Tragedi Mina ‘Sebenarnya’

Lepas sholat Jumat siang tadi, saya ngobrol dengan teman saya yang baru banget pulang dari liputan haji 1436 H tahun ini. Mas Totok Sulistiyanto, namanya. Beliau ini bertugas bersama dengan para petugas haji Kemenag. Jadi, selama 2,5 bulan Mas Totok bertugas di tanah suci, sebelum kloter pertama tiba hingga kloter terakhir pulang.

Selepas bertanya kabar dan ‘kangen-kangenan’, saya melontarkan rasa penasaran saya terkait tragedi Mina kemarin. Intinya adalah wallahua’lam bishawab tentang apa penyebab sebenarnya. Mengapa demikian? Karena sampai detik ini dugaan-dugaan yang beredar luas di media sosial tidak pernah terkonfirmasi kebenarannya. Pemerintah Saudi pun tidak pernah mempublikasikan rekaman cctv kejadian. Padahal ada ribuan cctv di sana.

Tentang isu adanya penutupan jalan, karena ada anggota kerajaan yang lewat, telah terbantahkan lewat medsos beberapa waktu lalu. Karena foto-foto yang beredar ternyata adalah kejadian satu tahun lalu. Itu pun bukan saat musim haji. Lagipula, untuk tamu VVIP, ada jalur sendiri untuk melontar jumrah, yaitu lewat bawah tanah atau naik helikopter. Terbukti dengan adanya beberapa helipad di dekat jamarat. Para tamu kerajaan pun tidak bermalam di tenda seperti jamaah haji pada umumnya. Mereka bermalam di ‘istana’ yang terletak di atas bukit batu di kawasan Mina.

Lalu, soal ledakkan gas beracun lantaran korban selamat tragedi ini hampir semuanya amnesia pun masih praduga. Sebab amnesia pun bisa terjadi pada orang yang dehidrasi, tidak harus kena gas beracun. Selain itu, pihak Saudi pun membantah adanya gas beracun tersebut.

Kemudian, dugaan adanya pasukan berani mati Syiah dari Iran yang sengaja berbalik arah untuk menimbulkan korban jiwa pun wallahua’lam bishawab. Tanpa bermaksud memihak siapapun, tapi memang berita ini tidak terkonfirmasi sampai saat ini. Terlebih perihal taqqiyyah, hanya Allah Yang Maha Tahu.

Sebagai catatan, Mas Totok cukup paham agama–Islam tentu saja. Jadi, bukan jurnalis yang awam Islamnya. Beliau juga sunni tulen.

Bagaimana dengan fakta adanya jalan yang ditutup? Menurut Mas Totok, memang benar ujung jalan 204–lokasi tragedi Mina–ditutup. Bahkan sebelum pelaksanaan wukuf pun jalan tersebut sudah ditutup dengan maksud untuk memecah arus pejalan kaki.

denah Armina oleh Mas Totok

Oret-oretan Jalan 204 oleh Mas Totok

Jalan 204 atau yang sering disebut sebagai “Jalan Arab” adalah jalan dua arah selebar 6 meter yang diapit tenda-tenda jamaah asal Timur Tengah. Jalan tersebut bukanlah jalan utama menuju jamarat. Jalan 223 (seperti tampak pada gambar) adalah jalan persimpangan di ujung jalan 204. Seperti tampak di gambar, ujung Jalan 204 memang ditutup. Bukan untuk blokade jalan karena ada tamu kehormatan lewat, melainkan untuk memecah arus pejalan kaki agar melewati Jalan 223.

Sehari sebelum insiden Mina, Mas Totok dan juga beberapa petugas dan pembimbing haji mengecek jalur menuju jamarat. Untuk jamaah haji Indonesia dan Asia Tenggara, ada jalan ‘resmi’, seperti tampak pada gambar. Jalan ‘resmi’ ini adalah jalan utama selebar 12 meter dan satu arah. Memang jalan ini tergolong ramai. Selain itu, secara jarak lebih jauh menuju ke jamarat, kurang lebih 28 km.

Pada saat mengecek jalur dari tenda Indonesia ke jamarat, mereka juga sempat melewati Jalan 204. Pada saat itu, jalan tersebut sepi, tidak seperti jalan ‘resmi’ yang merupakan jalan utama. Selain sepi, melalui Jalan 204 ini perjalanan ke jamarat juga relatif lebih cepat karena jaraknya hanya 14 km.

Namun Qodarullah, pada saat kejadian, Jalan 204 justru padat dan menimbulkan ribuan korban jiwa 😦 Wallahua’lam bishawab…

Satu hal pasti, para mukimin (orang Indonesia yang bermukim di Saudi) sangat besar jasanya untuk membuka akses bagi para petugas haji kita. Mengapa? Karena perbedaan budaya dan bahasa yang masih awam untuk kebanyakan orang Indonesia yang non mukimin menyebabkan para petugas haji Indonesia tidak mendapatkan akses, bahkan informasi tentang kondisi jamaah haji Indonesia. Bayangkan, bahkan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pun diusir satpam dan cleaning service di lobi Rumah Sakit di Mina!

Nah, para mukimin yang fasih Berbahasa Arab dan sudah paham budaya orang Arab inilah yang bisa meluluhkan hati para asykar dan petugas-petugas Arab Saudi. Sehingga para petugas yang tadinya hanya bergeming ini alhamdulillah bisa berbalik 180 derajat sikapnya pada petugas-petugas haji Indonesia. Masyaallah…

Semoga tulisan ini bermanfaat adanya. Wallahua’lam bishawab.

Advertisements
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: