Menjadi Orang Tua Asuh Anak ‘Bermasalah’

Bebarapa hari belakangan saya terlibat proses administratif Kejar Paket B di Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur. Singkat cerita, saya memberanikan diri menjadi orang tua asuh dari pemuda 16 tahun yang putus sekolah saat ia duduk di kelas 2 SMP.

Sebenarnya niatan ini sudah lama ingin saya wujudkan, namun saya merasa ragu akan kemampuan finansial keluarga kami, ditambah lagi dengan konsekuensi mengasuh anak orang lain yang notabene ‘bermasalah’ di sekolahnya.

Sebut saja “Ardi”. Ia dikeluarkan dari sekolah saat duduk di kelas 2 SMP lantaran nilai rapornya kosong karena bolos dua bulan berturut-turut tanpa diketahui ibunya. Pemuda yatim ini setiap hari pamit berangkat ke sekolah pada ibunya yang bekerja sebagai buruh cuci/setrika dari rumah ke rumah-termasuk rumah saya. Namun belakangan baru ketahuan ternyata Ardi tidak ke sekolah, melainkan main PS.

Ibunya luput mengawasi anak bungsunya ini lantaran setiap hari sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Suaminya sudah lama meninggal dunia, sementara anak tertuanya pun sibuk bekerja di sebuah pabrik elektronik dan sering pulang larut malam. Bahkan belakangan, anak tertuanya di-PHK karena sering sakit-sakitan.

Surat drop out dari sekolah kala itu bagaikan petir di siang bolong buat sang ibu. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi agar anaknya bisa sekolah, sementara sekolah swasta mahal biayanya. Karena itu, sang ibu memberanikan diri menghadap kepala sekolah agar anaknya diberi kesempatan belajar lagi. Singkat cerita, kepala sekolah memberikan kesempatan Ardi untuk sekolah lagi meskipun harus tinggal kelas.

Namun ternyata kesempatan kedua tersebut disia-siakan oleh Ardi. Ia kembali bolos sekolah dan main PS seperti sebelumnya. Akhirnya rapornya kosoang dan ia kembali DO. Ibunya pun marah, sedih, prihatin, campur aduk jadi satu. Maka kesempatan berikutnya adalah bersekolah di sekolah swasta atas biaya dari kerabat almarhum suaminya. Namun lagi-lagi kejadian serupa berulang di sekolahnya yang baru. Akhirnya Ardi kembali DO dan tak ada lagi yang mau membiayai sekolahnya.

Sang ibu benar-benar muntab. “Mau kamu apa sih Ardi?!!!”

Lalu Ardi mengungkapkan bahwa ia ingin bekerja sebagai buruh perkebunan di Puncak seperti tetangganya. Ibunya pun mengabulkan keinginan anaknya itu. Sang ibu lalu menitipkan Ardi pada mantan tetangganya yang kini tinggal di kawasan Puncak.

Hasilnya? Baru dua pekan di sana, Ardi minta pulang. Alasannya tidak cocok dengan pekerjaan itu….. (capee deeh!!!)

Maka selama dua tahun Ardi menganggur. Ia tak sekolah, tak pula bekerja. Terkadang dengan entengnya ia minta uang jajan pada ibunya yang tengah bekerja.

Jujur saya amat prihatin melihat kenyataan ini. Dengan kondisi Ardi yang nganggur seperti itu, saya khawatir ia terjebak pada aktivitas negatif (na’uzubillahiminzalik). Karena itu saya beranikan diri untuk ikut turun tangan ‘menyelamatkan’ masa depan salah satu tunas bangsa ini (taelah).

Saya memutuskan untuk mengikutsertakan Ardi di kelas Kejar Paket B lantaran usianya yang sudah 16 tahun namun belum memiliki ijazah SMP. Sementara jika Ardi ingin melamar kerja ataupun ikut kursus keterampilan di Balai Latihan Kerja (BLK), minimal ia harus punya ijazah SMA. Karena itu, untuk mengejar ketertinggalannya, Ardi saya daftarkan Kejar Paket B di PKBM Negeri 12 yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya. Dan jika ia lulus Kejar Paket B, maka lanjut ke Kejar Paket C insyaallah.

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

PKBM Negeri 12 Tengah, Jakarta Timur

Dua hari pertama sekolah di PKBM, ia selalu datang terlambat. Ibunya sudah marah-marah karena Ardi selalu bangun kesiangan. Bahkan saking gemesnya, ibu saya pun ikut emosi dan menyarankan saya untuk membatalkan menjadi orang tua asuh dari anak ‘bermasalah’ ini.

Bismillah… semoga Allah selalu meluruskan niat saya. Tidak ada yang bisa membolak-balik hati seseorang kecuali Allah SWT. Semoga Allah membukakan hati dan pikiran Ardi agar ia bersemangat dan mau berjuang untuk masa depannya dan Memudahkan jalannya untuk mendapatkan ijazah SMP dan SMA secara jujur… amiiin ya Allah.

Advertisements
Previous Post
Leave a comment

2 Comments

  1. Assalamu’alaikum,

    Blognya Jati ya? Hehehe… ane follow deh…
    Thanks udh berkunjung ya fren…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: