yahya aka Adnan Octar!

Beware of Harun Yahya aka Adnan Octar!

Belum 4 Tahun Sudah Sunat

“Ha? Kai udah disunat? Yang bener?”

“Beneran Kai jadi disunat?”

“Masak sih? Kan masih kecil!”

Demikian sebagian besar ungkapan spontan para tetangga dan handai taulan. Saking gak percayanya, beberapa tetangga malah minta izin mengintip isi sarung Kai untuk memastikan.

Qodarullah, semua berawal dari permintaan Kai untuk disunat pada pekan kedua Desember 2014. Saya dan suami saat itu hanya menganggapnya sebagai permintaan sesaat yang mudah berubah dari seorang balita. Di luar dugaan kami, ternyata permintaan Kai tersebut konsisten dari hari ke hari. Permintaan tersebut makin membuncah ketika tetangga kami mengadakan pesta syukuran sunatan anaknya.

“Tanggal 24 ada sunatan massal dan pesertanya masih kurang sih…,” ujar suami yang bekerja di Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).

“Ya udah, Kai daftarin aja,” sahut saya. Toh kalau Kai belum berani, ya sudah tidak jadi saja. So, nothing to loose.

Jadi, bisa dibilang sunatannya Kai tanpa persiapan dan serba dadakan. Saya pun baru bisa mengambil cuti tahunan yang tinggal 1 hari pada hari ke-5 pasca sunat. Boro-boro mau bikin acara syukuran, beli sarung aja dadakan di pasar dekat kantor. Apalagi celana sunat, baru tahu kalau belinya kudu di apotek. Baru beli celana ini pas Kai sudah disunat. Tapi gak kepake juga sih, karena Kai lebih suka pakai sarung 😦

Intinya serba cuek lah. Tapi meski begitu, deep down inside sebenarnya saya deg-degan banget! Bolak-balik sholat hajat minta kelancaran sama Allah.

So far Kai konsisten dengan permintaan sunatnya. Untuk itu, sekalian saja saya kuatkan mentalnya dengan menjanjikan mainan kereta api jika sudah disunat dan mempertontonkan beberapa episode film animasi tentang sunat, mulai dari Upin Ipin Disunat, Entong Ogah Disunat, dan Sunatan Massal-nya Bang Jarwo. Alhamdulillah Kai tambah semangat, sampai hafal sejumlah dialog film-film tersebut. “Sakitnya cuma sebentar, yang penting dapat duitnya,” demikian secuplik dialog yang diingat Kai.

The D-Day

Kai semangat bangun pagi, mandi, sarapan, dan pakai baju gamis. Bahkan sambil duduk di teras, dengan semangat Kai ‘pamer’ ke tetangga yang lewat depan rumah bahwa dirinya akan disunat. Sebagian besar tidak percaya dengan pernyataannya. Apalagi yang ngomong seorang anak yang belum genap 4 tahun. Para tetangga baru percaya Kai akan sunat saat kami sekeluarga keluar rumah.

Mainan kereta api hadiah sunat

Mainan kereta api hadiah sunat

Di tempat sunatan massal sudah ramai dengan anak-anak dan para pengantar. Sunatan massal ini dalam rangka ulang tahun sebuah laboratorium klinik di bilangan Duren Tiga, Jakarta, bekerja sama dengan BSMI selaku operator sunat. Ruangan lab klinik berlantai dua tersebut berubah layaknya tempat hiburan anak-anak. Ada seperangkat home theater, balon warna-warni, kue-kue, plus dispenser kopi dan teh, serta nasi dan fried chicken sebuah waralaba terkenal.

Menjelang prosesi sunat, saya berikan Kai sebuah permen loli pop besar. Selain karena terinspirasi film Upin Ipin Disunat, ini untuk mengalihkan perhatian Kai saat disunat oleh dokter 🙂

Alhamdulillah Kai berhasil melalui prosesi sunat dengan lancar. Keluar dari ruang sunat Kai langsung mencari saya dan menagih mainan kereta api. Saya menepati janji. Langsung saat itu juga Kai merangkai rel dan gerbong-gerbong keretanya di luar ruang sunatan 🙂

Day 2

Selang kurang lebih satu jam setelah proses khitan/sunat kemarin, efek bius menghilang. Inilah saat sedu sedan dimulai.

Bius hilang senyumnya juga hilang :)

Bius hilang senyumnya juga hilang 🙂

Kai mulai merasakan nyeri dan sering mengaduh-aduh sejak saat itu. Semalam setelah sunat pun Kai tidak bisa tidur nyenyak. Di sinilah kesabaran kami diuji. Mulai dari memberikan obat pereda nyeri, menghibur, memeluk, serta berdoa dan berzikir bersamanya. Ada kalanya ia malah marah-marah dan menangis. Hal yang membuat saya menangis adalah Kai takut pipis. Ia mati-matian menahan pipis hingga 16 jam!

Jam 10 malam Kai terbangun ingin pipis. Karena saya sedang menyusui adiknya, bapaknya lah yang akan mengantarnya ke kamar mandi. Namun Kai menolak. Ia minta pipis sama ibu. Usai menyusui, buru-buru saya angkat Kai ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, ketika pipisnya sudah di ujung, tiba-tiba Kai takut untuk membuang air seninya. “Kai gak mau pipis! Kai gak mau pipis!” teriaknya sambil menangis jejeritan.

“Kai, kalau pipisnya gak dibuang, nanti badan Kai malah sakit. Itu air kotor yang harus dibuang,” saya mencoba menjelaskan sebisa saya. Namun Kai terus menolak pipis sambil teriak-teriak.

“Kai udah 12 jam lebih belum pipis. Ayo pipis dulu!” seru saya mulai panik karena mendengar adiknya terbangun dan menangis di kamar depan. Suami saya berusaha menenangkan si kecil, namun Qudsi malah menangis meraung-raung.

Drama berakhir saat akhirnya Kai melepaskan air seninya. Mungkin nyeri awalnya, namun lega setelahnya. “Ibu, Kai udah gak sakit,” ujarnya sambil tertawa dengan mata basah sisa air mata. “Alhamdulillah,” ujar saya lega sekaligus gemes. Dasar bocah >.<

Day 3

Saya harus masuk kerja, karena baru bisa cuti pada hari kelima pasca sunat. Suami saya malah harus tugas keluar kota. Asli sangat rempong sekali di rumah, karena jadi ada dua bayi di rumah. Sejak hari pertama sunat, Kai apa-apa maunya sambil tiduran. Mungkin karena memang nyeri untuk banyak bergerak. Dari makan, main, sampai mandi, Kai maunya sambil tiduran. Kecuali pipis atau pup, Kai hanya mau di kamar mandi.

Abis sunat maunya boboan aja pakai sarung ditaliin kayak Upin Ipin

Abis sunat maunya boboan aja pakai sarung ditaliin kayak Upin Ipin

Jujur saya kasihan sama ibu saya, mana ART baru bisa datang siang hari. Tapi apa mau dikata, saya harus ngantor. Drama hari ketiga adalah ketika rombongan ibu mertua, kakak ipar dan para krucils (keponakan-keponakan. Red) datang saat saya dan suami di kantor. Kami yang memang tidak menyiapkan syukuran/kenduri apa pun jadi cukup rempong. Ditambah lagi hari itu Jakarta hujan deras tanpa henti. Ibu jadi sempat esmosi juga saat itu 😦 Saya maklum, karena beliau pasti sangat lelah.

Day 4 – 5

Sejak hari keempat Kai jauh lebih baik. Ia sudah bisa jalan, lompat, bahkan panjat-panjat. Namun ia belum bisa pakai celana, karena masih ada clamp yang menjepit penisnya. FYI, Kai disunat menggunakan metode smart clamp. Dan pada hari kelima clamp-nya harus dibuka oleh dokter.

Maka hari ini Kai kembali ke tempatnya disunat dulu untuk dibuka clamp-nya. Saya tidak bisa ikut menemani Kai karena harus menjaga adiknya yang sedang rewel karena sakit sembelit. Jadi Kai hanya ditemani bapaknya.

Ternyata pasca dilepasnya clamp, penisnya kembali nyeri. Maka Kai kembali berbaring saja. Obat pereda nyeri pun kembali saya berikan. Bapaknya pun memberinya permen loli pop untuk menghiburnya dan melupakan rasa sakitnya.

Day 9 – Sekarang

Masuk hari kesembilan pasca sunat, Alhamdulillah Kai sudah jauuuuh lebih baik. Ia sudah lincah dan sudah bisa pakai celana, hanya saja ia masih enggan pakai celana dalam. Namun di hari ke-11 mau tak mau ia harus pakai CD karena ingin ikut ke kantor saya. Dan ternyata baik-baik saja tuh alias sudah sembuh 🙂

image

Alhamdulillah Allah telah mudahkan semuanya, meski harus kami lalui berbagai drama yang menguji kesabaran kami. Puji syukur Allah telah kabulkan doa-doa kami. Alhamdulillahirabbli’alamin…

*** Sedikit catatan, saat ikut sunatan massal kemarin, tidak sedikit anak yang lebih besar dari Kai tidak jadi disunat lantaran takut. Wallahua’lam apa yang menyebabkan mereka takut. Tapi satu yang pasti, jangan pernah menakut-nakuti anak perihal sunat. Dan jangan menjadikan sunat sebagai hukuman, seperti “Hayo, ntar disunat lho!”