From Gamer to Hafidz Quran

Beberapa hari lalu saya tertegun melihat salah satu foto di akun instagram Aa Gym. Ini dia capture fotonya:

Muhammad Ghaza Al Ghazali bin Abdullah Gymnastiar

Muhammad Ghaza Al Ghazali bin Abdullah Gymnastiar

Seperti tertera pada foto, Aa Gym sendiri mengomentari bahwa anak pangais bungsunya ini saat kecil maniak game. Saya pun mengakui hal itu, karena saya pernah menjadi keluarga besar Daarut Tauhid (DT) dan MQ coorporation.

Masih segar dalam ingatan saya, sekitar tahun 2005. Saat itu adalah sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Masjid DT sesak oleh para pengejar laillatul qadr. Jalan Gegerkalong Girang pun macet, karena dipadati oleh parkir kendaraan dan lalu lalang manusia.

Saat kebanyakan orang sedang berjamaan shalat tarawih, saya baru melangkahkan kaki pulang merampungkan pekerjaan sebagai pewarta di Radio MQ FM. Rasanya gimanaaa gitu deh, orang-orang pada tarawih, saya malah sibuk bekerja. Tapi yang membuat saya lebih ‘gimana gitu’ adalah ketika Ghaza (kecil) ngeloyor begitu saja asik dengan sepedanya lewat di depan saya. Ia tidak peduli dengan pandangan orang di sekitarnya yang mungkin membatin sama dengan saya, “Anak kyai kok malam Ramadhan malah main sepeda.”

Yah… itulah anak-anak. Saya rasa bukan hanya Ghaza kecil yang berlaku demikian, hampir semua anak-anak bersikap dan bertingkah yang membuat orang dewasa menyebutnya baong alias bandel alias nakal. Namun siapa sangka si ‘baong‘ Ghaza di kemudian hari menjadi penghapal Quran atau hafidz Quran.

Sebuah teguran buat saya sebagai orang tua, bahwa kesolehan dan prestasi anak-anak kita di kemudian hari bukanlah karena andil orang tuanya semata, melainkan karena andil besar Allah SWT. Maka, doa orang tua yang tak pernah putus untuk anak-anaknya merupakan senjata. Bukankah doa adalah senjatanya orang beriman?

Rabbi habli minassolihiin… amiin.

Advertisements