Belum 4 Tahun Sudah Sunat

“Ha? Kai udah disunat? Yang bener?”

“Beneran Kai jadi disunat?”

“Masak sih? Kan masih kecil!”

Demikian sebagian besar ungkapan spontan para tetangga dan handai taulan. Saking gak percayanya, beberapa tetangga malah minta izin mengintip isi sarung Kai untuk memastikan.

Qodarullah, semua berawal dari permintaan Kai untuk disunat pada pekan kedua Desember 2014. Saya dan suami saat itu hanya menganggapnya sebagai permintaan sesaat yang mudah berubah dari seorang balita. Di luar dugaan kami, ternyata permintaan Kai tersebut konsisten dari hari ke hari. Permintaan tersebut makin membuncah ketika tetangga kami mengadakan pesta syukuran sunatan anaknya.

“Tanggal 24 ada sunatan massal dan pesertanya masih kurang sih…,” ujar suami yang bekerja di Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI).

“Ya udah, Kai daftarin aja,” sahut saya. Toh kalau Kai belum berani, ya sudah tidak jadi saja. So, nothing to loose.

Jadi, bisa dibilang sunatannya Kai tanpa persiapan dan serba dadakan. Saya pun baru bisa mengambil cuti tahunan yang tinggal 1 hari pada hari ke-5 pasca sunat. Boro-boro mau bikin acara syukuran, beli sarung aja dadakan di pasar dekat kantor. Apalagi celana sunat, baru tahu kalau belinya kudu di apotek. Baru beli celana ini pas Kai sudah disunat. Tapi gak kepake juga sih, karena Kai lebih suka pakai sarung 😦

Intinya serba cuek lah. Tapi meski begitu, deep down inside sebenarnya saya deg-degan banget! Bolak-balik sholat hajat minta kelancaran sama Allah.

So far Kai konsisten dengan permintaan sunatnya. Untuk itu, sekalian saja saya kuatkan mentalnya dengan menjanjikan mainan kereta api jika sudah disunat dan mempertontonkan beberapa episode film animasi tentang sunat, mulai dari Upin Ipin Disunat, Entong Ogah Disunat, dan Sunatan Massal-nya Bang Jarwo. Alhamdulillah Kai tambah semangat, sampai hafal sejumlah dialog film-film tersebut. “Sakitnya cuma sebentar, yang penting dapat duitnya,” demikian secuplik dialog yang diingat Kai.

The D-Day

Kai semangat bangun pagi, mandi, sarapan, dan pakai baju gamis. Bahkan sambil duduk di teras, dengan semangat Kai ‘pamer’ ke tetangga yang lewat depan rumah bahwa dirinya akan disunat. Sebagian besar tidak percaya dengan pernyataannya. Apalagi yang ngomong seorang anak yang belum genap 4 tahun. Para tetangga baru percaya Kai akan sunat saat kami sekeluarga keluar rumah.

Mainan kereta api hadiah sunat

Mainan kereta api hadiah sunat

Di tempat sunatan massal sudah ramai dengan anak-anak dan para pengantar. Sunatan massal ini dalam rangka ulang tahun sebuah laboratorium klinik di bilangan Duren Tiga, Jakarta, bekerja sama dengan BSMI selaku operator sunat. Ruangan lab klinik berlantai dua tersebut berubah layaknya tempat hiburan anak-anak. Ada seperangkat home theater, balon warna-warni, kue-kue, plus dispenser kopi dan teh, serta nasi dan fried chicken sebuah waralaba terkenal.

Menjelang prosesi sunat, saya berikan Kai sebuah permen loli pop besar. Selain karena terinspirasi film Upin Ipin Disunat, ini untuk mengalihkan perhatian Kai saat disunat oleh dokter 🙂

Alhamdulillah Kai berhasil melalui prosesi sunat dengan lancar. Keluar dari ruang sunat Kai langsung mencari saya dan menagih mainan kereta api. Saya menepati janji. Langsung saat itu juga Kai merangkai rel dan gerbong-gerbong keretanya di luar ruang sunatan 🙂

Day 2

Selang kurang lebih satu jam setelah proses khitan/sunat kemarin, efek bius menghilang. Inilah saat sedu sedan dimulai.

Bius hilang senyumnya juga hilang :)

Bius hilang senyumnya juga hilang 🙂

Kai mulai merasakan nyeri dan sering mengaduh-aduh sejak saat itu. Semalam setelah sunat pun Kai tidak bisa tidur nyenyak. Di sinilah kesabaran kami diuji. Mulai dari memberikan obat pereda nyeri, menghibur, memeluk, serta berdoa dan berzikir bersamanya. Ada kalanya ia malah marah-marah dan menangis. Hal yang membuat saya menangis adalah Kai takut pipis. Ia mati-matian menahan pipis hingga 16 jam!

Jam 10 malam Kai terbangun ingin pipis. Karena saya sedang menyusui adiknya, bapaknya lah yang akan mengantarnya ke kamar mandi. Namun Kai menolak. Ia minta pipis sama ibu. Usai menyusui, buru-buru saya angkat Kai ke kamar mandi. Sampai di kamar mandi, ketika pipisnya sudah di ujung, tiba-tiba Kai takut untuk membuang air seninya. “Kai gak mau pipis! Kai gak mau pipis!” teriaknya sambil menangis jejeritan.

“Kai, kalau pipisnya gak dibuang, nanti badan Kai malah sakit. Itu air kotor yang harus dibuang,” saya mencoba menjelaskan sebisa saya. Namun Kai terus menolak pipis sambil teriak-teriak.

