DP 0% vs Cicilan 0%

Beli rumah nyicil tanpa DP itu masuk akal bgt. Pengalaman pribadi hunting rumah sejak 2011, gk sedikit developer swasta yg kasih promo rumah tanpa DP. Tapi knp saya gk ambil? Krn tanpa DP, otomatis cicilan per bulannya jadi lebih besar. Belum lagi kalo BI rate lagi naik, cicilannya jg naik.

Saya pribadi, lebih setuju (kalo ada) program rumah cicilan 0% alias tanpa bunga (riba) ketimbang program rumah DP 0%. Tapi nyatanya kan banyak jg rakyat kecil yg gk punya dana utk DP rumah. Sementara cicilan 0% mungkin tidak disetujui BI (saya gk ngerti perbankan, mungkin ada yg bisa jelasin).

Tapi kalo kita googling, ternyata gk sedikit developer swasta yang menawarkan KPR tanpa riba. Artinya memungkinkan sekali cicilan 0%. Ini terlepas dari lokasi dan harga rumahnya ya.

Terkait janji kampanye Anies-Sandi program rumah DP 0%, kita kawal saja janji-janji mereka setelah mereka dilantik nanti. Mengawal bukan berarti ‘nyinyir’ atau malah ‘taklid buta’ terhadap janji mereka looh.

Buat saya, mengawal berarti mejaga mereka agar tetap amanah. Kalau ada yang melenceng ya kita tegur. Bisa jadi program rumah DP 0% ini berubah menjadi rumah cicilan 0% (hehehe ngarep), karena memang itu yang lebih sesuai syariah.

Btw, buat yang gak percaya ada rumah KPR harga 300 jutaan di Jakarta, silakeun lihat brosur di bawah ini. Ini brosur dibuat sebelum Anies-Sandi menang loh ya… FYI, brosur ini haya satu dari sekian rumah ‘murah’ di Jakarta. Karena tetangga saya baru saja beli rumah seharga 90 jutaan di kawasan Cililitan Kecil Jakarta Timur.

IMG-20170418-WA0009

Tidak bermaksud promosi loh yaa… cuma contoh aja. Semoga tulisan ini bermanfaat dan tidak jadi bahan ‘nyinyiran’ (eeh…). []

Homeschooling dan Kuttab

Pada beberapa postingan sebelumnya, saya pernah mengukuhkan diri untuk menerapkan Homeschooling (HS) untuk anak-anak saya, sebagai alternatif pendidikan (baca: sekolah). Mengapa demikian? Alasannya utamanya karena kita adalah generasi akhir zaman, dan anak-anak kita adalah generasi yang akan berhadapan dengan Dajjal sekaligus mengusung kejayaan terakhir Ummat Islam insyaallah.

kiamat terjadi

Tentu memerlukan waktu yang panjang dan rumit buat kami sebagai orang tua untuk merancang pendidikan seperti apa untuk menyiapkan generasi pemegang kejayaan Islam mendatang ini. Kurikulum seperti apa yang harus dicanangkan untuk mereka. Alhamdulillah Allah memperkenalkan kami pada Kuttab Al Fatih. Saya tidak perlu membahas di sini apa itu Kuttab Al Fatih, silakan klik saja di sini. Singkat cerita, apa yang dicita-citakan Kuttab Al Fatih sejalan dengan cita-cita kami sebagai orang tua. Tentu ini memudahkan kami dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kami.

Pada akhirnya saya menyebut terminologi “Homeschooling” sebagai antitesis dari “Sekolah”. Mengapa demikian? Karena banyak sekali pendidikan alternatif selain sekolah umum yang kurikulumnya jauh berbeda dengan kurikulum Kemendikbud. Bahkan ada (mungkin) ribuan keluarga dan komunitas yang menyelenggarakan homeschooling di wilayah masing-masing.

Saya bukan anti sekolah atau anti kurikulum Kemendikbud. Justru saya bersyukur karena Kemendikbud mengakui adanya pendidikan-pendidikan alternatif tersebut atau yang sering disebut sebagai pendidikan nonformal. Hanya saja, saya dan suami memilih suatu penyelenggaraan pendidikan yang tidak mubazir, sehingga anak-anak benar-benar belajar hal yang pasti akan ia butuhkan kelak, baik di dunia maupun di akhirat insyaallah.

Lucunya, pendidikan alternatif–yang bisa dibilang anti mainstream–ini peminatnya justru membludak. Wajar sih, karena jumlah tenaga pengajar dan kelas yang masih terbatas. Berbeda dengan sekolah umum yang jumlah guru dan kelasnya sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Itu sebabnya, saya tidak kaget ketika anak saya tersisih saat tes masuk Kuttab Al Fatih. Bayangkan saja, kuota murid hanya 48, tapi pendaftarnya mencapai lebih dari 150 orang! Karena itu dalam sebuah status di facebook, saya sempat menulis bahwa kami insyaallah akan menjadi praktisi homeschooling (HS). Yap, kami akan menjalankan HS dengan kurikulum Kuttab Al Fatih atau bisa disebut ikuttab.

Qodarullah, di akhir masa pendaftaran ulang anak kami ternyata bisa diterima bersekolah di Kuttab Al Fatih karena ada siswa yang mengundurkan diri. Alhamdulillah… ternyata Allah menakdirkan anak kami untuk belajar langsung pada ustadz-ustadz hafidz Quran dan kompeten di bidangnya.

IMG-20170204-WA0002

Kai saat tes masuk Kuttab Al Fatih

Buat para orang tua yang bercita-cita sama seperti saya, namun belum bisa menyekolahkan anak-anaknya ke Kuttab Al Fatih, jangan sedih. Ternyata ada banyak lembaga pendidikan yang se-visi dengan Kuttab Al Fatih. Sepanjang yang saya tahu, mereka adalah Kuttab As Sakinah di Pekanbaru, Riau dan SDQ Al Hayyah di Condet, Jakarta Timur.

Bimbing kami Ya Allah… agar anak-anak kami siap menyambut kegemilangan Islam di akhir zaman. Amiiin Ya Rabb.