Ngedapetin Ijazah itu Gampang, Jendral!

Pendidikan hari ini seolah mengejar ijazah semata. Keilmuan seseorang diukur dari lembaran-lembaran ijazah yang diperolehnya. Belum disebut ‘pakar’ apabila belum bersekolah di sekolah tertentu dan mendapatkan gelar tertentu.

Yang lebih sinting lagi, tidak sedikit oknum yang hanya mengejar ijazah semata tanpa perlu sekolah. Mereka rela mengeluarkan jutaan rupiah demi selembar ijazah, hanya demi karir mereka entah sebagai PNS, dosen, wakil rakyat, dll. Tak heran jika negeri ini dipimpin orang-orang sinting.

Wahai orang yang bersekolah, sesungguhnya mendapatkan ijazah itu gampang banget! Karena itu, rugilah Kamu jika sekolah hanya mengejar ijazah, tapi tidak dapat menggali ilmu!

Pada postingan sebelumnya di blog ini beberapa tahun lalu, saya pernah berkisah ketika saya menjadi orang tua asuh anak putus sekolah. Ia putus sekolah karena drop out, akibat sering bolos, sehingga nilainya kosong. Ia pernah diberi kesempatan kedua oleh pihak sekolah, mengingat ia adalah anak yatim dari keluarga kurang mampu. Namun kesalahan yang sama berulang, hingga DO jadi keputusan yang tidak bisa ditawar.

Tahun berganti, si anak beranjak 16 tahun, namun hanya ijazah SD yang ia punya. Tentu saja hal ini karena ia DO saat kelas 2 SMP. Akibatnya, ketika ia hendak melemar kerja, tak satupun lowongan kerja yang melirik ijazah SD.

Hal inilah yang saat itu menggerakkan hati saya untuk membantunya mendapatkan ijazah SMP lewat program Kejar Paket B di sebuah PKBM Negeri di Jakarta Timur. Karena sudah lama tidak bersentuhan dengan buku pelajaran, maka saya ikutkan ia pada bimbingan belajar yang diselenggarakan oleh PKBM tersebut. Waktu belajarnya tidak seperti sekolah yang tiap hari harus datang. Untuk bimbingan belajar Kejar Paket B, setiap hari Rabu jam 1 – 2 siang.

Sadar menjadi orang tua asuh anak ‘bermasalah’, saya mohon kerjasama yang baik dengan kepala sekolah dan wali kelasnya. Karena saya tak mungkin mengawasinya 24 jam, apalagi saat itu saya bekerja di kantor alias 9 to 5 person.

Lima bulan berlalu. Wali kelasnya menghubungi saya. Ternyata absensi anak ini kosong alias tak pernah hadir bimbingan belajar. O-oh… Tentu saja saya tak tinggal diam. Saya datangi anak itu di rumahnya. Dengan sedikit ‘ceramah’ sambil ditemani ibunya yang bekerja serabutan menyetrika dari rumah ke rumah, saya memintanya untuk rajin datang ke bimbingan belajarnya.

Singkat cerita, UN tiba. Wali kelasnya kembali menelpon saya.

“Bu, kok UN kemarin Faldo tidak datang?”

“Apaa?? Jadi Faldo tidak ikut ujian, Pak?”

“Iya bu. Tapi masih ada kesempatan UN susulan besok, bu.”

Hari itu juga sepulang kantor saya datangi rumahnya. Saya sampaikan bahwa besok harus datang ke PKBM jam 8 pagi untuk ujian.

Keesokan paginya, setelah mengantar anak sulung saya ke TK, saya mampir ke rumah Faldo untuk memastikan anak itu sudah berangkat. Tapi olalaaa… Ternyata anak ini masih tidur!!! Padahal sudah jam 8 pagi!

Ibunya yang sudah angkat tangan meminta saya untuk membangunkannya. Sedikit rikuh saya masuk kamar anak bujang. Tapi mau bagaimana lagi.

Singkat cerita, ia bergegas mandi. Saya terus menungguinya, hingga mengantarnya sampai ke PKBM demi memastikan ia benar-benar ikut ujian.

Saat bertemu wali kelasnya, saya memohon maaf atas kelalaian yang terjadi. Dan ternyata wali kelasnya pun menyampaikan bahwa selama ini Faldo tak pernah datang bimbingan belajar. Lantas bagaimana ia bisa menjawab soal-soal ujian itu, pikir saya.

