Expecting Third Son

Udah lama banget gak ngeblog nih… Maklumin deh IRT no ART dengan 2 anak dan lagi hamil trisemester 3 ini. Boro-boro ngeblog, pegang HP aja jarang. Lebih sering pegang cucian baju, cucian piring, dan penggorengan hehehe…

Well, kehamilan ketiga ini memang spesial–anyway setiap kehamilan memang unik dan spesial ya–karena saya full di rumah sambil mengasuh dua bocah (6 dan 3 tahun). Spesial juga karena di kehamilan ini kami pindah rumah, yang mana proses sortir, packing dan unpacking barang-barang membutuhkan tenaga dan waktu yang lumayan. Makanya di kehamilan ketiga ini saya sering merasakan kontraksi perut sejak trisemester kedua, terkadang malah muncul flek. Mungkin karena kecapekan.

Saat menulis tulisan ini, kehamilan saya masuk bulan ke-9. Kontraksi palsu sering datang dan pergi. Ditambah saya mempunyai riwayat partus cepat pada anak pertama dan kedua. Partus cepat adalah proses kelahiran cepat, dimana waktu antara mules teratur hingga pembukaan lengkap kurang dari 3 jam. Kebayang dong kondisi saya sekarang bisa dibilang ‘waspada’ (bukan siaga lagi).

Tapi qodarullah, masuk usia kandungan 9 bulan ini, suami malah harus ke Jepang selama 15 hari. Qodarullah pula tidak ada sanak saudara yang bisa menemani saya di rumah. Akhirnya kami putuskan ada ART yang menginap di rumah selama suami tidak ada. Qodarullah pula, baru setengah hari bekerja, ART yang menginap mendadak sakit. Vertigonya kambuh sehingga tidak mungkin meneruskan bekerja.

Allah tidak mungkin menguji di luar kemampuan hamba-Nya kan ya? Jadi, meski ‘sendirian’ di rumah dengan 2 bocah, saya tetap kerjakan semua pekerjaan rumah tangga semampu saya, meskipun jadi sering sakit pinggang dan kontraksi perut 😑.

Para tetangga yang berempati pada menawarkan kenalan ART yang bisa menginap, tapi setelah diskusi dengan ibu saya dan juga suami yang sedang nun jauh di Jepang, akhirnya kami memutuskan untuk ‘mengungsi’ ke rumah saudara yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari rumah. Setidaknya, seandainya ketika kondisi darurat, ada beberapa orang dewasa yang stand by di rumah.

Sejak awal kami memang tidak terpikir untuk mengungsi sementara, karena khawatir merepotkan. Sebab sepupu saya dan suaminya setiap hari harus menjaga kedai makanan di rumahnya. Itu sebabnya ia tidak bisa sering main ke rumah kami.

Semoga Allah beri takdir yang baik dan keberkahan untuk kami semua.. amiiin…

Leave a comment

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: