Asuransi Terbaik

Untuk para orang tua (termasuk saya), inilah asuransi terbaik untuk anak-anak kita

ihei

budi-ashari

Ditulis oleh Budi Ashari

Bukti cinta orang tua sepanjang jalan adalah mereka memikirkan masa depan anaknya. Mereka tidak ingin anak-anak kelak hidup dalam kesulitan. Persiapan harta pun dipikirkan masak-masak dan maksimal.

Para orang tua sudah ada yang menyiapkan tabungan, asuransi bahkan perusahaan. Rumah pun telah dibangunkan, terhitung sejumlah anak-anaknya. Ada juga yang masih bingung mencari-cari bentuk penyiapan masa depan terbaik. Ada yang sedang memilih perusahaan asuransi yang paling aman dan menjanjikan. Tetapi ada juga yang tak tahu harus berbuat apa karena ekonomi hariannya pun pas-pasan bahkan mungkin kurang.

Bagi yang telah menyiapkan tabungan dan asuransi, titik terpenting yang harus diingatkan adalah jangan sampai kehilangan Allah. Hitungan detail tentang biaya masa depan tidak boleh menghilangkan Allah yang Maha Tahu tentang masa depan. Karena efeknya sangat buruk. Kehilangan keberkahan. Jika keberkahan sirna, harta yang banyak tak memberi manfaat kebaikan sama sekali bagi anak-anak kita.

Lihatlah kisah berikut ini:

Dalam buku Alfu Qishshoh wa Qishshoh oleh…

View original post 963 more words

Advertisements

Kai Takut Sama Eyang

Pagi tadi saya temui Kai duduk di pojokan lemari sambil minum susu UHT cokelat.

Saya (S): Kai kok minum susunya di sini? Kenapa?

Kai (K): (senyum malu-malu)

S: Kai lagi ngumpet?

K: (mengangguk)

S: Kenapa ngumpet? Kai takut?

K: (mengangguk)

S: Takut sama apa?

K: Sama eyang

S: Kenapa takut sama eyang?

K: suka mal(r)ah

S: (speechless) Jadi, Kai minum susu cokelat sambil ngumpet karena takut dimarahi eyang?

K: Iya

S: 😥

Gagal Meeting Sukses Piknik

Sabtu (09/05) kemarin saya berencana menghadiri temu penulis web abiummi.com di seputaran Depok Town Square (Detos). Berhubung tidak ada orang yang bisa dititipi bocah-bocah, maka saya memutuskan membawa serta Kai (4 tahun) dan Qudsi (11 bulan). Lagipula kalau saya libur kerja, bocah-bocah pasti maunya ikut kemanapun ibunya pergi. Apalagi kalau perginya naik kereta, Kai sudah pasti minta ikut 😀

Sabtu pagi yang cerah. Kai dan Qudsi sudah beraktivitas, mulai dari berjemur hingga main sepeda, meskipun belum mandi 😀 Tapi setelah sarapan, Kai paling antusias mandi pagi karena mau ikut naik kereta rel listrik (KRL) ke Stasiun Pondok Cina. Detos memang terletak tak jauh dari Stasiun Pondok Cina.

Singkat cerita, pagi itu setelah Kai dan Qudsi sudah rapi, saya pun menyiapkan tas gembolan. Maklum, membawa balita itu artinya membawa serta perlengkapan makan/minum beserta baju dan popok gantinya. Nah, saat sedang menyiapkan tas gembolan itulah saya tersandung kaki kursi. Rasa sakitnya membuat saya meringis seketika. Ingin rasanya rebahan saja, namun mengingat janji yang sudah kadung saya buat, maka saya abaikan rasa sakit itu. Dengan sedikit terpincang-pincang, saya lanjutkan mengemasi tas, lalu menggendong Qudsi yang bobotnya 10 kg.

Kai di KRL menuju St Pd Cina

Kai di KRL menuju St Pd Cina

Sampai di Stasiun Pondok Cina sekitar jam 11 lewat. Saya duduk agak lama di kursi peron, karena kaki mulai cenut-cenut. Saya baru tahu kalau lokasi pertemuan dipindah ke Sawangan setelah whatsapp-an dengan empunya hajat. Itu artinya, kami harus meneruskan perjalanan sampai Stasiun Depok Baru dan berjalan kaki ke terminal Depok yang dilanjutkan dengan naik angkot dan berjalan kaki lagi. Dengan kaki yang mulai cenut-cenut, saya agak ragu. Namun saya akan mengusahakan sampai di tempat.

“Ibu, Kai mau makan di danau,” pinta Kai.

Saya memang merencanakan ‘piknik’ di pinggir danau UI sambil anak-anak makan siang. Lokasi danau UI memang tak jauh dari Stasiun Pondok Cina.

Kai & Qudsi bergaya di pinggir danau UI

Kai & Qudsi bergaya di pinggir danau UI

Meskipun piknik ala kadarnya–karena lupa bawa alas duduk :p –tapi Kai dan Qudsi tampak hepi. Berkali-kali Qudsi menggaruk-garuk tanah dengan sendok. Kai juga bolak-balik memperhatikan semut-semut yang keluar masuk tanah, sehingga pertanyaannya tentang semut dan tanah bermacam-macam. Ternyata hikmah lupa bawa alas duduk adalah anak-anak jadi kreatif hehehehe… #ngeles 🙂

mejeng dulu yaa :)

mejeng dulu yaa 🙂

Usai makan, kami sholat zuhur di Masjid UI yang letaknya di pinggir danau. Air wudhu benar-benar menyegarkan di siang yang terik hari itu. Tapi usai wudhu, PR besar buat saya yang harus naik tangga sambil menggendong Qudsi dengan kaki pincang. FYI, tempat sholat perempuan ada di lantai dua 😦

Usai sholat, saya baru menyadari kaki saya bengkak! Akhirnya saya menyerah. Saya tidak sanggup menghadiri pertemuan di Sawangan 😦 hix.. hix… Maka setelah leyeh-leyeh di masjid, kami memutuskan untuk pulang. Namun sebelum pulang Kai minta dibelikan minum, karena bekal minum kami habis tapi tenggorokan rasanya masih hauuuus banget karena cuaca yang panas terik.

Memang manusia hanya bisa berencana yah, Allah SWT yang menentukan. Qodarullah hari itu saya gagal meeting, tapi ‘sukses’ piknik seadanya dengan kaki pincang. Qodarullah juga pulangnya langsung didatangi tukang urut, karena tetangga melihat saya jalan pincang dan langsung inisiatif manggil ‘Nek Muna’.

Alhamdulillah setelah diurut sudah lebih baik meskipun masih agak sakit. Semoga bisa segera normal dan kembali mengejar kereta 😀 amiiin…