Saya melihat anak itu mengerjakan soal-soal ujian dari kejauahan. Rupanya ia mengandalkan kancing untuk menjawab soal pilihan bergada alias “ngitung kancing”.

“Biarin deh nih anak kalo gak lulus, gak dapat ijazah juga gak papa,” gumam saya kesal.

Dan bagaimana hasilnya saudara-saudara? Ternyata anak ini lulus ujian dong -_- ! Dan tentu saja mendapatkan ijazah SMP.

Jadi, buat dapat ijazah itu gampang, Jendral! []

Ketika Anak Membentak

Jangankan sama anak, sama orang tak dikenal pun pasti kita sakit hati kalau dibentak, apalagi sama orang terdekat yang kita sayangi 😦

Ketika anak membentak kita orang tua yang sudah mengandung, melahirkan, dan membesarkannya, rasanya sakiiit banget hati ini. Kalau gak ditahan, rasanya ingin membentak balik, tapi tentu saja hal itu tidak menyelesaikan masalah. Justru anak akan meniru hal-hal buruk dari orang tuanya.

Lantas, apa yang harus dilakukan? “Bicara baik atau diam,” itu pesan Kanjeng Nabi SAW. Jika lisan ini tak mampu mengeluarkan kata-kata baik, maka tutup mulut lebih baik.

“Jika kau marah, maka duduklah, jika masih marah, maka berbaringlah..” demikian pula pesan Rasulullah SAW. Jadi, lebih baik menarik diri daripada ribut. Istighfar yang banyak. Minta ampun sama Allah, karena bisa jadi perilaku kasar anak kita penyebabnya adalah dosa-dosa orang tuanya sendiri. Apalagi sebagai ibu yang mustajab doanya untuk anaknya, jangan putus doa pada Allah agar Allah melembutkan hati mereka, memperbaiki akhlak dan adab mereka. Bukankah hati anak-anak kita berada dalam genggaman-Nya Maka amat mudah bagi-Nya untuk membaliknya pula. Tak perlulah mendebatnya balik saat itu juga. Semoga Allah melembutkan hatinya.

Ya Allah bimbinglah kami agar bisa berkumpul bersama sekeluarga di surga-Mu kelak.. aamiin

Catatan Mantan Demonstran

Kala itu tahun 2003, saat negri ini dipimpin Megawati Sukarnoputri. Aku ikut turun ke jalan bersama para mahasiswa se- Bandung Raya memprotes beberapa kebijakan pemerintah, terutama kenaikan harga BBM. Kalau tidak salah, massa kami lima ratusan orang.

20190522_100833

Masih segar dalam ingatan, siang itu selepas zuhur kami merapatkan barisan di depan Gedung Sate Bandung. Berkali-kali Korlap aksi mengingatkan kami untuk waspada penyusup dan provokasi. Kami semakin erat bergandengan tangan agar aksi mahasiswa ini tidak disusupi. Kami saling mengingat siapa saja teman di sebelah kanan, kiri, depan, dan belakang kami sambil terus erat bergandengan tangan.

Semakin maju barisan kami mendekati pagar gerbang depan Gedung Sate. Di hadapan kami sudah ada barikade polisi. Di belakang barikade polisi nampak para jurnalis yang lalu lalang. Ada yang sibuk ambil gambar, live report, ada juga yang hanya memperhatikan sambil sibuk menulis. Agak jauh di belakang barikade polisi tampak mobil pemadam kebakaran atau branwier. Di pinggir barikade polisi tampak juga beberapa pria yang turut menonton aksi mahasiswa ini.

Ketika suasana aksi mulai memanas, terdengar teriakan-teriakan provokasi, “Lari! Lari!” Namun kami tetap patuh pada Korlap yang berdiri di mobil sound system untuk tetap berdiri tenang dan merapatkan barisan. Lalu kami sama-sama bernyanyi berulang-ulang, “Hati-hati… Hati-hati… Hati-hati provokasi.” Namun teriakan-teriakan lantang untuk lari itu terus terdengar.

Aku perhatikan teriakan-teriakan itu ternyata berasal dari pria-pria yang tadi berdiri di pinggir barikade polisi. Pria-pria ini kemudian berjalan menyebar dan berusaha membaur (baca: menyusup) dengan kami para mahasiswa. Namun karena kami bergandengan erat, maka mereka sulit masuk.

Tapi ternyata pria-pria ini tidak menyerah. Dengan teriakan-teriakan agresif mereka berupaya membuat kami kocar-kacir. Korlap aksi pun berulang-ulang menyerukan, “Satu komando, satu perjuangan!”

Kami semua patuh berdiri bergeming dengan barisan rapat. Tiba-tiba dari belakang barikade polisi mobil pemadam kebakaran menyemprotkan air ke arah kami. Spontan barisan para mahasiswi yang takut basah agak merenggang. Kesempatan ini terus dimanfaatkan pria-pria provokator itu agar kami tercerai berai. “Lari! Lari!” Teriak mereka. Tapi kami yang ada di pinggir barisan buru-buru bergandengan tangan lagi agar barisan kembali rapat, meskipun tidak serapat sebelumnya, karena di tengah barisan kami, para mahasiswi yang takut basah itu sibuk dengan jaket almamaternya yang basah.

“Lari! Lari!” Provokasi itu terus terdengar lantang. Aku perhatikan, suara itu salah satunya keluar dari mulut seorang pria gondrong berpakaian preman, kulitnya agak gelap dan berperawakan sedang.

Tiba-tiba kami kembali disemproti air. “Aaaiiih…” jerit para mahasiswi takut basah. Maka barisan kami pun kembali renggang. Kesempatan ini kembali dimanfaatkan para provokator. Selang beberapa detik kemudian pria gondrong itu mencabut sebuah pohon kecil yang tertanam di sisi pagar Gedung Sate, lalu melemparkannya ke arah kami sambil terus berteriak agresif. Spontan kami (termasuk aku) yang takut ketimpuk pohon menghindari lemparan pohon. Otomatis kami melepas gandengan tangan dan barisan kami pun kocar-kacir. Dari situlah chaos pun terjadi.

Beruntung aku tidak kena pentung polisi atau semprotan branwier. “Lari.. lari…” itu yang ada dalam pikiranku sambil terus berlari menuju kampus Unpad di Jl Dipati Ukur. Berikut link berita aksi mahasiswa yang sempat aku ikuti:

https://www.google.com/amp/s/nasional.tempo.co/amp/6411/mahasiswa-bandung-demo-istana-menuntut-mega-hamzah-turun

Dua tahun berlalu. Aku lulus dan wisuda akhir tahun 2004. Lepas itu aku bekerja sebagai reporter sebuah radio di Bandung. Dari sinilah aku sering ‘nongkrong’ bareng jurnalis Bandung lainnya di komplek Gedung Sate. ‘Base camp’ kami kala itu adalah tangga masuk gedung DPRD Provinsi Jawa Barat. Maka kami sering disebut “wartawan tangga” 🙂

Saat sedang nongkrong rame-rame di tangga, tiba-tiba mataku terpaku pada sosok pria gondrong yang duduk tak jauh dari kami. Ia tampak sedang asik ngobrol dengan temannya. “Itu kan provokator aksi yang dulu,” batinku.

“Kang, itu wartawan dari media mana?” tanyaku pada akang jurnalis yang lebih senior.

“Sstt… eta mah bukan wartawan, tapi intel,” jawabnya setengah berbisik.

Ooooh…

Tahun demi tahun berlalu. Aku sudah hijrah ke Jakarta. Tak lagi jadi reporter lapangan, tapi di redaksi berita sebuah TV swasta nasional.

Saat itu sedang ramai kasus kopi beracun, yaitu dugaan pembunuhan Mirna Salihin oleh Jesicca lewat kopi vietnam yang sudah diracuni.

Saat sedang menjelajahi lewat internet kantor berita dan foto-foto rekonstruksi dan olah TKP kasus tersebut, tiba-tiba mata saya kembali terbelalak oleh sosok intel gondrong yang pernah menjadi provokator aksi demonstrasi. Sosok itu terlihat sedang membantu polisi dalam olah TKP kasus kopi beracun. Ia nampak memakai kaos ‘Turn Back Crime”.

“Mas, kenal sama orang ini gak?” Tanya saya pada reporter senior yang biasa meliput di kepolisian.

“Aduh… mas siapa ya namanya. Saya lupa.”

“Dia polisi ya?”

“Iya.”

[]

Fakta: Banyak Orang Menggugurkan Kandungan!

Tak terasa sudah 10 tahun lebih usia blog ini. Meskipun belakangan ini saya jarang ngeblog, namun saya tetap setia mengintip statistika pengunjung blog ini. Dan setiap itu pula saya selalu istighfar.

Mengapa demikian? Pasalnya, tulisan saya yang selalu paling banyak dilihat orang berjudul “Kunyit Asem yang Menggugurkan“.

Tulisan tersebut tentang pengalaman saya di awal pernikahan yang tak kunjung dikaruniai anak. Hingga pada Bulan Ramadan saya menduga kuat kunyit asam ‘penyebab’ kemungkinan saya keguguran. Wallahua’lam bishawab.

Yang membuat saya istighfar adalah, mengapa banyak orang membaca tulisan tersebut? Mengapa banyak orang googling tentang keguguran dan cara menggugurkan? Ada apa gerangan?

Screenshot_2018-05-09-21-16-56

Kemungkinan besar memang banyak orang berusaha menggugurkan bayi dalam kandungan karena kehamilan yang tidak diinginkan. Kenapa tidak diinginkan? Tentu saja karena ia adalah buah dari hubungan terlarang alias perzinahan… na’uzubillahiminzalik.

Dugaan ini juga didasari pada data statistika pengunjung blog yang datang dari mesin pencari (search engine) dengan kata kunci “se*s”, “ne**n”, dan kata-kata tidak senonoh lainnya. Padahal isi blog saya tidak ada konten pornonya kan?! Silakan cek deh…

Yang pasti, tulisan tersebut tidak bermaksud untuk mengajarkan bagaimana menggugurkan kandungan. Saya hanya berbagi pengalaman yang mudah-mudahan bermanfaat buat para ibu hamil dan atau pasutri yang menginginkan kehamilan. Lebih lengkapnya silakan klik tulisan saya tersebut.

Kenyataan yang ternyata malah berbeda 180 derajat tentu saja membuat saya syok.

Ya Rabb… jauhkan kami dan anak keturunan kami dari hal-hal yang Engkau Murkai… Aamiin.

Welcome Little One!

Athaya Sanan Salih

Melanjutkan postingan sebelumnya… Alhamdulillah sudah 2 pekan usia bayi ketiga kami saat saya menulis postingan ini. Late post banget yah hehehe… biasa lah rempong punya new born baby & si pangais bungsu yang jadi suka rungsing karena baru jadi kakak 😅.

Jadi ceritanya, selama suami di Jepang, saya sering banget mengalami kontraksi palsu di ruma sepupu. Bahkan pernah dini hari menjelang subuh saya mengalami kontraksi teratur per 7 menit sekali. “Aduh dek, jangan sekarang yah… Bapak belum pulang,” batin saya sambil ngelus perut. Dan kontraksi teratur itu makin menguat saat azan Subuh mulai berkumandang.

Karena khawatir akan meninggalkan sholat Subuh jika kontraksi menguat dan tidak bisa bangun, maka buru-buru saya ke kamar mandi untuk berwudhu. Saat di kamar mandi, rasa mulas di perut semakin menjadi. Dag dig dug dan was was jikalau saya melahirkan di kamar mandi. Tapi ternyata eh ternyata… mules itu adalah mules BAB 😅.

Masa Cuti Hampir Habis

Karena riwayat melahirkan selalu maju 2 – 4 minggu dari HPL, maka suami mengambil cuti 5 hari di usia kehamilan 38 minggu, yaitu tanggal 16 – 20 Oktober 2017. Karena PNS tidak boleh cuti dadakan, melainkan harus mengajukan ke bagian kepegawaian paling lambat sepekan sebelum hari H. Itulah sebabnya, sebelum berangkat ke Jepang, suami mengajukan cuti pasca kepulangannya dari Jepang.

Singkat cerita, sampai suami pulang dari Jepang, belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Sampai cutinya berakhir di Hari Jumat, 20 Oktober, pun tak kunjung muncul tanda-tanda akan melahirkan. “Ayo dek, kapan mbrojol nih? Cutinya Bapak udah habis nih,” ujarku pada si jabang bayi.

Saking gelisahnya, kami rencana konsultasi ke Bude Erie Marjoko, bidan gentle birth yang Masya Allah bisa berkomunikasi dengan bayi dalam perut. Sehingga Jumat malam itu saya sempat ber-whatsapp dengan beliau dan janjian konsul di rumahnya di Hari Seninnya (23/10).

Birth Plan

Birth plan kami sebenarnya bukan di Bidan Erie Marjoko, karena lokasi yang jauh dari rumah. Kami prefer melahirkan di bidan dekat rumah mengingat saya riwayat partus cepat, yaitu proses melahirkan kurang dari 3 jam sejak kontraksi teratur.

Ada banyak bidan dekat rumah kami, namun pilihan jatuh ke Bidan Aah Nurmayanti dengan berbagai alasan, antara lain karena review yang baik dari banyak orang, lokasi dekat dengan rumah sepupu tempat saya mengungsi selama suami ke Jepang, dan tempatnya yang bersih.

Namun satu hal yang membuat saya khawatir, yaitu jalan depan rumah bidan yang sedang dicor tepat di usia kehamilan saya masuk 38 minggu, sehingga lalu lintas menuju bidan yang sering macet di jam berangkat dan pulang kantor karena sistem buka tutup. Tidak terbayang oleh saya jika ibu yang sedang mulas mau melahirkan harus terjebak macet. Saya hanya bisa mohon sama Allah agar saat melahirkan, lalu lintas tengah lengang dan lancar.

Alhamdulillah Allah mengabulkan doa saya. Sabtu (21/10) jam 3 dini hari saya mulai mengalami kontraksi teratur. Dengan diantar tetangga yang punya mobil, saya, suami, dan anak-anak menuju ke rumah Bidan Aah dengan jalanan yang lengang dan sepi.

“Masih pembukaan tiga, bu,” ujar bidan.

Saat itu masih jam 4:15 pagi. “Nanti kalau sampai jam setengah tujuh pembukaannya belum maju, harus ada tindakan medis ya bu,” lanjutnya.

Agak ngeri saya mendengar istilah ‘tindakan medis’. “Insyaallah nanti jam setengah tujuh kamu mbrojol ya dek,” ujar saya sambil mengelus perut.

Saya panjatkan kembali permohonan tersebut usai sholat Subuh di rumah bidan. Dan alhamdulillah Allah kembali mengabulkan doa saya.

Tepat jam 6:30 saya merasa mules hebat dan dorongan untuk mengejan. Selang 15 menit kemudian, tepatnya 6:45, tangis bayi pun pecah, “Ooeeeek…!!” Alhamdulillahirabbil’alamiin. Hadiah terindah dari Allah di tahun 2017 ini hadir buat kami dengan berat 3,48 kg dan panjang 48 cm.

Our little one kali ini mendapat penghormatan diberi nama panggilan oleh kakak sulungnya, “Salih”. Semoga jadi anak salih ya nak.

Expecting Third Son

Udah lama banget gak ngeblog nih… Maklumin deh IRT no ART dengan 2 anak dan lagi hamil trisemester 3 ini. Boro-boro ngeblog, pegang HP aja jarang. Lebih sering pegang cucian baju, cucian piring, dan penggorengan hehehe…

Well, kehamilan ketiga ini memang spesial–anyway setiap kehamilan memang unik dan spesial ya–karena saya full di rumah sambil mengasuh dua bocah (6 dan 3 tahun). Spesial juga karena di kehamilan ini kami pindah rumah, yang mana proses sortir, packing dan unpacking barang-barang membutuhkan tenaga dan waktu yang lumayan. Makanya di kehamilan ketiga ini saya sering merasakan kontraksi perut sejak trisemester kedua, terkadang malah muncul flek. Mungkin karena kecapekan.

Saat menulis tulisan ini, kehamilan saya masuk bulan ke-9. Kontraksi palsu sering datang dan pergi. Ditambah saya mempunyai riwayat partus cepat pada anak pertama dan kedua. Partus cepat adalah proses kelahiran cepat, dimana waktu antara mules teratur hingga pembukaan lengkap kurang dari 3 jam. Kebayang dong kondisi saya sekarang bisa dibilang ‘waspada’ (bukan siaga lagi).

Tapi qodarullah, masuk usia kandungan 9 bulan ini, suami malah harus ke Jepang selama 15 hari. Qodarullah pula tidak ada sanak saudara yang bisa menemani saya di rumah. Akhirnya kami putuskan ada ART yang menginap di rumah selama suami tidak ada. Qodarullah pula, baru setengah hari bekerja, ART yang menginap mendadak sakit. Vertigonya kambuh sehingga tidak mungkin meneruskan bekerja.

Allah tidak mungkin menguji di luar kemampuan hamba-Nya kan ya? Jadi, meski ‘sendirian’ di rumah dengan 2 bocah, saya tetap kerjakan semua pekerjaan rumah tangga semampu saya, meskipun jadi sering sakit pinggang dan kontraksi perut 😑.

Para tetangga yang berempati pada menawarkan kenalan ART yang bisa menginap, tapi setelah diskusi dengan ibu saya dan juga suami yang sedang nun jauh di Jepang, akhirnya kami memutuskan untuk ‘mengungsi’ ke rumah saudara yang berjarak kurang lebih 1 kilometer dari rumah. Setidaknya, seandainya ketika kondisi darurat, ada beberapa orang dewasa yang stand by di rumah.

Sejak awal kami memang tidak terpikir untuk mengungsi sementara, karena khawatir merepotkan. Sebab sepupu saya dan suaminya setiap hari harus menjaga kedai makanan di rumahnya. Itu sebabnya ia tidak bisa sering main ke rumah kami.

Semoga Allah beri takdir yang baik dan keberkahan untuk kami semua.. amiiin…

Mendadak ‘Kreatif’

Belakangan postingan FB dan IG saya marak dengan ‘sulap’ baju-baju dengan tagar #refashion #recycle #upcycle #transformation #DIY. Semua ini bukan tanpa alasan, karena sejak sebelum Ramadan kami sudah mengosongkan isi lemari dan memilah baju-baju yang tidak dipakai lagi.

IMG_20170604_104334_985

Hasil mutilasi legging lama jadi ekstension lengan dan karet celana hamil

Maklum, karena kami memang mau pindah rumah. Semua perabot besar seperti lemari, tempat tidur, dan rak buku sudah tertata rapi di rumah baru kami. Kini tinggal isi lemari dan penghuninya yang belum menempati rumah baru karena Kai masih sekolah di domisili lama.

Karena itu, PR kami sekarang adalah menyalurkan baju-baju bekas tersebut kepada yang berhak dan mau. Sebagian besar baju, atasan, bawahan, dan kerudung sudah tersalurkan. Kami mengundang tetangga dan handai taulan ke rumah untuk memilih sendiri baju-baju tersebut. Namun demikian, tidak sedikit juga yang tersisa karena banyak faktor. Mungkin karena ada kancing/ritzleting yang lepas, ukuran tidak cocok, model sudah tidak refashionable, ada noda yang susah hilang, dll.

Meskipun saya tidak pandai menjahit, saya benahi baju-baju tersebut menjadi layak pakai, mulai dari memasang kancing, menjahit yang sobek, hingga me-refashion baju-baju tersebut.

IMG_20170611_073304_768

Refashion jaket haji jadul

Ide-ide refashion saya dapat dari Pinterest. Kebetulan saya yang tengah berbadan dua juga membutuhkan baju dan dalaman hamil dan menyusui yang praktis, sementara kalau beli baru harganya mihil bingits. Apalagi saya membutuhkannya cukup banyak. Ditambah lagi, anak-anak membutuhkan lebih banyak celana ganti. Karena kotor atau basah sedikit saja mereka langsung minta ganti. Sementara kalau beli baru kok ya eman-eman duitnya untuk beli celana main saja… mending beli baju koko buat lebaran hehehe.

IMG_20170608_110419_653

Kaos dengan noda susah hilang jadi celana anak + kamisol (bisa buat dalaman menyusui)

So, jadilah baju-baju bekas yang ‘tidak laku’ dikasih ke orang ini saya mutilasi jadi sesuatu yang bermanfaat dan memang kami butuhkan.

IMG_20170609_060302_663

Mutilasi CD jadi sport bra (bisa untuk busui)

IMG_20170608_115508_055

Bra bekas jadi kantong

DP 0% vs Cicilan 0%

Beli rumah nyicil tanpa DP itu masuk akal bgt. Pengalaman pribadi hunting rumah sejak 2011, gk sedikit developer swasta yg kasih promo rumah tanpa DP. Tapi knp saya gk ambil? Krn tanpa DP, otomatis cicilan per bulannya jadi lebih besar. Belum lagi kalo BI rate lagi naik, cicilannya jg naik.

Saya pribadi, lebih setuju (kalo ada) program rumah cicilan 0% alias tanpa bunga (riba) ketimbang program rumah DP 0%. Tapi nyatanya kan banyak jg rakyat kecil yg gk punya dana utk DP rumah. Sementara cicilan 0% mungkin tidak disetujui BI (saya gk ngerti perbankan, mungkin ada yg bisa jelasin).

Tapi kalo kita googling, ternyata gk sedikit developer swasta yang menawarkan KPR tanpa riba. Artinya memungkinkan sekali cicilan 0%. Ini terlepas dari lokasi dan harga rumahnya ya.

Terkait janji kampanye Anies-Sandi program rumah DP 0%, kita kawal saja janji-janji mereka setelah mereka dilantik nanti. Mengawal bukan berarti ‘nyinyir’ atau malah ‘taklid buta’ terhadap janji mereka looh.

Buat saya, mengawal berarti mejaga mereka agar tetap amanah. Kalau ada yang melenceng ya kita tegur. Bisa jadi program rumah DP 0% ini berubah menjadi rumah cicilan 0% (hehehe ngarep), karena memang itu yang lebih sesuai syariah.

Btw, buat yang gak percaya ada rumah KPR harga 300 jutaan di Jakarta, silakeun lihat brosur di bawah ini. Ini brosur dibuat sebelum Anies-Sandi menang loh ya… FYI, brosur ini haya satu dari sekian rumah ‘murah’ di Jakarta. Karena tetangga saya baru saja beli rumah seharga 90 jutaan di kawasan Cililitan Kecil Jakarta Timur.

IMG-20170418-WA0009

Tidak bermaksud promosi loh yaa… cuma contoh aja. Semoga tulisan ini bermanfaat dan tidak jadi bahan ‘nyinyiran’ (eeh…). []

Homeschooling dan Kuttab

Pada beberapa postingan sebelumnya, saya pernah mengukuhkan diri untuk menerapkan Homeschooling (HS) untuk anak-anak saya, sebagai alternatif pendidikan (baca: sekolah). Mengapa demikian? Alasannya utamanya karena kita adalah generasi akhir zaman, dan anak-anak kita adalah generasi yang akan berhadapan dengan Dajjal sekaligus mengusung kejayaan terakhir Ummat Islam insyaallah.

kiamat terjadi

Tentu memerlukan waktu yang panjang dan rumit buat kami sebagai orang tua untuk merancang pendidikan seperti apa untuk menyiapkan generasi pemegang kejayaan Islam mendatang ini. Kurikulum seperti apa yang harus dicanangkan untuk mereka. Alhamdulillah Allah memperkenalkan kami pada Kuttab Al Fatih. Saya tidak perlu membahas di sini apa itu Kuttab Al Fatih, silakan klik saja di sini. Singkat cerita, apa yang dicita-citakan Kuttab Al Fatih sejalan dengan cita-cita kami sebagai orang tua. Tentu ini memudahkan kami dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak-anak kami.

Pada akhirnya saya menyebut terminologi “Homeschooling” sebagai antitesis dari “Sekolah”. Mengapa demikian? Karena banyak sekali pendidikan alternatif selain sekolah umum yang kurikulumnya jauh berbeda dengan kurikulum Kemendikbud. Bahkan ada (mungkin) ribuan keluarga dan komunitas yang menyelenggarakan homeschooling di wilayah masing-masing.

Saya bukan anti sekolah atau anti kurikulum Kemendikbud. Justru saya bersyukur karena Kemendikbud mengakui adanya pendidikan-pendidikan alternatif tersebut atau yang sering disebut sebagai pendidikan nonformal. Hanya saja, saya dan suami memilih suatu penyelenggaraan pendidikan yang tidak mubazir, sehingga anak-anak benar-benar belajar hal yang pasti akan ia butuhkan kelak, baik di dunia maupun di akhirat insyaallah.

Lucunya, pendidikan alternatif–yang bisa dibilang anti mainstream–ini peminatnya justru membludak. Wajar sih, karena jumlah tenaga pengajar dan kelas yang masih terbatas. Berbeda dengan sekolah umum yang jumlah guru dan kelasnya sangat banyak dan tersebar dimana-mana. Itu sebabnya, saya tidak kaget ketika anak saya tersisih saat tes masuk Kuttab Al Fatih. Bayangkan saja, kuota murid hanya 48, tapi pendaftarnya mencapai lebih dari 150 orang! Karena itu dalam sebuah status di facebook, saya sempat menulis bahwa kami insyaallah akan menjadi praktisi homeschooling (HS). Yap, kami akan menjalankan HS dengan kurikulum Kuttab Al Fatih atau bisa disebut ikuttab.

Qodarullah, di akhir masa pendaftaran ulang anak kami ternyata bisa diterima bersekolah di Kuttab Al Fatih karena ada siswa yang mengundurkan diri. Alhamdulillah… ternyata Allah menakdirkan anak kami untuk belajar langsung pada ustadz-ustadz hafidz Quran dan kompeten di bidangnya.

IMG-20170204-WA0002

Kai saat tes masuk Kuttab Al Fatih

Buat para orang tua yang bercita-cita sama seperti saya, namun belum bisa menyekolahkan anak-anaknya ke Kuttab Al Fatih, jangan sedih. Ternyata ada banyak lembaga pendidikan yang se-visi dengan Kuttab Al Fatih. Sepanjang yang saya tahu, mereka adalah Kuttab As Sakinah di Pekanbaru, Riau dan SDQ Al Hayyah di Condet, Jakarta Timur.

Bimbing kami Ya Allah… agar anak-anak kami siap menyambut kegemilangan Islam di akhir zaman. Amiiin Ya Rabb.

Asing dengan Anak Sendiri

Saat kuliah dulu, saya pernah berkunjung ke rumah dosen saya bersama teman-teman kampus. Di rumahnya saya bertemu istrinya yang juga mengajar di kampus saya dan anak-anaknya yang saat itu masih balita dan SD.

Yang saya tahu, pasangan dosen ini merupakan lulusan-lulusan terbaik kampus kami. Selain mengajar dan membimbing skripsi, mereka juga memegang jabatan di kampus, jadi bisa dibayangkan kesibukan pasangan ini. Anak mereka yang SD juga terlihat smart.

Yang menarik perhatian saya adalah si balita yang masih belum jelas bicaranya. Berkali-kali ia menangis frustasi karena tidak ada satu orang pun di rumah itu yang mengerti kata-katanya.

Di lain waktu, saya berkunjung ke rumah kakak sepupu saya yang sudah lama tak bertemu karena tinggal di luar kota. Ia punya dua balita (5 dan 3 tahun). Kakak sepupu saya ini IRT full.

Anak pertamanya sangat lancar dan jelas bicaranya, namun anak keduanya hampir tak pernah saya dengar suaranya. Jika ia menginginkan sesuatu, ia menggunakan isyarat tubuhnya. Ajaibnya, sang ibu paham apa yang dimau anak bungsunya itu. Bahkan saat si anak diam saja, sang ibu tahu betul apa yang harus dilakukannya, sehingga tak sempat terjadi tantrum.

Saat itu sempat saya menduga bahwa si bungsu mengalami delay speech. Alhamdulillah setelah bertemu setahun kemudian, si bungsu sudah mahir bicara meskipun cenderung pendiam dan tidak se-‘bawel’ kakaknya.

Hikmah yang saya petik dari dua pengalaman di atas; kuantitas waktu dengan anak itu sangat penting. Bukan sekedar untuk ‘meluangkan’ waktu bermain dengan mereka, tetapi untuk mengenal dan memahami mereka, seperti apa karakter mereka, bagaimana mereka bersikap atas sesuatu, bagaimana mereka memecahkan masalah.

Mungkin tidak sedikit dari para orang tua bekerja yang kuantitas waktu bersama anaknya relatif sedikit. Karena itu waktu bersama anak harus berkualitas. Matikan HP atau gadget saat bersama dengan anak jika tidak mau asing dengan anak sendiri!

img_20130421_093645

Kebersamaan dengan anak sangat penting agar orang tua mengenal karakter anaknya