Catatan Mantan Demonstran

Kala itu tahun 2003, saat negri ini dipimpin Megawati Sukarnoputri. Aku ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa se- Bandung Raya memprotes beberapa kebijakan pemerintah, terutama kenaikan harga BBM. Kalau tidak salah, massa kami lima ratusan orang.

20190522_100833

Masih segar dalam ingatan, siang itu selepas zuhur kami merapatkan barisan di depan Gedung Sate Bandung. Berkali-kali Korlap aksi mengingatkan kami untuk waspada penyusup dan provokasi. Kami semakin erat bergandengan tangan agar aksi mahasiswa ini tidak disusupi. Kami saling mengingat siapa saja teman di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang kami sambil terus erat bergandengan tangan.

Semakin maju barisan kami mendekati pagar gerbang depan Gedung Sate. Di hadapan kami sudah ada barikade polisi. Di belakang barikade polisi nampak para jurnalis yang lalu lalang. Ada yang sibuk ambil gambar, live report, ada juga yang hanya memperhatikan sambil sibuk menulis. Agak jauh di belakang barikade polisi tampak mobil pemadam kebakaran atau branwier. Di pinggir barikade polisi tampak juga beberapa pria yang turut menonton aksi mahasiswa ini.

Ketika suasana aksi mulai memanas, terdengar teriakan-teriakan provokasi, “Lari! Lari!” Namun kami tetap patuh pada Korlap yang berdiri di mobil sound system untuk tetap berdiri tenang dan merapatkan barisan. Lalu kami sama-sama bernyanyi berulang-ulang, “Hati-hati… Hati-hati… Hati-hati provokasi.” Namun teriakan-teriakan lantang untuk lari itu terus terdengar.

Aku perhatikan teriakan-teriakan itu ternyata berasal dari pria-pria yang tadi berdiri di pinggir barikade polisi. Pria-pria ini kemudian berjalan menyebar dan berusaha membaur (baca: menyusup) dengan kami para mahasiswa. Namun karena kami bergandengan erat, maka mereka sulit masuk.

Tapi ternyata pria-pria ini tidak menyerah. Dengan teriakan-teriakan agresif mereka berupaya membuat kami kocar-kacir. Korlap aksi pun berulang-ulang menyerukan, “Satu komando, satu perjuangan!”

Kami semua patuh berdiri bergeming dengan barisan rapat. Tiba-tiba dari belakang barikade polisi mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air ke arah kami. Spontan barisan para mahasiswi yang takut basah agak merenggang. Kesempatan ini terus dimanfaatkan pria-pria provokator itu agar kami tercerai berai. “Lari! Lari!” Teriak mereka. Tapi kami yang ada di pinggir barisan buru-buru bergandengan tangan lagi agar barisan kembali rapat, meskipun tidak serapat sebelumnya, karena di tengah barisan kami, para mahasiswi yang takut basah itu sibuk dengan jaket almamaternya yang basah.

“Lari! Lari!” Provokasi itu terus terdengar lantang. Aku perhatikan, suara itu salah satunya keluar dari mulut seorang pria gondrong berpakaian preman, kulitnya agak gelap dan berperawakan sedang.

Tiba-tiba kami kembali disemproti air. “Aaaiiih…” jerit para mahasiswi takut basah. Maka barisan kami pun kembali renggang. Kesempatan ini kembali dimanfaatkan para provokator. Selang beberapa detik kemudian pria gondrong itu mencabut sebuah pohon kecil yang tertanam di sisi pagar Gedung Sate, lalu melemparkannya ke arah kami sambil terus berteriak agresif. Spontan kami (termasuk aku) yang takut ketimpuk pohon menghindari lemparan pohon. Otomatis kami melepas gandengan tangan dan barisan kami pun kocar-kacir. Dari situlah chaos pun terjadi.

Beruntung aku tidak kena pentung polisi atau semprotan branwier. “Lari.. lari…” itu yang ada dalam pikiranku sambil terus berlari menuju kampus Unpad di Jl Dipati Ukur. Berikut link berita aksi mahasiswa yang sempat aku ikuti:

https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/6411/mahasiswa-bandung-demo-istana-menuntut-mega-hamzah-turun

Dua tahun berlalu. Aku lulus dan wisuda akhir tahun 2004. Lepas itu aku bekerja sebagai reporter sebuah radio di Bandung. Dari sinilah aku sering ‘nongkrong’ bareng jurnalis Bandung lainnya di komplek Gedung Sate. ‘Base camp’ kami kala itu adalah tangga masuk gedung DPRD Provinsi Jawa Barat. Maka kami sering disebut “wartawan tangga” 🙂

Saat sedang nongkrong rame-rame di tangga, tiba-tiba mataku terpaku pada sosok pria gondrong yang duduk tak jauh dari kami. Ia tampak sedang asik ngobrol dengan temannya. “Itu kan provokator aksi yang dulu,” batinku.

“Kang, itu wartawan dari media mana?” tanyaku pada akang jurnalis yang lebih senior.

“Sstt… eta mah bukan wartawan, tapi intel,” jawabnya setengah berbisik.

Ooooh…

Tahun demi tahun berlalu. Aku sudah hijrah ke Jakarta. Tak lagi jadi reporter lapangan, tapi di redaksi berita sebuah TV swasta nasional.

Saat itu sedang ramai kasus kopi beracun, yaitu dugaan pembunuhan Mirna Salihin oleh Jesicca lewat kopi vietnam yang sudah diracuni.

Saat sedang menjelajahi lewat internet kantor berita dan foto-foto rekonstruksi dan olah TKP kasus tersebut, tiba-tiba mata saya kembali terbelalak oleh sosok intel gondrong yang pernah menjadi provokator aksi demonstrasi. Sosok itu terlihat sedang membantu polisi dalam olah TKP kasus kopi beracun. Ia nampak memakai kaos ‘Turn Back Crime”.

“Mas, kenal sama orang ini gak?” Tanya saya pada reporter senior yang biasa meliput di kepolisian.

“Aduh… mas siapa ya namanya. Saya lupa.”

“Dia polisi ya?”

“Iya.”

[]