KUS

http://cerpenonline.multiply.com/journal/item/1706/KUS
ini cerita fiksi. tokoh maupun setting cerita hanya rekaan. kalau ada kemiripan dengan realita yang anda temui, itu kebetulan semata.

Advertisements

Senja Kelabu

Bandung, Februari 2000

“Menikah tanpa
pacaran? Bagaimana mungkin?!” ujar Nia penuh tanda tanya.

“Mungkin
banget,” tmpal Intan kalem.

“Ya, gak
mungkin lah… Masak baru kenal tahu-tahu nikah???” Nia tambah bingung.

Intan
tersenyum geli mendengar penuturan sobatnya itu. Gadis berjilbab panjang itu
menarik napas panjang. “Hmmm.. tahu ‘mak comblang’ kan?”
ujar Nia.

“Match maker?
Iya, tahu… terus?” sahut Nia penasaran.

“Jadi sebelum
menuju pernikahan, kita melibatkan pihak ketiga, melibatkan mak comblang.”

Kening Nia
berkerut, “Tapi Tan…”

“Tapi apa?”

“Kalau begitu
namanya ngerepotin orang lain dong?”

“Ya mendingan
begitu daripada cuma berduaan, nanti yang ketiganya setan.…”

Nia hanya
manggut-manggut sambil mengerutkan kening. Konsep menikah tanpa pacaran bagi
gadis yang baru dua bulan mengenakan jilbab itu terasa asing.

“Tan, jujur
aku masih gak kebayang,” ujar Nia masih dengan kening berkerut. “Kalau misalnya
aku suka sama seseorang terus aku ingin menikah dengannya, maka aku harus minta
tolong orang lain, begitu?”

“Yap!”

“Tapi minta
tolong siapa, Tan?”

“Ya… sama
orang yang dikau percaya lah.”

“Kalau gitu
aku boleh minta tolong kamu ya, Tan?” tanya Nia polos.

“Waaah kalau
itu bisa bahaya, salah-salah malah nanti dia kepincut sama aku lagi, hehehe..”
canda Intan sambil cengar-cengir memperlihatkan gigi gingsul kebanggaannya.

“Dasar lu!”
Nia mencubit sobatnya yang sering ia panggil ustadzah.

***

Bandung,
April 2000

“Waaa… kaos lo
keren, Ji!” seru Nia pada Aji, sobatnya yang kali itu mengenakan T-shirt hitam
bertuliskan SORI BUKANNYA LO GAK CAKEP, TAPI GUE GAK PACARAN! “Disainnya keren!
Simpel tapi daleeem gitu loh.”

“Gimana donk,
yang ngedisain gue gitu loh,” sahut Aji dengan gaya
mirip bencong-bencong di Taman Lalu Lintas.

“Elu
bocor-bocor gini ternyata religius juga yah,” timpal Nia, “Gue juga mau donk
T-shirt kayak elo Ji, tapi yang lengan panjang.”

“Beli dong…
Dateng aja ke distro gue di Setiabudi,” sahut Aji yang sejak awal kuliah buka
usaha distro bareng teman-teman se-SMA-nya.

“Ya…masak
beli, gratis atuh?”

“Buat elu gue
korting deh. Apa sih yang nggak buat Nia?” goda Aji pada sobatnya sejak awal
kuliah itu.

“Asik, korting
seratus persen ya!”

“Gue jitak
lu..,” dengus Aji gemas dengan tangannya yang siap menjitak kepala gadis
berjilbab itu.

“Eits… gak
boleh, bukan muhrim!” Nia meledek.

***

Jakarta,
Maret 2006

Malam itu Nia
hanya menatapi foto-foto di album kenangannya. Perlahan ia membelai foto-foto
ceria semasa kuliah dulu. Ditatapnya foto Intan, sobat sekaligus guru baginya.
Karena kedekatannya dengan Intan, Nia menjadi banyak tahu banyak tentang Islam.
Bahkan melalui Intan, Nia kemudian berhijrah yang ditandainya dengan mengenakan
busana muslimah.

Mata gadis 24
tahun itu kemudian beralih ke foto Aji, sobatnya yang paling kreatif. Meskipun
gayanya ‘gaul’, Aji tergolong alim. Aji tahu banyak tentang Islam. Bahkan
sobatnya sejak awal kuliah ini pula yang membawa Nia semakin yakin untuk
berjilbab. Lewat Aji dan Intan, Nia tahu Islam melarang berpacaran, tapi…

Gadis
berjilbab itu mulai terisak-isak. Foto-foto di hadapannya memburam. Wajah
Intan, Aji, dan teman-teman serohis dulu seakan berputar-putar di depan
matanya. Gadis itu tak sanggup menerima kenyataan yang dialami kedua sobatnya,
Intan dan Aji.

Aku tak ingin
menyebut mereka munafik, batin Nia, tapi kenapa mereka tidak melakukan apa yang
mereka katakan? Bukankah dalam Al Qur’an Surat As-Shaf ayat 3 Allah SWT amat
murka pada mereka yang tidak melakukan apa yang mereka katakan? Na’udzubillah…
dan itu terjadi pada sobatnya sendiri, pada Intan dan Aji.

Tangis Nia
semakin menjadi. Tak sanggup ia membayangkan jilbab Intan yang lebar berkibar
ditiup angin ketika dibonceng motor oleh Aji. Tak kuasa Nia memercayai
kenyataan Aji yang rajin apel ke rumah Intan beberapa bulan belakangan, atau
kenyataan mereka berdua sering berlama-lama di telepon, atau kenyataan ungkapan
saling cinta tanpa komitmen syar’I, yaitu khitbah atau nikah. Lantas, apa
bedanya dengan pacaran?

Kepala Nia mendadak
berat, seperti ada beban berpuluh ton menimpanya. Tak sanggup ia
melukiskan kekecewaan yang dirasakannya. “Ya Rabb… apa yang harus aku
lakukan, sementara ilmu agamaku masih sedikit?” isaknya. Nia merasa
dirinya
hanya anak bawang di rohis kampus, sementara Nia dulu ketua keputrian
rohis,
dan Aji duduk sebagai salah satu pengambil kebijakan di rohis kampus.

“Ya Allah,
kenapa orang-orang yang dulu membawaku ke jalan da’wah, kini seolah berguguran
dari jalan-Mu? Apa yang harus kulakukan, ya Rabb..?”

Nia tahu harus
ada yang mengingatkan mereka berdua, tapi siapa? Ia merasa tidak pantas menegur
para ‘penghuni langit’ itu. Tapi mereka harus diingatkan, bukankah dalam
berislam kita harus saling mengingatkan dalam kebaikan? Tapi siapa?

***

To Be Continued… Jkt, 14/03/06