“Kai udah 12 jam lebih belum pipis. Ayo pipis dulu!” seru saya mulai panik karena mendengar adiknya terbangun dan menangis di kamar depan. Suami saya berusaha menenangkan si kecil, namun Qudsi malah menangis meraung-raung.

Drama berakhir saat akhirnya Kai melepaskan air seninya. Mungkin nyeri awalnya, namun lega setelahnya. “Ibu, Kai udah gak sakit,” ujarnya sambil tertawa dengan mata basah sisa air mata. “Alhamdulillah,” ujar saya lega sekaligus gemes. Dasar bocah >.<

Day 3

Saya harus masuk kerja, karena baru bisa cuti pada hari kelima pasca sunat. Suami saya malah harus tugas keluar kota. Asli sangat rempong sekali di rumah, karena jadi ada dua bayi di rumah. Sejak hari pertama sunat, Kai apa-apa maunya sambil tiduran. Mungkin karena memang nyeri untuk banyak bergerak. Dari makan, main, sampai mandi, Kai maunya sambil tiduran. Kecuali pipis atau pup, Kai hanya mau di kamar mandi.

Abis sunat maunya boboan aja pakai sarung ditaliin kayak Upin Ipin

Abis sunat maunya boboan aja pakai sarung ditaliin kayak Upin Ipin

Jujur saya kasihan sama ibu saya, mana ART baru bisa datang siang hari. Tapi apa mau dikata, saya harus ngantor. Drama hari ketiga adalah ketika rombongan ibu mertua, kakak ipar dan para krucils (keponakan-keponakan. Red) datang saat saya dan suami di kantor. Kami yang memang tidak menyiapkan syukuran/kenduri apa pun jadi cukup rempong. Ditambah lagi hari itu Jakarta hujan deras tanpa henti. Ibu jadi sempat esmosi juga saat itu 😦 Saya maklum, karena beliau pasti sangat lelah.

Day 4 – 5

Sejak hari keempat Kai jauh lebih baik. Ia sudah bisa jalan, lompat, bahkan panjat-panjat. Namun ia belum bisa pakai celana, karena masih ada clamp yang menjepit penisnya. FYI, Kai disunat menggunakan metode smart clamp. Dan pada hari kelima clamp-nya harus dibuka oleh dokter.

Maka hari ini Kai kembali ke tempatnya disunat dulu untuk dibuka clamp-nya. Saya tidak bisa ikut menemani Kai karena harus menjaga adiknya yang sedang rewel karena sakit sembelit. Jadi Kai hanya ditemani bapaknya.

Ternyata pasca dilepasnya clamp, penisnya kembali nyeri. Maka Kai kembali berbaring saja. Obat pereda nyeri pun kembali saya berikan. Bapaknya pun memberinya permen loli pop untuk menghiburnya dan melupakan rasa sakitnya.

Day 9 – Sekarang

Masuk hari kesembilan pasca sunat, Alhamdulillah Kai sudah jauuuuh lebih baik. Ia sudah lincah dan sudah bisa pakai celana, hanya saja ia masih enggan pakai celana dalam. Namun di hari ke-11 mau tak mau ia harus pakai CD karena ingin ikut ke kantor saya. Dan ternyata baik-baik saja tuh alias sudah sembuh 🙂

image

Alhamdulillah Allah telah mudahkan semuanya, meski harus kami lalui berbagai drama yang menguji kesabaran kami. Puji syukur Allah telah kabulkan doa-doa kami. Alhamdulillahirabbli’alamin…

*** Sedikit catatan, saat ikut sunatan massal kemarin, tidak sedikit anak yang lebih besar dari Kai tidak jadi disunat lantaran takut. Wallahua’lam apa yang menyebabkan mereka takut. Tapi satu yang pasti, jangan pernah menakut-nakuti anak perihal sunat. Dan jangan menjadikan sunat sebagai hukuman, seperti “Hayo, ntar disunat lho!”

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

9 Comments

  1. kai masih kecil tapi udah tahu sunat ya, mba. adik saya dulu kalau nggak salah kelas 3 sd disunatnya

    Reply
    • iya alhamdulillah. Umur yang ‘lazim’ untuk disunat sepertinya memang beda-beda yah menurut budaya. Karena saya di lingkungan Betawi dan Jawa yang lazim menyunat anaknya di usia SD, maka Kai dianggap tak lazim. Sementara teman-teman saya yang menikah dengan orang Arab dan dekat dengan budaya Arab, rata-rata menyunat anaknya saat bayi. Kalau saya sih yang penting anak dan ortunya siap 😉

      Reply
  2. Kalau aku ikutan baksos, rata2 pd disunat di bawah 5 tahun lhooo…

    Reply
    • yup, tiap budaya punya kelaziman usia yang ‘wajar’ untuk sunat. Dulu waktu saya KKN di Cianjur, pesertanya 70% usia SD dan 30% batita 🙂

      Reply
  3. mas Kaaaaai….bang Auf juga udah minta disunat terus nih…eninnya nawarin di tasik malah
    doain bisa segera terwujud yaaaaa ^_^

    Reply
    • Kalo di Jakarta dikhitan di BSMI aja Bang Auf, biar ketemu abinya Kai 🙂 Kalo di Tasik sekalian liburan atuh nya hehe… Insyaallah segera terwujud dengan lancar yah, anak pintar 😉

      Reply
  4. super berani si kai masih kecil sdh minta disunat…kantorku berapa kali ngadain sunat massal, belum pernah liat peserta seumuran Kai daftar sunat….salam kenal mbak..

    Reply
  1. Kai Mau ke Ka’bah Naik Pesawat | Rumah Mbakje

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: